pancasona

pancasona
Part 203 Timbuktu


__ADS_3

Perjalanan mereka dilanjutkan. Kini mereka harus pergi ke ujung dunia yaitu Afrika. Timbuktu adalah sebuah kota di Mali, Afrika Barat. Kota ini adalah rumah dari Universitas Sankore dan madrasah lainnya, dan juga, kota ini adalah pusat dari penyebaran Islam di Afrika pada abad ke-15 dan abad ke-16. Kota ini dulu dihuni oleh suku Songhay, Tuareg, Fulani, dan Moor.


Timbuktu sering kali disebut sebagai ujung dunia. Karena itu orang menggambarkan dirinya pergi ke ujung dunia dengan pergi ke Timbuktu. Jika Sahara berfungsi sebagai laut, Timbuktu adalah pelabuhan utamanya. Kota ini juga merupakan kota utama dalam beberapa kekaisaran. Sebuah kota dengan rumah-rumah yang terbuat dari lumpur. Dengan kondisinya kini yang semakin sepi dan terisolasi pasir serta matahari, peradaban Timbuktu seolah hampir punah. Padahal di sana masih banyak Universitas dan masjid-masjid kejayaan Islam yang berdiri kokoh tanpa dihuni. Sungguh sayang, kan? Timbuktu yang dulu berjaya, kini cuma menjadi kota antah berantah yang nun jauh di sana.


Timbuktu memang terletak jauh di padang gurun Sahara, Mali. Tapi pada abad ke-16 sampai ke-18, Timbuktu justru menjadi tempat paling penting bagi penyebaran agama Islam di Benua Hitam. Selain itu, Timbuktu juga menjadi tempat ditulisnya ratusan ribu manuskrip ilmu dan pengetahuan Islam, mulai dari astronomi, matematika, pengobatan, sampai hukum. Beberapa di antaranya berhasil dilestarikan dan menjadi bukti sejarah bagi keberadaan agama Islam di Timbuktu.


Sungguh tragis nasib Timbuktu. Kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam di benua Afrika Barat itu, kini telah berubah menjadi wilayah yang terisolasi dan terpencil.


Dan ke sana lah, mereka akan melanjutkan kisah ini. Kota Timbuktu.


"Tinggal dua kunci lagi untuk melengkapi 10 kunci itu, kan?" tanya Arya kepada yang lain. Caravan mereka kini mulai membawa ke perjalanan berikutnya. Ia kini duduk di depan, samping Gio yang sedang fokus pada kemudinya. Elang juga ikut serta dalam perjalanan ini. Dia juga memiliki andil serta kepentingan khusus saat kesepuluh kunci itu ditemukan. Elang harus menemukan Nabila dan membawanya pulang.


"Seharusnya begitu, Ya. Kita tinggal menemukan 2 kunci lagi. Di sini dan tempat terakhir nanti," sahut Elang.


Wira yang sejak tadi diam, terus menatap Abimanyu dan Ellea. Pengantin baru itu terlihat makin bahagia sejak mereka menikah kemarin. Dan bulan madu selama satu minggu dirasa cukup untuk keduanya. "Bagaimana rasanya jadi suami istri?" tanyanya dengan senyum tipis.


Abi dan Ellea yang sedang mengobrol berdua lantas menoleh ke Wira dengan tatapan bahagia. "Ya seneng, Om. Akhirnya sah juga," sahut Abimanyu dengan menggenggam tangan Ellea.


Wira menarik salah satu sudut bibirnya sambil mengangguk paham. Tatapan matanya kini beralih ke Ellea. "Siap, Ell?"


Ellea tersenyum kecut lantas mengangguk. Keduanya saling menatap beberapa saat, seolah menyiratkan sesuatu yang dalam dan rahasia.


"Siap untuk apa?" tanya Abi menatap Ellea dan Wira bergantian. Ellea lantas menoleh, lalu memeluk lengan suaminya itu. Abi mengerutkan kening, sedikit kebingungan, sampai akhirnya Elang menyela pembicaraan mereka.


"Berhati hatilah untuk tempat satu ini." Elang yang duduk di kursi belakang Gio hanya mampu menatap pemandangan di luar jendela. Di sampingnya ada Wira. Di belakang mereka Nayla, Ellea dan Abimanyu.


"Yah, Timbuktu. Kota di ujung dunia, tapi sekarang mengerikan," sahut Wira.


"Bukannya itu kotanya Donald duck?" tanya Nayla sedikit mengeraskan nada bicaranya. "Ternyata memang ada, ya?" lanjutnya lagi.


"Mungkin nggak sama seperti yang ada di film, Ibu Mertua," tampik Ellea yang duduk di tengah, di antara Abimanyu dan Nayla.


Nayla yang belum terbiasa dengan panggilan barunya lantas melirik tajam, hingga akhirnya Ellea memeluk wanita itu erat sebagai permintaan maaf. Karena sebelumnya  Nayla memang tidak mau dipanggil seperti itu. Bagaimana pun juga sekarang dia masih jauh lebih muda timbang Ellea dan Abimanyu. Dan jiwa mudanya meronta tidak terima dengan panggilan tersebut, yang seolah terkesan menunjukkan dia sudah sangat tua dari umurnya sekarang.


Sementara pemuda di samping Ellea, malah tersenyum bahagia, tetapi juga merasa aneh dengan sikap Wira dan Ellea. Seperti ada yang disembunyikan darinya.


Perjalanan mereka mulai mencapai titik akhir. Kini hamparan padang pasir terlihat di sepanjang jalan yang mereka temui. Suasana sepi perlahan mulai dirasakan. Bahkan kini mereka mulai jarang melihat orang di sepanjang jalan.


Mereka tiba di sebuah perkampungan. Menurut PETA ini adalah Timbuktu. Dan menurut apa yang mereka pelajari, bangunan di depan mereka memang sesuai dengan apa yang di jelaskan sebelumnya. Semua bangunan di depan mereka dibuat dari lumpur, jerami dan kayu. Tidak ada warna berbeda bagi tiap bangunannya. Semua sama, warna cokelat. Warna dasar dari lumpur.


"Wow, ini mirip istana pasir raksasa!" ujar Gio yang duduk di depan. Otomatis sangat jelas melihat bangunan di depan mereka.


"Itu bener Timbuktu?" tanya Elang memastikan.


"Benar. Lihat tuh, ada tulisannya," tunjuk Arya ke sebuah papan di depan istana pasir raksasa tersebut.


Kota itu dikelilingi oleh tembok besar yang berbahan dasar sama. Lumpur, kayu, dan jerami. Mengelilingi bangunan bangunan yang ada di dalamnya. Mirip sebuah benteng pertahanan. Benar kata Gio, kalau jika dilihat sekilas, mirip istana pasir raksasa.


Mereka memutuskan turun dari caravan. Sebelum keluar, mereka memakai pelindung kepala yang sama seperti warga setempat. Berbekal perburuan mereka di sebuah pasar sesaat setelah mereka tiba di benua ini.

__ADS_1


Rupanya rumor yang beredar tidak sepenuhnya benar. Karena ternyata masih ada warga yang menghuni tempat ini. Mereka melihat ada beberapa orang yang melintasi tempat tersebut. Hampir semua orang memakai sorban menjulur panjang yang dipakai untuk menutupi hidung dan mulut mereka.


Warga setempat melihat aneh ke gerombolan Arya dan yang lainnya. Tentu saja mereka akan sangat terlihat asing, karena penampilannya yang berbeda dengan mereka.


Satu persatu turun. Saat kaki mereka menginjak tanah, semilir angin menerpa tubuh mereka kencang. Tempat ini panas, namun anginnya cukup kencang. Dan tentu membuat pasir berterbangan ke udara dengan bebas. Hal ini yang menjadi alasan kenapa mereka harus memakai penutup kepala karena pasir akan sangat menganggu pernafasan nanti.


"Wah, habis ini kita pasti akan ke tempat cucian mobil, sayang," kata Gio mengelus pintu caravannya.


Mereka mulai menjelajah tempat itu. Sesekali memutuskan menyapa warga setempat untuk sekedar basa basi atau mencari informasi yang mungkin akan mereka butuhkan. Sampai akhirnya mereka memutuskan beristirahat di sebuah bangunan yang cukup besar di sana. Sebuah masjid. Masjid Djingareyber.


Masjid Djingareyber merupakan bangunan suci sekaligus pusat pembelajaran yang dibangun pada 1327.


Masih berfungsi hingga saat ini, Masjid Djingareyber menjadi satu di antara tiga masjid yang membentuk University of Timbuktu. Timbuktu merupakan satu kota yang dijuluki sebagai 'city of gold' dan dianggap sebagai satu destinasi yang sulit untuk dijangkau.


Hampir seluruh bagian Masjid Djingareyber dibangun dari lumpur, jerami, dan kayu.


Setelah menguasai Timbuktu, para militan dengan cepat melembagakan hukum Syariah versi kejam mereka sendiri.


Mereka melempari wanita dengan batu karena tidak mengenakan pakaian yang dianggap layak dan sesuai ajaran agama.


Selain itu, para militan memotong tangan para musisi yang tertangkap melanggar larangan totaliter atas semua bentuk musik.


Masjid ini juga mengalami sukses panjang dan mengalami berbagai perang, konflik, dan pergolakan politik selama delapan abad terakhir. Pergolakan terakhir yang disaksikan Masjid Djingareyber terjadi pada 2012 ketika kelompok Islam militan merebut kota dan mulai meneror penduduk setempat.


Tak lama setelah penguasaan Timbuktu, perhatian para militan beralih ke artifak budaya bersejarah Timbuktu. Termasuk rumah ibadah Muslim kuno, yang mereka nyatakan dilarang oleh Islam.


Para militan menghancurkan kuburan tujuh orang suci Muslim dengan cangkul dan kapak, dua di antaranya berada di Masjid Djingareyber. Para militan itu akhirnya berhasi diusir dari Timbuktu pada awal 2013 oleh tentara Prancis yang dikirim untuk membebaskan kota tersebut.


Terlepas dari kekalahan kaum militan, Timbuktu tetap menjadi tempat yang berbahaya untuk dikunjungi.


Meski Masjid Djingareyber dan museum yang berada di dekatnya yang menampung beberapa manuskrip bersejarah Islam secara teknis terbuka untuk pengunjung, menjangkau Kota Timbuktu melalui sarana transportasi komersial menjadi hal yang hampir mustahil.


Tetapi tentu jangan ragukan kemampuan mereka. Semua tempat akan mereka datangi, tidak ada tempat yang sulit bagi mereka. Dan karena alasan itulah, masjid ini mang terlihat sunyi. Tidak ada aktifitas ibadah apa pun di dalamnya.


"Kita istirahat dulu deh. Sambil menyusun rencana untuk mencari di mana kunci itu," kata Arya.


"Iya, lagi pula tempat ini luas banget. Kalau tanpa rencana, kita bagai mencari jarum di tumpukan jerami," sahut Elang sependapat.


Istirahat sebanyak apa pun di mobil, akan berbeda rasanya dengan tempat ini. Di sini mereka benar benar merasakan istirahat yang sesungguhnya. Bahkan Gio sudah mendengkur tak lama saat merebahkan tubuhnya di lantai. Jangan bayangkan suasana masjid seperti di Indonesia, karena keadaan masih di sini jauh berbeda dengan kebanyakan masjid di luar sana. Tidak ada lantai keramik putih bersih di bawahnya. Atau tembok dengan cat putih dan beberapa hiasan asma Allah, yang ada hanyalah lantai dengan warna yang sama seperti seluruh bangunan.


Mereka akhirnya menggelar karpet besar, beberapa memutuskan menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agama masing masing.


Sementara Wira hanya duduk dengan kaki bersila, diam, seolah sedang khusuk berdoa. Abi mendekatinya, ikut duduk di samping pria tersebut.


"Om sedang apa?" tanya Abi lirih. Di saat yang lain sibuk mengurus dirinya masing masing, ada yang tidur, mandi, melihat lihat sekitar, tapi Wira hanya duduk diam. Dan ini sudah hampir satu jam Wira duduk dengan posisi yang sama.


"Berdoa," ujarnya menoleh sedikit ke Abi lantas kembali menatap ke depan.


"Malaikat juga tetap berdoa, ya, Om?"

__ADS_1


"Pasti. Kamu sendiri pernah berdoa?" tanya Wira balik. Abi diam beberapa saat sambil akhirnya dia terkekeh dengan tawa mengejek.


"Entahlah, aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku berdoa."


"Kenapa?" tanya Wira penasaran.


"Mungkin aku bukan manusia beriman, Om. Aku bahkan pernah mengutuk Tuhan. Sejak ayah dan ibu meninggal dulu, kehidupanku seolah di balikan. Apalagi setelah semua yang sudah terjadi, aku merasa Tuhan sama sekali tidak mau melihatku." Suara Abimanyu bergetar. Walau keadaan sekarang berbeda, tetapi rasa sakit dan kekosongan di hatinya dulu masih kian ia rasakan sampai sekarang. "Jujur, aku dendam dengan Dia! Kenapa dia memberikanku takdir seperti ini?!"


Wira menarik nafas dalam, ia lantas duduk menyamping, menghadap pemuda di sampingnya. "Bi, apa kamu nggak tau, kalau semua yang kamu alami adalah bukti rasa cinta-NYA kepadamu?" tanya Wira dengan berusaha menatap dalam bola mata Abi.


"Cinta? Cinta seperti apa yang dimaksudkan oleh-NYA, Om? Jangan karena Om Wira salah satu pihak-NYA maka Om Wira bilang begitu."


"Bukan. Bukan seperti itu. Kamu tau sendiri, kan? Kalau aku ini juga bukan yang terbaik? Aku bahkan salah satu ciptaannya yang DIA benci. Aku terkutuk, Bi. Bahkan kamu tau nggak, gimana rasanya menjalani hukuman seperti itu, selamanya?!Bertahun tahun, bahkan ratusan tahun aku dan kedua orang tuamu menjalani hukuman itu. Mengulang semua kehidupan kami, dan semua ini sudah DIA atur. Semua takdir."


"..."


"Aku sempat meruntuki-NYA. Kesalahanku yang tidak seberapa, menurutku, justru membuatku terlempar ke bumi dan menjadi manusia. Itu sungguh memalukan, kau tau? Bagaimana  saudara saudaraku mencibir kami saat kami lewat ke langit. Kami hanya lewat, dan kembali lagi jatuh ke bumi untuk menjalani hukuman lagi. Kau tau, bagaimana rasanya? Lelah. Kamu mending, kehidupanmu jauh lebih baik dari kami. Setidaknya, kamu hanya akan menjalani kehidupan sekali dalam hidupku. Apalagi setelah semua masalah ini selesai."


"Maksud, Om Wira?"


Wira tak menjawab, hanya tersenyum, lantas beranjak sembari menepuk bahu Abimanyu. "Nanti kau akan tau, Bi. Betapa Tuhan sebenarnya sangat menyayangimu."


Wira meninggalkan Abimanyu yang masih dilanda kebingungan. Pemuda itu masih diam sambil menatap ke depan. Menatap ke arah yang tadi Wira tatap, sebagai caranya berdoa kepada sang pencipta. Abi hendak mengikuti jejaknya, mungkin. Atau hanya menatap sinis ke arah itu. Tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia sebenarnya sangat percaya pada Tuhan. Hanya caranya saja yang berbeda. Dia bukan seorang pria yang beriman seperti kebanyakan orang selama ini. Tapi dia percaya adanya Tuhan. Walau dengan dendam di hatinya tersebut.


__________


"Gue udah pelajari PETA kota ini. Beberapa sudut memang kosong, nggak ada aktifitas warga setempat," jelas Gio sambil menunjuk sebuah kertas ukuran satu meter dengan denah kota Tumbuktu. "Daerah ini sama ini kosong. Sementara di sini ada beberapa penduduk yang tinggal, terus sama ini ... Ini ... Dan ini."


"Elu ngobrol sama mereka nggak?" tanya Arya.


"Kagak. Tuh si Elang sama Wira, gue nggak ngerti bahasa mereka."


Arya beralih menatap dua orang yang tadi disebutkan oleh Gio.


"Gimana? Kalian dapat info apa?"


"Kalau dari yang gue amati, warga yang masih tinggal di sini itu berbeda beda. Semua sesuai dengan suku masing-masing. Ada Songhay, Tuareg, Fulani, dan Moor. Mereka tersebar di beberapa titik di kota ini. Belum semua gue datangi, jadi informasi juga belum banyak," tutur Elang.


"Tadi gue coba tanya tanya ke suku Tuareg, karena suku ini adalah suku pertama yang menguasai wilayah ini," tukas Wira.


"Lalu? Apa hasilnya?" tanya Gio.


"Mereka diam. Nggak mau ngomong banyak, hanya saja justru gue yakin kalau mereka tau sesuatu," timpalnya.


"Terus gimana, Om? Apa kita bergerak secara diam- diam saja? Mungkin nanti malam?"


"Maksudmu bergerak secara diam diam, bagaimana, Bi?"


"Sepertinya benda itu disembunyikan di suatu tempat. Kalau mereka bersikap aneh, berarti mereka tau tentang benda itu, kan?"

__ADS_1


"Bener juga."


"Ya sudah kita bergerak malam ini."


__ADS_2