pancasona

pancasona
Part 10 Djin


__ADS_3

Djin. Salah satu makhluk yang sering kudengar namanya, tapi rupanya aku tidak paham konsep sebenarnya. Selama ini kufikir Djin adalah sama seperti setan dan makhluk halus lainnya. Mengganggu atau menggoda manusia untuk mengikuti jalan sesat mereka saja. Tapi rupanya aku salah. Karena Djin itu salah satu makhluk yang dapat memanipulasi pikiran manusia dan membuatnya hidup dalam ketakutan di dalam mimpinya, sambil sedikit demi sedikit jiwanya diambil oleh mereka hingga jiwa mereka habis dan tentu nyawa menjadi taruhannya.


Itulah yang sedang dilakukan Djin. Dan kini aku harus mencari tau tentang semua korban pingsan tadi. Rio sudah pergi, dia pun ketakutan jika sampai keberadaannya diketahui oleh Djin. Karena jiwa Rio bisa diambil juga, sekali pun dia sudah menjadi hantu. Karena yang Rio punya sekarang adalah jiwa. Yah, makanan para makhluk itu adalah jiwa. Jiwa yang berkeliaran atau jiwa yang memang masih ada dalam tubuh manusia.


Aku berjalan ke ruang UKS, di mana para siswa yang pingsan tadi dirawat. Dengan langkah yang terburu-buru koridor sekolah aku lewati. Jam istirahat seperti ini memang akan banyak siswa yang sedang menikmati waktu istirahat mereka tidak hanya di kantin. Tapi banyak yang mengobrol di sepanjang koridor, atau pun ruang kelas masing-masing. Bahkan taman sekolah juga ramai oleh mereka. Kebetulan taman di sekolah ini cukup rindang, ada beberapa pohon di sekitar kami, dan rumput yang tertata rapi membuat banyak siswa lebih memilih berada di lingkungan terbuka ketimbang ruang kelas, atau bahkan perpustakaan.


"Hey, ke mana?!" tanya seseorang dan langsung meraih tanganku yang kebetulan melewati dirinya.


"Astaga, Kak, ngangetin! Sorry aku lagi buru-buru!" tukasku sambil mencoba melepaskan genggaman tangannya. Tapi pegangan tangan Kak Rayi justru makin kuat, dan dia terus meminta penjelasan atas apa yang akan kulakukan sekarang. "Oke, eum, aku ... udah tau penyebab teman-teman kakak pingsan tadi," jelasku sambil mengatur nafas yang tidak beraturan.


Di belakang Kak Rayi, ketiga pria itu mulai menampakkan diri mereka. Yah, siapa lagi kalau bukan Kak Roger, Kak Bintang dan Kak Faza. Mereka berempat kini mulai mengerubungiku bak semut yang sedang menemukan gula. Bukan hal aneh lagi kalau mereka kini menjadi sangat tertarik dengan apa yang kualami atau apa yang kulihat. Terlebih lagi karena kasus ini berhubungan dengan mereka, secara tidak langsung.


"Jadi gimana?" tanya Kak Rayi.


"Gini, Kak ...," kataku sambil berbisik, dan memperhatikan sekitar. Merasa kalau apa yang hendak kau sampaikan seperti sebuah rahasia, mereka akhirnya ikut mendekat.


"Soal di ruang olah raga tadi, kah?" tanya Kak Roger ikut berbisik. Aku mengangguk.


"Jadi ada hantu beneran, Bil?" Kak Bintang terlihat serius saat menanyakan hal itu.


"Eum, bukan hantu. Ini juga bukan kesurupan hantu atau semacamnya. Penyebabnya adalah Djin."


"Djin? Maksudnya gimana?"


"Gini, Kak." Aku menjelaskan perihal makhluk tersebut seperti apa yang Rio katakan tadi, bagaimana proses dia mengambil jiwa manusia yang diincarnya. Dan semua hal yang terjadi di ruang olah raga tadi, kemungkinan besar memang disebabkan oleh makhluk tersebut.


"Terus kita harus gimana?"


"Rencananya aku mau cek ke ruang UKS, siapa aja yang terlihat kondisi nya lemah, atau segala kemungkinan lainnya. Karena aku baru pertama kali menghadapi makhluk ini. Dan bahkan baru tau tentang mereka dari Rio."


'Ngomong-ngomong kamu masih sering komunikasi sama Rio?"


"Enggak, Kak. Kadang aja aku lihat dia muncul dari jauh, cuma sepintas lewat seperti biasa. Sama seperti sebelumnya, tapi tadi dia benar-benar ngobrol, mungkin peringatan untuk kita. Agar lebih hati-hati sama Djin."


'Oke, kami ikut," kata Kak Rayi yakin. Aku mengangguk dan meneruskan berjalan ke tujuan ku semula.


UKS. Tempat ini berada di sudut sekolah, dengan ruangan yang cukup luas. Memang hanya sebuah ruangan saja. Dan di sini ada beberapa deretan kasur yang di tutupi sekat dengan korden. Mirip rumah sakit. Yah, rumah sakit versi kecil menurutku.


Sampai di tempat itu, kami hanya memeriksa di depan pintu, melihat apakah masih ada pasien di dalam sana. Rupanya mereka masih di kasur, dan masih pingsan, mungkin. Aku menatap Kak Rayi, dia mengangguk padaku. Entah, apakah apa yang kami pikirkan adalah hal yang sama atau tidak, tapi Kak Rayi masuk lebih dulu ke dalam, dan membuat yang lain melakukan hal yang sama. Tentu aku ikut mengekor empat pria tadi.


Ruangan ini sepi, hanya ada satu petugas UKS yang berjaga sambil memeriksa tiap pasien, dan dua anak PMR yang memang diberi jatah piket setiap hari di ruangan ini. Terlebih jika di UKS ada pasien, maka mereka akan memberikan pertolongan kesehatan pertama pada pasien sebelum ada tindakan lebih lanjut. Sepi, karena para pasien masih tidak sadarkan diri di atas ranjang. Tapi hanya tinggal 5 orang saja yang masih tidak sadarkan diri.


"Ada apa, ya?" tanya salah satu petugas pada kami.


"Eum, keadaan mereka gimana? Belum juga sadar?" tanya Kak Rayi mewakili pertanyaanku.


Wanita itu menoleh ke pasien di belakangnya. kelima orang tersebut masih dalam keadaan sama. Bahkan terpaksa mereka harus diberikan infus. "Dokter bilang mereka nggak apa-apa kok. Cuma kurang cairan aja, mungkin sebentar lagi mereka bangun. Soalnya 5 orang lainnya sudah bangun tadi setelah 2 jam pingsan."


"Mereka udah pulang?" tanya Kak Bintang.


"Sudah. Kelihatannya mereka lemas sekali, jadi lebih baik istirahat saja di rumah. Kalian mau apa?" tanyanya menyelidik.


Kami berlima saling pandang, lalu Kak Faza berdeham. Ini bagai pertanda kalau dia yang akan memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. "Terima kasih, cuma mau memastikan saja. Kalau teman-teman besok bisa masuk sekolah seperti biasa atau tidak. Karena pasien itu, teman sekelas kami semua."


"Kalian kelas berapa?"


"2-4."


"Mereka teman sekelas kalian, kan?" tanya sambil menunjuk ke lima siswa yang masih belum sadar di sana. Mereka berempat mengangguk, menatap satu persatu siswa yang ditunjuk tersebut. "Tapi cuma mereka anak kelas 2-4, sisanya anak kelas 1. Mereka yang sudah sadar tadi."


"Apa? Jadi bukan hanya kelas kami?"


"Enggak. Memang aneh, kalau pingsannya mereka seperti penyakit menular. Karena yang pingsan saling berdekatan. Lima orang yang sudah sadar tadi, anak kelas 1 yang sedang mengikuti pelajaran seni. Dan kalian tau, kan, kalau ruang seni dekat dengan ruang olahraga?"


Kami saling melempar tatapan kebingungan. Mendengar penuturan petugas UKS tersebut membuat daftar panjang kasus ini. Dan membuat satu fakta baru, kalau Djin mungkin seperti virus. Yang menyebarkan pengaruhnya pada orang-orang yang saling berdekatan.


"Kalau begitu terima kasih informasinya, kami permisi dulu."


Kami keluar UKS, dan berjalan dengan banyak pertanyaan di kepalaku. Dan yang paling utama yang ingin aku tau, kenapa aku belum melihat seperti apa sosok Djin tersebut. Jujur saja aku sangat penasaran seperti apa bentuk Djin yang sudah menebar teror di sekolah.


"Kak, aku balik ke kelas, ya," ucapku pada mereka. Tubuhku yang sudah hampir sepenuhnya berbalik, ditahan oleh Kak Rayi. "Aku antar!" katanya serius. Wajahnya tidak memberikan senyum atau pun tatapan teduh seperti biasanya. Tentu hal ini membuat suasana sedikit kikuk. Bahkan ketiga teman-temannya juga tidak berani mencandai nya seperti biasa.


"Ya udah, kita duluan deh. Hati-hati lu, Yi. Jangan sampai ketangkep sama Djin," cetus Kak Bintang lalu merangkul dua temannya pergi dari hadapan kami.


"Yuk," ajak Kak Rayi sambil menggandeng tanganku, posesif. Sikapnya sekarang membuatku bingung harus bereaksi seperti apa. Karena aku baru pertama kali melihat Kak Rayi yang seperti sekarang. Aku hanya bisa diam saja, dan mengikuti ke mana pun dia menggandengku. Kami terus berjalan dengan diiringi tatapan dari beberapa orang yang sejak tadi kami lewati. Aku yang malu, hanya pasrah, sambil menundukkan kepala. Tapi kulihat Kak Rayi dengan santainya berjalan di antara mereka semua dengan mengangkat dagu, seolah tidak peduli tatapan mata itu. Kami terus berjalan hingga kini naik ke tangga yang akan mengantar kami sampai ke lantai ruangan kelasku.


Bisik-bisik mulai terdengar dan aku makin risih, tapi Kak Rayi seolah tidak mendengarnya, atau tidak mau mendengarnya? Sampai akhirnya kami sudah sampai di depan kelas. Zidan yang sedang ngobrol dengan teman sekelas kami, hanya menoleh dan kembali pada obrolan tersebut. Tapi rupanya kini dia justru mendekat ke kami.


"Kalian udah denger belum?" bisiknya dengan sebuah pertanyaan yang ambigu. Aku dan Kak Rayi hanya saling tatap dan menggeleng bersamaan. "Elu aja belum bilang apa-apa, gimana kami tau, ****!" ungkapnya kesal, sambil menjitak kepala Zidan.


Tentu kalimat itu berhasil membuatku terkekeh. Dan Zidan makin mendekat, wajahnya benar-benar lucu. Terlebih saat akan menyebarkan gosip seperti ini. Aku sudah hafal bagaimana tabiatnya. Dia ini mirip nitizen yang sering aku lihat di media sosial artis. Dan dia juga bagai sumber informasi tentang banyak hal di sekolah.


"Katanya salah satu siswa yang pingsan tadi, ada yang meninggal dunia. Tubuhnya jadi kurus dan kering gitu, gaes. Hih, ngeri, kan?"


"Siapa?" tanyaku.


"Seno, anak kelas 1-1."


"Jadi bener, kalau kelas itu juga ada korban pingsan? Bukannya mereka udah pulang dan udah sadar, ya?" tanya Kak Rayi.

__ADS_1


"Itulah keanehannya. Mereka udah baik-baik aja katanya, eh baru aja ini Bu Nawang bilang kalau sekolah nanti pulang awal, karena kita melayat ke rumah Seno."


Kak Rayi menarik tanganku menjauh dari Zidan, "aku takut, kalau yang lain akan bernasib sama, Bil. Gimana caranya kita hentikan semua sebelum terlambat? Kamu nggak bisa tanya Rio sekarang?" bisiknya dengan pertanyaan yang sebenarnya ingin kulakukan. Tapi Rio tidak lagi terlihat sekarang. Aku bahkan tidak tau di mana dia, dan apakah dia baik-baik saja atau tidak. Hm, aku mulai khawatir.


______________


Sesuai informasi dari Zidan tadi, setelah bel masuk berbunyi, sekolah dipulangkan lebih awal. Dan bagi siswa yang memiliki kesadaran akan ikut melayat ke rumah Seno. Karena tidak memungkinkan memaksa semua siswa untuk datang ke sana. Selain tidak semua mengenal Seno, yang mengenal pun banyak yang lebih memilih untuk pulang ke rumah atau justru jalan-jalan bersama teman-temannya. Dan itu yang kudengar dari beberapa teman sekelasku tadi. Moment pulang lebih awal adalah hal yang paling menggembirakan bagi semua siswa, aku pun juga.


Kini aku sudah berada di parkiran motor, menunggu Zidan mengeluarkan kuda besinya. Karena kami sudah sepakat akan ke sana sebagai perwakilan kelas, bersama beberapa teman sekelas lain yang juga mengenal Seno cukup dekat. Tapi tiba-tiba Kak Rayi melambaikan tangan ke arahku dari kejauhan. Aku menyipitkan mata agar dapat melihatnya dengan lebih jelas. Saat aku melihatnya, aku juga menoleh ke belakang, takut kalau dia tidak sedang mengajakku mengobrol. Di belakangku, tidak ada seorang pun yang ada di sana, dan aku baru yakin kalau aku lah yang sedang ia ajak bicara.


Mungkin Kak Rayi kesal, melihat aku yang hanya diam saja, seperti orang kebingungan. Dia lantas berlari kecil mendekatiku. " Mau ke mana?" tanyanya tiba-tiba.


"Eh, ke rumah Seno. Mau melayat," sahutku agak canggung. Kak Rayi melirik ke Zidan yang sudah bersiap dengan helm di kepalanya. "Boncengan?" tanya Kak Rayi, lagi. Aku dan Zidan mengangguk.


"Berdua?" tanyanya lagi. Kami berdua saling pandang, lalu mengangguk bersamaan.


"Eh tapi sama teman-teman sekelas yang lain juga kok," jawabku yang mengerti kalau tatapan mata itu pertanda dia tidak suka pada kedekatanku dengan Zidan.


"Oh, aku ikut. Tapi Nabila bonceng motorku aja," cetusnya sambil menunjuk motor miliknya di sisi lain lahan parkir.


"Oh, oke, Kak. Kalau gitu gue duluan aja, ya, Bil. Tuh, teman-teman udah jalan," tunjuk Zidan ke barisan motor yang baru saja lewat. Aku mengangguk sekaligus merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.


Setelah Zidan pergi, Kak Rayi kembali menatapku hangat. Tiba-tiba sorot matanya berubah seperti biasanya. Tidak sedingin saat ada Zidan tadi. "Bentar, ya, aku ambil motorku dulu." Kak Rayi kembali berlari kecil ke sebuah motor besar berwarna putih di sana. Kendaraannya cukup mencolok, karena teman-temannya juga memakai jenis motor yang sama, hanya dengan warna yang berbeda-beda.


Suara bising terdengar saat kendaraan itu dinyalakan. Ia melesat ke arahku dan memberikan sebuah helm yang sepertinya sengaja ia bawa dari rumah. Sedikit ragu, namun aku tetap memakainya dan kini mulai naik ke jok belakang motor ini. Lagi, beberapa pasang mata menatap kepada kami.


"Bil ... Pegangan dong," jerit Kak Rayi padaku. Aku melihat ke arah tanganku yang kini sedang berpegangan pada besi di belakangku. Dan tidak menjawab apa pun atas permintaannya tadi.


"Bil, pegangan. Nanti kalau jatuh gimana? Aku bisa dimarahin Papa kamu." Aku masih diam, ragu-ragu. Namun saat motor Kak Rayi berhenti, dia melirik ke belakang, dan melihatku sambil mendengus sebal.


"Oke," kataku, melepaskan tangan, lalu memegang pinggangnya, ragu. Dia langsung tersenyum. "Gitu dong. Nggak apa-apa, megangnya cuma gitu, yang penting pegangan," ujarnya. Ia kembali menyalakan mesin motor dan melanjutkan perjalanan.


"Kak ...," panggilku sedikit mendekat ke samping telinga Kak Rayi yang tertutup oleh helm.


"Hm?"


"Tumben nggak pakai mobil?"


"Kenapa? Kamu lebih suka aku pakai mobil?" Ia kembali melirik ke belakang sedikit. Dengan suara yang agak tinggi karena suara bisingnya jalanan.


"Enggak gitu, cuma biasanya pakai mobil."


"Biar bisa gini."


"Gini gimana?"


"Ya ini, boncengin kamu dan kita pulang bareng gini. Siapa tau aku bisa dipeluk kayak itu tuh," tunjuknya ke arah Kak sepasang siswa dari sekolah kami juga yang memeluk pria di depannya erat.


"Oh, jadi kita harus pacaran dulu ya, baru kamu mau kayak Reni?" Pertanyaannya telak membuatku tidak bisa menjawabnya. "Eh, malah diem." Kak Rayi kembali menoleh ke belakang, kali ini bahkan sampai terus melihat wajahku yang tepat berada di belakangnya. Aku lantas tertawa setelah beberapa saat. Dia ikut tertawa dan kembali melihat ke depan.


Beberapa motor dengan siswa siswi dari sekolah kami seperti gerombolan siswa yang sedang konvoi. Seragam kami memang tidak sama seperti sekolah lain. Bahkan beberapa sekolah memakai seragam identitas sehingga membuat satu sama lain saling tau asal sekolah masing-masing, jika bertemu di jalan.Aku dan Kak Rayi yang tidak tau di mana rumah Seno, hanya mengekor teman-teman lain di depan kami.


Sampailah kami di sebuah rumah dengan bendera putih di depan. Deretan kursi plastik berwarna biru muda berjejer di halaman rumah itu. Foto seseorang yang sering kulihat merupakan pertanda kalau ini benar rumah Seno. Jenazahnya terlihat sedang terbaring di ruang tamu. Karena terlihat dari pintu. Tubuh itu terbungkus kain putih dan di selimuti bagian wajahnya dengan kain tipis berwarna putih juga. Kami duduk di kursi kosong yang disediakan. Guru-guru mewakili dan terlihat sedang mengobrol dengan keluarga Seno. Banjir air mata terlihat dari kejauhan. Tidak ada yang akan baik-baik saja dengan kehilangan. Apalagi kematian, kepergiannya yang mendadak membuat semua orang akan merasakan kesedihan mendalam. Aku yakin itu.


"Langkah kita selanjutnya gimana?" tanya Kak Rayi berbisik tanpa melepaskan pandangan dari orang tua Seno yang terus tergugu. Bu Retno selaku wali kelas Seno berusaha menenangkan orang tua Seno tersebut. Sesekali wali kelas yang terkenal galak seantero sekolah itu juga menitikkan air mata walau langsung segera ia usap cepat.


"Kita harus bikin data siapa saja yang terkena pengaruh Djin tadi. Karena sekali pun mereka sudah sadar dari pingsan, mereka belum sepenuhnya bebas, Kak."


"Kamu benar, justru aku merasa kalau kesembuhan itu hanya kamuflase, untuk membuat korban sudah merasa baik-baik saja, yang pada akhirnya malah merenggut nyawanya." Analisis Kak Rayi memang masuk akal. Dan aku pun sependapat dengan dirinya.


"Kak Rayi masih ingat, nama teman-teman sekelas Kak Rayi yang tadi pingsan?" tanyaku.


"Ingat. Cuma 5 orang aja kok. Aku masih ingat karena tadi juga aku bantu mereka semua."


"Ada nggak salah satu dari mereka yang ada di sini?" Netraku menyapu pandang ke sekitar, meneliti satu persatu wajah teman-teman yang ada di halaman rumah ini. Aku memang tidak begitu hafal dengan semua siswa, tapi aku masih dapat membedakan mana siswa kelas 1, kelas 2 atau bahkan kelas 3. Kak Rayi ikut menatap sekitar dan menunjuk 2 orang.


"Oke, yuk," ajakku menarik tangannya.


"Eh, ke mana?" tanyanya tidak paham, namun pasrah saja saat tangannya kutarik. Kami mendekat ke dua teman Kak Rayi yang tadi dia tunjuk. Kerumunan ini memang sebagian besar berasal dari anak-anak kelas 2. Memang tidak banyak perwakilan teman-teman, tapi suasana terlihat cukup ramai. Dan sebagian besar memang siswa-siswi yang memakai seragam seperti yang sedang kupakai.


Kak Rayi melirik padaku, karena teman-temannya menatap kami aneh. Aku melotot ke arah Kak Rayi, seolah memberikan isyarat agar dia mampu mengatasi suasana ini. Dia berdeham, kebetulan kami duduk dekat dua teman Kak Rayi tadi. "Dito, kalian udah nggak apa-apa? Tadi gue samperin ke UKS padahal, tapi kalian masih nggak sadar," kata Kak Rayi basa-basi.


Pria yang bernama Dito menarik nafas panjang, "Yah, gitu deh, Yi. Gue juga nggak tau kenapa, tiba-tiba kayak orang baru bangun dari mimpi buruk. Bersyukur kalau gue sama Sandi baik-baik aja. Tapi ...." Kak Dito tidak melanjutkan kalimatnya.


"Tapi apa?" tanya Kak Rayi. Dua pemuda itu malah saling tatap dengan sorot mata yang aneh.


"Gini, terserah elu percaya atau enggak, tapi yang gue bilang mimpi buruk itu memang bener, dan anehnya mimpi kami sama!" bisik Kak Dito lagi. Kak Sandi yang berada di sampingnya mengangguk mengiyakan.


"Mimpi yang sama? Kalian berdua bermimpi hal yang sama? Maksudnya gimana? Kapan?" tanya Kak Rayi antusias.


"Saat kami pingsan, Yi. Semua hal yang ada di dalam mimpi kami, seolah sama. Bahkan setiap detailnya."


Penjelasan itu membuat Kak Rayi beralih menatapku, dan membuatku makin yakin kalau apa yang dikatakan Rio memang benar. Djin tersebut perlahan mengambil jiwa-jiwa manusia yang diincarnya. Dan sepertinya saat manusia itu kembali pada kesadarannya, bukan berarti mereka sudah terbebas dari pengaruh Djin tersebut.


___________________


Kami sudah mengantongi daftar nama sepuluh orang tadi.


-Seno

__ADS_1


-Dito


-Sandi


-Aira


- Azka


-Gilang


-Biya


-Lala


-Tama


-Dafa


Hal ini akan memudahkan kami untuk mencari tau siapa korban berikutnya, ah tidak juga, karena kami tidak tau bagaimana urutan korban dan siapa yang akan menjadi korban berikutnya.


"Oke, kita harus kerja sama. Sebisa mungkin, kumpulkan 9 orang sisanya, bawa ke sini," suruh Kak Rayi. Aku, Kak Roger, Kak Bintang, Kak Faza, Zidan, Kak Sandi dan Kak Dito kini berkumpul di rumah Kak Rayi.


"Kenapa harus ke sini? Terus gimana cara kami membawa mereka ke sini, kalian tau, kan mereka nggak mungkin semudah itu untuk disuruh-suruh?" tanya Kak Sandi. Kak Rayi melirik ke arahku.


"Gini, kak, kita sedang menghadapi sejenis makhluk halus, percaya nggak percaya, aku yakin kalian akan mendapat giliran mati seperti Seno tadi. Dan, kami akan berusaha membantu menghentikan hal itu," jelasku.


"Dan, cara terjitu untuk melakukan itu adalah mengumpulkan kalian menjadi satu, di rumah ini. Agar kami tau, siapa yang akan menjadi giliran berikutnya, dan kami akan coba untuk menghentikan itu!" tambah Kak Bintang, serius.


"Kalian itu mau dibantu nggak sih?" tanya Kak Roger, mulai kesal. Akhirnya mereka diam, dan mau tidak mau setuju pada rencana ini. Tapi Kak Sandi dan Kak Dito akan tetap tinggal di rumah ini. Setidaknya di rumah ini ada penjaganya. Mungkin makhluk tadi tidak akan berani muncul. Itu yang ada di pikiranku tadi. Aku akan tinggal, sementara yang lain pergi menjemput 7 orang lainnya. Zidan juga ikut serta karena kebetulan dia juga mengenal anak-anak dari kelas 1 tadi.


"Kamu nggak apa-apa, kan, di rumah?" tanya Kak Rayi sebelum pergi.


"Iya, Kak, aku baik-baik aja kok. Biar aku jagain mereka di sini," kataku sambil melihat dua pria yang sedang duduk di sofa bermain game di ponsel mereka. Mama Kak Rayi sedang tidak ada di rumah, jadi aku akan sendirian di rumah ini bersama dua pria itu.


"Oke, kalau ada apa-apa, cepat telepon aku, ya." Kak Rayi mengatakan hal itu pelan, tangannya meraih anak rambutku dan menyelipkannya di belakang telinga. Kemudian tersenyum. Aku hanya mengangguk malu. Dan, saat dia akan pergi, Kak Rayi mengecup keningku cukup lama. Aku memejamkan mata, jantungku bergemuruh hebat. Namun aku seolah tidak mampu menolak perlakuannya. Dan aku justru merasa sangat nyaman diperlakukan seperti itu olehnya.


Setelah mereka semua pergi, aku, Kak Sandi dan Kak Dito duduk di ruang tengah. TV dibiarkan menyala dan menampilkan sebuah film action yang cukup ramai. Aku dan Kak Dito cukup antusias menonton film ini, apalagi dengan camilan yang sudah di sediakan di meja. Membuat kami makin hanyut dalam cerita ini. Bahkan aku dan Kak Dito juga membahas beberapa film serupa yang sama bagusnya. Rupanya aku dan Kak Dito memiliki selera film yang sama.


"Nah, bener tuh, film itu tuh pernah aku sama Sandi tonton, iya, kan, San?" tanya Kak Dito menoleh ke temannya yang duduk di sofa satunya. Aku pun ikut menoleh ke orang tersebut, namun anehnya Kak Sandi justru terlihat aneh. Berkali-kali Kak Dito memanggil namanya, mengguncang tubuhnya namun tidak ada reaksi apa pun.


"Apa dia tidur, kak?" tanyaku. Kak Dito menatap lekat-lekat Kak Sandi. "Iya, sih. Dia masih nafas, Bil. Belum mati. Tapi kenapa dia nggak bangun, padahal udah aku bangunin keras gitu, kan?"


Benar juga. Ini aneh. Seharusnya Kak Sandi pasti terbangun saat ini. Tapi dia tidur bagai orang mati. Aku pun mendekat, dan menatapnya lekat-lekat. Perasaanku tidak enak. Kini bulu kudukku meremang hebat. Dan, aku justru merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan kami dari luar jendela. Seperti mendapat sinyal kuat, aku beranjak dan berjalan ke jendela yang terhubung ke halaman samping. "Kak, jagain Kak Sandi dulu," pintaku. Kak Dito yang berteriak memanggil namaku, tak kuhiraukan.


Saat sampai jendela, aku mengintip dari celah jendela yang kordennya tersingkap sedikit. Di luar tampak jelas ada dua sosok yang sedang berada di luar. Kak Sandi! Aku bahkan sampai menoleh kembali ke tempat Kak Dito, dan di sana tubuh Kak Sandi masih ada di sofa. Kak Dito masih berteriak memanggil nama temannya, berusaha membangunkannya terus.


Jika tubuh Kak Sandi ada di dalam, lantas siapa yang ada di halaman rumah. Dan siapa orang di sampingnya. Aku buru-buru keluar rumah dan mengejar Kak Sandi. Meneriakkan namanya. Dia berhenti dan sempat menoleh padaku. Tentu dengan sosok di sampingnya.


"Itu ... Djin?" gumamku berbicara sendiri.


Sosok itu menoleh dan menyeringai. Saat aku akan mengejarnya, tiba-tiba ada sebuah tangan dingin mencegahku. Di sampingku ada Rio yang menggeleng pelan. "Jangan, Bil. Percuma."


"Tapi ... Kak Sandi!"


"Dia terlalu kuat. Walau dia tidak bisa masuk ke rumah ini, tapi jika korban itu tertidur, maka tidak akan ada yang bisa mencegahnya dibawa oleh Djin," ucap seekor harimau yang berdiri di samping kananku.


Rupanya dia saja tidak bisa membantu banyak. Dan, semua kembali pada para korban. Jika mereka tertidur maka jiwa mereka akan dibawa oleh Djin. "Apa nggak ada cara untuk mengambil jiwa itu kembali?" tanyaku.


"Bisa. Tentu harus dijemput, dan kita ambil kembali dari dia."


"Jadi maksudnya, kita harus menjemput jiwa itu?"


"Iya, Bil. Jujur, aku nggak bisa bantu. Karena tadi, aku sempat mau membawa salah satu dari jiwa itu, tapi justru energiku diserap oleh Djin. Dan aku udah nggak punya kekuatan untuk melawannya. Kalau aku nekat, aku bakal hilang. Selamanya."


"Jadi kamu nggak muncul karena itu?"


Rio mengangguk. Saat kuperhatikan wajahnya memang terlihat sayu, bibirnya membiru dan dan dia terlihat lemah. "Oke, aku bakal ke sana. Buat jemput jiwa Kak Sandi!" kataku yakin.


"Aku ikut!" tukas Kak Rayi yang ternyata sudah ada di belakangku. Dia lantas mendekat, dan menatapku dalam. "Kali ini aku nggak akan biarkan kamu menghadapi ini sendirian."


Aku hanya diam, lalu menoleh ke penjaga rumah ini. Dia tidak bereaksi hanya menatap ke arah Djin tadi pergi.


____________


Ruang tengah sudah ramai oleh para korban Djin tadi. Mereka akhirnya dengan mudah di kumpulkan, tapi ada 1 orang yang ternyata bernasib sama seperti Kak Sandi. Aira. Dia sudah tertidur sebelum Kak Rayi datang menjemputnya.


"Gimana?"


"Gue bakal ke sana sama Nabila!" cetus Kak Rayi yakin.


"Kak, tapi kakak tau gimana caranya? Ini nggak mudah loh," cegahku sambil menatap matanya dalam.


"Aku tau, gimana caranya kok. Tuh, kita bawa salah satu orang yang bisa bantu nanti," tunjuknya ke seseorang yang tidak kukenal sama sekali. Dia seorang wanita dengan banyak kalung dan ikat kepala aneh. Hm, mirip wanita gipsi versi Indonesia.


"Dia siapa?" tanyaku yang baru menyadari adanya orang lain yang belum pernah kulihat sebelumnya.


"Sepupu aku. Dia bisa bantu kita untuk menyeberang ke tempat itu, menjemput jiwa-jiwa yang terjebak di sana." Aku menatapnya lekat-lekat. Melihat tatapan matanya yang tajam membuatku agak ngeri. Tapi setidaknya ada rasa bahagia sedikit, saat tau kalau Kak Rayi juga akan ikut pergi bersamaku.


Wanita yang bernama Rachel itu, membuat sebuah lingkaran dengan kapur suci. Entah bagaimana dia mendapatkan benda itu, tapi katanya ini sangat berguna untuk melindungi raga kami saat jiwa kami keluar dari tubuh nanti. Karena konon kabarnya, saat jiwa seseorang terpisah dari raganya untuk melintas dimensi atau dunia lain, akan banyak iblis yang ingin menguasai tubuh itu. Dan kapur itu, sangat berguna, untuk menangkal masuknya iblis di sekitar tubuh kami nanti, dan sekaligus memastikan kalau yang kembali masuk ke tubuh kami adalah jiwa kami.

__ADS_1


"Siap?" tanya Rachel menatap kami berdua bergantian. Kak Rayi tersenyum tipis dan mengangguk sambil menatapku. Tidak hanya kami berdua yang berada di lingkaran itu, tapi juga tubuh Kak Sandi dan Aira. Karena menurut pengalaman Rachel, manusia yang sudah melintas ke dunia lain atau bahkan jiwanya di tahan oleh makhluk lain, harus mengalami serangkaian tes, untuk meyakinkan kalau jiwa yang kembali adalah memang benar jiwanya. Karena sering kali, manusia yang jiwanya pernah hilang, akan bersikap aneh dan tidak wajar. Dan ini bukan perjalanan gaib pertamaku.


__ADS_2