
SMA LAURENCEVILLE.
Sepulang sekolah kami berempat sudah berada di lingkungan sekolah ini. Tidak masuk ke dalam, hanya menunggu di halaman depan sekolah saja, dekat dengan pos satpam jaga. Kak Roger sedang mengobrol dengan satpam sekolah ini. Kami memang sengaja datang ke sekolah ini guna mencari tau, siapa orang yang tempo hari mencariku, bahkan dia seolah mengenalku. Atau seseorang yang bernama Angelina Demitri.
Kursi taman ini menjadi tempat kami menunggu orang itu. Kak Bintang sudah memberitahukan padanya kalau kami akan ke sekolah ini. Kami memang penasaran, sangat, bukan hanya tentang dia yang mengenal ku, memiliki fotoku, atau semua tentang aku, bukan hanya karena itu, tapi karena dia menyebut nama Dagon saat itu. Dagon yang kami temui di Tanah Borneo itu, kami yakin dia juga tau apa dan siapa Dagon itu.
"Bryan!" jerit Kak Bintang melambaikan tangan ke kerumunan yang baru saja keluar dari lorong sekolah. Orang yang dimaksud lantas balas lambaian tangan itu, berpamitan dengan temannya dan mendekat ke arah kami.
"Hei, sorry lama, biasa ada urusan dikit," kata Brian sambil menjabat tangan Kak Bintang dan yang lain. Saat dia menatapku, tatapan matanya terlihat dalam dan menyiratkan sesuatu. Hal ini tentu membuatku agak risih, dan sungkan padanya.
"Kalian balik kapan?" tanyanya pada tiga pria di depanku.
"Kemarin. Oh iya, kenalin ini Nabila, Bil dia yang namanya Bryan," kata Kak Rayi mengawali pembicaraan. Aku yang awalnya duduk di kursi, lantas berdiri dan berusaha memberikan kesan yang baik untuk pria di depanku ini.
"Hai, kak Bryan, aku ...."
"Hai Angelina, akhirnya ketemu kamu juga." Kami berempat tentu sedikit terkejut dan agak kikuk dengan situasi ini.
"Maaf, aku Nabila, bukan Angelina."
"No, kamu Angelina. Ikut aku sekarang," ajaknya. Kami mengikutinya dan dia mengajak kami ke kediamannya. Cukup jauh dari perkotaan, bahkan awalnya aku pikir dia tinggal di salah satu kompleks perumahan mewah, tapi saat kami mengikutinya justru dia terus berjalan ke daerah pegunungan yang cukup jauh dari kota.
Bryan mengendarai motor pribadi, sementara kami terus mengikuti di belakangnya. Sampailah kami ke sebuah rumah mewah yang hanya satu - satunya yang berdiri di lingkungan ini. Pintu gerbang dibuka secara otomatis, Bryan segera masuk dan memarkirkan motornya di dekat pintu rumah besar itu.
"Yuk, masuk," ajaknya. Pintu rumah dibuka, lantas terlihatlah rumah megah di depan kami sekarang. "Bentar, ya, ganti baju dulu. Kalian mau minum apa?" tanyanya.
"Apa saja, Yan. Kalau bisa yang dingin - dingin deh."
"Oke."
__ADS_1
Kami menunggu di ruang tamu, cukup terhibur karena ada beberapa barang unik di ruangan ini. Koleksi lukisan terlihat memiliki sejarah dan emosi terdalam saat melukiskannya. Aku tertarik dengan sebuah lukisan yang terlihat familiar. Seorang pria dengan jubah perang tampak berwibawa dalam lukisan itu.
"Wah, elu pinter menilai karya seni, Bil," puji Kak Roger yang kini berdiri mendekat padaku.
"Mirip seseorang deh, tapi siapa, ya?"
"Siapa? Bokap lu? Dikit sih kerennya, ototnya, tapi muka beda jauh kali," timpalnya.
"Bukan ih."
"Terus siapa?"
"Lupa!"
Kak Roger masih mengamati lukisan itu, Kak Rayi lantas mendekat pada kami dan ikut terlibat dengan diskusi ini.
"Ngapa sih pada," Kak Bintang ikut menyela pembicaraan ini. Semua berusaha menerka objek tersebut. Hingga akhirnya Kak Rayi menunjuk sudut bawah lukisan itu.
"Oh iya. Namanya unik. Wirasena Ganendra Gardapati? Uh, klasik banget. Jawa tulen ini orang. Pasti prajurit perang jaman dulu nih," sahut Kak Bintang.
"Sorry lama." Kak Bryan muncul dari dalam dengan membawakan nampan berisi beberapa gelas yang terlihat dingin dari luar.
Kami lantas menoleh dan duduk di sofa besar di tengah ruangan. "Minum dulu."
Cuaca yang panas membuat kami segera meneguk minuman itu. Es sirup rasa leci sungguh menyegarkan.
"Jadi kenapa Kak Bryan manggil aku dengan nama itu?" tanyaku spontan. Rasanya tidak ingin berlama - lama lagi untuk mendengar penjelasan dari mulutnya itu.
Kak Bryan menatapku dalam. Lantas dia mengambil sebuah kotak yang ada di meja nakas sudut ruangan.
__ADS_1
"Aku nggak tau, kalau misalkan kalian nggak akan percaya sama cerita yang bakal aku kasih tau ini. Tapi memang ini yang sebenarnya terjadi."
"...." Semua diam tidak ingin memotong apa yang hendak disampaikan oleh Kak Bryan.
"Dulu, ada sebuah pertempuran antara malaikat dan iblis. Di mana Azazil memimpin sebuah pasukan untuk menyerang para malaikat. Sampai - sampai membuat dunia gonjang g anjing dengan efeknya. Singkat cerita, ada sebuah ramalan, di mana Azazil akan kalah jika menghadapi seorang penyihir wanita yang bernama Angelina Demitri. Dia penyihir yang sangat hebat di jamannya. Azazil mengerahkan semua pasukannya untuk mencari penyihir itu. Hingga akhirnya, dia menemukannya. Angelina di sekap, tidak segera dibunuh oleh Azazil. Karena tidak ada cara yang bisa dia lakukan untuk membunuh Angelina. Sampai akhirnya, Azazil menemukan kelemahan wanita itu. Yaitu putrinya. Azazil menyekap putri Angelina, memperbudaknya hingga akhirnya gadis itu justru meninggal dengan cara mengenaskan. Angelina murka, dan meledakkan tempat itu, membunuh banyak sekali iblis dan setan. Tapi Azazil tidak mati, hanya terkurung dalam sebuah kurungan abadi. Sampai akhirnya beberapa tahun lalu, dia bebas, namun mati saat itu juga."
"Kenapa Angelina tidak membunuhnya? Cuma mengurung saja?" tanyaku.
"Iya, karena jika sampai itu terjadi, keseimbangan alam akan rusak. Kematian Azazil bukan jawaban yang tepat. Karena sekaranglah dampaknya. Saat Azazil musnah, akan ada ras lain yang bangkit. Mereka disebut Undead. Makhluk yang tak pernah bisa mati. Salah satu pengikutnya adalah Dagon. Aku yakin, kalian sudah bertemu dengannya, secara tidak langsung."
"Jadi kami harus membunuh Dagon?"
"Iya, betul, dan ras tersebut. Tapi ... Itu sungguh sulit. Kalian tau kenapa ras itu dinamakan Undead?"
Kami menggeleng.
"Sesuai namanya, ras itu tidak akan bisa mati. Langit sedang kacau di sana. Peperangan terjadi di langit, dan pasti akan berimbas juga di bumi. Saat para malaikat turun akan ada pertempuran besar di bumi, dan tugas kita ... Harus menghentikan pertempuran itu sebelum sampai ke bumi!"
"Eh bentar, elu siapa sih, Yan? Kenapa bisa tau semua ini?" tanya Kak Roger.
"Gue? Salah satu keturunan dari Nephilim. Bukan darah asli, tapi ada darah Nephilim di dalam diri gue. Karena semua Nephilim sudah musnah, malaikat dan iblis sama - sama mengejarnya. Hanya ada beberapa gelintir keturunan asli Nephilim yang selamat. Dan tugas kami, melindungi bumi dari pertempuran itu."
"Terus Nabila ...." Kak Rayi tidak melanjutkan kalimatnya.
"Gue yakin, dia reinkarnasi Angelina Demitri. Buktinya wajahnya sama persis. Lihat buku ini." Kotak yang sedari tadi dia pegang dibuka, lalu sebuah buku kuno dia berikan pada kami. "Itu buku milik Angelina. Di sana banyak mantra untuk melumpuhkan para iblis mana pun di dunia ini."
"Kak Bryan bilang, Undead tidak bisa dibunuh, lantas apa yang harus kita lakukan. Lalu mereka di mana sekarang."
"Undead terkubur dalam tanah yang sangat dalam. Tapi Dagon sedang berusaha membuka teralis besi itu untuk mengeluarkan mereka semua. Dagon adalah Pengikut setia. Tapi Dagon tidak hanya 1 saja. Mereka hidup berkoloni."
__ADS_1
"Jadi kita harus menghentikan Dagon membuka kuburan Undead?"
"Iya. Benar."