pancasona

pancasona
Part 8 Rumah Kak Rayi


__ADS_3

"Sudah, diam! Diam semua!" teriak Ketua OSIS. Dia bahkan sampai menggebrak meja di depan demi mendapat perhatian semua orang. Beberapa orang mulai berbisik sambil menatap ke ketua OSIS, yang sudah emosi. Kami sadar kalau keadaan ramai akibat sikap kami semua. Rapat tak terkendali akibat diskusi ngelantur tiap orang, karena membahas hal yang sebenarnya bukan poin pokok rapat. Walau aku sejak tadi hanya diam. Tapi aku yakin, setelah kejadian ini pasti gosip tentang Rio yang gentayangan akan makin menjadi.


Akhirnya rapat pengurus OSIS dihentikan. Rapat akan diadakan ulang pada esok hari, menunggu situasi yang lebih kondusif lagi. Semua dibubarkan. Ruangan OSIS perlahan kosong. Ada yang memutuskan langsung kembali ke kelas masing-masing, ada yang memutuskan pergi ke kantin, atau ke tempat lain. Karena ini salah satu cara mereka terlepas dari tuntutan pelajaran yang sedang berlangsung. Begitu pula aku dan Zidan.


"Kantin dulu saja yuk, Bil, laper." Dan tentu aku sangat setuju atas idenya. Apalagi pelajaran saat ini adalah kimia. Ah, otakku bisa meledak setelah pelajaran matematika dan kini kimia. Kebetulan kantin di sekolah ini ada 3. Dan, aku meminta Zidan agar pergi ke kantin yang tidak terlalu dekat dengan kelas. Waspada kalau nanti dipergoki oleh guru, kan bisa bahaya.


Di jalan Zidan terus membahas hal tadi, tentang Rio. Rasa penasarannya terhadap kasus Rio dan apa yang kulihat tadi. Zidan terus memberondongiku dengan banyak pertanyaan. Dia memintaku menceritakan secara detail tentang Rio yang tadi kulihat di kelas. Sampai akhirnya kami sudah berada di kantin yang ada di sudut belakang sekolah. Kantin ini memang jarang kudatangi, karena biasanya hanya kaum Adam saja yang betah di sini. Kebetulan saat ini kantin sunyi, karena memang bukan jam istirahat dan sepertinya tidak ada anak lain yang membolos di jam pelajaran kecuali kami.


"Serius lu, Bil? Jadi dia mondar-mandir terus di kelas? Terus ke lantai atas juga? Wah, ngapain, ya?"


"Mana aku tau." Kami duduk di sebuah meja yang ada di luar. Kantin ini tidak begitu luas, tapi semua meja dan kursi ada di depan warung ibu pemilik warung, dan tidak ada sekat atau pemisah dan di luar akan terlihat jika kami memang sedang duduk di kantin ini. Hanya saja karena letaknya yang berada di sudut belakang sekolah, maka jarang dilewati oleh guru-guru.


Kami memesan dua mangkuk bakso dengan es jeruk. Duduk di meja yang berada di pinggir, sesekali melihat ke sekeliling. Takut jika ada guru yang melihat kami. Aku meraih ponsel yang ada di saku rok, lalu sedikit terkejut dengan sebuah pesan di sana. Kak Rayi.


[Bil, kamu nggak ke kelas?]


[Enggak, kak. Lapar.]


[Kantin mana?]


[Belakang.]


Dan tidak ada balasan lagi. Aku pikir Kak Rayi pasti akan menyusulku, jadi lebih baik aku menunggunya saja di sini. Bakso sudah terhidang di meja, uap panasnya yang masih mengepul membuat aroma khas bakso makin menyeruak ke lubang hidungku. Aku benar-benar lapar dibuatnya. Zidan terus membahas hal-hal aneh di sekolah, dan aku hanya diam sambil fokus pada bakso di depanku.


Aku hanya fokus pada mangkuk di depanku, hingga tidak menyadari kalau perlahan kantin menjadi ramai. Bakso yang ada di mangkuk sudah tandas. Kini aku menikmati es jeruk milikku sambil memperhatikan siswa-siswa yang berada di kantin. Tapi saat aku mencari Zidan, entah kenapa dia justru tidak ada. Padahal tadi suaranya masih kudengar jelas dengan banyak pertanyaan tentang Kak Rayi. Tapi sekarang dia tidak ada di depanku.


Perasaanku makin aneh saat aku memperhatikan ke sekitar. Orang-orang yang ada di kantin terlihat aneh. Mereka ... kuno. Dan kantin ini kenapa berubah menjadi jelek? Kantin yang awalnya bagus, dengan keramik yang bersih dan kondisinya yang nyaman, berubah seperti warung nasi yang biasanya aku temui di pinggir jalan. Jajanan yang dijual juga tidak sama, walau mangkuk bakso di depanku masih sama bentuknya dengan kuah bakso yang hanya tinggal sedikit.


"Aku kenapa? Ya ampun!" gumamku berbicara sendiri. Aku makin panik, karena aku yakin kalau aku sudah tidak berada di tempatku yang tadi. Dan, kenapa aku bisa ada di sini?!


Kuputuskan untuk beranjak, rasanya aku harus mencari jalan keluar dari tempat ini. Aku yakin ada jalan keluar. Saat kakiku melangkah pergi aku sadar kalau mereka juga seperti tidak menyadari kehadiranku di sini. Karena sekali pun aku bersenggolan dengan salah satu dari orang itu, mereka seperti mengacuhkanku.


Kakiku mulai melangkah meninggalkan kantin. Berjalan mencari di mana letak kelas ku berada. Namun semua terlihat makin aneh, beberapa bangunan justru tidak ada. Hanya ada sedikit ruang kelas yang ada di sekolah ku ini. Sekolah ini terlihat ramai. Ada beberapa siswa yang ada di luar maupun di dalam kelas. Tetapi aku tidak bisa bertanya pada siapa pun sekarang. Selain takut, sepertinya mereka juga tidak melihat keberadaanku di antara mereka.


Aku tetap harus berjalan mencari jalan keluar, setidaknya aku yakin kalau ini bukan ada di zamanku. Sepertinya aku ada di masa lalu. Di mana banyak bangunan lama yang memang sudah ada sejak dulu di sekolah. Bangunan baru belum ada bahkan sekolahku dulu terlihat sempit. Mungkin tadi aku tidak sengaja masuk ke pusaran waktu atau semacamnya.


"Hei!" panggil seseorang. Aku menoleh dan mendapati wajah yang baru beberapa jam lalu kulihat. Rio.


"Kamu?" tanyaku menunjuk dirinya yang berdiri tak jauh dariku. Penampilannya sama sepertiku. Tidak seperti siswa lain di sekolah ini. Ah, dia kan memang berasal dari tempat yang sama sepertiku. Tapi ...


"Kenapa kamu di sini?" tanyanya padaku.


"Justru aku mau tanya ke kamu. Kenapa kita di sini? Ini di mana?" tanyaku, berjalan mendekat padanya. Dia terlihat lebih ramah daripada saat aku bertemu tadi pagi.


"Aku biasa di sini, jalan-jalan," katanya santai.


"Apa kamu bilang? Jalan-jalan?"


"Aku yakin kamu udah tau, kalau aku sudah meninggal. Iya, kan?"


"Rio, kami belum tau persis tentang keadaan kamu. Jadi jangan terlalu cepat menyimpulkan, oke? Kita cari tau dulu, kamu kenapa. Dan di mana?"


"Percuma, Nabila. Aku sudah lama meninggal. Dan mayatku sudah hancur. Jadi mau kalian cari ke mana pun, nggak akan ketemu."


Aku terdiam, dan sedikit terenyuh mendengarnya. Bagaimana pun juga, seharusnya dia adalah teman sekelasku, bahkan mungkin kami seharusnya duduk satu bangku. Karena tidak ada orang lain lagi di kelas yang bisa duduk bersamaku.


"Sebenarnya, apa yang terjadi, Rio?"


"Tahun ajaran baru kemarin, aku baru saja pulang dari lomba matematika di luar kota. Aku mendaftar di SMU kita, karena memang dari prestasiku ini. Pak Eri itu salah satu tetanggaku. Katanya aku bakal terus bisa mengembangkan potensi di sekolah ini."


"...."


"Tapi kami kecelakaan. Aku sama kedua orang tuaku. Mobil kami ditabrak mobil lain, terus masuk jurang. Aku yakin, kami nggak ada yang selamat, Bil."


"Terus kenapa kamu malah berkeliaran di sekolah hari ini? Ada sesuatu yang mau kamu sampaikan?"


"Nggak cuma hari ini. Selama ini aku selalu di sekolah. Mungkin kamu nggak sadar. Aku juga kaget pas kamu lihat aku tadi pagi. Padahal selama ini aku selalu mengikuti pelajaran di kelas, kalau bosan ya jalan-jalan."


"Yang bener?"


Rio mengangguk, ia tersenyum getir. Dan membuat hatiku sakit melihatnya. Kenapa selama ini aku tidak menyadarinya?


"Terus kenapa kamu bisa di sini? Dan ... aku juga. Padahal tadi aku di kantin loh."


"Aku juga nggak tau, kadang kalau aku ingin ke sini, ya tiba-tiba udah di sini saja. Kalau kenapa kamu bisa di sini juga, aku nggak tau, Bil."


Aku mendengus sebal, dan frustrasi. Aku takut kalau aku tidak bisa pulang. Bagaimana ini. Rio menatapku sambil tersenyum. "Sudah, kita jalan-jalan saja. Lama aku nggak ketemu orang yang bisa diajak ngobrol. Walau mereka ada di sini, tapi mereka tetap nggak bakal bisa melihat kita," tunjuknya ke siswa-siswa yang ada di sekitar kami. Aku lihat mereka dan merasa kalau mereka memang tidak menyadari keberadaan kami. Mungkin karena aku dan Rio bukan berasal dari zaman ini. Sekali pun aku dan Rio juga berbeda alam sekarang.


"Ayok." Dia menarik tanganku dan mengajakku jalan-jalan ke sekitar sekolah.


"Kamu tau nggak, kalau sekolah kita ini dibangun sudah lama banget. Kalau nggak salah sudah sekitar 60 tahun. Ini tahun kelima, Bil. Sudah banyak perubahan, ya walau belum semewah sekolah kita yang sekarang."


"Ini tahun berapa?"


"Eum, sebentar." Rio melongok ke dalam sebuah jendela, tangannya ia letakkan untuk menutupi matanya dari bayangan sinar matahari di luar. Aku ikut melongok ke dalam dan melihat keadaan di dalam sana. "Oh, ini bener, masih tahun kelima, Bil. Kita belum pindah. Soalnya kemarin aku ada di tahun ke sepuluh."

__ADS_1


"Jadi selama ini, selama kamu ke sini selalu berganti-ganti tahun, begitu?"


"Iya, terkadang begitu. Terkadang tahun yang sama juga, seperti sekarang."


"Terus cara kamu kembali gimana?"


"Eum, aku cuma memikirkan saja. Pulang, dan langsung ada di sekolah kita di masa depan."


"Apa aku bisa pakai cara itu, ya, Ri?"


Dia menatapku, menggigit bibir lalu tersenyum. "Yuk, kita coba." Tanganku kembali ditarik, dan kami menuju ke gedung yang nantinya menjadi ruang kelas kami. Satu demi satu anak tangga kami pijak. Aku tidak banyak bertanya karena Rio adalah seorang tour guide yang cakap. Dia sudah menjelaskan bagian bangunan ini yang nantinya akan menjadi bangunan ruang kelas kami.


Kami sampai di lantai dua, dan terus berjalan melewati kelas demi kelas, hingga sampai di ruangan kelas kami. Rio berhenti lalu menunjukkan tempat tersebut. Di dalam ramai orang-orang yang sedang belajar. Suasana di dalam tidak jauh berbeda dengan keadaan kelas kami yang sekarang. Hanya saja manusianya berbeda tentunya. Mereka adalah orang di jaman dulu. Seragamnya saja tidak seperti seragam yang kami pakai sekarang.


"Masuk yuk, duduk dulu." Tanpa mendapat persetujuan dariku, Rio terus menarik tanganku dan kami masuk ke dalam kelas. Terus berjalan sampai di kursi paling belakang, di mana tadi pagi aku melihatnya duduk di sana.


Aku duduk dengan sungkan, melihat ke sekitar kami yang penuh siswa yang sedang fokus memperhatikan pelajaran. Sementara Rio justru antusias memperhatikan pelajaran yang sedang ada did depan kami. Matematika. Pantas saja dia begitu antusias, ini adalah hal yang dia sukai. Aku meliriknya sebal, lalu ikut memperhatikan. Dan ini pelajaran yang sedang diajarkan padaku tadi.


"Siapa yang mau maju mengerjakan ini?" tanya guru di depan. Beberapa murid justru seperti menghindari tatapan tajam sang guru, khas aku yang jika mengalami sendiri. Jangan sampai aku ditunjuk. Tapi kali ini ada seorang siswa yang mengangkat tangannya. Wajahnya terlihat tidak asing bagiku. Tapi aku lupa.


"Nggak ada yang lain? Arya lagi ini?" tanya Pak Guru dengan rambut cepak dan kaca mata di hidungnya. Hening. Dan akhirnya siswa bernama Arya itu maju dan mengerjakan soal di depan dengan cepat.


"Dia itu pinter, Bil. Juara matematika juga, sama seperti aku," bisik Rio. Aku hanya mengangguk mengerti. Suara panggilan terdengar samar, memanggil namaku berkali-kali. Aku mencari sumber suara tersebut. "Rio, kamu dengar, nggak?" tanyaku.


Rio mengerutkan dahi dan mulai menajamkan pendengarannya. "Iya, mereka nyari kamu. Sepertinya kita balik sekarang saja. Yuk." Kembali tanganku ditarik Rio berjalan keluar kelas.


"Kita ke mana?" tanyaku penasaran.


"Kalau suara panggilan itu terdengar, kamu harus nyari di mana suara itu berasal. Karena itu bisa jadi jalan keluar kamu dari sini," jelasnya. Kami diam, dan mencoba mencari tau asal suara ini. Aku dan Rio sama-sama melihat ke atas. "Lantai 3!" seru Rio dengan mata berbinar.


Kami kembali menaiki anak tangga dan mulai berjalan ke lantai paling atas. Jujur ini juga baru pertama kali aku menginjakkan kaki di lantai tiga. Bahkan di jaman ku pun, aku tidak ada keinginan untuk naik ke sini. Lantai ini kelas penuh. Tiga ruangan tersebut terisi oleh siswa-siswa. Suara makin jelas, namun seolah bertumpuk dengan suara riuhnya kelas ini.


"Itu di sana!" tunjuk Rio ke sebuah garis cahaya yang terang.


"Kamu yakin?" tanyaku saat kami sudah di dekat garis ini.


"Iya, percayalah." Rio melepaskan tanganku, dan aku kembali menoleh padanya. "Ayok, kamu ikut, kan?" tanyaku. Dia menggeleng. "Kamu duluan saja. Nanti juga aku pulang kok, hati-hati, Nabila. Sampai ketemu lagi."


Sesuatu terasa menarikku paksa, aku masuk dalam pusaran cahaya tadi. Terlalu menyilaukan hingga aku tidak kuat membuka mata. Sampai pada akhirnya, suara panggilan lain terdengar sangat jelas. Bahkan sangat jelas di telingaku. Tubuhku juga di goncangkan keras. Mataku mulai mengerjap, menekan kepala karena rasa sakit yang teramat sangat.


"Nabila!" Suara khas yang sangat kuhafal, terasa sudah ada di dekatku. Saat aku membuka mata, ternyata benar, kalau itu adalah Kak Rayi, dengan teman-temannya. Ada Zidan juga di antara mereka.


"Alhamdulillah, akhirnya elu sadar juga, Bil!" seru Zidan menekan dadanya.


"Kamu pingsan. Tadi waktu di kantin, kamu kenapa? Sakit?" tanya Kak Rayi, cemas. Sementara sekarang kami ada di sebuah ruangan dengan tirai putih di sekitarku. Mirip rumah sakit, tapi sepertinya bukan.


"Kita di UKS." Kak Rayi seolah tau apa yang kupikirkan.


"Ya ampun, ya udah. Kita balik ke kelas, yuk, Dan," ajakku.


"Mau apa, Bil? ini udah jam pulang sekolah, bahkan hampir sore," jelas Zidan.


"Hah?! Yang bener? Padahal aku di sana cuma sebentar tadi."


"Di sana? Di sana mana?" tanya Kak Bintang.


"Eum, itu ...," gumamku agak bingung menjelaskannya. Dan rasanya aku tidak perlu menjelaskan apa-apa pada mereka.


"Ya udah, aku antar kamu pulang aja, ya." Kak Rayi merapikan anak rambutku yang berantakan. Aku hanya mengangguk pelan. "Eh, latihannya?" tanyaku yang baru sadar.


"Kita nggak ikut latihan hari ini. Pulang aja, ya."


Hari memang sudah sore. Senja sudah terlihat di langit. Kami keluar dari UKS menuju tempat parkir. Zidan sudah menaiki kuda besinya, dan bersiap akan pulang saat helm sudah ada di kepalanya. "Duluan, ya," pamitnya sambil melambaikan tangan ke arah kami.


Aku kembali menoleh ke arah gedung ruang kelasku. Di sana sudah sepi. Tapi ada seseorang yang sedang berjalan mondar mandir. Dia yang seolah sadar sedang aku perhatikan, kemudian berhenti. Berdiri di dekat pembatas dan tersenyum dari kejauhan. Yah, Rio. Untunglah dia sudah kembali. Aku balas tersenyum padanya. Membayangkan menjadi Rio, sungguh ironis. Dia terus kesepian seperti itu di sana. Hanya jalan-jalan di sepanjang sekolah. Walau kadang harus pindah ke dimensi lain, tapi aku pikir itu tidak cukup untuk membuat rasa sepinya. Kasihan. Kenapa dia terus di sini, apakah di sana tidak ada tempat untuknya. Padahal Rio bukan hantu jahat. Dia justru baik.


"Bil ...." Kak Rayi kembali membuyarkan lamunanku.


"Eh, kenapa, Kak?" tanyaku gugup.


"Kamu senyum sama siapa?" tanyanya. Kulihat pintu mobil sudah dibuka. Aku bahkan tidak sadar kalau kini sudah berdiri di sebuah mobil merah yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Eh ini mobil siapa?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Mobilku. Kita pulang, kan?" tanyanya lembut. Aku mengangguk. Kemudian masuk ke dalam. Kak Rayi menutup pintu mobil, lalu memutar ke pintu mobil di seberang. Sementara di mobil satunya, tiga temannya sudah mulai menyalakan mesin, dan bersiap akan pergi.


"Mau makan dulu, nggak?" tanya Kak Rayi sambil memakai sabuk pengaman.


"Eum, boleh."


"Oke."


Mobil mulai melesat cepat meninggalkan halaman sekolah. Sepanjang perjalanan aku hanya diam, sambil menatap ke samping. Pikiranku seolah masih berada di sekolah. Memikirkan bagaimana nasib Rio di sana. Walau aku yakin dia tidak akan kenapa-kenapa. Tapi aku merasa kasihan. Dia pasti kesepian.


"Hei, kenapa?"


Aku menoleh dan mendapati Kak Rayi yang sedang menatapku sambil sesekali melihat ke depan. "Ada yang mau kamu ceritakan sama aku? Mungkin bisa mengurangi beban pikiran kamu, Bil?"

__ADS_1


'Apa aku cerita saja, ya? Rasanya aku bisa gila kalau tidak memiliki teman untuk berbagi. Karena apa yang aku alami tadi sungguh aneh,' batinku.


"Aku takut ceritaku nggak masuk akal, Kak."


"Sejak kapan ada hal yang tidak masuk akal yang kamu ceritakan, dan aku anggap itu bohong? Belum pernah ada, kan? lagian hal tidak masuk akal lain apa lagi yang terjadi, Bil? Aku siap mendengarkan."


"Jadi, tadi aku ketemu Rio, kak."


"Ri ... O? Rio yang tadi bahan gosip di rapat OSIS?" tanya Kak Rayi mulai antusias. Aku mengangguk.


"Rio yang katanya hilang sejak tahun ajaran baru itu?"


"Yang anak pinter matematika?"


"Yang seharusnya temen sekelas kamu?"


Aku terus mengangguk menanggapi segala pertanyaan Kak Rayi. "Terus? Ketemu di mana?"


Aku menceritakan semua yang kualami tadi. Dari sejak aku berada di kantin, hingga tiba-tiba aku terlempar ke masa lalu. Bertemu Rio dan kami berdua menyusuri sekolah, sampai akhirnya aku bangun.


"Wow, bisa begitu, ya? Ini kamu pernah mengalami sebelumnya atau baru pernah, Bil?"


"Baru pernah, Kak."


"Keren."


"Tapi kasihan Rio, Kak. Aku yakin dia kesepian di sana. Sepertinya dia nggak bisa ke mana-mana deh. Tapi kenapa harus di sekolah, ya? Padahal dia bahkan belum pernah masuk sehari pun."


"Eum, mungkin karena dia lebih suka sekolah, Bil. Katanya kan dia anak pinter, juara lomba matematika segala. Kamu bayangin deh, anak yang seperti itu, kayaknya memang gila belajar banget kali, ya? Atau bisa aja, karena tubuhnya belum ditemukan, jadi arwahnya nggak tenang?"


"Hm iya juga sih, Kak. Tapi kata dia tubuh Rio udah hancur, karena kecelakaan itu, kan? Mungkin mobilnya terbakar, dan nggak ada orang yang tau. Karena tempat itu kan jarang ada orang berhenti."


"Iya, mungkin seperti itu. Terus kita harus bagaimana? Bikin acara pengajian atau bagaimana? Soalnya yang aku tau begitu, Papa ku sering ngadain acara begitu di rumah soalnya. Untuk mengirimkan doa buat Mama."


"Hah? Kak ... Mama Kak Rayi ...."


"Mama ku juga udah meninggal, Bil. Sejak aku bayi. Jadi mamaku yang sekarang itu mama tiri, tapi dia baik sama aku. Mungkin karena sejak kecil aku sudah dirawat sama dia kali, ya?"


"Ya ampun. Maaf, kak. Aku baru tau," ucapku merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa kok. Jangan nggak enak begitu ah."


"Eum, mungkin nanti aku sama Zidan coba galang teman-teman buat ngadain acara pengajian buat Rio saja."


"Boleh juga itu."


Kami mulai masuk ke sebuah rumah besar. Dan aku bingung, sedang ada di mana. Saat menoleh ke belakang, mobil kak Bintang juga sudah ada di belakang kami. Mereka satu persatu keluar sambil cekikikan dengan celotehan masing-masing. Kak Rayi juga mengajakku turun dari mobil.


"Ini rumahnya ...?"


"Rumahku. Yuk, kita makan di rumah aja. Mama ku masak makanan enak. Aku yakin kamu pasti suka." Kak Rayi menggandeng tanganku dan mengajakku masuk menyusul yang lain. Mereka bertiga sudah lebih dulu di dalam. Seperti nya kedekatan mereka memang sudah mirip saudara saja, bukan lagi sahabat.


Terlihat jelas dari sikap mereka yang langsung masuk begitu saja ke rumah Kak Rayi.


"Tante ...," jerit Kak Roger. Mereka bertiga langsung masuk menuju ruang makan. Aroma masakan mang tercium di pangkal hidungku. Dan cukup membuat perutku bergemuruh lirih. Untung Kak Rayi tidak mendengarnya.


Seorang wanita cantik dengan rambut kecokelatan, terlihat kerepotan menyiapkan makanan di meja. Dia kemudian menoleh pada kami dan tersenyum. Satu persatu dari mereka memeluk wanita tersebut dengan penuh kasih sayang. Begitu pun sebaliknya.


Aku sampai heran, sebenarnya dia itu ibunya siapa sih?


"Ma ... Ini Nabila," kata Kak Rayi menunjukku. Merasa ditunjuk, aku pun mendekat sambil mengulurkan tangan. Sebagai simbol perkenalan diri. Namun saat hendak mengecup punggung tangan Mama Kak Rayi, tubuhku justru ditarik dan alhasil kami justru berpelukan.


"Jadi ini yang namanya Nabila. Cantik," katanya memujiku.


Aku hanya tersenyum kikuk. Rasanya ini bukan kebiasaan ku dan aku tidak bisa cepat akrab dengan orang baru. Apalagi dia ... Mama Kak Rayi.


"Tante masak apa?" tanya Kak Faza sambil menghirup aroma masakan di meja.


"Nah, kita langsung aja makan, ya." Aku juga digandeng untuk duduk di kursi yang kosong. Semua antusias dan kelaparan. Mengambil nasi serta lauk pauk di meja bergantian. Sementara aku hanya diam, yah, setidaknya aku menunggu sampai mereka selesai.


"Eh, Nabila malah diem aja. Sini, tante ambilin. Jangan diem aja. Mereka ini rakus, jadi kalau kamu nggak ambil cepat-cepat bakalan habis sama mereka ini." Piringku diambil oleh Mama Kak Rayi, lalu beliau mengambilkan aku nasi dan lauk pauk lainnya. "Makan yang banyak, ya," katanya, meletakkan piring di depanku dengan senyum manis yang meneduhkan.


Dan, akhirnya kami makan bersama. Sebuah momen yang jarang terjadi. Bahkan tidak pernah terjadi dalam hidupku. Makan di rumah orang lain, bersama teman-temanku. Namun saat makan, aku merasakan seseorang yang mengintip dari lantai atas. Namun, saat aku menengok tidak ada satu orang pun di sana.


"Kenapa, Nabila?" tanya Mama Kak Rayi.


"Eum, nggak apa-apa, tante."


"Eh, Bil. Di rumah Rayi ada setannya juga?" tanya Kak Roger serius. Sepertinya mereka mulai terbiasa denganku.


"Apa? Setan?"


"Iya, tante. Nabila ini sensitif sama hal begituan," tambah Kak Bintang.


Mama Kak Rayi menatapku dalam, "jadi kamu lihat dia?" tanyanya menunjuk ke atas. Begitu aku mengikuti jari Mama Kak Rayi, aku melotot.

__ADS_1


__ADS_2