pancasona

pancasona
Part 148 serangan besar-besaran


__ADS_3

Abimanyu, Vin, dan Gio berpencar menelusuri tempat satu ke tempat lain, rumah satu ke rumah lain guna mencari jejak para werewolf. Sementara Rendra pergi mencari sarang kawanannya. Ia berpikir kalau membunuh akar dari masalah ini, justru adalah hal yang paling tepat. Mereka saling membagi tugas. Setidaknya agar keadaan kembali tenang, dan korban tidak lagi berjatuhan.


Di sisi lain, tiga wanita yang sedang berjalan pulang, kini makin was-was karena merasa ada beberapa orang yang mengikuti di sekitar mereka. Suatu kebodohan melakukan perjalanan malam hari seperti sekarang, padahal mereka seharusnya sudah ada di rumah Maya untuk mengawasi gadis itu. Apakah dia akan berubah menjadi werewolf atau tidak. Karena kini, tidak ada lagi orang yang bisa mereka percayai. Semua orang bisa saja adalah salah satu dari makhluk mengerikan itu.


Hal ini membuat Ellea dan Allea menjaga jarak dengan Maya. Mereka takut, dan ini sudah malam. Sinar bulan sudah mulai tampak di langit gelap sana. "Kak? Kenapa? Kok kalian ngejauhin aku?" tanya Maya yang heran melihat sikap dua gadis di dekatnya. Mereka berubah, tidak seperti Ellea dan Allea yang ia kenal tadi siang. Maya merasa kalau dua wanita itu sengaja menjaga jarak dengannya.


"Nggak apa-apa," sahut Ellea kikuk.


"Tunggu! Kak, kalian denger itu nggak?" tanya Maya, ia menghentikan langkahnya dan menyapu pandang ke sekitar mereka. Jalanan ini masih ada di sekitar home stay, dan tidak semua home stay ada penghuninya. Bahkan kini mereka hanya melihat rumah-rumah itu gelap, karena memang sekarang bukan hari libur, dan pengunjung jarang menginap di sini.


"May ... kamu nggak ngerasa aneh sama tubuh kamu?" Allea memberanikan diri bertanya.


"Aneh? Maksud Kak Allea?"


"Eum, semacam ada perasaan panas atau badan nggak enak begitu?" lanjutnya lagi, tatapan Allea terus memperhatikan tiap bagian tubuh Maya. Terutama tangan dan wajahnya.


"Maksud kalian? Kalian pikir aku ...." Belum sempat Maya menyelesaikan kalimatnya, suara berisik di sekitar membuat mereka panik.


"Mendingan kita lari sekarang!" kata Ellea.


Bersamaan dengan itu, suara geraman makin terdengar nyaring di dekat mereka, dan tiga gadis itu menjerit ketakutan sambil berlari kencang. Di saat dalam masa pelarian, mereka melihat seseorang keluar dari salah satu home stay. Akhirnya Maya berhenti dan meminta pertolongan, hal ini membuat Ellea dan Allea juga merasa lebih aman, apalagi orang itu adalah seorang wanita dengan rambut blonde yang mereka pikir salah satu wisatawan yang menyewa home stay.


"Tolong!" kata Maya, memegang tangan wanita yang sedang membuang sampah di tong sampah dekat jalan. Mereka bertiga panik dan sesekali melihat ke arah belakang.


"Kalian kenapa?" tanya wanita itu, heran.


"Itu, ada serigala!" sahut Maya, menunjuk ke belakang.


"Apa? Serigala?" Memang hal aneh seperti itu sangat tidak bisa diterima secara logika bagi orang normal pada umumnya. "Masa sih?" tanyanya masih tidak percaya, ia juga ikut memperhatikan sekitar dan arah datangnya mereka bertiga tadi.


"Kami boleh sembunyi di dalam?" pinta Allea. Sementara Ellea justru seperti tidak nyaman dengan situasi ini. Iaa sempat menahan tangan Allea dan menggeleng pelan. "Nggak apa-apa kali, Ell. Buat ke rumah penduduk masih jauh loh. Kita bisa dimakan mereka di jalan nanti!" kata Allea.


'Kalian yakin sama apa yang kalian bilang barusan?" tanya wanita itu, lagi. Dan ketiganya mengangguk cepat dengan wajah ketakutan. Yah, sebenarnya tidak hanya suara geraman saja yang mereka temukan tadi, tapi ada sebuah pergerakan pelan dari semak-semak, yang membuat mereka bertiga segera melarikan diri dari sana. "Ya sudah, ayok masuk!" ajaknya.


Saat di depan pintu ada wanita lain yang berdiri menyambut mereka. "Aida ... siapa mereka?" tanya wanita satunya dengan rambut coklat. "Tamu, Dia," sahut Aida dengan menekankan kata yang baru saja ia ucapkan. "Ya sudah buruan ajak masuk," kata Alodia dengan smirk mencurigakan.


Saat mereka mulai digiring masuk, Ellea sempat berpikir sebentar. Ia menahan tangan Allea, "All, kok aku kayak pernah denger nama mereka, ya," bisik Ellea. Sementara Maya sudah terlebih dahulu masuk.


"Siapa tadi namanya?"


"Alodia sama Aida." Mereka nampak berpikir keras, nama-nama itu sangat familiar di telinga mereka, karena mereka baru saja mendengar beberapa nama itu di sebutkan oleh Rendra. Sontak mereka berdua melotot, dan segera beralih menatap Maya yang sudah ada di dalam. Aida melambaikan tangan ke arah Ellea dan Allea. Mereka berdua justru mundur perlahan. "Ell ... mereka Lycans?!"


"All ... Maya!"


"Kenapa? Ayo masuk!" ajak Aida dengan tatapan yang mengerikan.


"Kalian ...." Ellea dan Allea terus mundur perlahan, membuat Aida sudah paham. Mereka terus mundur, hingga menabrak seseorang di belakang. Keduanya sontak panik dan menjerit, tapi rupanya Rendra yang ada di belakang mereka.


"Ren ... Maya!" tunjuk Ellea ke dalam rumah itu. Rendra tidak menanggapi, tapi hanya menatap Aida dari tempatnya berdiri dengan sorot mata dingin.


"Kau pulang juga, Ren?" tanya Aida. Ellea dan Allea makin yakin kalau apa yang mereka pikirkan memang benar-benar terjadi. Bahwa mereka masuk ke dalam sarang Lycans.


"Diam kau! Lepaskan anak itu!" suruh Rendra. Rendra menoleh ke Ellea dan berbisik padanya, "Kalian masuk lewat pintu belakang, bawa Maya pergi! Ambil senjata di bagasi mobilku! Cepat!"


Keduanya sempat melongo beberapa saat, sampai akhirnya Ellea menarik Allea pergi ke mobil Rendra yang ternyata tak jauh dari rumah itu. "Ell, kamu yakin mau masuk ke sana?" tanya Allea ragu. "Yang kita hadapi bukan gangster!" keluhnya.


Ellea yang sedang memilih senjata untuk melawan para Lycans, menarik napas panjang, "Aku tau, All. Tapi kasihan Maya. Bagaimana kalau posisi kita di sana, kita pasti ingin ditolong, kan?" tampik Ellea.


"..."


"Kalau kamu takut, biar aku saja yang masuk. Kamu hubungi Abi sama Vin, suruh mereka ke sini!" sambung Ellea. Ia mengambil shotgun yang sudah dipastikan terisi peluru perak di dalamnya. Tak lupa menyematkan pisau di belakang bagian tubuhnya.


"Ell!" panggil Allea dengan wajah sendu. Ellea menoleh, tersenyum sambil mengangguk. Ia seolah mengatakan kalau dia akan baik-baik saja. Gadis itu nekat. Ia benar-benar pergi ke belakang rumah, tempat sarang Lycans berada. Baginya menyelamatkan nyawa Maya adalah prioritasnya saat ini.

__ADS_1


Allea menghubungi ponsel Vin dan meminta mereka segera datang. Ia juga memberitahu tentang apa yang sedang Ellea lakukan. Abi, Vin dan Gio yang memang sedang berpencar mencari jejak werewolf, segera berbalik menuju home stay. Rendra yang mencari sarang mereka sejak kemarin, baru menyadari kalau ternyata mereka bersembunyi di tempat yang jauh lebih baik. Tempat yang tidak pernah terlintas dalam benak Rendra sejak awal.


Rendra masih terlibat diskusi antar keluarga. Mereka berharap dirinya bisa segera pulang, karena kemampuan Rendra yang sangat hebat memang masih dibutuhkan kawanan itu. Sarang memang dijaga oleh dua wanita itu, Alodia dan Aida. Mereka pasangan dari Alpha dan Beta di pack itu. Sementara pada pria tentu saja sedang berburu. Anggota yang telah gugur, akan segera digantikan oleh anggota baru yang akan mereka rekrut lagi malam ini.


Kedatangan tiga gadis manusia itu, membuat 2 gadis werewolf sangat gembira. Karena mangsa justru mendatangi sarangnya.


"Kenapa kalian kemari? Bukannya di tempat kemarin jauh lebih baik? Hah?!" cibir Rendra.


"Eum, kau tau, kan, Ren. Kalau anggota pack kita sudah menipis, dan kita benar-benar harus memperbanyak pasukan lagi. Tapi ternyata di sana, kami bertemu para hunter. Dan, mereka membunuh satu persatu dari pack kita. Terpaksa kami pindah, dan akhirnya menemukan desa ini. Ternyata kau juga di sini, saudaraku? Kebetulan sekali," terang Aida.


"Dan asal kau tau, Aida. Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan desa ini."


"Waw, sungguh mengerikan kau tau, Ren? Kalimatmu sungguh menyakiti hatiku," cibir Aida. Tanpa mereka sadari, Ellea sudah berhasil masuk lewat pintu belakang. Perlahan ia mulai menyusuri ruangan demi ruangan dengan sangat hati-hati, guna mencari Maya. Alodia keluar dari rumah dan bergabung dengan keluarganya yang sedang berdebat.


"Ren, sudahlah, lebih baik kamu kembali ke rumah. Tidak menyenangkan, bukan, hidup sendirian?" tanya Alodia dengan nada mengejek.


"Memangnya apa yang akan kudapat kalau aku kembali? Bukan, kah, posisiku sudah digantikan oleh Ax?" tanya Rendra, ia mulai mencoba mengalihkan perhatian dua wanita serigala itu, karena Rendra sudah melihat Ellea yang berada di dalam rumah itu sesuai rencananya. Ia hanya perlu mengulur waktu dan perhatian dua wanita serigala ini agar tidak menyadari keberadaan Ellea di dalam rumah mereka.


"Kalau kau kembali, kami yakin Ares akan menerimamu kembali, dan posisimu akan kembali padamu," tawar Alodia.


"Lalu?"


Dua wanita itu saling berpandangan, tak mengerti maksud dari perkataan Rendra. "Ya terus kita bakal melakukan hal ini lagi? Memburu manusia untuk merekrut jadi anggota pack kita? Atau berpindah dari satu empat ke tempat lain, untuk menghindari para hunter? Begitu?" Netra Rendra menatap ke dalam rumah dengan hati-hati. Ia sudah melihat Ellea yang sedang memapah Maya dan bersiap akan pergi, lewat pintu belakang lagi. Kondisi Maya yang lemah, entah sudah diberi apa oleh mereka, membuat Ellea kesulitan membawanya pergi. Ia menjadi harus sangat berhati-hati.


Tiba-tiba Maya menggumam. Sontak Ellea panik, dan otomatis Alodia dan Aida menoleh ke belakang. Mereka benar-benar marah, dan langsung mengubah wujudnya menjadi manusia serigala. Rendra mengambil pisau dari belakang tubuhnya dan menusuk Aida dan Alodia hingga mereka. Dua wanita itu menjerit. Alodia menyerang Rendra dengan membabi buta, Rendra mampu menahan serangan itu. Tapi perhatiannya teralih, karena Maya tiba-tiba bertindak liar. Ellea sampai terjungkal karena tendangan gadis itu yang sangat kuat. Tapi yang membuat mereka melongo adalah perubahan wujud Maya. Ellea yang masih duduk di lantai terus menatap Maya yang berubah menjadi makhluk mengerikan. Yah, Maya menjadi manusia serigala. Ellea panik tapi seolah tidak bisa bergerak dari tempatnya duduk. Aida membantu Alodia menyerang Rendra. Kekuatan mereka walau digabungkan tidak akan mampu mengalahkan Rendra, jadi setidaknya mereka harus bertarung bersama.


"Ell! Tembak dia!" jerit Rendra sambil menahan serangan brutal dua lawannya.


Ellea melirik ke pistol yang sudah terlempar dari tangannya karena Maya. Ia ragu, apakah benar-benar akan menembak Maya atau membiarkannya. Tapi ia juga takut kalau Maya akan menyerangnya. Mengingat ia tau kalau saat ini Maya tidak bisa mengingat apa-apa. Tapi ia juga tau kalau matahari sudah tampak di langit, maka Maya akan kembali seperti semula.


"Aku nggak bisa!" raungnya. Ellea menjerit saat Maya mendekatinya perlahan. Ellea mengambil pisau yang juga ia bawa tadi. Maya mulai agresif dan hendak menyerang Ellea dengan membabi buta. Ellea terus melawan dengan tangan kosong, hingga akhirnya Ellea menyayat tangan Maya dengan pisau perak di tangannya. Maya mundur sambil kesakitan. Luka itu tidak hanya mengeluarkan darah segar, tapi juga terbakar dan gosong. Begitulah jika makhluk seperti ini terkena benda yang mengandung perak murni. Efeknya sangat luar biasa. Karena jika pisau biasa, maka luka itu pasti akan kembali menutup seperti sedia kala.


Maya yang terluka justru makin agresif. Ia marah karena dilukai oleh Ellea dengan luka yang cukup dalam. Tangannya yang menampilkan kuku tajam, siap mencabik tubuh Ellea.


"May, jangan suruh aku bener-bener lawan kamu, ya. Please, sadar, May!" raung Ellea. Ia benar-benar sedang dalam dilema. Ingin melawan tapi tidak sanggup. Maya kembali bergerak, dengan cepat ia melompat hendak menindih tubuh Ellea, tapi tiba-tiba tubuh Maya seperti ditarik hingga ia jatuh ke belakang sebelum berhasil menggapai Ellea.


"Pegangi dia!" jerit Rendra ke Gio, bermaksud agar Alodia jangan sampai kabur saat tau kalau saudaranya sudah tewas. Benar saja, Alodia yang hendak kabur akhirnya dihujam pisau di kakinya oleh Gio. Ia menjerit kesakitan dan tidak mampu berjalan lagi.


Lolongan suara serigala dari kejauhan membuat Alodia menyahut. Rendra lantas mendekati wanita itu, dan kembali memenggal kepala Alodia begitu saja. Rendra sangat berdarah dingin dan tidak pandang bulu dalam membunuh musuhnya. IA tau, kalau dua wanita itu adalah rekannya dulu, tapi sejak mereka masih satu pack sekalipun, hubungan mereka tidak baik. Karena Rendra sering berselisih pendapat dengan mereka semua.


"Wow!" decak Gio melihat tindakan Rendra.


"Ayo! Kita harus pergi dari sini!" ajak Rendra. Ia terus menyapu pandang sekitar, karena lolongan tadi adalah pertanda kalau markas ini sudah dikepung, dan pasti kawanan Lycans akan segera datang.


'Maya bagaimana?" tanya Ellea.


Rendra menatap Ellea dan Maya bergantian, "Bawa saja dulu. Tapi ikat dia!"


__________________________


Mereka memutuskan pulang ke rumah Abi. Rendra juga ikut guna merencanakan tindakan apa selanjutnya, untuk Maya dan para Lycans yang pasti akan membalas dendam kematian dua Luna mereka. ( Luna \= pasangan ).


Maya masih diikat dengan kuat. Malam belum berakhir, dan tentu wujudnya masih akan seperti ini. Mulut Maya mereka sumpal dengan kain. Walau rumah Abi jauh dari pemukiman penduduk, tapi lolongan Maya akan mengundang werewolf lain datang. Rendra yakin kalau Ares, akan datang menuntut balas karena kekasihnya ia penggal. Ares adalah Alpha yang kuat, setara dengan Rendra, hanya saja umur Rendra yang jauh lebih muda membuatnya berada di posisi Beta, bukan alpha. Ia adalah wakil Ares dulu saat masih bersama packnya.


"Bagaimana? Maya bisa balik jadi manusia normal lagi, nggak, Ren?" tanya Ellea terus memberondonginya dengan banyak pertanyaan. Rendra hanya diam sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Matanya terus menatap Maya yang masih meraung di depanya.


"Nggak tau. Sejauh ini aku nggak pernah tau, kalau ada manusia yang sudah terinfeksi bisa kembali menjadi normal lagi."


Semua orang di ruangan ini diam, dan benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Hanya satu saran Rendra, yaitu membunuh Maya. Tapi tidak ada satu pun orang di ruangan ini yang setuju atas saran itu.


"Tapi, mungkin kamu bisa membuat dia bisa mengontrol dirinya sendiri, Ren?" tanya Abi.


"Iya, bener. Kamu bisa bikin dia seperti kamu, misalkan? Bisa, kan, Ren?" tanya Ellea, lagi penuh harap.

__ADS_1


"Gaes, mereka di luar!" sergah Allea. Vin segera memeriksa jendela dan pintu dibantu Gio. Rendra ikut mengintip dari jendela. Memastikan apakah Ares yang datang atau para Lycanoid.


Vin yang sejak tadi menatap k halaman di luar, tidak menemukan apa pun, kecuali dua orang werewolf yang sedang menatap ke rumah itu. "Dante dan Danial!" cakap Rendra.


"All, kamu jangan dekat-dekat jendela dan pintu," desak Vin. Allea mengangguk, lalu bergabung dengan Ellea yang ada di tengah ruangan.


"Siapa mereka?" tanya Gio.


"Mereka anggota pack yang paling lemah!"


"Berarti bukan ancaman untuk kita?" tambah Gio.


"Tetap saja, mereka ancaman. Karena pasukan mereka di belakangnya cukup banyak," ungkap Rendra, memperhatikan sekitar halaman.


"Maksudmu?"


"Kita dikepung. Lycanoid ada di sekitar kita. Rupanya Ares membuat mereka berkumpul dan hendak melakukan penyerangan besar-besaran malam ini. Ares ingin membalas kematian kekasihnya, Aida. Dan kita harus bertarung!" pungkas Rendra.


"Oh, fine. Tapi amunisi kita tidak cukup, Ren!" tukas Abimanyu.


"Ada berapa banyak mereka?" tanya Gio.


"Puluhan."


"Hey, jebakan di halaman masih berfungsi, kan, Om?" tanya Vin.


"Jebakan apa?" tanya Rendra menyahut.


"Eum tapi peluru itu bukan perak, kan, Paman?" Yah, meriam di luar rumah memang masih berfungsi, tapi rasanya percuma karena pelurunya hanya peluru biasa. Dan tentu tidak akan berpengaruh banyak untuk makhluk di luar sana.


"Kita coba bertahan semampu kita!" ujar Abi. Ia lantas menoleh ke dua gadis kembar yang hanya diam menunggu mereka. Menunggu rencana apa yang akan mereka lakukan agar terbebas dari musuh di luar sana.


"Kalian pergi ke bawah tanah. Sembunyi di sana. "


"Apa?! No! Biyu, aku bisa bantu kalian. Kali ini aku nggak akan pakai perasaan, aku bakal bunuh mereka juga. Aku bisa!" desak Ellea.


"Bener! Aku juga bisa pakai pistol. Memang mereka menyeramkan, tapi aku juga nggak mau mati konyol hanya sembunyi di bawah!" tambah Allea.


"'Tapi ...."


"Mana pistol untuk kami?" pinta Allea dengan menengadahkan tangan ke Abi. Abi menatap Vin, dan kekasih Allea itu hanya mengerdikan kedua bahunya. Dan terpaksa Allea dan Ellea diberikan senjata api oleh mereka. Semua bersiap di posisi masing-masing. Pistol sudah keluar dari jendela dan bersiap menembakkan amunisi ke arah lawan.


DOR! Satu tembakan sudah melesat mulus mengenai dada Dante. Ia terkapar. Danial segera melolong seolah seperti pertanda kalau pasukannya harus menyerang sekarang juga. Dan dalam hitungan detik puluhan werewolf berlari mendekat ke rumah Abi. Tembakan demi tembakan terus membuat satu persatu dari mereka berguling ke tanah. Tapi jumlah mereka tidak juga habis.


'Peluruku habis!" cetus Allea.


"Aku juga!" tambah Ellea.


"Iya, kita harus melawan dari jarak dekat mulai sekarang. Penggal kepalanya, atau tusuk jantungnya," suruh Rendra. Mereka lantas mengambil pedang dan pisau yang memang tersedia di rumah ini. Abi memegang handle pintu dan menatap teman-temannya. Mereka mengangguk dan saat itu juga pintu terbuka lebar. Abi lebih dulu berlari keluar, langsung menusuk musuh tepat di jantungnya. Rendra menyusul di belakangnya, lalu Vin, Gio, dan terakhir dua gadis kembar itu.


"Allea, Ellea, kalian jaga pintu. Jangan biarkan mereka masuk!" titah Abi.


Sudah banyak kepala dan tubuh yang terpisah tergeletak begitu saja di tanah. Para manusia juga terluka. Tubuh Abimanyu juga sudah berkali-kali terkoyak, dan kembali lagi ke bentuk semula. Tapi lama kelamaan tenaga mereka terkuras dan hampir habis. Semua berkumpul menjadi satu dan bersiap menahan kembali serangan dari mereka.


"Lebih baik kalian masuk dan pergi lewat pintu belakang. Biar aku sama Rendra yang bertahan di sini," kata Abi.


"Tapi!"


"Kita kalah jumlah, dan tenaga kita sudah habis. Nggak mungkin kita menang!"


Rendra yang sudah berubah menjadi manusia serigala hanya mampu menatap mereka, seolah sependapat dengan perkataan Abimanyu. Tapi, tak lama kemudian, suara letusan pistol terdengar nyaring menggema di sekitar hutan. Dan satu persatu werewolf di sekitar mereka terjatuh ke tanah, dan tewas begitu saja.


"Siapa itu?" tanya Vin yang tidak tau, bantuan dari mana yang datang untuk mereka.

__ADS_1


"Mungkin para hunter," sahut Gio dengan kemungkinan paling mudah.


Dan dari arah hutan, ada sosok manusia yang sangat mereka kenal. Ia memegang dua senjata api dan terus menembak musuh-musuh mereka. "Pak Yudistira?!" pekik Abi, Vin dan Allea bersamaan.


__ADS_2