
" kamu!! " tunjuk ayu ke gio.
"Apa??!!" gio menoleh dengan tatapan keheranan ke ayu.
"Kamu punya peluru perak gak?" tanya ayu.
"Buat apaan?"
"Ya buat nembak mereka lah.."
"Emang bisa?mempan gitu?? Peluru ku udah abis entah berapa banyak tuh ,cuma untuk melawan mereka."
"Bisa!! Ayah pernah bilang. Black demon bisa dilumpuhkan dengan peluru perak. Dan darah gadis suci!" penjelasan ayu mampu membuat kami melongo.
" peluru perak sih ada! Tapi gadis suci kagak punya gue. Gue aja jomblo." dia malah curhat.
" gadis suci maksudnya apa?" tanyaku penasaran banget.
" tanya aja tuh sama mereka berdua!" kata ayu sambil menunjuk arya dan wira. Yg sedari tadi diam.
"Gadis suci itu orang yg terpilih , sampai sekarang juga kami belum tau dimana dia. Wira?? Kamu tau gak?" tanya arya dengan penuh harap.
"Aku juga belum tau." kata wira pelan.
"Serius? Masa sih?" tanya arya seolah tidak percaya.
"Iya.. Oh iya. Kita hadang aja pake peluru perak nya! Kamu punya banyak gak?" tanya wira ke gio.
Tok..tok..tok..
"Siapa lagi tuh?" rani makin mepet padaku karena masih shock atas kejadian barusan.
"Woiii.. Bukaaaa" suara dewa dari luar.
Segera saja rani berlari kepintu dan membukanya.
Ternyata dewa datang bersama wisnu juga.
"Lho!!!" seru ayu kaget melihat kemiripan wira dan wisnu.
"Udah , gak usah bengong! Liat orang kembar aja heran lu.." gerutu gio.
" gimana?" tanya arya ke wisnu.
"Parah!! Dibawah kacau banget. Mau gak mau..kita harus lawan sambil pergi dari sini." saran wisnu.
Kutekan kepalaku karena pusing yg hebat. Rasanya keadaan makin panas .
"Yu.. Kamu punya iket rambut gak?" tanya ku.
"Ada.. Nih" dia menyodorkan gelang karetnya padaku.
Daripada gak ada, kupakai saja.
Ku gelung rambutku ke atas dan ku ikat.
"Nay!!!!" seru ayu dengan mata berbinar.
Aku menoleh padanya yg sedang berdiri dibelakangku.
"Apaan sih."
"Sebentar.." pintanya lalu dia menyibakkan rambutku dan melihat ke tengkuk leherku.
"Kenapa sih?" tanya rani heran.
"Gak mungkin!!" pekiknya sambil menutup mulut nya. Matanya bahkan berkaca kaca.
"Apa sih yu? Kenapa? Jangan bikin penasaran deh!" cecarku.
"Kamu nay!! Kamu gadis suci itu!!"
__ADS_1
Seketika bulu kudukku meremang mendengar kalimat ayu.
"Aku? Kok bisa?" tanyaku heran.
Semua orang kini melihat ke arah kami.
"Iya.. Kata ayah,, cuma si gadis suci yg bisa mengalahkan black demon. Dan gadis itu punya tanda lahir di tengkuknya. Bergambar bulan sabit." ucapnya
Kuraba tengkuk ku.
"Emang aku ada ya?" tanyaku sambil melihat rani dan yg lainnya.
Mereka pun mendekat dan ikut melihat nya.
"Eh..iya nay! Ada!!" pekik dewa.
"Waaah.. Gadis suci sudah ditemukan. Saatnya beraksi!" kata gio diiringi seringai penuh percaya diri.
" terus gimana caranya mengalahkan mereka? "Tanya rani.
" ya pelurunya dibalur sama darah nayla.." terang ayu.
" jangan!!" kata wira lantang.
Semua menoleh ke arahnya dan menatap wira heran.
"Kenapa sih?"
"Aku... Aku cuma gak mau nayla terluka."
" ya ampun.pake melo drama dulu deh.minta darahnya dikit doang. Gak bakal sampe mati keabisan darah juga!" kata gio sebal.
"Tapi nay.." wira seperti nya terlalu khawatir padaku. Entah kenapa aku merasa dia terlalu berlebihan.
"Aku gak papa.." kuambil belati milik gio dan ku goreskan ke telapak tanganku hingga mengeluarkan darah segar. Lalu ku teteskan ke peluru perak milik gio.
" senjata kamu cukup kan buat kami semua?" tanyaku.
Semua mengambil senjata yg ada di meja. Dan gio menjelaskan cara memakai nya.
Kuambil handguns yg kupikir paling mudah diantara senjata yg lain.
" guys.. Apa gak papa ? Kita perang sama mereka disini? Ini tempat umum lho?" tanya rani.
"Gedung ini udah kosong ,jadi gak ada orang lain selain kita." ucap gio dingin.
Syukurlah, setidaknya itu lebih melegakan. Karena tidak akan ada orang lain yg akan menjadi korban nantinya.
Dhhhuuuaaarrr..
Terdengar bunyi ledakan diluar ,dan pintu hancur berkeping keping.
"Semua siap??!!" tanya gio.
"Siap!!'
Kami mencari tempat yg aman dan bersembunyi sambil menunggu musuh datang.
Gio menghadang dengan machine gun. Dia pun mulai menembak beberapa orang yg masuk. Dan, memang benar. Mereka tumbang seketika. Dan tidak bisa bangun lagi. Terlihat sekali mereka kesakitan saat terkena tembakan.
Sepertinya cara ini berhasil . baguslah kalau begitu. Setidaknya kami ada harapan untuk bisa mengalahkan mereka.
Terdengar suara berisik dari luar jendela . dan ternyata ada helikopter terbang disamping jendela itu.
Siapa ya? Semoga bukan mereka.
Saat kami melihat lebih seksama ,ternyata jen yg ada disana bersama hans.
Wah.. Dapet helikopter dari mana mereka ya?
Keren..
__ADS_1
"Ayok!! Sini!!" teriak jen.
Satu persatu dari kami naik ,terutama ladies yg diutamakan.
Wira ,arya , gio ,wisnu dan dewa mengikat diri mereka di tali panjang. Dan turun kebawah lewat jendela. Karena tidak mungkin helikopter itu akan muat untuk kami semua.
"Kok kalian tau ,kami dikepung?" tanyaku saat kami sudah ada didalam helikopter ini.
"Tau lah ,nay. Kami juga kemarin diserang. Markas hancur. Banyak temen kita yg luka. "Terang jen.
"Ya ampun. Trus gimana?"
"Tenang aja ,kita ada markas baru. Aku yakin. Mereka gak bakal tau!"
Dalam waktu kurang lebih 30 menit ,kami sampai disebuah rumah di dataran tinggi ,dekat laut.
Setelah sampai ,kami turun dan jen mengajak kami masuk ke rumah itu. Halaman nya luas sekali. Bahkan saat aku lihat tadi , ini adalah satu satu nya rumah yg ada disini. Seperti rumah wira dulu. Terpencil ,namun suasana nya sungguh menyenangkan.
Rumah nya terbuat dari kayu jati. Dan sepertinya masih baru.
Karena sejak aku masuk , sudah tercium bau kayu yg khas. Tapi cukup menenangkan.
Kami duduk di ruang tengah ,ruangan nya cukup luas. Ada beberapa anggota hans yg ada disekitaran rumah ini. Di halaman ,maupun didalam rumah. Yah-- ini adalah markas baru mereka.
Sekitar 15 menit kemudian , wira dan yg lain nya datang. Mereka naik mobil untuk sampai kesini.
Aku segera berhambur memeluk wira dengan perasaan yg campur aduk. Aku khawatir. Benar benar khawatir. Aku takut akan kehilangan dia seperti dulu.
"Kamu gak papa kan?" tanyaku sambil menatapnya lekat lekat.
Dia membelai kepalaku sambil tersenyum," aku gak papa sayang.. Kamu gimana? Oh iya tangan kamu?" wira membuka telapak tanganku yg tadi tersayat . walau darah nya sudah berhenti namun luka nya masih menganga lebar.
"Kita obatin dulu yuk." wira lalu menggandeng tanganku dan membawaku ke sofa yg agak jauh didekat jendela. Dan mengambil kotak P3K lalu dengan sabar membersihkan ,mengobati dan membalut luka ku.
" sakit ya?" tanya wira.
"Nggak kok. Biasa aja.."
Kulihat tangan wira bergetar.
Dan ada darah yg mengalir ditangan nya.
"Kamu berdarah tuh.." seru ku.
"Mana? " dia ikut melihat tangan nya.
Dan memang ada bekas darah di pergelangan tangan nya. Hanya saja luka nya sudah tidak berbekas lagi. Bahkan gelang tali couple kami juga hampir lepas.
" ya ampun sayang, ampe gelang nya gini. Sini aku copot aja, nanti aku betulin lagi." pintaku.
"Iya.. Lepas aja."
Kulepas gelang itu dengan perlahan. Sambil berfikir .
Rasanya seluruh kepalaku penuh dengan berbagai macam masalah.
Aku sedikit terpaku pada gelang wira yg satunya. Dia memakai 2 gelang sekarang. Setauku ,dulu hanya sati saja.
"Ini beli dimana?"
"Oh itu,, di kasih sama pemimpin erez , ken"
Erez adalah Kelompok yg membantu wira dulu.
"Oh gitu ya.." sahutku sambil manggut- manggut.
Kutatap mata wira. Semua masih sama. Mata yg sama ,saat aku pertama kali bertemu dengan nya dulu.
Tapi,....
"Nay!! Makan dulu yuk." ajak rani tiba tiba muncul dari balik pintu.
__ADS_1
"Ya udah kita makan dulu aja ya sayang.." ajak wira lalu menggandeng tanganku menuju ke ruang makan bersama yg lain.