
Zio beranjak dari duduknya, ia seperti menyadari kalau sedang menjadi bahan obrolan dua pemuda di seberang sana. Beberapa kali baik Abi atau pun Rendra menatap ke arahnya lalu kembali terlibat obrolan yang serius. Keduanya selalu memelankan nada bicara mereka, seolah apa yang mereka bicarakan adalah sesuatu yang tidak boleh orang lain tau.
"Damn! Dia malah ke sini, Ren!" gumam Abi, sambil menutupi sebagian wajahnya.
"Bersikap biasa aja, Bi!" sahut Rendra ikut berbisik.
"Hai, Bi. Masih pagi cafe sudah ramai saja, ya?" sapa nya basa basi. Abimanyu menoleh lalu memasang tampang seramah mungkin. "Yah, beginilah. Kebanyakan dari mereka datang untuk sarapan."
"Oh ya, terima kasih, ya. Akhirnya aku bertemu kawan lama ku karena bantuanmu kemarin," kata Zio sambil menoleh ke segerombolan pria yang berpenampilan sama di mejanya.
Rendra melirik mereka sambil meneguk kopi miliknya. Lalu beralih ke Abimanyu. Dua pria ini merasa tidak nyaman dengan situasi di hadapan mereka. Terlebih saat mereka tau, kalau yang ada di depan mereka bukanlah manusia, melainkan iblis yang merasuki tubuh itu.
"Kalian sedang ada urusan apa di desa kami?" tanya Abi mencoba setenang mungkin dan bersikap wajar.
"Oh, soal itu," sahut Zio yang langsung menempatkan diri duduk di kursi kosong di antara Rendra dan Abi, " sebenarnya nggak ada urusan penting sih, hanya saja kami ke sini sedang dalam misi." Sorot mata Zio menunjukan sesuatu yang masih ia rahasiakan. Dan hal itu membuat penasaran Abi juga Rendra.
"Misi?" celetuk Rendra yang sudah tidak sabar mendengar penjelasan pria asing itu. Zio menoleh ke Rendra sambil menyeringai.
"Yah, misi. Kami sedang mencari seseorang yang sepertinya ada di desa ini."
"Siapa?"
"Kawan lama."
"Laki-laki atau perempuan?" cecar Abi. Zio malah tersenyum. "Yang pasti, kalau kami sudah menemukan dia, pasti dia akan kami bawa pergi dari sini. Karena tempat dia bukan di sini. Eum, aku permisi dulu. Sampai ketemu lagi," ujarnya lalu pamit kembali ke mejanya. Gerombolan teman-teman Zio juga menatap Abi dan Rendra intens. Hal itu tentu membuat mereka berdua risih.
"Ren, lu denger dia bilang apa tadi?!" bisik Abi dengan mencondongkan tubuhnya mendekat ke Rendra. "Iya, denger. Dan gue rasa apa yang dia bilang, kalau mereka bakal bawa Ellea dari sini itu memang secara harfiah. Yang artinya mereka bakal bener-bener ngelakuin itu, Bi!"
"Tapi kenapa harus Ellea?"
"Elu lupa, kalau Ellea bukan orang sembarangan?! Dan karena hal itulah, dia pasti jadi incaran 'mereka' itu!"
"Damn! Gue harus ke tempat Ellea!" Abi segera beranjak lalu pamit ke Maya. Maya hanya mengangguk dan menatap dua pria itu heran.
"Pada kenapa sih itu?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
Rendra mengekor ke Abi, masuk ke mobil Abimanyu. Mobil Rendra ia tinggalkan di cafe sebentar. Dan itu biasa terjadi.
____________
Abimanyu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai di butik Ellea. Rasa bersalah pada gadis itu terus mengikutinya. Ia juga khawatir pada keselamatan Ellea. Jika benar kalau pria tadi dirasuki setan, maka itu merupakan hal yang buruk. Karena seumur hidupnya, Abi belum pernah menghadapi setan. Mungkin jika hantu memang kerap ia temui, tetapi iblis yang merasuki tubuh manusia? Itu baru kali ini ia temui.
Bahu jalan di depan butik tampak sepi, hanya ada 3 buah motor matic parkir di sana. Butik bernama 'Al&El's boutique' terlihat sepi pengunjung, namun saat mereka masuk ke dalam, ada sekitar 5 orang wanita yang sedang memilih pakaian di dalam.
Bunyi lonceng yang sengaja di letakkan di atas pintu masuk, membuat pemilik menoleh. "Selamat pagi," sapa Allea ramah. Namun saat melihat siapa yang datang, ia langsung menyela dan menarik tangan Abimanyu mendekat ke pintu. "Orang gila! Elu ngapain pakai ke sini segala sih, Bi?! Percuma! Ellea belum mau ketemu elu! Sana balik!" usir Allea dengan berbisik. Mereka berdua sama-sama mencari keberadaan Ellea. Di satu sisi, ia ingin keberadaannya diketahui, tapi di sisi lain ia ingin agar pria ini segera angkat kaki dari sini.
"Ellea mana?" tanya Abi ngotot dan segera melepaskan tangan Allea yang mencengkeramnya kencang.
"Elu ih dibilangin juga!"
"Please, All. Penting."
Saat dua orang itu berdebat, Rendra mulai menyusuri sekat demi sekat guna mencari keberadaannya Ellea. Ia juga berhati-hati untuk tidak menarik perhatian pengunjung butik ini. Tapi justru ia merasa aneh pada sekitarnya. Para pengunjung terlihat bersikap tidak biasa. Mereka memegang pakaian yang dijual, tapi mata mereka liar mencari-cari sesuatu. Begitu Ellea keluar dari ruangan pribadi yang ada di belakang, semua pengunjung langsung menatapnya, dan menampilkan smirk mengerikan. Dan saat itu semua mata mereka berubah menjadi hitam dalam beberapa detik saja. Hal ini ditangkap oleh Rendra.
"Bi!" panggil Rendra sambil melirik ke orang di sekitar mereka. Abimanyu yang perlahan mengerti maksud Rendra lantas perlahan mendekati Ellea.
"Eh, ada apa sih?" tanya Allea bingung.
"Ell, kita harus bicara," bisik Abimanyu sambil menarik tangan gadis itu kembali masuk ke dalam.
__ADS_1
"Biyu! Apa sih?! Kan aku udah bilang ...."
"Mereka iblis!" bisik Abi memotong kalimat Ellea. Ellea melotot sambil memperhatikan semua pengunjung butik. Ia lantas kembali menatap Abi yang terlihat cemas. "Jadi kamu ...."
"Aku percaya kamu, Ell."
Bersamaan dengan itu, sebuah cermin pecah dan berhambur mengenai tubuh Allea. Rendra segera menolong Allea dan di saat bersamaan orang-orang di dalam butik seperti kerasukan. Mereka mengamuk dan menyerang mereka terus menerus. Mata mereka benar-benar berubah menjadi hitam.
"Hah?! Mereka siapa sih!" Allea yang bersiap dengan kuda-kudanya memegang besi penyangga hanger pakaian. Ia bersama Rendra berada di sisi yang sama.
"Mereka dirasuki iblis!" sahut Rendra.
"What?! Iblis? Gimana cara bunuh iblis, Ren? Nggak mungkin dong kita penggal kepalanya?" tanya Allea.
"Tanya sodara lu tuh!" celetuk Rendra, melirik ke gadis di belakang Abimanyu.
Sementara itu Abimanyu yang sedang melawan para wanita iblis di sana masih sibuk untuk menghindari mereka. Ellea cukup ketakutan, dan berusaha terus bersembunyi di saat Abi menghalau mereka.
“Exorcizamus te, omnis immundus spiritus, omnis satanica potestas, omnis incursio infernalis adversarii, omnis legio, omnis congregatio et secta diabolica. Ergo, omnis legio diabolica, adiuramus te… cessa decipere humanas creaturas, eisque æternæ perditionìs venenum propinare… Vade, satana, inventor et magister omnis fallaciæ, hostis humanæ salutis… Humiliare sub potenti manu Dei; contremisce et effuge, invocato a nobis sancto et terribili nomine…quem inferi tremunt…Ab insidiis diaboli, libera nos, Domine. Ut Ecclesiam tuam secura tibi facias libertate servire, te rogamus, audi nos."
Kalimat itu Ellea ucapkan dengan lantang. Tiba-tiba orang-orang tadi berteriak histeris, lalu tak lama pingsan tak sadarkan diri.
Abimanyu menoleh dan menatap Ellea, seolah meminta penjelasan.
"Itu mantra exorcism," katanya enteng.
_______
Mereka berempat kini duduk di sofa yang disediakan di tengah butik. Butik ditutup sementara sampai keadaan mereka kembali tenang dan tentu sampai para wanita ini sadarkan diri.
"Jadi mereka beneran kerasukan?" tanya Allea dengan raut wajah kebingungan sekaligus tidak percaya.
"Jadi ini yang lagi kamu pelajari, Ell?" tanya Abi, tak menanggapi pertanyaan Allea barusan. Ellea mengangguk pelan, wajahnya menyiratkan kecemasan dan ketakutan. "Apa alasan kamu mencari tau tentang mereka?" tambah Abi.
"Entahlah. Awalnya aku cuma iseng baca soal Archangel. Karena kalian tau, kan, kalau aku ini ...."
"Iya, terus?"
"Terus ada beberapa info tentang iblis yang turun ke bumi. Beberapa dari mereka masuk ke dalam tubuh manusia untuk alasan dan niat tertentu. Dan aku melihat salah satu dari mereka."
"Maksud kamu Zio, cowok tempo hari yang kita ketemu di parkiran cafe?"
"Iya. Aku lihat pas matanya berubah hitam selama beberapa detik. Dan ada bau yang aneh saat di dekat dia. Sikapnya juga aneh, dingin."
Abi meraih tangan gadis itu, merapikan anak rambutnya lalu mencium kening Ellea. "Aku minta maaf, seharusnya aku ...." Belum selesai Abi mengutarakan perasaan bersalahnya, Ellea meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Abi. "Nggak apa-apa, Biyu. Aku juga minta maaf, kadang sikapku juga kekanak-kanakan." Dan keduanya berakhir dengan saling berpelukan.
"Eh, sebentar. Zio bilang dia lagi nyari seseorang. Apa maksudnya Ellea?" tanya Rendra yang akhirnya merusak suasana romantis mereka.
"Apa? Nyari aku?"
"Eum, belum jelas, sayang. Tadi kami berdua sempet ngobrol sama Zio. Dia memang bilang lagi nyari seseorang di desa ini."
"Hey, bisa jadi emang itu Ellea yang dia maksud, kan? Bayangin aja, Ellea sekarang disebut kaki tangan malaikat? Iblis dan malaikat, kan nggak akur? May be," cetus Allea sambil menaikkan kedua bahunya.
"Kita harus cari tau. Jalan satu-satunya ya dekati Zio. Kita cari tau siapa dan apa yang dia cari. Kalau pun yang dia maksud Ellea, kita juga harus tau niat dia apa nyari Ellea. Dan kita perlu minta bantuan Pak Yudistira, mungkin dia tau sesuatu," saran Rendra.
_________
"Wah, tumben kalian ke sini ramai-ramai begini?" tanya Yudis saat mendapati empat orang tamu di depan rumahnya.
__ADS_1
Sejak kasus werewolf beberapa bulan lalu, mereka memang sudah jarang datang ke rumah ini. Hanya Rendra yang sering datang. Itu pun untuk memperindah taman Yudis.
"Ada yang mau kami tanyakan, Pak," sahut Abimanyu.
"Masuk."
Rumah ini tidak banyak berubah, semua masih sama. Dengan pola simbol penangkal werewolf di beberapa pintu. Bedanya tidak hanya di pintu masuk, tapi Yudis menggambarnya juga di tiap pintu kamar dan ruangan di seluruh rumahnya.
"Waw, anda tidak trauma, kan, Pak?" tanya Allea yang melihat simbol-simbol itu di beberapa sudut rumah ini. Yudis yang mengerti maksud istri Vin itu hanya tertawa. "Antisipasi. Kalian tau, kan, kalau kita tidak bisa mempercayai satu pun orang asing?"
"Yah, itu benar. Dan sekarang sepertinya kita kedatangan makhluk lain selain ras Rendra," ucap Abi menyindir.
"Maksud kalian?"
Mereka mulai menceritakan tentang apa yang baru saja terjadi dan juga Zio yang mereka temui kemarin. Yudis diam dan terus menyimak pembicaraan ini.
"Yah, itu benar. Kalau apa yang kalian bicarakan adalah iblis," terang Yudis lalu melirik Ellea yang menjadi pendiam akhir-akhir ini, "kemajuanmu cukup cepat, Ell. Sampai-sampai sudah hapal mantra itu." Puji Yudis. Ellea hanya menarik salah satu sudut bibirnya.
"Jadi, apa yang mereka cari, Pak? Apa benar mereka mencari Ellea?"
"Hm, entahlah. Aku hanya manusia biasa, Bi. Nggak tau urusan langit. Kalau pun mereka memang mencari Ellea, tinggal kau yang harus mempertahankannya."
"Maksudnya?"
Yudis berjalan ke depan pintu, kembali menyibak karpet di sana. "Buat simbol ini di depan rumah kalian. Jadi sekalipun ada manusia yang dirasuki iblis, dia tidak akan bisa keluar dari lingkaran ini."
"Wow."
"Aku rasa Ellea sudah paham tentang simbol ini, benar begitu, Ell?" tanya Yudis ke gadis itu. Ellea mengangguk pelan. "Hasil membaca puluhan buku selama ini, Pak. Ternyata ada hasilnya juga," tuturnya santai.
"Lalu bagaimana langkah selanjutnya?"
"Saranku, diam saja dulu. Kita lihat bagaimana ke depannya. Kalau benar Ellea yang mereka cari, nanti juga mereka bakal datang ke Ellea dengan sendirinya. Dan sebelum kita tau apa yang sedang terjadi, kalian Pagari rumah kalian agar mereka tidak seenaknya masuk."
"Apalagi yang harus kami lakukan selain menggambar simbol itu?"
"Tanya saja Ellea."
"Eum, garam? Air suci? Seperti di film horor," kata Ellea yang juga belum begitu yakin.
"Oke, kalau gitu. Biar aku mencari tau siapa mereka dan apa alasan mereka datang ke desa kita," tukas Rendra yang kemudian beranjak dari duduk nya.
"Tapi apa nggak terlalu berbahaya, Ren?" tanya Ellea.
"Santai saja, Ell. Ya sudah, ayok pulang. Mobilku masih di cafemu, Bi," ajak Rendra.
"Ya sudah. Terima kasih informasinya, Pak." Akhirnya mereka berempat mulai beranjak dan pergi meninggalkan rumah Yudistira.
Yudis menatap kepergian anak muda itu dengan tatapan nanar. Ia teringat akan beberapa hari lalu, saat dirinya sedang ada di sebuah restoran hotel miliknya. Yudis memang memiliki banyak aset di mana-mana. Salah satunya hotel itu. Hotel yang berada di depan batas desa. Desa Amethys memang memiliki banyak tempat wisata yang indah dan akan berkembang baik jika dikelola dengan benar. Terbukti dengan ramainya homestay diwaktu weekend dan hotel milik Yudis juga terkena imbasnya. Bukan hotel bintang lima, tetapi hanya sebuah hotel bintang tiga dan termasuk nyaman sekaligus mewah untuk tempat seperti ini.
Yudistira selalu datang ke hotel guna melihat perkembangan tempat itu. Memeriksa keuangan dan kondisi hotelnya secara berkala. Dan sore itu, ia melihat pemandangan yang aneh dari salah satu tamu hotelnya.
Sekelompok pria yang diduga pengunjung dari kota, terlihat arogan. Mereka sempat membuat para waitres restoran kewalahan dengan sikap semena-menanya. Menggoda salah satu karyawan Yudis dan akhirnya membuat Yudis turun tangan.
Hal pertama yang membuat Yudis merasa aneh, adalah ia mencium bau anyir yang pekat saat berada di dalam kelompok itu. Sekelompok pria dengan 5 laki-laki yang memiliki tatapan mengerikan. Dingin dan seperti tidak memiliki jiwa. Awalnya Yudis hanya merasa kalau itu hanya bau pakaian basah yang tidak kering, karena melihat ada noda basah di pakaian mereka, tapi rupanya saat ia memperhatikan dengan seksama, noda itu adalah darah yang sudah menggumpal.
Yudis masih menganggap kalau mereka pemburu yang sedang mencari hewan buruan di hutan. Dan darah itu adalah milik salah satu hewan buruan. Tapi saat ia tak sengaja melirik ke cermin yang ada di dekat kasir, matanya terbelalak karena sekelompok pria itu terlihat mengerikan di depan cermin. Tapi jika melihat mereka secara langsung, hanya wajah pria-pria menyebalkan pada umumnya.
Yudis mulai merasa aneh melihat hal ini. Satu yang pasti, ia tau kalau tubuh itu sudah dikuasai roh jahat. Karena cermin tidak akan berbohong.
__ADS_1
_______