
Mereka menuju kediaman Latin Kings. Berbekal kesepakatan sebelumnya, untuk membeli senjata api ilegal milik gangster itu. Mobil berhenti di wilayah San Paz. Keadaan di dalam masih sama, terlihat normal. Ada aktivitas jual beli bahan makanan yang memang ada banyak lapak jualan di dalam San Paz. Untuk menutupi kedok mereka tentunya. Tapi seketika mata mereka berdua membulat sempurna, saat ada seseorang yang diseret dengan kasar masuk ke dalam wilayah ini. Wajahnya sudah babak belur, Abi yang hendak menolong lantas ditahan Vin, dengan sebuah isyarat, Vin menggeleng, agar Abi tidak melanjutkan niatnya. Karena apa pun yang terjadi di dalam San Paz, tidak ada yang boleh ikut campur di dalamnya. Aksi pemukulan yang terjadi di dalam wilayah ini, adalah hal wajar yang kerap terjadi, dan terkadang menjadi tontonan gratis penghuninya. Seperti sekarang, mereka hanya menyaksikan orang itu diperlakukan kasar, tanpa ada yang menolongnya. Bahkan mereka hanya melirik dan kembali ke aktivitas masing-masing.
Sejurus dengan hal itu, dua orang mendatangi Vin dan Abi. Menanyakan keperluan mereka. Yah, penjaga San Paz akan mendatangi orang asing yang masuk ke wilayahnya. Penjagaan mereka cukup ketat, dan tidak pernah kecolongan sejauh ini. Tiap penyusup akan segera tertangkap. Jadi mereka memilih cara ini, masuk dengan cara damai. Mendatangi markas Latin Kings. Tatapan mata orang-orang itu terlihat menyeramkan, terus menyorot tajam ke Abimanyu dan Vin. Mereka tetap dicurigai, namun dengan bersikap santai, keadaan mudah terkendali.
Sebuah bangunan kini ada di hadapan mereka, para pria penjaga San Paz itu menunjuk tempat yang mereka tuju. Memberitahukan kalau di sinilah letak Latin Kings berada. Mereka berdua masuk ke dalam.
__________
Kediaman Faizal, tinggal dua gadis kembar dengan pria tua yang tidak lain adalah Alan, kakek mereka. Dua gadis kembar itu membunuh waktu dengan memasak, menyiapkan beberapa kudapan untuk penghuni rumah itu, dan dua pria yang kini sedang berjuang di sana. Sekalipun Abimanyu sudah terkenal sebagai seorang manusia yang tidak mudah mati, tapi Vin tidaklah demikian. Hal itu yang membuat Allea cemas. Namun Ellea terus menguatkan saudaranya, kalau Abi dan Vin pasti akan baik-baik saja.
__ADS_1
Alan memilih duduk di dekat jendela, menikmati suasana malam dari tempatnya. Pikirannya menerawang entah ke mana. Yang pasti, semua orang ada dalam pikirannya. Abi, Vin, Ronal, dan semua masa lalunya. Ia teringat flash disk yang kini sedang yang menjadi rebutan, mengingat apa saja hal rahasia yang begitu membuat banyak orang ingin memilikinya. "Sebenarnya siapa saja nama-nama petinggi yang ada di sana, karena aku pun belum melihat semua daftar nama itu," gumam Alan.
Faizal masih berkutat dengan komputer miliknya, mencoba meretas jaringan CCTV yang ada di sekitar San Paz. Ia penasaran bagaimana kabar dua pria yang kini mengantar nyawa ke sana. Jika mereka melakukan kesalahan sedikit saja, maka tamatlah riwayat mereka. Tak hanya mereka, karena pasti persembunyiannya juga akan segera diketahui. Ia harus bersiap kehilangan semuanya. Terutama pekerjaan. Karena ia menentang pemimpinnya sendiri.
"Zal, kopinya," kata Ellea yang kini masuk ke ruang kerja Faizal. Ia juga penasaran sudah seberapa jauh perkembangan yang Faizal lakukan untuk melacak keberadaan Abi dan Vin. Ellea meletakkan cangkir kopi itu di meja, tak jauh dari tangan Faizal. Pemuda itu hanya melirik sekilas dan mengucapkan terima kasih.
Ellea menarik kursi agar bisa duduk di samping Faizal. Ia juga sudah memegang gelas berisi teh melati kesukaannya. Aromanya menenangkan bagi Ellea. Ia menghirup dalam-dalam wangi daun teh itu. Netranya menatap ke layar datar yang menjadi fokus Faizal. "Bagaimana? Mereka udah ketemu?" tanya Ellea, yang dimaksudkan soal keberadaan Abi dan Vin.
"Ya sudah, Zal. Kita makan dulu saja yuk," ajak Ellea, mengalihkan perhatian pria itu agar otaknya lebih segar setelah makan. Faizal setuju terhadap ide itu. Mereka lalu menyusul Allea yang memang sedang menyajikan makanan untuk mereka santap malam ini.
__ADS_1
Kini di meja makan sudah ada 4 orang. Alan, Faizal, Ellea dan Allea. Mereka memutuskan makan malam lebih dulu. Semua yang tersaji adalah makanan khas Indonesia. Sambal terasi, sayur asem, dan ikan asin. Faizal memang selalu menyetok bahan makanan yang biasa ia temui di Indonesia, ia tidak bisa makan, makanan sembarangan. Faizal juga kerap memasak walau masakannya tidak begitu lezat. "Wah, enak ini," kata Faizal memuji masakan Allea. Faizal segera mengambil nasi dan segala lauk pauk yang tersaji. Ia makan begitu lahap. Tapi tidak dengan tiga orang lainnya.
Merasa keadaan tidak memungkinkan untuk Faizal berbahagia atas segala masakan lezat ini, buru-buru ia menghabiskan jatah makannya. "Eum, gue balik liat keadaan dari sana, ya," tunjuk Faizal ke arah ruang kerjanya, di mana komputer masih menyala. Ketiganya tidak berkomentar apa pun, hanya menatap sekilas Faizal yang buru-buru pergi.
Faizal yang sebenarnya tidak nyaman karena harus berbagi tempat untuk mereka semua, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak mungkin setega itu membiarkan nyawa mereka berada dalam bahaya jika ada di luar sana. Kopi masih tersisa banyak. Faizal menyudahi makannya dengan kopi buatan Ellea tadi. Ia mencoba kembali fokus pada layar itu. Saat Faizal hendak mencari cara untuk masuk ke akses San Paz, ia tertegun dengan kedatangan beberapa mobil di basement. Gerak-gerik orang-orang itu mencurigakan. Saat mereka turun, Faizal memperbesar gambar orang-orang itu. Semua memakai masker wajah, hingga tidak dapat dikenali dari layar ini. Firasatnya buruk. Ia segera berteriak memanggil nama orang-orang di rumahnya satu persatu.
"Ada apa sih, Zal?" tanya Elea yang segera mendekat karena merasa terpanggil. Faizal menoleh, dan menatap Elea dengan wajah ketakutan. Tangannya menunjuk ke layar itu. "Mereka ... sepertinya bakal ke sini!" tutur Faizal yakin. Elea mendekat dan memincingkan matanya. Kini ia juga sependapat dengan Faizal. Rupanya di tempat ini pun, mereka tidak aman. Siapa lagi orang-orang itu? Kenapa mereka datang mencari mereka. Apakah orang-orang kiriman Austin? Atau Ronal?
Allea dan Alan ikut penasaran dan bergabung dengan Faizal dan Elea. "Kenapa?"
__ADS_1
"Kita harus bergerak! Zal, elu punya senjata api? Pistol atau apa pun itu?"
"Oh, damn! Akhirnya gue keluarin barang-barang itu. Nggak sia-sia gue beli giniian!" kata Faizal, membuka laci di bawahnya. Di sana beberapa senjata api masih terlihat baru dan lengkap. "Silakan kalian pilih, ladies, mana yang paling kalian suka. Dan anda juga, Pak tua, " cetus Faizal merasa bangga.