pancasona

pancasona
Part 59Taman


__ADS_3

Mereka sampai di taman. Duduk di sebuah kursi kayu sepanjang  satu meter. Dengan mekaran bunga bugenvile di sekitar. Ellea mulai menghirup aroma kopi di tangannya, sementara Abimanyu menelusuri tiap sudut taman. Mencari keberadaan makhluk mengerikan itu. Ia melihat 1 Kalla sedang berjalan di sekitar taman tadi, maka dari itu Abi memutuskan menemani Ellea sekarang. Padahal ia memang akan dengan senang hati duduk di samping Ellea seperti ini.


"Suasana hatimu sedang buruk?" celetuk Abi dengan pertanyaan yang membuat kerutan di dahi Ellea terlihat.


"Bagaimana kamu tau?"


"Sangat mudah menebak dari ekspresi wajahmu." Abi tidak sedikitpun menatap Ellea yang terus dibuat penasaran.


"Cih, kau seorang pembohong ulung. Pasti Nayaka yang mengatakan itu."


Mendengar kalimat barusan, Abi hanya tersenyum tipis, menatap kedua kakinya yang tengah bermain pasir di bawah.


"Jadi benar?"


"Yah, kurang lebihnya seperti itu." Tegukan keempat membuat hati Ellea tenang. Seolah emosinya ikut menguar ke udara.


Gadis itu memang terbiasa duduk di taman sendirian saat malam hari. Hanya saja saat Abimanyu datang membawa pesanannya tadi, ia merasa ingin ditemani.


"Pria tadi kekasihmu?" tanya Abi tetap tidak menatap Ellea sama sekali.


Ellea menoleh. Menatap pria di sampingnya dari arah samping.


'Tampan juga, manusia es ini.'


"Pria? Pria yang mana?"


Abimanyu memutar bola matanya. Jengah pada reaksi pura-pura dari Ellea. Padahal gadis itu memang benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud Abimanyu.


Ellea menerawang ke langit gelap di atasnya. Meneguk kembali kopi di tangan kanan. "Oh. Aku baru ingat. Maksud kamu Fredi?"


"Aku tidak tau siapa namanya. Pria yang datang bersamamu di cafe tadi."


"Iya. Dia Fredi. Teman kuliahku dulu."


"Kalian cukup dekat, ya."


"Yah, begitulah. Kami sudah saling mengenal sejak masuk kuliah. Dulu dia anak yang pendiam. Tapi sangat baik. Hanya saja kini ia sedikit berubah."


"Berubah? Bagaimana?"


"Iya. Berubah. Dia lebih cerewet. Bahkan sekarang dia mulai mendekati wanita-wanita. Bahkan ada yang pernah mengatakan padaku kalau Fredi pandai merayu. Huh, sungguh berbeda dari Fredi yang dulu kukenal."


"Kau saja yang cemburu."


"Cih, tidak. Dia bukan tipeku."


"Benar, kah?"


"Tentu saja."


"Tapi kalian sangat dekat."


"Hanya sekedar teman. Apa yang salah?"


"Tidak ada." Abimanyu beranjak. Menatap Ellea yang masih asik meneguk kopi sembari menggoyang-goyangkan kakinya.


"Apa?"


"Sudah malam. Sebaiknya kamu pulang. Aku juga harus bekerja besok."


"Hm. Baiklah." Tegukan terakhir, dan gelas itu dibuang ditempat sampah terdekat. Ellea berjalan lebih dulu meninggalkan taman. Abimanyu terus mengikutinya. Berjarak 1 meter dari gadis di depannya, ia terus menatap Ellea, intens. Dari potongan rambutnya, yang dikuncir dua, piyama tidur yang bergambar kartun, sendal bulu, terakhir cara jalan Ellea yang mirip anak kecil. Sesekali menendang-nendang jika ada kerikil di depannya. Hal itu membuat Abi terkekeh kecil.


Rupanya suara kikikan pria di belakangnya mampu didengar Ellea. Ia menoleh dan menatap tajam Abi. "Kenapa tertawa? Apa yang lucu?" Ketus Ellea dengan berkacak pinggang namun tetap berjalan mundur.


"Kau mirip anak kecil," cetus Abi santai. Ia juga tetap berjalan lurus ke depan, mengikuti gadis di hadapannya dengan kedua tangan yang dimasukan ke saku celana. Terus mendengarkan coletan Ellea yang kesal padanya. Sementara Abi hanya tersenyum kecil.

__ADS_1


Mereka sampai di pintu apartment Ellea. Masuk dan segera menuju lift. "Ya sudah. Kalau begitu aku pulang," kata Abi begitu Ellea sudah masuk lift.


"Baiklah. Hati-hati. Terima kasih sudah menemaniku, pria menyebalkan," Ejek gadis itu.


Tiba-tiba ada sepasang pria dan wanita masuk ke dalam lift yang sama. Abi menatap tajam ke arah pria barusan. Saat pintu lift akan tertutup, tangannya seolah otomatis menjulur dan menahannya. "Aku haus," kata Abi lalu ikut masuk ke lift. Sementara Ellea menatapnya bingung. "Haus? Oh, baiklah."


Gadis itu merasa ada yang aneh. Namun tetap saja mengijinkan Abi ikut naik bersamanya.


Bau anyir makin pekat. Suara mirip dengkuran atau geraman terdengar di sampingnya. Yah, Kalla. Pria yang tengah bersama gadis di samping Ellea adalah Kalla. Sebisa mungkin Abi berusaha bersikap tenang. Tapi ia tetap waspada.


'Kalla harus makan setiap hari. Biasanya mereka akan menghirup hawa murni tubuh korbannya pada malam hari.'


Ia masih ingat betul perkataan Elang tempo hari. Kini ia yakin kalau pria yang ada di dalam lift ini akan menjadikan perempuan ini korbannya.


Lift terbuka. Mereka turun di lantai yang sama. "Hey, ayok!" Ajak Ellea membuyarkan pikiran Abi. Ia melamun. Tanpa sadar dua orang tadi sudah pergi cukup jauh.


"Ell, kamu kenal mereka?"


"Mereka? Oh tidak. Hanya saja ia tinggal di samping kamarku."


"Oh begitu."


Mereka sampai di kamar Ellea. Dua orang tadi juga sudah masuk ke kediaman mereka. Abi bimbang. Ia tidak tau harus bertindak apa sekarang. Karena tidak mungkin jika tiba-tiba ia mendobrak pintu tetangga Ellea begitu saja. Selain ia tidak tau kapan jelmaan Kalla itu berubah wujud, ia juga tidak ingin Ellea tau masalah ini.


"Kau ini kenapa? Katanya haus? Malah diam saja di situ. Mau masuk atau tidak?" tanya Ellea di balik pintu. Abi masih terpaku di depan pintu kamar gadis itu dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Ia segera melangkahkan kakinya masuk. Namun belum sampai pintu di tutup, suara teriakan minta tolong terdengar samar. "Kau dengar itu?" tanya Abi.


Ellea menajamkan pendengarannya. "Seperti ada yang berteriak minta tolong," sahut Ellea yang juga yakin pada perkataan Abi.


Suara teriakan itu kini bertambah menjadi pukulan di pintu. Mereka berdua keluar, mencari sumber suara yang benar-benar mengganggu. Perhatian Abi langsung tertuju pada tetangga Ellea. Dia sangat yakin.


Hening.


Abi dan Ellea sudah sampai di depan pintu kamar itu. Saling berpandangan seolah itu sebuah isyarat keduanya. Ellea menaikan kedua alisnya ke atas. Abi hanya mengerdikan kedua bahunya. Abi mendekat, menempelkan telinganya di pintu. Ellea menunggu dengan cemas.


Hening.


Di sisi lain, Kalla sudah mencekik leher Shanum. Dia memgangkat wanita itu tinggi-tinggi. Shanum tidak bisa bernafas. Kakinya terus bergerak mencari pijakan. Suaranya tidak terdengar.


Pintu terbuka kasar. Abimanyu mendobraknya dengan sekuat tenaga. Kini mereka berempat saling menatap. Ellea bahkan berteriak saat melihat sosok Kalla yang sebenarnya.


"Lebih baik kamu kembali ke kamarmu," suruh Abimanyu melirik sekilas ke gadis di sampingnya. Ellea tidak berkata apa pun. Ia terus memandang tetangganya yang sedang sekarat juga makhluk mengerikan yang baru saja ia lihat penampakannya. Ellea mundur perlahan.


"Lepaskan dia!" Kata Abimanyu, geram.


Kalla menggeram lalu melempar asal gadis yang ada ditangannya. Wanita itu terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya. Abi mendekat sambil meraih lampu yang ada di meja nakas. Ia hantamkan pada makhluk itu. Walau itu tidak membuat Kalla terluka,tapi setidaknya mengalihkan perhatian makhluk itu sesaat. Abi menendang perut Kalla. Di saat yang bersamaan Kalla memukul kepala Abi hingga Abi terhuyung. Telinganya berdengung. Pandangannya mengabur. Konsentrasinya terbagi. Hingga saat samar-samar ia melihat Kalla mendekat ke Ellea. Sementara Ellea makin panik tapi bukannya berlari menjauh, gadis itu hanya diam sambil mundur perlahan.


Ellea ketakutan. Tubuhnya mendadak kaku. Belum pernah ia melihat makhluk mengerikan seperti ini. Ia mulai mengelurkan bulir bening di kelopak matanya. Jantungnya berdegup sangat cepat. Keringat dingin mulai menetes di sekujur tubuhnya. Badannya mulai basah. Dan membuat bajunya ikut rembes oleh keringat.


Braak!


Sebuah kursi besi menghantam keras punggung Kalla. Makhluk itu menoleh dan mendapati Abimanyu sebagai pelakunya. Ia sangat marah, begitu juga Abimanyu.


Kilau benda di tangan Abi membuat makhluk itu tertantang. Yah, Abi menemukan pisau dapur yang sepertinya dapat membantunya mengalahkan Kalla.


Koridor apartment sungguh berisik. Anehnya tidak ada satupun penghuni lantai ini yang terganggu.


Abimanyu terluka di beberapa bagian tubuhnya. Darah menetes di lantai. Sama seperti Kalla. Lantai koridor bagai banjir darah. Merah dan hitam. Mengerikan.


Abimanyu memegang kepala Kalla dan membantingnya ke lantai. Abi memang bukan manusia biasa. Kekuatannya benar-benar hebat. Kepala Kalla terlepas dari tubuhnya. Darah mengucur deras.


"Ambil korek api!" teriak Abi pada Ellea yang masih melongo. Ellea masih diam, bingung. "Cepat! Kau harus membakarnya. Darahnya mudah terbakar. Jadi cepat!"


Gadis itu seolah kembali pda kesadarannya dan segera masuk ke kamarnya. Mencari korek api yang memang sering ia pakai menyalakan lilin untuk aromatherapy di kamar mandi.


"Bakar tubuhnya!" Suruh Abi yang masih memegang kepala Kalla kuat-kuat. Sementara tubuh Kalla yang masih menggelepar membuat Ellea sedikit gentar.

__ADS_1


Tangan Ellea yang masih gemetar berusaha menyalakan api sesuai perintah pria yang baru dijumpainya pagi tadi.


Dan api menjalar membakar tubuh Kalla. Abi segera melempar kepala Kalla dan api dengan cepat melahap habis tubuh hitam itu.


Bunyi alarm kebakaran membuat perhatian mereka berdua teralih. Air mulai membasahi koridor bahkan semua kamar. Abi menarik tangan Ellea masuk ke kamar gadis tadi. Abi menyuruh Ellea menenangkan tetangga itu.


Shanum.


Gadis keturunan India Pakistan itu masih ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat. Ellea menyodorkan air minum untuk Shanum.


"Makhluk apa tadi?" tanya Ellea, menatap gelas ditangan Shanum. Tapi semua tau kalau pertanyaan itu ditujukan pada Abimanyu.


"Lebih baik kalian hati-hati mulai sekarang."


"Aku yakin kau tau apa dan siapa makhluk itu, kan? Terlihat sekali saat kita melihat makhluk tadi, kau sama sekali tidak terkejut. Dan kau bahkan tau bagaimana membunuhnya."


Abi terdiam beberapa saat. Ia merasa terpojok. Bingung apa yang harus dilakukan. Akhirnya ia terpaksa menceritakan hal itu. Dengan catatan Ellea dan Shanum tidak menceritakan hal ini pada orang lain. Karena jika belum pernah melihat wujud asli Kalla, cerita mereka hanya bagai dongeng belaka. Shanum dan Ellea mengerti.


Waktu menunjukan pukul 01.00


Shanum sudah mulai tenang dan memutuskan beristirahat. Kedua orang itu keluar dari kamar Shanum. Abimanyu ikut masuk ke kamar Ellea. Memeriksa tiap jendela dan sudut ruangan.


"Hubungi nomorku kalau ada hal aneh," kata Abi menuliskan nomor telponnya di note yang ia tempelkan di cermin. "Dan satu lagi. Jauhi Fredi."


"Fredi? Memangnya kenapa?"


Awalnya Abi ragu memberitaukan hal ini pada Ellea. Tapi berhubung Ellea sudah tau tentang Kalla, maka ini jauh lebih mudah untuk gadis itu cerna. "Fredi ... salah satu dari mereka."


"Apa? Jangan becanda, Bi!"


"Aku serius. Kalla mampu merubah wujudnya menjadi manusia. Dan sejak aku menginjakkan kaki di kota ini, aku bisa melihat wujud asli mereka walau wujud mereka berubah. Dan aku melihat wujud asli Kalla dalam tubuh Fredi."


"Jadi itu alasanmu menanyakan tentang Fredi tadi?"


Abi mengangguk. Ia menatap sekeliling sebelum pamit pulang.


Saat Abi hendak membuka pintu, Ellea menahan tangannya. Abi menoleh dan menaikkan sebelah alisnya. "Aku takut. Bisa, kah, kamu menginap aja di sini. Aku yakin Shanum juga masih ketakutan. Dan akan merasa aman jika kamu ada di dekat kami," pinta Ellea memohon.


Abi berfikir sejenak hingga akhirnya mengiyakan permintaan Ellea.


Abi merebahkan tubuhnya di sofa dekat jendela. Berseberangan dengan kasur tempat Ellea tidur. Ellea sudah menarik selimut hingga sebatas leher. Matanya masih terbuka lebar. Sama seperti Abi yang terus menatap langit-langit dengan tangan kanan diletakan di dahi. Berusaha menutupi matanya yang terasa sangat lelah. Bahkan sekujur tubuhnya.


"Bi ...."


"Hm?"


"Dari mana asalmu?"


"Dari desa."


"Jadi kamu belum lama ada di sini?"


"Ya begitulah. Sepertinya baru 2 hari aku di sini. Dan kota memang berbahaya, benar kata ayah."


"Aku sejak kecil tumbuh di kota ini, dan selama ini kota aman-aman saja. Baru kali ini ada hal mengerikan yang kulihat dengan kedua mataku sendiri. Sejak kapan mereka ada di sini?"


"Entahlah. Sepertinya sudah sejak lama. Hanya saja kau baru bertemu dengan mereka saja."


"Tapi, Bi. Kamu itu kuat sekali. Bahkan tubuhmu tidak terluka sama sekali, bukan? Padahal aku melihat ada darah tercecer di lantai. Sementara darah Kalla berwarna hitam. Jadi kupikir itu darahmu yang berwarna merah tadi. Tapi kenapa sekarang tidak ada bekasnya sama sekali?"


"Sudah malam. Cepat tidur. Aku sangat lelah." Abi membelakangi Ellea. Menghadap punggung sofa dan mulai membenamkan wajahnya di permukaan empuk itu.


"Bi? Hey aku belum selesai."


Abi memejamkan mata walau ia sebenarnya belum bisa terlelap seperti harapannya. Dibalik itu ia juga tersenyum tipis melihat sikap Ellea yang menggemaskan. Ia terus merajuk dan mengumpat. Karena masih penasaran dengan cerita Abi.

__ADS_1


"Huh! Kau memang menyebalkan. Dasar manusia es!" Kalimat itu adalah penutup segala ocehan Ellea. Dan tak lama keadaan hening. Bahkan setelah itu dengkuran mulai terdengar. Ellea sudah terlelap dan hal itu membuat Abi lega. Ia sudah sangat lelah seharian ini. Dan sepertinya Abi harus meminta juga kalung saphire pada Elang. Agar hal seperti ini tida terjadi lagi. Semakin banyak orang tau keberadaan Kalla semakin membahayakan mereka. Dan tugasnya kini bertambah. Melindungi Ellea. Gadis yang baru beberapa jam ia temui.


__ADS_2