pancasona

pancasona
part 195 rumah kutukan


__ADS_3

Kisah hantu terkutuk Bayonetta, merupakan salah satu rumah tua yang ada di daerah ini, dan merupakan bagian dari salah satu cerita hantu paling populer.


Ketika awal 1.900 terdapat keluarga petani bernama Chan yang diganggu oleh roh jahat, orang-orang sekitar meyakini bahwa roh jahat tersebut adalah seorang penyihir yang pernah dirajam di daerah tersebut karena melakukan praktik ilmu hitam.


Setiap keluarga yang tinggal di sana akan sering diganggu. Tidak ada yang betah tinggal di tempat itu. Bahkan rumah rumah di sekitarnya juga mulai ditinggalkan pemilik karena ikut terkena dampak dari rumah Bayonetta.


"Kenapa rumah itu disebut Rumah Terkutuk Bayonetta?" tanya Ellea saat mereka sedang dalam perjalanan ke tempat yang dituju.


"Kalau menurut informasi dari internet, dulu nih ada dukun gitu, namanya Bayonetta. Dia orang pertama yang tinggal di rumah itu. Tapi dia akhirnya mati karena melakukan sihir ilmu hitam dan membuat beberapa warga desa di sana mati dengan cara tidak wajar. Setelah kejadian itu, rumah dukun itu kosong. Dan akhirnya dipakai sama salah satu keluarga jauhnya. Tapi, dia juga akhirnya meninggal dengan cara nggak wajar," jelas Nayla sambil menatap layar monitor di depannya.


"Kabarnya, setiap orang yang menempati rumah itu memang akan mati dengan cara tragis. Dan karena hal itulah, semua orang menganggap kalau itu rumah terkutuk. Milik Bayonetta," tambah Gio.


"Jadi siapa pun yang menempati rumah itu akan mati? Karena itu rumah milik Bayonetta?"


"Wah, ngeri juga, ya?" cetus Nayla


"Dan kita harus ke sana buat nyari 1 dari 10 kunci yang sedang kita cari?" tanya Gio.


"Hey, kunci kedua dari 10 kunci," ralat Abimanyu.


Tidak lagi memasuki hutan belantara seperti perjalanan mereka sebelumnya, karena sekarang, mereka justru memasuki perkampungan penduduk. Walau tidak begitu padat, namun cukup membuat lega karena mereka akan bertemu manusia, bukan setan dan sejenisnya. Eum, tapi kalau manusia zombie lagi, itu juga mengerikan sih.


"Jadi berapa lama lagi kita sampai?" tanya Nayla tidak sabaran.


"Itu ujung sana, setelah belok ke kanan, udah sampai. Menurut PETA gitu sih," jelas Gio yang memang mengerti arah jalan ketimbang yang lain.


Namun di tengah perjalanan, Wira menyuruh Gio berhenti. Di pinggir jalan tak jauh dari mereka ada seseorang yang sedang berdiri dan menatap mereka datar. "Kalian pergi dulu, nanti aku menyusul," kata Wira lalu turun dari caravan.


"Eh, Ra! Wira! Ke mana?!" jerit Arya.


"Ke mana sih Wira?" tanya Nayla bingung. Arya yang terus menatap Wira yang sedang berjalan ke arah orang tadi, lantas ikut keluar. Ia memanggil Wira hingga pria itu kembali menoleh. Arya lantas berlari kecil mendekat.


"Mau ngapain sih?" tanya Arya. Wira yang terus melihat ke orang yang berdiri tak jauh dari mereka hanya diam. "Siapa dia?" tanya Arya lagi.


"Ya, aku pergi dulu. Nanti aku nyusul kalian."


"Kasih tau dulu, siapa dia?!" paksa Arya. "Kita ini sudah satu team, Ra. Dan apa pun yang terjadi bakal kita hadapi bersama. Seperti dulu. Kamu ingat, kan?"


"Hm, iya. Tapi ini masalahku dan nggak ada hubungannya sama kalian."


"Apa kamu bilang? Nggak ada hubungannya sama kami? Jadi setelah kembali menjadi malaikat kamu makin menutup diri, ya? Atau memang setelah menjadi malaikat lagi, semua rasa kemanusiaan dan kepedulian yang dulu ada di dalam diri kamu, juga hilang?"


"..."


"Kalau kamu nggak mau jawab, aku ikut kamu."


"Ya ...."


"So? Mau pilih mana?"


"Hm, oke oke. Dia salah satu temanku," tunjuk Wira ke orang yang sedang mereka bicarakan.


"Malaikat maksudmu?" tanya Arya memperjelas perkataan Wira. Dan Wira lantas mengangguk, mengiyakan. "Mau apa dia?"


"Jujur, sejak kehilangan karuniaku, aku merasa seperti pecundang. Dan aku meminta dia untuk mencari tau di mana keberadaan Galiyan. Karena cuma Galiyan yang tau di mana ia simpan karuniaku. Dia tau di mana Galiyan sekarang, dan aku mau mengambil nya lagi," jelas Wira dengan kepala menunduk lemas.


"Kamu sadar nggak sih, kalau hal ini berbahaya?"


"..."


"Dan kamu mau mendatangi Galiyan cuma berdua aja sama dia? Kamu yakin dia orang yang bisa di percaya?"


"Ra, dia temanku. Aku yakin dia bisa aku percaya. Dan, tolong biarkan aku kali ini. Aku harus mengambil karunia ku lagi. Aku benar benar merasa ... Argh! Aku aja kesel sama diriku sendiri."


"Kalau begitu aku ikut kamu. Kita temui makhluk bernama Galiyan itu!"


"No! Jangan. Mereka lebih membutuhkan kamu, Ya. Jangan sampai kamu kehilangan salah satu dari mereka! Kamau harus menjaga mereka!"


"Wira ...."


"Aku janji, bakal segera menyusul kalian. Oke?"


Arya hanya diam selama beberapa menit. Hingga akhirnya suara klakson mobil Gio mulai berisik. Panggilan untuk mereka berdua pun mulai terdengar dari teman teman yang lain.


"Kamu harus ada di dekat mereka. Lawan kita nggak mudah untuk ditaklukan, dan mereka butuh kamu."


Arya mendengus sebal, tapi akhirnya ia menyerah dan membiarkan Wira pergi seperti apa yang sudah ia katakan sebelumnya. "Kalau ada apa apa kabarin kita secepatnya," pinta Arya lalu kembali ke caravan bersama yang lain.


"Bagaimana?" Nayla terus bertanya saat Arya sudah ada di dalam mobil, duduk di di sebelahnya.


"Biar saja Wira pergi, nanti dia balik kok, kita lanjut lagi. Bi, kamu pindah duduk depan, " suruhnya, dan tentu segera dilaksanakan oleh Abimanyu.


Setelah bertanya ke warga di sekitar tempat ini, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah tua dan terlihat menyeramkan. "Yakin ini?" tanya Ellea.


"Yah, ini rumahnya. Kalian lihat, rumah rumah di sana," tunjuk Gio ke beberapa rumah di sekitar rumah yang mereka tuju. "Itu semua juga kosong, karena rumah rumah yang dekat sama rumah ini, bakal kena gangguan dari Bayonetta."


"Wow," hanya kata itu yang keluar dari mulut Nayla. Ia merasakan keanehan di sekitar mereka. Tapi tidak ia hiraukan dan segera mengikuti langkah dari Arya yang sudah mulai berada di teras rumah itu. Arya melongok dari jendela, ia sempatkan meniup dahulu debu yang menempel di kaca tersebut. karena terlalu kotor, dia bahkan kesulitan melihat keadaan di dalam rumah itu. "Gelap banget," cetusnya lalu menatap pintu di samping jendela.


"Masuk aja?" tanya Abimanyu yang berdiri di sampingnya. Arya mengangguk, lalu Abi mulai membuka pintu itu. Tidak terkunci. "Lagian siapa yang mau masuk ke rumah terkutuk di sini? Cuma orang bodoh!" cetus Arya lalu mengikuti Abimanyu masuk ke dalam. Gio yang tepat berada di belakang lalu mengernyitkan kening dan menoleh ke Nayla dan Ellea yang ada di belakangnya, "kita dong, orang bodoh itu?" Dan kedua wanita itu terkekeh menanggapinya.


Rumah ini benar benar hampir bisa dikatakan hancur. Sarang laba laba di dalam sangat banyak ditambah debu debu di semua perabotan rumah. Tidak banyak khas perabotan rumah jaman dulu, sederhana dengan sebagian besar terbuat dari kayu. Tetapi sepertinya kayu yang dipakai adalah kayu jati, sehingga cukup kokoh sampai sekarang. Walau tidak sekokoh yang diharapkan.

__ADS_1


BRAK! Sebuah lemari roboh karena tersengol Gio saat berjalan mengendap ke dalam. Debu beterbangan dan membuat beberapa dari mereka batuk batuk. "Hati hati. Tempat ini nggak cuma berbahaya dalam segi angkernya, tapi memang rumah yang mengerikan," cetus Arya yang berada di depan mereka.


"Pantas saja mereka sebut ini rumah terkutuk," gerutu Abimanyu sambil berhati hati pada langkahnya selanjutnya.


"Kita berpencar? Dan cari di mana kunci itu!" saran Arya.


Akhirnya mereka kembali berpencar dan membagi menjadi dua kelompok. Arya dan Nayla berdua, sementara Abi bersama Ellea dan Gio. Ventilasi rumah ini memang tidak ada, membuat jarak pandang mereka terbatas. Dan juga tidak ada listrik di tempat ini.


"Eh, lilin!" tunjuk Ellea pada benda berwarna putih yang berderet di dekatnya. Tanpa di suruh Ellea segera menyalakan lilin lilin tersebut. Dan akhirnya ada cahaya di tempat ini walau terlihat temaram. Setiap ruangan ada barisan lilin yang cukup banyak seolah memang sengaja diletakan di sana. Angin seolah berembus pelan, membuat lilin yang baru saja dinyalakan Ellea bergoyang seperti hendak padam. Ia lantas memperhatikan sekitar. Merasa ada yang aneh, Ellea berhenti berjalan dan menatap tiap sudut ruangan ini. Langkah kedua pria di depan mereka sudah mulai menjauh, tiba tiba Ellea merasakan ada nafas yang berembus tepat di depan wajahnya. Terasa panas, dan berbau busuk. Ellea sontak mundur dan menabrak meja yang di pakai untuk tempat lilin lilin tersebut. Dan sedetik kemudian, ia mendengar suara nafas seseorang. Bahkan terasa dekat sekali di telinganya. "Biyu!" jerit Ellea ketakutan.


Abimanyu dan Gio yang sudah berjalan agak jauh dari Ellea lantas menyadari kalau gadis itu tidak bersama mereka lagi. Abi dan Gio segera kembali ke ruangan sebelumnya. "Ell?" panggil Abimanyu sambil tengak tengok ke sekitar. Tidak ada seorang pun di sana. Ellea tidak terlihat sepanjang mata mereka menatap.


"Ke mana ini anak?!" pekik Gio mulai khawatir.


Ruangan demi ruangan sudah mereka periksa, namun Ellea tidak juga tampak di mana pun. Mereka berdua mulai panik. "Kita cari Nayla sama Arya saja, Bi!" saran Gio, Abimanyu pun mengangguk setuju.


Rumah ini memang cukup besar, dengan beberapa ruangan dan tentu ada ruangan bawah tanahnya juga. Itulah alasan mereka harus berpencar. Agar tujuan mereka akan dapat segera ditemukan, dan tentu mereka dapat segera pergi dari tempat terkutuk ini.


Sementara di sisi lain, Arya dan Nayla mulai berjalan menuju ke ruang bawah tanah. Mereka merasa kalau tempat ini memang paling tepat untuk mencari keberadaan kunci tersebut. Tangga yang sudah reot, membuat keduanya berfikir dua kali untuk turun, tapi karena keadaan mendesak, maka keduanya pun segera menuju tempat yang menjadi tujuan mereka itu.


BRAK! Salah satu anak tangga hancur saat diinjak Arya. Arya menyuruh Nayla berhati hati dalam melangkah, senter yang ada di tangan keduanya cukup membantu dalam penerangan jalan mereka. Hingga akhirnya mereka sampai di bawah.


Lantai yang dipijak terasa tebal karena debu yang sudah lama tertimbun di ruangan ini. Arya dan Nayla menyorot ke seluruh ruangan. Gelap dan kotor hanya dua kata itu yang mampu mendeskripsikan keadaan di bawah sini.


"Ya, kunci itu apakah sama bentuknya seperti yang sebelumnya?"


"Eum, aku juga nggak tau, Nay. Mungkin sama atau sedikit berbeda. Yang jelas, kita cari benda yang mirip mirip seperti kunci saja. Pasti bentuknya akan sangat unik dan menarik perhatian," jelas Arya. Nayla mengangguk paham.


Mereka mulai menyusuri tiap sudut ruangan. Memeriksa tiap benda yang ada di bawah sini. Semua benda tak luput dari perhatian mereka. Hingga sampai akhirnya Nayla lelah, dan sedikit menggerutu. "Duh, nggak ketemu juga! Capek!" ucapnya sebal. Ia lantas bersandar di tembok kayu. Arya yang menatapnya hanya tersenyum, "Ya sudah kamu istirahat dulu, ya. Biar aku aja yang cari. Sini saja," suruh Arya sambil mengelus pipi Nayla. Nayla mengangguk dan mengambil botol minum yang ia bawa di dalam tasnya.


Saat Nayla meminumnya, ia mendengar suara aneh di sekitarnya. Suara nafas seseorang dari mulut terdengar sangat jelas. Bahkan seolah ada di dekat telinganya. Nayla menoleh ke sekitar, namun tidak juga menemukan apa pun. Ia menatap Arya yang sedang memeriksa sebuah nakas dengan beberapa buku buku usang di sana.


Merasa tidak ada yang aneh, Nayla kembali meneguk air mineral yang masih ada di tangannya. Namun anehnya, air tersebut kosong. Padahal ia ingat betul kalau air yang tadi akan dia minum masih ada di botol itu. Nayla mengocok kocong botol itu sambil melihat isi di dalamnya. Betapa terkejutnya dia, saat melihat seorang wanita dengan wajah buruk rupa ada di balik botol yang ia pegang. Kini wanita tersebut sudah berdiri di hadapannya. "Arya!" jeritnya. Kaki Nayla dicengkeram kuat, lalu ditarik oleh seseorang yang tidak terlihat. Nayla menjerit, dan membuat Arya panik. Ia melihat gadis itu diseret menuju tangga, Nayla terus menjerit sambil mencari pegangan. Saat di tangga dia berhasil memegang pilar anak tangga, Arya segera berlari mendekat, tapi satu hentakan keras membuat pegangan itu terlepas dan akhirnya Nayla kembali di seret oleh seseorang yang tidak terlihat tadi.


Gadis itu terus menjerit sambil memanggil nama Arya. "Naylaaa!" jerit Arya sambil terus mengikuti gadis itu. Sampai di lantai atas, Arya kehilangan jejak Nayla. Ia terus menjerit dan membuat Abimanyu dan Gio menemukannya.


"Kalian lihat Nayla?" tanyanya dengan gurat ke khawatiran.


"Sepertinya mereka juga membawa Ellea, Ayah!" cetus Abimanyu, frustrasi.


"Apa? Ellea hilang juga?!" pekiknya.


"Kita harus mencari tau apa yang membawa mereka berdua. Dan sepertinya mereka masih ada di sekitar rumah ini, kan?" tutur Gio seolah berusaha memberikan kesempatan terbaik lainnya. Yah, setidaknya mereka harus tetap semangat dan pantang menyerah dalam menemukan dua wanita itu.


"Tapi kita akan kehilangan waktu kalau mencari dengan cara seperti ini!" tukas Abimanyu.


"Iya, benar. Kita harus pakai akal."


Mereka dikejutkan dengan suara sirine caravan yang nyaring. Sadar ada sesuatu yang terjadi di luar, ketiga pria tersebut berlari keluar rumah terkutuk itu. Di luar mereka melihat seorang pemuda sedang memegang tali dengan seekor anjing yang terus bertindak liar.


Anjing ini sangat populer dijadikan piaraan dan bisa juga menjadi jenis pemburu. Pasalnya ia memang bersahabat, energik, pandai, dan senang diberi pujian. Ia bisa menjadi teman sekaligus pekerja yang baik. Namanya, Labrador retriever, diambil karena anjing ini kerap memburu atau memungut sesuatu dengan mulutnya. Dan kini di mulutnya ia menggigit sesuatu yang sejak tadi diminta oleh pemiliknya.


"Astaga!" pekik pemuda pemilik anjing tersebut. Ia terkejut karena melihat ada tiga orang pria yang tiba tiba muncul dari rumah angker terkenal di daerahnya. "Kalian hantu atau manusia!" tanyanya dengan bersiap untuk kabur.


"Hei, kami manusia. Tenang dulu, terutama anjingmu!" cetus Gio sambil menunjuk hewan tersebut yang masih menggonggong sejak tadi.


"Choki, stop!" jeritnya dan seketika anjing tersebut berhenti menggonggong. Ia diam dan hanya menatap ketiga pria asing itu.


"Sedang apa kalian di situ?" tanyanya sambil menatap ngeri ke bangunan di belakang Arya, Abi dan Gio.


"Eum, kami sedang mencari teman kami, mereka berdua hilang di dalam rumah ini. Apa kamu tau sesuatu tentang rumah ini?" tanya Arya, sambil menoleh ke belakangnya. Di mana bangunan mengerikan itu berdiri.


"Kamu siapa? Kenapa ada di sini?" tanya Abimanyu memotong tanya jawab ayahnya dengan pemuda di depan mereka.


"Eum, saya Alan, salah satu warga desa ini juga, tapi rumah saya di sana, agak jauh dari tempat ini," jelasnya sambil menunjuk ke sebuah arah yang diyakini adalah rumahnya. Mereka bertiga mengangguk paham.


"Kamu tau sesuatu tentang rumah ini?" tanya Gio kembali pada pokok pembicaraan tadi. Alan menatap rumah itu sambil menarik nafas panjang, ia mengangguk dengan raut ragu.


"Siapa sih yang nggak tau tempat ini. Semua warga desa bahkan sampai kota juga paham bagaimana sejarah rumah ini. "Apa pun yang kalian lakukan di sana, itu nggak baik. Sebaiknya kalian segera pergi dari tempat ini, sebelum hal buruk terjadi."


"Tapi kami harus menemukan teman teman kami dulu sebelum pergi dari sini," jelas Abimanyu.


"Sepertinya kalian nggak akan bisa menemukan teman teman kalian itu. Karena kejadian ini sudah sering terjadi, dan setiap orang yang hilang di rumah ini, nggak akan bisa kembali."


Mereka semua diam beberapa saat, berpikir dengan kemungkinan terburuk seperti apa yang dikatakan Alan barusan. "Kami pastikan kali ini tidak akan terjadi seperti biasanya!" cetus Arya, dingin.


"Yah, kami akan membawa kembali teman teman kami, apa pun resikonya!" tambah Abimanyu.


"Hey, sebenarnya apa yang terjadi di rumah ini?"


Alan menarik nafasnya dalam dalam, memperhatikan sekelilingnya dengan tatapan ngeri. Seolah apa yang hendak ia utarakan adalah hal yang tidak boleh diketahui oleh orang lain selain mereka berempat. "Arwah orang jahat ada di dalam sana. Dan, dia mengutuk semua orang yang masuk ke sana. Kabarnya jiwa jiwa mereka yang diambil oleh dia, akan membuat kekuatannya makin kuat."


"Bagaimana dia meninggal? Katanya dirajam dan dibakar?' tanya Gio.


"Nggak. Dia diikat di ... sini," kata Alan sambil menunjuk ke sebuah pohon di dekat mereka," lalu dilempari batu oleh warga. Ditinggalkan sampai mati, dan mayatnya sampai dimakan oleh burung gagak. Dan itu sangat berbahaya sekali!" bisik Alan.


"Kenapa?"


"Kalian nggak tau? Cara mati seperti itu, akan membuat ruhnya menjadi makin jahat. Dan hinggap di salah satu burung gagak yang memakannya," jelas Alan sambil bergidik ngeri.


"Terus sisa mayatnya, dibiarkan saja?"

__ADS_1


"Enggak, setelah sebagian tubuhnya hampir habis, ada pendeta yang lewat di desa kami, dan menyuruh warga untuk menguburkannya secara lebih layak. Tapi, warga desa hanya menurunkan mayatnya, dan menguburkannya di halaman belakang rumah ini. Karena kami nggak mau kalau tanah pemakaman warga bersatu dengan mayat dukun jahat itu."


"Wow, kalian kejam, ya!" cetus Gio.


"Yah, kalian tau, kan? Bagaimana orang jaman dulu hidup. Mereka juga selalu mengaitkan semua kejadian aneh dengan setan atau semacamnya. Dan sebenarnya nggak ada satu pun bukti yang menunjukkan kalau wanita itu melakukan praktik ilmu hitam."


"Maksudmu, mereka memfitnahnya?"


"Mungkin saja. Karena beberapa kali ada warga yang melihat ruh wanita itu, dia bilang kalau 'aku tidak melakukan itu'. Begitu katanya."


"Wah, rumit juga. Tapi, sekarang kita tau ke mana mencari sumber masalah ini!" kata Arya. Dia lantas berjalan ke belakang rumah tersebut, mencari makam pemilik rumah ini. "Eh, Gi! Bawa peralatan yang ada di tas besar itu!" suruh Arya, dan Gio menurut saja di suruh begitu.


"Wow, nggak sopan! dia itu pembantu kalian atau bagaimana?" bisik Alan ke Abimanyu, yang melihat keanehan di depannya. Seorang pemuda berani menyuruh pria yang jauh lebih tua darinya. Itu salah satu bentuk sikap kurang ajar di desanya. Dan pasti di desa lain juga.


Choki kembali menggonggong saat melihat tiga pria itu berjalan ke halaman belakang rumah angker yang sangat mengusik binatang tersebut. Alan lantas menyeretnya pergi dari tempat itu. "Ayok, Choki!Kita pulang!" paksa Alan.


Gio sudah membawa atas yang diminta Arya. Saat Abi meminta tas tersebut agar digantikan olehnya, Gio menolak. "Tenang saja. Enteng. Dia lagi balas dendam ke gue, soalnya dulu gue yang suruh suruh dia gini," bisik Gio sambil terkekeh. Abi akhirnya ikut tersenyum, menganggap hal ini memang lelucon mereka, yang tidak dia ketahui.


"Kita mau ngapain, Ya?" tanya Gio yang kini berjalan menyusul Arya di depan.


"Bakar rumah ini!" kata Arya datar.


"Hah?! Gila lu! Bisa digebukin orang sekampung kita!" pekik Gio tidak sependapat.


Arya tidak menanggapi reaksi Gio, saat sampai halaman belakang, dia menyapu pandang ke sekitar. Mencari makam yang di ceritakan Alan tadi.


"Nyari apa?" tanya Gio lagi.


"Makam itu dukun!"


"Buat apa, Ya?!"


"Itu makamnya, Yah!" tunjuk Abi ke sebuah gundukan di sudut halaman, bawah pohon beringin. Abi sedikit menelan ludah karena melihat beberapa penampakan aneh yang sedang bergelantungan di pohon tersebut. "Huh, banyak juga," gumamnya pelan.


"Apanya?" tanya Arya yang ternyata mendengar perkataan Abimanyu.


"Eum, itu... Eum," sahut Abi ragu menjelaskan. Gio yang paham maksud keponakannya itu langsung mengangguk. "Ada berapa biji setannya?" tanyanya.


"Setan?" tanya Arya yang sedikit terkejut.


"Elu nggak tau, ya, kalau anak lu ini bisa lihat setan juga?"


"Wow, bagus dong kalau gitu," cetus Arya, sambil meneruskan berjalan mendekati makam itu.


"Apanya yang bagus?" tanya Gio heran. Abi hanya tersenyum tipis lalu mengikuti sang ayah.


"Ayah mau apa?" tanya Abi saat mereka sudah sampai di depan makam.


"Kita harus hentikan arwah penasaran itu. "


"Maksudnya kita bakar rumahnya? Atau mayatnya?" tanya Abi ragu.


"Keduanya!"


"Owh, jadi kita gali makam nya?"


Tak menjawab pertanyaan Abi, Arya langsung melancarkan niatannya. Kedua pria tersebut mulai menggali dan Gio menjadi penonton sambil memperhatikan sekitar mereka.


Makam sudah sampai dasar. Bunyi suara kayu terdengar di bawah mereka. Abi dan Arya saling pandang lalu mengangguk bersamaan. Peti mati itu mulai dibuka. Aroma busuk menyeruak ke dalam pangkal hidung mereka. Gio mengarahkan senter ke mayat di bawah sana.


"Gaes, itu kalung nya ...." Gio menunjuk sebuah logam mulia yang melingkar di leher mayat di bawah mereka.


"Itu kunci yang kita cari?" tanya Abi.


"Sepertinya iya." Arya langsung menarik kalung dari tengkorak tersebut hingga tulang belulang itu terlepas dari tubuhnya.


Kunci kedua sudah ditangan mereka. Namun jeritan mulai terdengar di dalam rumah itu. Suara Ellea dan Nayla terdengar nyaring.


Abi langsung keluar dari lubang tersebut dibantu Gio. "Biar aku ke dalam!" kata Abimanyu yakin.


"Gue ikut!" sahut Gio.


Arya hanya mengangguk lalu ikut keluar dari makam tersebut. Ia menyiramkan bensin dan mulai membakar mayat dukun itu.


Api berkobar dengan nyala yang besar. Selesai dengan sumber masalah rumah ini, Arya lalu menyiramkan bensin ke sekitar rumah itu. Rupanya rencananya untuk membakar rumah ini memang bukan isapan jempol belaka.


Di dalam rumah, Abi dan Gio mencari keberadaan dua wanita yang hilang secara misterius tadi. "Nayla! Ellea!"


"Ell, ibu?!" Keduanya terus menjerit memanggil nama dua wanita itu.


"Biyu!" Terdengar sahutan dari sebuah ruangan. Abi dan Gio bergegas mencari sumber suara tersebut. Dan rupanya mereka berdua melihat ada sesosok tubuh yang sedang terbakar, berjalan memutar di tengah ruangan yang disinyalir adalah kamar pemilik rumah ini. Penyebab teror yang ada di rumah ini.


Sosok tubuh yang terbakar itu juga menjerit kesakitan. Nama Abimanyu kembali disebutkan. Dan suara berisik terdengar dari dalam lemari pakaian. Mereka membuka lemari itu, dan akhirnya berhasil menemukan Ellea dan Nayla. Sayangnya, Nayla kini tak sadarkan diri. Hal ini membuat Abimanyu segera mengangkat tubuh ibunya itu, keluar dari rumah ini.


Kobaran api mulai membakar hampir di seluruh bagian rumah. Arya benar benar tidak main main dengan ucapannya.


"Nayla kenapa?!" tanyanya sambil memperhatikan kekasihnya itu.


"Pingsan. Sepertinya karena kekurangan oksigen tadi. Dia batuk batuk sebelum akhirnya sesak nafas."


"Bawa aja ke rumah sakit!" cetus Gio.

__ADS_1


Kobaran api yang membakar rumah terkutuk di desa itu, membuat tanda tanya besar bagi warga desa. Tapi, mereka tidak ada yang mendekat untuk berusaha memadamkannya. Mereka justru terlihat lega, dan berharap kutukan tersebut akan hilang setelah rumah tersebut hangus menjadi abu.


Sisa sisa kebakaran, menjadi tempat yang dikunjungi Alan dan Choki. Choki yang dapat berlari bebas menemukan sesuatu. Saat Alan mendekat, rupanya ada beberapa kerangka tubuh manusia. Kerangka itu ada di dalam lemari yang sama, tempat Nayla dan Ellea ditemukan. Alan yang mengetahui siapa pelaku pembakaran rumah ini, hanya tersenyum tipis. "Akhirnya kalian berhasil. Baguslah. Selamat menjalankan misi selanjutnya," gumam Alan. Sambil menatap abu yang sudah mulai terlihat tebal di sekitarnya.


__ADS_2