pancasona

pancasona
Part 17 Puncak emosi


__ADS_3

Barisan pohon tabebuya menjadi pemandangan yang tidak bisa ku nikmati seperti biasanya. Kepala kusandarkan di kaca jendela samping. Netraku hanya terpaku pada barisan pohon dengan bunga berwana kuning cerah tersebut. Di beberapa ruas jalan kotaku memang banyak ditanam pohon ini. Selain untuk membuat jalanan menjadi rindang juga saat bunga tabebuya mekar, maka akan terasa seperti di Jepang. Jepang punya sakura, sementara Indonesia punya tabebuya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Kini aku bersama dua pria yang merupakan teman baik Kak Rayi sekaligus sudah akrab denganku. Mereka akan mengantarkan aku pulang. Walau awalnya aku menolak, tapi kemudian Kak Bintang menarik tanganku hingga masuk ke dalam mobil. Sikap Kak Bintang agak lain, dia sangat posesif dan dingin. Aku tau kalau dia juga merasakan sakit yang kurasakan sekarang. Bedanya dia terlihat lebih tenang, mungkin begitulah caranya untuk meluapkan emosinya. Berbeda denganku.


Mobil mulai memasuki halaman rumah. Di garasi tampak ada mobil Papa parkir di sana. Itu artinya Papa ada di rumah sekarang.


"Lu nggak apa-apa, kan, Bil? Atau kita temenin masuk? Mungkin butuh hiburan gratis? Gue siap jadi badut," kata Kak Roger dengan menoleh ke belakang. Aku hanya menarik satu sudut bibir dan menggeleng. "Aku baik-baik aja. Makasih, ya, kak."


Pintu mobil kubuka, dan aku pun turun. Mereka berdua lantas segera pergi dari halaman rumahku. Masih diam, terpaku di tempatku berdiri. Rasanya aku tidak bersemangat untuk melakukan apa pun. Bernafas saja rasanya sesak.


Pintu rumahku terbuka lebar. Aku masuk dengan santai, hingga sampai ke ruang makan, ada Papa sedang duduk sambil menikmati kopi dan kue. Koran di tangannya kemudian ditutup saat melihat kedatanganku.


"Sore banget, Bil? Ada kegiatan sekolah?" tanya Papa. Aku berjalan melewati Papa menuju lemari pendingin. Mengambil botol jus buah yang selalu dibuat oleh Bibi setiap pagi.


"Iya, Pa. Papa tumben di rumah," cetusku dengan nada lemas. Kemudian duduk di kursi dekat Papa. Tanpa menoleh atau balik menatap pria di dekatku ini, langsung aku meneguk jus tersebut dari botol nya.


"Nabila? Are you oke?" tanya Papa mendekatkan wajahnya padaku.


"Iam fine, Dad."


"Itu kenapa muka kamu?" tanya Papa sambil menunjuk wajahku. Aku meraba bagian yang Papa tunjuk dan baru menyadari kalau ternyata luka ini masih ada. Anehnya mengapa aku tidak merasakan sakitnya?


"Biasalah, Pa. Anakmu ini kan, jagoan," ujarku bangga. Papa tersenyum tipis. "Papa siap mendengarkan apa pun, kalau kamu butuh teman cerita."


Aku tersenyum mendengarnya. Rasanya apa yang Papa katakan barusan sangat tulus, dan jarang kudengar, bahkan pertama kalinya aku mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Papa. Setidaknya aku bisa tersenyum dengan ikhlas sekarang.

__ADS_1


"Aku ke kamar dulu ya, Pa. Capek."


"Oke. Istirahat, sayang."


__________


Guyuran air dari shower membuat tubuhku terasa lebih nyaman. Rasa lelahku terasa ikut mengalir bersama air hangat ini. Namun saat aku memejamkan mata, bayangan semua kejadian seolah kembali diputar otomatis oleh otak. Hal ini membuat hatiku kembali sakit, hingga aku tergugu, lagi.


Rambutku yang basah, masih kugelung dengan handuk. Aku sudah berganti mengenakan piyama tidur dengan gambar hello kitty. Duduk di balkon kamar ditemani secangkir cokelat hangat buatan ku sendiri. Telinga ku sumpal dengan headset, sampai-sampai tidak ada suara lain yang kudengar selain musik yang sedang ku putar sekarang.


Namun sinar lampu sebuah mobil yang baru saja masuk ke halaman rumah, cukup menarik perhatianku. Kak Rayi datang, dan disambut baik oleh Papa di bawah. Setelah bertegur sapa, mereka mendongak ke arah kamarku. Tentu saja keberadaan ku segera diketahui oleh mereka. Papa melambaikan tangan, menyuruhku untuk segera turun. Sementara Kak Rayi tersenyum di bawah sana dengan memegang sebuket bunga mawar hitam favorit ku.


Terpaksa aku harus turun ke bawah. Tidak mungkin mengelak lagi. Lagi pula, aku ingin bertemu Kak Rayi. Aku ingin mendengar penjelasannya tentang masalah tadi.


"Kamu belum tidur, kan? Eum, ini buat kamu," katanya sambil mengulurkan bunga tersebut.


Aku meraihnya dengan ekspresi dingin. "Mau apa?" tanyaku ketus. Melihat sikapku tersebut, senyum Kak Rayi memudar. Dia menunduk, sambil memainkan kakinya. Lalu menatapku lagi.


"Bil, aku ... Aku mau minta maaf."


"Maaf untuk?"


"Untuk semua. Aku minta maaf. Aku ke sini juga mau ... Mau ...."


"Mau apa?"

__ADS_1


"Sebaiknya untuk sementara kita break dulu, Bil."


Deg! Jantung berdesir. Tidak percaya atas perkataan yang terucap dari mulut Kak Rayi.


"Maksud kamu? Putus?!"


"Bukan, Bil. Bukan putus. Jadi gini, aku baru tau kalau Sabrina sakit. Dia kena kanker, dan butuh bantuanku. Aku cuma takut, ganggu waktu kita. Aku pengen fokus bantu Sabrina dulu, kasihan. Orang tuanya jauh. Dia mohon-mohon sama aku, dan aku nggak enak buat nolaknya. Please, ngertiin aku, ya, sayang." Kak Rayi mendekat dan berusaha meraih tanganku. Aku langsung menepisnya kasar.


"Nggak perlu minta maaf. Oke, kalau mau Kak Rayi begitu. Kita ... putus!" kataku datar.


"Loh, Bil. Enggak gitu. Please. Aku masih sayang kamu, Bil. Jangan gini dong, sayang." Dia menjambak rambutnya sendiri, dan terlihat sangat frustrasi.


"Aku ngerti kok. Dia jauh lebih penting. Kesembuhan Sabrina jauh lebih penting. Aku ... Aku baik-baik aja. Jadi kamu nggak usah khawatirin aku."


"Bukan gitu sayang." Berkali kali dia terus berusaha melakukan kontak fisik denganku, tapi aku selalu menghindar.


"Kenyataan seperti itu kok. Buktinya, Sabrina mengeluh sedikit aja, kamu langsung peduli sama dia. Kamu tinggalin aku gitu aja, tanpa tau gimana perasaanku saat itu. Kamu nggak tau gimana sakit hatiku saat melihat kalian berciuman. Kamu nggak tau kecewanya aku, saat dia duduk di jok motor kamu. Kamu nggak noleh sedikitpun ke aku saat ada wanita itu! Jadi semua udah jelas, dia ...," ungkapku sambil menunjuk arah lain, "jauh lebih penting dari aku! Pacar kamu sendiri. Jadi buat apa kita pacaran? Mendingan kita putus! Kamu bisa fokus sama dia, aku nggak perlu sakit hati lagi!" kataku tegas.


"Tapi, sayang ...."


"Stop! Jangan panggil aku sayang lagi! Aku udah muak!" Aku mendongak dan menatap wajah Kak Rayi dari jarak dekat.


"Tunggu. Wajah kamu kenapa? Kok lebam gini? Kamu kenapa, Bil?" tanyanya sambil. Berusaha menyentuh pipiku. Lagi lagi aku kembali menepis tangannya sebelum sampai ke wajahku.


"Itu nggak penting. Lebih penting Sabrinamu!" kataku lalu masuk ke dalam rumah. Panggilan Kak Rayi tidak kuhiraukan. Aku masih berdiri di belakang pintu sambil terisak.

__ADS_1


__ADS_2