pancasona

pancasona
Part 80 portal kristal


__ADS_3

Tiga orang manusia melawan puluhan Kalla bukanlah pemandangan yang aneh. Terlebih jika manusia-manusia itu adalah para Argenis.


Tak dapat dipungkiri kalau kemampuan Adi, Gio, dan Vin yang cukup hebat. Mereka memang cocok menjadi anggota kelompok ini. Menjadi pasukan berani mati untuk kepentingan umat manusia. Karena ini bukan kali pertama. Teri black demon dulu cukup membuat mereka juga hampir mati.


Di dalam gedung. Alicia masih mencoba kabur. Namun ia tidak berani jika harus keluar lewat pintu depan. Makhluk mengerikan itu pasti akan menangkapnya lagi. Alicia memutuskan sembunyi di ruang operasional yang ada di dekat tangga darurat. Baku hantam di luar membuat tubuhnya gemetaran. Ada sedikit kelegaan dalam batinnya, karena paling tidak kini ada beberapa orang yang akan menyelamatkan dirinya.


Alicia masuk ke ruangan yang penuh tumpukan kardus bekas. Tubuhnya masih gemetaran. Penampilannya acak-acakan. Suara perkelahian di luar sana bahkan terdengar sampai ke ruangan ini. Alicia meraih telepon genggamnya. Membuka aplikasi pesan dan mengetik pesan ke Abimanyu.


Jemari Alicia bahkan tidak bisa diam karena gemetaran. Ia menangis dengan berusaha meminimalisir suaranya.


[Sebentar lagi aku sampai.]


Alicia mencoba menetralkan nafasnya. Matanya terpejam agar lebih tenang. Namun suara langkah kaki yang kini mulai mendekat, membuat Alicia kembali waspada. Langkah kaki seseorang terdengar santai mendekati ruangan ini. Dan suara siulan yang khas membuat Alicia paham siapa orang itu.


"Alicia ...," panggil Nayaka di luar. Langkahnya santai, ia terus bersiul dengan nada yang terus sama, jika dirinya sedang senang. Adi, Gio, dan Vin lengah. Tidak tau kalau orang yang seharusnya mereka lindungi justru dalam bahaya.


Pintu terbuka kasar. Nayaka menendang pintu itu hingga engselnya terlepas. Alicia beringsut mundur. Bersembunyi makin dalam walau sebenarnya dia sudah terpojok. Tangis Alicia tertahan. Ia benar-benar ketakutan tapi tidak tau harus berbuat apa.


"Alicia? Kau di mana? Percuma kau bersembunyi, karena aku pasti akan datang dan menangkapmu," kata Nayaka dengan nada pelan. Benar-benar meneror pikiran dan hati Alicia. Malaikat pencabut nyawa seolah mulai dekat. Bayangan Nayaka terlihat di depan Alicia. Otomatis tempat persembunyiannya akan segera di temukan. Karena Nayaka termasuk orang cerdik.


Di luar, kobaran api mulai nampak di beberapa titik. Sudah ada beberapa Kalla yang mereka bunuh. Menebas, menggorok dan membakar tubuh hitam itu.


Adi sedikit terluka di pelipis kanannya. Gio tertusuk pisau di paha kirinya, sementara telapak tangan Vin terkena sabetan kaca.


Suara langkah beberapa orang mendekat, terdengar berisik. "Oh my God!" seru Gio menatap ke sudut jalan di hadapannya. Adi menoleh, ikut menatap ke arah yang Gio tuju. Bayangan beberapa orang mendekat, bagai sebuah pasukan perang. Mereka adalah Kalla dari seluruh penjuru kota. Berkumpul atau mungkin sengaja dikumpulkan oleh pemimpin mereka.


"Gi, kau masih sanggup, bukan?" tanya Adi.


"Kita lihat saja," kata Gio sedikit cemas. Mereka benar-benar kalah jumlah. Energi mereka juga mulai menipis.


"Guys, lihatlah. Apa aku salah lihat?" tanya Vin ke arah sebaliknya.


Beberapa Kallandra datang dari arah lain. Bentuk mereka memang lebih enak dilihat timbang Kalla, namun tentu saja kekuatan mereka juga lebih hebat. Ini benar-benar mimpi buruk yang nyata.


"Sebaiknya kita membagi tugas. Jumlah mereka terlalu banyak, bukan?"


"Kau benar. Aku urus bagian ini, kau sana. Vin ujung itu!" tunjuk Adi ke tiga titik tempat. Semua Kalla dan Kallandra mendekati mereka bertiga. Mereka bersiap lagi, untuk peperangan sengit ini dengan sisa sisa tenaga yang masih ada. Juga semangat dan rasa terus ingin melindungi dunia ini.


Saat mereka dilanda rasa pesimis, tiba-tiba dari arah langit muncul beberapa garis terang berwarna biru. Mirip meteor yang jatuh ke bumi. Tidak hanya satu tapi ada beberapa. Dan anehnya sinar biru itu menuju ke arah mereka.


Bunyi berdebum kencang membuat tanah sekitar bergetar. Bahkan mereka sempat mencari pegangan karena ini mirip gempa bumi. Sinar tadi berhenti lalu membentuk lingkaran memutari Adi, Gio, dan Vin. Bentuknya lurus dan makin lama sangat mirip manusia. Manusia dengan sinar biru terang yang sedikit menyilaukan mata. Di tangan mereka terdapat sebuah pedang. Mereka serempak mengangkat pedang ke arah musuh. Suara teriakan seolah menjadi tanda peperangan dimulai. Semua saling tebas dan bunuh.


"Di, siapa mereka?" tanya Gio yang masih tercengang dengan bantuan yang baru saja datang. "Mereka ada di pihak kita, bukan?" tanya Gio lagi.


"Mereka Argenis."


"Hah? Argenis? Maksudmu?" pekik Vin dengan pertanyaan sama yang ingin dilontarkan Gio.


"Kalian ingat? Tugu batu saphire di pulau Pak John?"

__ADS_1


Kedua pria itu mengangguk. "Mereka penjaga pulau saphire. Tunggu! Berarti Wira ...," gumam Adi tengak tengok mencari sesuatu.


"Apa maksudmu memanggil Wira? Dia juga datang? Mana? Mana?" Gio ikut menatap langit mencari seseorang. Wira.


"Hei, lebih baik kita juga bergerak!" ajak Vin. Ia menerobos masuk kembali melanjutkan pertempuran sengit ini. Setidaknya mereka dapat bertahan karena datangnya bala bantuan ini.


Vin terpental saat menghadapi salah satu Kallandra. Mulutnya penuh darah. Ia bahkan menekan dadanya karena rasa sakit dan panas yang terus menjalar. Ada bau gosong yang tercium dari hidungnya. Vin membuka kemeja dan melihat sebuah gambar tanda telapak tangan di dadanya yang mulai menghitam. Tenaga Vin mulai menipis. Ia tak sanggup lagi melawan Kallandra yang kini mulai berjalan mendekatinya.


"Ucapkan selamat tinggal pada kawanmu, hai manusia!" kata Kallandra itu. Ia melayangkan pedang bersiap menebas kepala Vin. Vin yang sudah lemah tidak bisa lagi mengelak. Ia pasrah. Mata terpejam bersiap menghadapi mautnya sendiri.


Craaash! Suara kepala yang terpenggal dengan gesekan pedang terdengar nyaring. Darah muncrat mengenai wajah Vin. Ia menyeka wajahnya dan mendapati cairan darah hitam mengotori tubuhnya sendiri. Di depannya tubuh Kallandra terpotong menjadi tiga bagian. Kepalanya sudah menggelinding, bagian atas tubuhnya mulai jatuh ke tanah. Sementara kakinya masih berdiri tegak. Vin tersenyum bahagia. Bukan karena melihat Kallandra yang terpotong menjadi beberapa bagian, tapi karena orang di belakangnya.


"Abimanyu?!" seru Vin dengan mata berbinar.


Abimanyu memegang sebilah pedang yang istimewa dan baru pertama kalu Vin lihat. Warnanya yang dominan biru dan terlihat kokoh itu membuat Vin terpana. Abimanyu mengulurkan tangannya, membantu Vin berdiri. "Kau tidak apa-apa, kan?" tanyanya.


"Yah, nyaris saja aku menjadi potongan tubuh seperti itu," tunjuk Vin pada tubuh gosong yang tergeletak di depannya.


"Haha. Baiklah, lebih baik kita kembali bertarung. Mereka makin banyak saja." Abimanyu menyapu pandang ke sekitar, mengamati keadaan yang benar-benar kacau. Kota ini memprihatinkan.


"Kau benar." Vin mulai berusaha mengumpulkan lagi tenaganya. Melihatnya Abimanyu dan Elang datang seolah menjadikan magnet untuknya untuk kembali masuk dalam pusaran perkelahian itu.


Saat mereka akan pergi, vin menoleh ke sosok Kallandra yang baru saja dibunuh Abimanyu. Ia mencium bau gosong. Percikan api mulai muncul dari potongan tubuhnya. Dalam sekejap percikan api itu membesar dan melahap habis Kallandra. "Waw, luar biasa!" gumam Vin. Tanpa pematik tubuh Kallandra langsung terbakar habis dalam sekejap.


Elang sudah lebih dulu membunuh Kalla yang tadi menghalangi jalannya.


Sebelumnya Elang mendatangi seseorang. Ia ahli pembuat pedang. Teman dekat Arya dan dirinya sendiri. Pedang buatannya selalu terbaik. Elang memberikan darah lapetus, dan cairan blue saphire yang ia temukan di rumah Arya. Oleh Gandhi, bahan itu ia buat menjadi pedang yang dicampur perak. Dan inilah senjata milik Abimanyu. Kini tugas sang ayah telah pindah ke tangan Abimanyu. Tugas yang cukup berat. Tapi memang harus dilakukan. Memang sebenarnya Arya adalah seseorang yang dapat membunuh Arkie, Nayaka, hanya saja ia lebih dulu dibunuh oleh kawanan Kalla karena identitasnya yang sudah diketahui oleh mereka. Arya memiliki tato simbol aldabaro itu.


Sejak Arya meninggal, Nayaka merasa di atas angin, ia berfikir tidak akan ada lagi ancaman apa pun. Hingga saat Abimanyu datang dalam hidupnya. Nayaka sadar kalau ia melihat Arya dalam diri Abimanyu.


_____


Beberapa Kalla sudah mulai binasa. Begitu juga dengan Kallandra. Sesaat tanah seperti bergetar. Retakan aspal jalan terlihat mengelilingi sekitar. Bangunan di beberapa tempat bergoyang. Bahkan terlihat akan runtuh.


Tiba-tiba gedung apartment Nayaka runtuh. Abimanyu menatap ke bangunan itu sambil berteriak memanggil nama Alicia. Keadaan menjadi hening sesaat.


Mereka terkejut sekaligus penasaran. "Nayaka mana?"


"Tidak mungkin dia akan mati begitu saja, bukan?"


Dan benar saja. Reruntuhan itu bergerak. Seseorang keluar dari tumpukan tembok di depan. Nayaka muncul dengan smirk mengerikan. Di tangan kanannya ia menyeret seseorang. Alicia.


Tubuh Alicia lemah. Penuh luka di sekujur badannya. Bekas darah kering terlihat terlihat di mulutnya. Alicia bergerak, air muka Abimanyu berubah. Setidaknya wanita itu masih hidup. Walau keadaannya memprihatinkan.


Nayaka dengan santai menyeret tubuh Alicia tanpa kesulitan. Ia memegang kaki kiri Alicia dan membawanya begitu saja. Berkali kali kepala Alicia terantuk batu dan menyeret pecahan kaca. Wanita itu hanya menggumam. Merintih karena rasa sakit yang teramat sangat. Hingga ia tak sanggup lagi berkata-kata.


"Selamat malam, Abimanyu," sapa Nayaka berjalan mendekatinya. Ditangan Nayaka masih memegang kaki Alicia.


"Lepaskan dia! Bukannya aku yang kau cari, Nayaka?"

__ADS_1


"Dia?" tanya Nayaka menoleh ke tubuh lemah di bawahnya. "Ah yah, dia salah satu orang yang kau hormati, bukan?" 


Sementara itu, kawanan Kalla terus berdatangan bahkan seolah tidak ada habisnya. Adi dan Gio sudah sangat kewalahan. Vin memilih duduk sambil menetralkan nafasnya. Tenaganya sudah terkuras habis. Terlebih luka ditubuhnya seolah menjadi penghambat gerak tubuhnya.


"Bagaimana perasaanmu melihat orang yang kau sayangi mati terbunuh di depan matamu sendiri?"


Abimanyu terus diam. Mencoba mencari celah agar dirinya bisa menyelamatkan Alicia yang sudah tidak berdaya. Wanita itu memang salah satu orang yang ingin Abi lindungi. Perhatian Alicia selama ini membuat Abi merasakan memiliki saudara perempuan. Alicia selalu membuatkan sarapan saat Abi masih bekerja di cafe dulu. Bahkan sejak Abi tidak lagi datang ke cafe, Alicia sering menanyakan kabarnya. Mengirim pesan untuk sekedar mengingatkan makan dan selalu berhati-hati.


"Maumu apa, Nayaka?"


"Mauku? Tentu saja membunuh kalian semua. Dan menguasai dunia. Menjadikan kalian, manusia, menjadi budak kami selamanya."


"Jangan bermimpi!" cetus Abi sinis.


"Mimpi? Baiklah. Sebaiknya kau melihat ini agar tau apakah ini mimpi atau bukan!" Nayaka melempar tubuh Alicia ke atas, lalu dengan cepat menangkapnya lagi dengan mencekik lehernya.


Gio berlari mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, namun saat tangan Nayaka menjulur ke arahnya, ia terpental cukup kencang dan jatuh di atas sebuah mobil yang terparkir 500 meter jauhnya.


Mulut Gio mengeluarkan darah segar. Ia memegang dadanya karena rasa sakit yang teramat sangat. Tubuhnya lemah. Adi mendekati Gio, memeriksa kondisinya.


"Kau bantu saja Abi! Aku tidak apa-apa," kata Gio dengan suara yang hampir tidak dapat di dengar Adi. Untuk pertama kalinya Adi menangis karena Gio. Ia sadar kalau kondisi Gio cukup parah.


"Kau harus bertahan, Gi. Aku akan kembali lagi," kata Adi sambil menyeka air matanya sendiri.


"Dasar cengeng. Kau tidak cocok menangis, bodoh!"


Adi tersenyum. Dengan hati yang nyeri. Ia melepas jaketnya dan memakaikan ke Gio. "Bertahanlah, Gi."


Gio mengangguk dan melepas kepergian Adi. Ia mencoba menahan rasa sakit di tubuhnya. Menatap langit yang gelap dengan 5 titik bintang yang paling terang. "Astaga, aku bahkan lupa kapan terakhir kali menatap langit seperti ini. Apakah ini saat saat terakhirku di dunia ini?" ia berbicara sendiri sambil menertawakan hidupnya yang ia rasakan akan segera berakhir.


Adi berlari menuju Nayaka, sambil menyabet pedang dan menghunuskan pada Kalla yang menghalanginya. Pikirannya diliputi dendam karena makhluk itu, ia hampir kehilangan sahabatnya.


Penjaga pulau saphire mampu membuat populasi Kalla menyusut. Tapi tidak dengan Kallandra.


Leher Alicia mengeluarkan darah segar. Kuku Nayaka menancap dalam dan makin dalam.


"Bagaimana rasanya melihat orang yang penting di hidupmu mati, Bi?"


Abi tidak menjawab ia malah maju untuk menyerang Nayaka. Tapi tubuhnya juga terpental karena Nayaka memiliki kemampuan mengendalikan pikiran. Ia bisa menyakiti orang tanpa menyentuhnya hanya dengan pikirannya saja.


Dan hal itu membuat Nayaka tidak bisa diserang. Jangankan di serang secara terang terangan, baru mendekat saja mereka semua selalu terpental. Bagai ada portal kokoh yang melindungi dirinya. Elang mendekati Abimanyu. "Percuma saja kau mendekat, Bi. Kita tidak akan bisa menyentuhnya. Ia melindungi dirinya dengan portal kristal," bisik Elang dan membantunya berdiri.


"Portal kristal?"


"Kau tidak akan bisa melihatnya dengan mata biasa. Gunakan mata batinmu."


'Mata batinku?' batin Abimanyu dalam hati. Abi mencoba tenang, memejamkan matanya dan berkonsentrasi. Saat matanya kembali terbuka, ia dengan jelas melihat bayangan mirip kaca ada di sekeliling Nayaka. "Astaga. Dia hebat sekali, paman. Lalu bagaimana cara kita membunuhnya."


"Asal kau tau saja. Aku pun tidak tau bagaimana membunuhnya. Tetapi jika kita bisa membunuh Nayaka, maka Kalla dan semua pengikutnya akan binasa. Jadi pikirkan lah cara untuk menembus portal itu!" bisik Elang.

__ADS_1


__ADS_2