
Aku berjalan di antara kerumunan teman-teman satu angkatan, menuju pintu gerbang utama sekolah. Otomatis, kami akan melewati gedung kelas 2. Kebetulan mereka juga baru saja keluar dari kelas. Tentu orang yang paling kucari adalah Kak Rayi. Benar saja, kini aku dapat melihat Kak Rayi yang sedang berjalan bersama Sabrina turun menuju tangga. Kak Rayi melirik padaku dengan tatapan teduh. Sementara aku tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
Zidan terus mengekor padaku dengan sejuta pertanyaan dan argumennya. Bertanya aku akan pulang dengan siapa, atau bagaimana hubunganku dengan Kak Rayi, bahkan dia dapat mengambil kesimpulan kalau Sabrina adalah orang yang telah merusak hubungan ku dengan Kak Rayi. Sementara aku tidak menanggapi semua pertanyaannya. Hanya menatapnya jengah berharap dia segera enyah dari hadapanku.
Kak Rayi dan Sabrina turun. Beberapa kali Kak Rayi melirik padaku, karena melangkah perlahan tak jauh darinya. Sabrina terus menggandeng tangan Kak Rayi menuju pelataran parkir siswa. Tiba-tiba Kak Bintang berdiri di hadapanku, tersenyum, dengan tas ransel yang ada di salah satu pundaknya. Aku terperanjat, dan berusaha membuat ekspresi yang wajar. "Kak Bintang? Kenapa?" tanyaku sungkan.
"Kamu mau pulang, kan? Bareng yuk," anaknya penuh harap.
"Eum, iya sih, Kak. Tapi maaf, aku mau pulang sendiri aja," jawabku agak ragu.
"Enggak deh, Bil. Aku takut kejadian kemarin terulang lagi. Mendingan aku antar kamu pulang, yuk," cetus Kak Bintang sedikit memaksa. Dia bahkan kini meraih tanganku agar mengikutinya.
"Kak Bintang ... Maaf, aku mau pulang sama Kak Rayi," jawabku pelan. Tapi aku tau kalau dia mendengar perkataan ku barusan. Kak Bintang lantas berhenti, lalu menoleh padaku.
"Apa? Pulang sama siapa tadi kamu bilang?" tanya Kak Bintang.
"Kak Rayi," sahutku pelan.
"Loh, bukannya Rayi baru aja pulang sama Sabrina?"
"Hm, iya. Tapi nanti Kak Rayi balik lagi, Kak. Gini ...." Aku mendekat ke Kak Bintang sambil tengak tengok sekitar. Zidan yang merasa kalau dia tidak diinginkan di sini, lantas pergi setelah mendapat tatapan tajam dariku. Sementara itu, Kak Roger terlihat berlari kecil ke arah kami setelah menutup pintu kelasnya.
"Eh, belum pada balik? Nungguin gue, ya?" tanya Kak Roger yakin. Namun kami berdua justru tidak merespon perkataannya barusan. Aku kembali menatap Kak Bintang dan juga Kak Roger bergantian. "Kalian merasa ada yang aneh, nggak sama Kak Rayi akhir-akhir ini?" tanyaku serius.
"Iya jelas aneh. Dia makin menjauh dari elu, dari kita dan lebih fokus jagain Sabrina. Elu udah tau, kan, Bil, kalau Sabrina sakit. Makanya itu alasan Rayi perhatian banget ke dia," jelas Kak Roger.
"Tau. Tapi ini aneh, Kak."
"Apanya yang aneh?" tanya Kak Bintang.
"Tadi aku lihat, wajah Kak Rayi makin nggak karuan. Dia lebih pucat, dan lesu. Nggak seperti dirinya yang biasanya, dan aku ketemu Abitra pas di toilet tadi!"
"Abitra? Serius? Dia ngomong apa?"
"Katanya dia nggak bisa masuk ke rumah, karena ada pengaruh buruk di rumah Kak Rayi."
"Jangan-jangan gara-gara Sabrina!" tebak Kak Roger. Kak Bintang langsung menoleh tajam padamu, seolah tidak terima atas tuduhan itu. "Loh, bayangin aja, Tang, sejak ada Sabrina, keadaan makin kacau. Lu sadar nggak sih, Rayi lembek banget ke Sabrina? Lu tau, kan, gimana karakter Rayi, yang sama sekali nggak bisa diatur sama orang lain. Rayi orang yang selalu punya prinsip. Lagi pula dari dulu mana pernah Rayi care sampai segininya ke Sabrina."
__ADS_1
"...."
"Sabrina memang ratu caper, sejak dulu. Iya, kan, Tang? Tapi apa pernah Rayi ladenin sikap manjanya Sabrina? Nggak pernah!"
Aku hanya menatap dua pria ini bergantian. Karena aku tidak mengenal karakter Sabrina yang sebenarnya. Kak Bintang lebih banyak diam, tapi kerutan di dahinya menunjukkan kalau banyak hal yang sedang dia pikirkan. Kak Bintang menatapku.
"Terus rencana kamu apa, Bil?" tanyanya.
"Aku mau dekati Kak Rayi, aku mau cari tau, apa sebenarnya yang terjadi. Hm, aku juga salah, Kak. Seharusnya aku bisa lebih tegas untuk mempertahankan hubunganku sama Kak Rayi, dan nggak semudah itu membiarkan Sabrina menguasai Kak Rayi, tapi aku terlalu emosi kemarin."
"Wajar sih, Bil. Kalau gue jadi elu juga pasti kesel," sahut Kak Roger.
"Ya udah, kamu coba cari tau ya, Bil. Kalau ada apa-apa, kamu kasih tau kami. Jangan kamu hadapi sendiri. Gimana juga, Rayi teman kami. Aku sama Roger nggak mau apa yang terjadi sama Faza, terulang lagi ke Rayi."
Aku mengangguk, sambil menepuk bahu Kak Bintang. "Kita pasti bisa hadapi ini sama-sama. Kita kembalikan Kak Rayi seperti semula."
Mobil Kak Rayi berhenti tak jauh dari kami. Otomatis aku, Kak Bintang dan Kak Roger menoleh padanya. Dia kemudian turun dari mobilnya, dan berjalan ke arah kami. Kami menatap Kak Rayi iba. Kak Roger berbisik, "bener kata elu, Bil. Muka Rayi, aneh!" katanya.
"Kalian belum balik?" tanya Kak Rayi pada Kak Bintang dan Kak Roger.
"Baru mau balik ini. Kirain Nabila balik sendirian, jadi mau kita ajak bareng. Eh, nggak taunya sama elu," sindir Kak Roger.
_______
"Ngobrol apa sama mereka, kayaknya serius banget?" tanya Kak Rayi sambil fokus pada kemudinya.
"Ngobrol biasa aja kok. Nggak penting," sahutku tanpa menatapnya dan hanya memandang ke jendela samping.
"Oh gitu," gumam Kak Rayi.
Hening. Tidak ada lagi obrolan dari mulut kami berdua. Semua hanya diam sambil sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kak Rayi pakai alasan apa buat lepas dari Sabrina?" tanyaku dengan nada menyindir.
"Oh, aku cuma bilang mau langsung pulang, soalnya dia harus terapi ke rumah sakit nanti. Jadi sekarang harus istirahat dulu."
"Memangnya dia sakit apa?"
__ADS_1
"Kanker Nasofaring."
"Oh. Terus nanti Kak Rayi yang antar dia ke rumah sakit?"
"Iya."
Benar-benar aneh. Sikap Kak Rayi bagai kerbau yang dicucuk hidungnya. Bahkan nada bicaranya terkesan datar tanpa emosi sama sekali.
Kami sampai di halaman rumahku. Rupanya ada Papa dan Om Gio di teras.
"Mampir dulu, Kak."
"Eum ...."
"Ayok! Turun!" kataku sambil menarik tangannya. Dia akhirnya mengangguk. Papa dan Om Gio menatap kami bingung. Aku memang sudah membicarakan tentang permasalahan ku dengan Kak Rayi kemarin. Pasti Papa bingung, kenapa aku bisa pulang diantar Kak Rayi.
Mereka saling basa basi menanyakan kabar. Aku lantas pamit untuk mengambilkan Kak Rayi air minum. Kak Rayi yang awalnya ingin segera pergi, akhirnya terjebak. Apalagi Papa dan Om Gio memberikan pertanyaan beruntun padanya.
"Minum dulu, Kak." Aku menyodorkan segelas air minum padanya. Kak Rayi menatap bingung pada gelas yang ada di tangannya.
"Kenapa?" tanya Om Gio.
"Kok airnya atas dingin, bawah hangat, Bil?"
Om Gio melirik padanya dan melotot. Aku menggeleng samar padanya. "Iya, tadi aku campurin air hangat sedikit. Kak Rayi lagi sakit, kan?" tanyaku.
"Aku enggak sakit kok."
Om Gio terus melotot padaku meminta penjelasan. Tapi Papa justru memaksa Kak Rayi meminumnya. Padahal Papa tidak tau apa yang sudah kulakukan dengan air minum itu. Kak Rayi meneguk nya hampir setengah gelas. Om Gio menarik nafas panjang sambil geleng-geleng kepala dan menunjukku. Ilmu ini aku dapat darinya. Tapi Om Gio tidak tau tujuanku melakukan hal ini pada Kak Rayi.
Tiba-tiba Kak Rayi memegangi kepalanya. Lalu berpindah ke perut. Dia seperti kesakitan, lalu beranjak dari duduk dan mundur hingga ke halaman depan. Papa memanggilnya, khawatir. Aku dan Om Gio segera berlari mendekatinya. Kak Rayi memuntahkan semua isi perutnya. Namun anehnya, semua yang ia keluarkan berwarna hitam dan berasap. Om Gio menutup mulutnya sambil menatap ke sudut lain.
"Bil, ada apa ini sebenernya?!" tanya Om Gio. Papa memijat tengkuk Kak Rayi dan mencoba membuat nya nyaman. Papa juga berteriak memanggil Bibi untuk membuatkan teh hangat.
Aku dan Om Gio menjauh. "Kak Rayi kena pengaruh ilmu hitam, Om."
"Kok bisa?!"
__ADS_1
"Ya itu buktinya?" tanyaku sambil menunjuk muntahan Kak Rayi yang aneh.
"Kamu harusnya tanya dulu sama Om. Kamu tau, kan, konsekuensinya? Kalau dia nggak kuat, bisa vatal, Nabila?! Kamu bisa bertanggung jawab?" tuntut Om Gio. Aku hanya diam. Om Gio lantas mendekat ke Kak Rayi sambil menarik tanganku. Papa mendekat melihat Kak Rayi tergeletak pingsan di rumput.