pancasona

pancasona
Part 133 Kehilangan


__ADS_3

"Sebenernya elu ada masalah apa, Bi?" tanya Zikal.


"Panjang ceritanya, Kal," sahut Abimanyu bersandar di salah satu tembok usang milik Zikal. "Yang jelas sekarang orang-orang yang gue lawan, bukan orang sembarangan. Gue makin pesimis, kalau gue nggak bisa tolong orang-orang yang gue sayang."


"Cih, kalimat apa itu? Gue nggak sangka bakal denger kalimat itu dari mulut seorang Abimanyu. Abi yang gue kenal nggak selemah ini. Elu habis kesambet setan mana, jadi lembek gini? Justru karena elu harus tolong orang-orang yang elu sayang itu, elu harus lebih kuat. Jadikan mereka kekuatan elu, Bi!"


"..."


"Ceritain sama gue masalah elu, kali aja gue bisa bantu. Mungkin tenaga, senjata, apa pun itu."


Abimanyu menarik nafas panjang, mengingat kejadian demi kejadian yang telah menimpanya dan orang-orang terdekatnya. Kejahatan Kartel Ransford dan para anggotanya.


"Wow, jadi soal itu?"


"Jadi elu bisa bantu gue?"


"Gini, gue kenal baik soal Nicholas itu. Dia memang brengsek asal lu tau saja. Salah satu orang besar di Indonesia yang paling munafik yang gue kenal. Karena gue pernah berurusan sama dia. Dia bukan orang sembarangan, kaki tangannya banyak dan nggak mudah ditaklukkan. Bahkan elu nggak akan bisa masuk ke markasnya dengan segampang itu!"


"Tapi dia kasih tau alamat dan kapan gue harus ke sana, Kal," kata Abi sambil menunjukkan pesan singkat dari Nicholas.


"Elu **** atau bodoh? Kalau elu ke sana sesuai apa yang dia suruh, sama aja elu cuma setor nyawa aja. Gue yakin dia udah siapin banyak rencana buat bunuh lu nanti! Pakai otak, Bi. Jangan emosi lu terus yang dikedepankan!"


"Terus gue harus bagaimana, Kal?"


Belum sempat Zikal menjawab, ponsel Abimanyu berdering. Dan nama Vin ada dilayar ponselnya.


"Halo, Vin?"


"...."


"Vin?" Merasa aneh karena tidak ada suara apa pun di seberang sana, Abi mulai cemas. Ini juga salah satu kesalahannya membiarkan Vin menjaga Rizal dan Nabila sendirian. Karena Nicholas adalah salah satu kapten angkatan udara yang dipercaya orang banyak, dibandingkan dirinya yang bukan siapa-siapa. Maka pasti akan lebih mudah mendapat simpati dan bantuan dari berbagai kalangan. Abimanyu baru benar-benar menyadari ia sendirian sekarang. Ia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, justru orang-orang di sekitarnya.


"Bi," kata Vin dengan suara yang berbisik.


"Di mana lu sekarang. Lu nggak apa-apa, kan?" tanya Abi langsung beranjak dari duduk saat suara Vin terdengar.


"Dengerin gue! Kita dijebak!"


"Maksud lu?"


"Semua polisi di sini, ada di pihak Nicholas. Gue nggak tau bagaimana keadaan Rizal sama Nabila, karena dari tadi mereka nggak sadar. Kalau pun mereka tidur itu aneh, Bi."


"Maksud lu apa sih, Vin? Ceritain yang jelas!"


"Gini, tadi ada dokter yang masuk ke sini, ke ruangan ini. Sama suster juga. Mereka bilang Rizal sama Nabila harus di kasih antibiotik buat mengurangi rasa sakit, karena sebelumnya mereka berdua memang bangun dan mengerang kesakitan terus, Bi. Tapi pas dokter itu masuk, gue lihat Nabila melotot ke gue sambil berusaha menggeleng. Lu tau kan maksud gue? Dia kayak kasih isyarat ke gue buat nggak biarin itu dokter kasih mereka suntikan."


"Oke, terus?"


"Anehnya lagi, itu suster masa pakai sepatu boot?! Kan aneh?" Vin terus menjelaskan sambil berbisik dan penuh semangat.


"Lu udah cek denyut nadi mereka? Nafasnya, detak jantungnya?"


"Mereka masih hidup, tapi tubuh mereka seolah mati! Itu yang gue rasain. Jadi percuma gue di sana terus, kan?"


"Loh elu di mana sekarang? Berisik banget?" tanya Abimanyu yang baru menyadari kalau Vin ada di tempat yang ramai dengan embusan angin yang terdengar berisik di telinganya.

__ADS_1


"Gue ... gue lagi di luar jendela, Bi. Huh, tinggi juga, ya," kata Vin. Ia memang sedang melakukan aksi melarikan diri dari ruang rawat inap Rizal dan Nabila. Berdiri di pinggiran jendela dan sedang memikirkan bagaimana caranya turun ke bawah.


"Ya sudah, gue ke sana jemput elu!" kata Abimanyu.


"Bi! No!" tukas Vin.


"Kenapa?"


"Nggak aman, Bro! Polisi ada di mana-mana. Dan sekarang gue lebih baik ketemu preman daripada harus ketemu mereka itu. Karena gue nggak tau mana yang bisa gue percaya, mana yang ternyata pihak mereka!" Nada bicara Vin terdengar sangat kesal.


"Ck. Terus bagaimana? Gue juga harus ke tempat Nicholas besok pagi. Mereka culik Ellea dan yang lainnya!"


"Apa?! *****!" umpat Vin makin kesal.


"Gini saja, elu bisa keluar dari sana sekarang, Vin? Gue jemput nanti di perempatan deket rumah sakit, gimana?" tanya Abimanyu, mencari solusi terbaik. Ia juga bingung dan tidak tau harus berbuat apa jika Vin sampai tertangkap. Setidaknya keberadaan Vin di sana menjadi salah satu penyemangat bagi dirinya. Ia jadi tau kalau dirinya tidak berjuang seorang diri.


"Oke."


Akhirnya Abimanyu pergi meninggalkan tempat Zikal. Setelah meminta beberapa amunisi dan senjata yang akan ia pakai untuk menyerang tempat Nicholas dan membebaskan teman-temannya. Selama di perjalanan menuju tempat Vin, Abi terus berfikir keras bagaimana caranya agar bisa masuk ke sana dan membawa Ellea dan yang lainnya keluar dari sana hidup-hidup. Ia yakin, Nicholas tidak akan membiarkan mereka selamat. Dan undangan ini sengaja dia lakukan untuk membunuh mereka semua.


Abi sampai di perempatan yang menjadi tempat bertemunya Vin dengan dirinya. Suasana sunyi. Karena hari sudah menjelang pagi. Ia juga merasakan matanya mulai berat, dan beberapa kali ia menguap menahan kantuk. Hawa dingin mulai merasuk dalam tubuh Abi. Ia sengaja tidak menyalakan AC di mobil karena udara AC yang sejak tadi ia hirup sangat tidak menyehatkan tubuhnya. Jendela ia buka setengah, agar udara di luar mulai menggantikan udara AC yang pengap tadi. Abi terus memperhatikan jalan di mana rumah sakit tempat Nabila dan Rizal dirawat berada. Ia terus menunggu jika ada pergerakan dari arah itu, karena yakin pasti itu adalah Vin.


Suara letusan senjata api terdengar dari tempatnya memarkirkan mobil. Ia memicingkan mata melihat ke jalan itu. Menunggu dan akhirnya seseorang terlihat sedang berlari keluar dari sana. Otomatis Abi segera menyalakan mesin mobilnya. Dari kejauhan ia dapat melihat Vin sedang berlari menghindari beberapa orang yang sedang mengejarnya.


"Masuk!" jerit Abi. Vin terkejut melihat Abi, tapi berondongan peluru langsung melesat dan mengenai tubuh Vin. Pemuda itu melotot karena terkena tembakan dipunggungnya. Tidak hanya satu, tapi ada beberapa. Kini mulutnya mulai mengeluarkan darah segar. Abi mengambil pistol dan mulai menembak orang-orang yang menyerang Vin. Ia keluar dari mobil, menuju pintu penumpang di mana tubuh Vin mulai luruh ke aspal jalan. "Vin!" jeritnya. Semua tembakan Abi selalu tepat sasaran, ia tidak menembak tubuh para polisi itu. Melainkan kaki dan anggota tubuh lain yang sekiranya tidak dilapisi pelindung anti peluru. "Vin, masuk!" Abi memapah sahabatnya agar masuk ke mobil, sementara tangan satunya melindungi dirinya dan Vin, menembak ke arah orang-orang itu. Orang-orang yang seharusnya melindungi rakyat, bukan malah membela penjahat seperti Nicholas.


Abi mulai menjalankan mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu. Ia merutuki dirinya sendiri, karena melihat kondisi Vin yang memprihatinkan. Wajahnya sudah sangat pucat, karena ia sudah banyak kehilangan darah. Tidak tau harus pergi ke mana, Abi justru kembali ke tempat Zikal.Baginya sarang bandar narkoba dan bandar semua kejahatan di kota ini justru tempat teraman yang ia punya.


Vin dipapah oleh Abi keluar dari mobil. Beberapa teman Zikal menatapnya heran. "Kenapa, Bang?" tanya salah seorang dari mereka.


"Bang!" panggilnya lagi. Abi menoleh. "Kunci mobil lu mana? Biar gue umpetin. Mereka pasti nyari elu sampai sini! Kita bisa bikin mereka pergi kalau nggak ada bukti elu ke sini!" katanya dengan mengulurkan tangan meminta apa yang tadi ia katakan.


Abi tampak diam beberapa saat, dan akhirnya merogoh kantung celananya dan melempar kunci itu padanya. "Terima kasih!" Ia hanya mengangguk menanggapi.


Sampai di tempat Zikal, Vin dibawa ke sebuah ruangan rahasia yang ada di balik salah satu tembok tempat itu. "Biar gue obatin teman lu!" kata Zikal dan mengambil alih Vin, masuk ke ruangan itu. Abi mengikuti mereka. IA cemas dan khawatir jika terjadi hal buruk pada Vin.


Di ruangan rahasia itu ada sebuah bed yang mirip rumah sakit. Ada peralatan bedah lainnya dan tempat ini lebih mirip klinik kecil. "Ini?" tanya Abimanyu.


"Gue dan teman-teman udah biasa ngadepin ginian. Bahkan lu bisa lihat di badan gue," kata Zikal sambil mengangkat kemeja yang ia pakai. Abi melihat banyak luka sayatan dan bekas jahitan. Mengingat apa pekerjaan Zikal, maka itu memang wajar saja.


Vin di baringkan di ranjang operasi. Layaknya dokter yang akan mengoperasi pasien, Zikal memakai semua peralatan yang mirip dokter. Orang yang tadi bertemu Abi di luar, kini masuk ke dalam. Ia juga segera menempatkan dirinya membantu Zikal. "Mobil lu aman. Mereka nggak bakal nemuin. Sebaiknya lu bersembunyi. Bentar lagi mereka ke sini!" katanya sambil melirik sekilas ke arah Abimanyu yang mematung di dekat Zikal.


"Dia bener, Bi. Biar temen lu kami urus," kata Zikal sependapat.


"Gue harus pergi sekarang!"


"Mau ke mana lu? Jangan nekat, Bi. Sekarang lu buronan!" larang Zikal.


"Gue tau harus gimana, Kal! Asal gue titip dia di sini. Tolong jaga dia selama gue pergi."


Zikal menarik nafas panjang. Lalu mengangguk. Abi tersenyum getir, lalu beralih memandang Vin yang sedang ditolong oleh Zikal dan temannya. "Hey!" panggil Zikal saat Abi hendak pergi. Ia pun menoleh kembali. "Bawa mobil gue! Di bagasi ada beberapa senjata yang bisa lu pakai. Dan tentunya mobil gue nggak akan mereka curigai!" Zikal melempar sebuah kunci mobil dan segera ditangkap Abimanyu. Pemuda itu menarik sebelah bibirnya seolah sedang berterima kasih.


Abi secepat mungkin pergi dari tempat itu. Ia lebih mempercayai Zikal dari pada aparat polisi di kota ini sekarang. Abi sampai di pelataran parkir tempat itu, ada puluhan mobil di basement. Ia bingung mencari yang mana mobil Zikal di antara puluhan benda besi di sekitarnya. Abi menatap kunci mobil, lalu menekan tombol buka kunci. Sebuah mobil tang ada di tengah basement berbunyi, menandakan kalau itulah mobil Zikal. Abi segera berlari menghampiri mobil yang masih menyala lampunya karena efek tombol yang ia tekan tadi. "Wow!" Ia mendapati sebuah jeep wrangler Rubicon terlihat memukau di depannya sekarang. Abi menyempatkan terpana beberapa menit melihat mobil milik Zikal itu. Memutar dan memeriksa tiap inci bagiannya. Benar saja, ia menemukan sebuah kotak besar di tengah mobil berwarna abu-abu itu. Saat dibuka, beberapa pucuk senjata api beserta amunisi tersedia di sana.


Fajar sebentar lagi muncul. Abi segera mempercepat gerakannya. Kini ia mulai pergi ke tempat Nicholas. Tidak hanya senjata, tapi rompi anti peluru juga ada di mobil itu. Abi tetap memakai benda itu, ia tidak tau lawan seperti apa yang ia hadapi, dan medan seperti apa yang akan ada di tempat itu. Sekali pun ia kebal terhadap senjata api, tapi ia tetap memiliki kekurangan.

__ADS_1


Sebuah bangunan terbengkalai terlihat ada tak jauh dari tempatnya berhenti. Ia memeriksa alamat itu dan rupanya memang di sinilah, Nicholas menculik teman-temannya. Tempat ini ada di pinggir kota, di kelilingi hutan dan beberapa bangunan kosong yang sepertinya bekas pabrik. Tidak ada perkampungan penduduk sejauh beberapa kilometer di sekitarnya. Ia turun dari mobil, lalu membawa beberapa senjata api yang ada di mobil itu.


Abi bersembunyi sambil perlahan masuk lewat pintu belakang. Beberapa penjaga ada di depan saat ia melewati tempat ini tadi. Abi mulai masuk dan perlahan mencari di mana keberadaan Ellea dan yang lainnya disekap. Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya, Abi bersembunyi. Rupanya orang itu membawa nampan yang berisi makanan dan minuman. Abi sangat yakin kalau itu untuk Ellea dan teman-temannya. Ia mengendap-endap dan terus mengekor orang tadi dari jarak jauh.


Saat sampai di sebuah pintu yang terkunci, orang tadi berhenti dan mendorong nampan itu melewati pintu bagian bawah. Ada sedikit lubang untuk memberikan makanan dari luar, jadi ia tidak perlu membuka pintu itu. "Makan!" katanya kasar. Begitu ia hendak pergi, Abi berlari dan menendang leher orang itu hingga ia tidak bisa berteriak, hanya memegangi lehernya yang terasa sakit. Ia melotot melihat kedatangan Abimanyu. Abi justru memukul orang tadi hingga pingsan.


"Bi?!" panggil seseorang yang berada di balik jeruji besi di dekatnya.


"Paman! Kalian nggak apa-apa?" tanya Abimanyu, ia melihat dua orang pria itu sedang ada di dalam dengan keadaan kacau. Wajah mereka hampir tidak bisa dikenali, tapi Abi yakin kalau itu adalah Gio dan Adi. "Ellea sama Allea mana?"


"Ada. Tapi nggak di sini. Kayaknya mereka di bawa pergi. Kami nggak tau."


"Damn!" umpat Abi menjambak rambutnya sendiri. "Itu paman, Adi kenapa?" tanya Abi melihat Adi hanya duduk sambil memegang perutnya. Ia terus menunduk tak bergerak. Gio menoleh, dan melihat hal itu juga. "Di! Adi! Lu masih bisa tahan, kan?" tanya Adi.


"Paman Adi kenapa?" tanya Abi sekali lagi.


"Dia kena tembak di perutnya. Tapi tenang aja, masih bernafas kok!" kata Gio setelah memeriksa kondisi sahabatnya itu.


"Biar Abi buka pintu ini."


"Bagaimana caranya? Kunci nggak ada di sini. Cuma dipegang sama Frans."


"Siapa Frans?"


"Kaki kanan Nicholas. Dia yang menculik kami."


"Oh, dia bakal mati ditanganku!" Kata Abi sambil mengeluarkan sebuah pistol. Ia memakaikan peredam terlebih dahulu, agar suara letusannya tidak memancing perhatian seluru orang di tempat ini. Gembok terlepas. Gio membantu Adi berdiri. "Ayok, kita pergi dari sini!" Abi ikut membantu memapah Adi. Kondisi Adi terlihat sangat mengkhawatirkan, bahkan hampir sama seperti Vin tadi. Mungkin karena luka ini sudah didapat cukup lama bersarang ditubuh Adi.


Abi keluar lebih dulu, untuk memeriksa keadaan. Sementara Adi dan Gio menunggu hingga keadaan aman. "Ayok!" kata Abi, memberikan instruksi. Namun saat dua pamannya itu keluar, beberapa penjaga justru memergoki mereka. "Hei!" teriak salah satu dari mereka.


Otomatis Abi menembak mereka, dan terjadi baku tembak di antara dua kubu itu. Gio kembali membawa Adi bersembunyi. Adi meringis kesakitan. "Gi ...," katanya dengan suara parau.


"Udah diem saja lu. Simpen tenaga. Bentar lagi kita keluar!" kata Gio bersiap berada di garda depan, menutupi tubuh Adi yang makin lemah. Gio yang sudah mendapat pistol dari Abi tadi, mulai menembak mereka satu persatu.


"Paman, sembunyi!" jerit Abimanyu setelah melempar sebuah granat yang ia simpan di kantung bajunya tadi. Benda itu meledak di antara kerumunan anak buah Nicholas. "Ayo!" kata Abimanyu membantu Adi berdiri. Gedung itu sebagian runtuh. Mereka bertiga berlari meninggalkan gedung tadi bersama-sama.


Di halaman mulai terjadi aksi penembakan lagi. Gio dan Abi terus melindungi diri sambil meninggalkan tempat itu perlahan. "Ugh!" Gio menoleh, ia mendapati Adi terus memegangi perutnya dan darah makin banyak keluar dari sana. Gio lantas membuka bajunya dan rela bertelanjang dada. Ia menutup perut Adi dengan kausnya. "Tahan sebentar lagi, Gi. Kita pulang, oke?" Baru kali ini Gio bersikap lembut pada Adi. Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat kondisi Adi yang mulai menurun.


"Gi ... mending kalian pergi saja. Gue cuma memperlambat," ucap Adi dengan susah payah.


"Apa-apaan lu! Mending lu diem aja. Jangan ngomong apa-apa lagi!"


"Kalian bisa pergi sekarang. Gampang banget, kan, buat lari ke sana. Ke mobil itu. Gue cuma memperlambat!" Lagi, Adi berkata demikian sambil batuk berdarah. Jarak mereka dan mobil yang parkir di pinggir jalan, yang tidak lain mobil yang dibawa Abimanyu tadi memang tidak jauh lagi. Jika keadaan Adi baik-baik saja, pasti mereka sekarang sudah berlari dan duduk di kursi mobil itu, bersip untuk pergi. Tapi, keadaan sekarang lain.


Gio sudah tidak tahan lagi, ia mengelap sekilas salah satu sudut matanya, dan mulai memapah Adi lagi. "Ayo. Bi! Buruan!" jeritnya yang berada agak jauh dengan Abimanyu bersembunyi. Abimanyu mengangguk, ia kembali melempar granat ke arah kerumunan orang-orang yang sejak tadi menembaki dirinya dan dua pamannya itu. Kesempatan ini tidak ia sia-siakan. Sambil membantu memapah Adi mereka segera berlari menuju mobil Zikal.


"Cepet!" Mobil dinyalakan dan Abi mulai menyetir dan membawa dua pamannya pergi dari tempat itu. Akhirnya mereka bisa bernafas lega. Gio melirik Adi yang duduk di sampingnya. Adi duduk dengan tangan menekan perutnya terus. Kepalanya menunduk. "Di ... Lu nggak apa-apa, kan?" tanya Gio, lalu menyentuh lengan pria di sampingnya itu.


Adi terjatuh ke arah sampingnya. Hal itu membuat Gio panik, "Di! Adi! Hei! Bangun, Kampret!" jeritnya dengan terus mengguncang tubuh Adi yang sudah lemas. Abi yang sedang fokus menyetir akhirnya ikut cemas. "Paman Adi kenapa?"


"Di! Adi! Bangun, Di. Kita ke rumah sakit, oke?" Gio sangat cemas. ia menepuk-nepuk pipi Adi yang kini berada di pelukannya. "Adi, please jangan pergi. Jangan mati, Di! Jangan!" Gio mulai menangis, ia sudah tidak tahan lagi. Apalagi Adi adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengannya. "Adi!" jerit Gio sambil terus memeluknya. Mendekap pria itu. Pria yang paling lama berada di kehidupannya. Pria yang terus ada di sampingnya saat semua orang pergi meninggalkannya satu persatu.


"Kenapa lu ninggalin gue, Di?! Haaa!"


Abimanyu menghentikan mobilnya, ia menoleh melihat Adi yang memang sudah meregang nyawa berada di pelukan Gio. Mereka berdua adalah salah satu orang terpenting dalam kehidupannya. Abimanyu kembali kehilangan salah satu orang itu. Gio terus menangis, memarahi Adi namun tetap mendekapnya di dalam pelukannya. Ini pertama kalinya Abimanyu melihat Gio menangis seperti ini. Adi tewas. Adi sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Lukanya sudah terlalu lama ada di dalam tubuhnya. Dan tubuhnya yang sudah tidak muda lagi, membuatnya lemah. Adi sudah tidak kuat lagi. Dan kini, ia benar-benar pergi. Abimanyu menatap ke arah depan. IA diam. Derai air mata tak mampu ia bendung lagi. Ia juga kehilangan. Sangat. Tangisnya tidak terdengar seperti Gio, tapi hatinya sakit. Ia terus menahan sesak di dadanya. Bahkan ia seolah tidak sanggup menyetir lagi.

__ADS_1


RIP ADI


__ADS_2