
Nayla menyusuri rerumputan hijau yang bagai karpet luas di kampusnya. Ia sudah sangat yakin kalau Rian bukanlah target yang mereka cari. Rian bukan seorang dhampire. Tetapi dia adalah manusia yang sedang dirasuki iblis. Nayla sudah sangat yakin akan pengamatannya, kalau Rian memang dirasuki. Ciri utama, adalah bola matanya yang akan berubah hitam seluruhnya dalam beberapa detik. Lalu udara di sekitarnya yang berubah panas padahal sebelumnya ia merasakan sejuk, dan biasa saja. Lalu bau belerang tercium kuat saat Rian mendekat ke Nayla.
Gadis itu kini sedang mencari teman-temannya. Terutama keberadaan Arya yang tengah mengintai Anjas. Mereka ada di gedung olahraga, karena Anjas adalah pemain futsal yang cukup handal di kampus mereka. Sorak sorai suara pendukung dua tim futsal kampus menyita perhatian Nayla. Ia yakin kalau Arya ada di dalam. Gadis itu berdiri di pintu dengan dua papan kayu besar, yang tengah dibuka lebar karena sedang ada pertandingan persahabatan antar dua kubu.
Netra Nayla mulai menyapu ke dalam. Memincing untuk melihat satu demi satu penonton agar dapat segera mengenali Arya. "Eh, apa juga aku ke sini? Yang ada malah diejek sama si Arya!" gumamnya lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Di satu sisi sorot mata tajam dan dingin terus menatap kepergian Nayla. Ia lantas berdecih sambil tersenyum tipis. Arya memang sangat suka menjahili gadis itu. Ia selalu gemas saat wajah Nayla berubah masam, dengan bibir mengerucut. Itu merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi pemuda itu.
Kali ini kaki Nayla mulai melangkah di tengah koridor kampus. Ia mencari hal aneh lain. Hal yang mungkin bisa dijadikan petunjuk atau bisa membantu menguak kasus Freddie tadi. Tidak ada satu pun mahasiswa yang bisa keluar dari kampus, karena semua pintu gerbang dan tembok keliling kampus sudah dijaga ketat. Di ujung koridor Nayla melihat Wira sedang mengintip ke sebuah ruang kesenian. Ia lantas mendekat dan hampir membuat jantung Wira keluar dari tempatnya. Sebentar ...! Malaikat punya jantung, nggak, ya? hahaha.
"Nayla!" pekik Wira sambil berpura-pura menekan dadanya. Padahal dirinya sudah dapat mengendus keberadaan Nayla dari jarak beberapa meter lalu. Yah, hanya mencoba bersikap wajar, sebagai layaknya manusia normal pada umumnya.
Gadis itu terkekeh, ia menutup mulutnya sambil mencoba memelankan suara saat Wira mendesis, menyuruhnya diam. Nayla tau kalau Wira sedang mengintai dua sahabat karib yang disinyalir pernah berseteru dengan Freddie. Stefan dan Niko adalah anak band. Mereka lebih sering berada di studio ini untuk mengasah kemampuannya. "Bagaimana pengintaianmu, anak muda?" tanya Nayla sambil menyapu ke dalam ruangan gelap itu. Wira terkekeh, lalu menjitak kepala Nayla. "Apa sih, Ra?! Kalau gemes, bilang dong!" sindirnya, mengelus kepalanya lalu kembali memperhatikan ruangan itu. Wira makin tertawa mendengar celotehan Nayla. "Ah, lelaki memang tidak berguna untuk urusan mengintai! Ayok, masuk! Mana kelihatan kalau kita di sini!" cetusnya lalu melenggang masuk ke dalam. Wira melotot, tanpa bisa menahan gadis menyebalkan itu. Alhasil dirinya juga harus menyusul Nayla ke dalam.
Ruangan kesenian cukup luas, karena dibagi beberapa sekat. Ruangan seni tari memiliki tempatnya sendiri, begitu juga seni musik. Seni musik pun ada beberapa ruangan, kesenian modern dan kesenian daerah, seperti gamelan dan lainnya. Setiap ruangan pasti ada orang yang sedang berlatih. Apalagi karena efek ditahan di kampus dan tidak ada kegiatan kuliah seharian ini. Semua orang mencari kegiatan yang bisa membunuh waktu hingga mendapat lampu hijau untuk pulang ke rumah.
Ruang band sudah di depan mata. Tempat ini cukup luas, dan memang benar kalau Stefan dan Niko ada di sini, bersama band mereka. Sedang berlatih karena memang akan ada pentas seni yang akan diadakan oleh kampus ini sebulan ke depan. Wira dan Nayla sudah mendapat tempat duduk mereka. Tidak begitu dekat dengan yang lain, beberapa orang di tempat ini memang sengaja datang untuk melihat kebolehan band milik Stefan.
"Menurutmu, apakah mereka Dhampire yang kita cari?" tanya Nayla tanpa menatap pemuda yang kini duduk di sampingnya. Wira pun melakukan hal yang sama seperti Nayla, menatap tiap sikap yang dilakukan Stefan dan Niko, mencoba menemukan keganjilan sedikit saja pada mereka berdua. "Entahlah. Lagi pula mereka hampir sama seperti manusia."
"Seperti kita, maksudmu?'
"Hm, iya, seperti kita."
"Tapi aku tau bagaimana memancing Dhampire agar menampakkan wujud asli mereka!" cetus Nayla membuat Wira menoleh ke arahnya.
"Bagaimana?"
"Pancing emosinya!" Lagu terakhir sudah selesai dinyanyikan, Stefan dan Niko pun mulai membereskan bawaan mereka, karena band lain hendak memakai alat band itu juga. Mereka juga butuh berlatih, dan untuk berlatih di ruangan ini akan dibatasi waktunya. Tidak bisa seenaknya sendiri.
"Kau terlalu kritis, Nay. Mengerikan!" gumam Wira lalu mengikuti gadis itu pergi. Nayla terus mengekor dua pria yang selalu ke mana- mana berduaan. Sempat berpikir kalau mereka termasuk sepasang kekasih, hingga membuat Nayla bergidik ngeri.
"Kenapa?" tanya Wira saat melihat reaksi aneh dari Nayla, saat mereka melihat Stefan dan Nika duduk di taman sambil berbagi sebuah teh botol yang baru mereka beli tadi.
__ADS_1
"Apakah Dhampir ada yang penyuka sesama jenis?"
"Hah? Hm, kamu pikir mereka ...?"
"May be?" cetusnya sambil mengangkat kedua bahunya ke atas.
"Hei, kenapa kita harus sembunyi sih, Nay?" Mereka berdua kini sedang jongkok di balik semak sambil memperhatikan dua pemuda itu yang hanya berjarak 4 meter dari mereka.
"Biar mereka nggak curiga, Wira!"
"Justru mereka bakal curiga, Nayla! Yuk, ah!' ajaknya lalu menyeret tangan gadis itu dan mencari tempat duduk kosong tak jauh dari dua pria itu. Nayla yang awalnya menolak, tapi akhirnya pasrah. "Nah, di sini saja. " Kursi dari semen yang sudah di cat warna hitam, kini sudah mereka kuasai. Nayla melirik ke pemuda di sampingnya itu sinis. "Kenapa? Dari pada di sana, banyak semut!"
Semilir angin membuat keadaan menjadi tenang, udara membuat emosi kedua makhluk berbeda alam ini menguar. Gerisik dedaunan kering memecah kesunyian.
"Rian bukan target kali ini," cetus Nayla sambil menatap sekitar dengan dahi mengernyit karena silaunya cahaya matahari.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu? Kamu memangnya tau, apa ciri Dhampire saat mereka masih berwujud manusia normal?"
"Tentu saja tau." Ia duduk menghadap Wira dengan sinar membara dimatanya. Ia sangat antusias terhadap hal aneh seperit ini sejak dahulu. Bahkan terkesan terobsesi. "Dalam legenda Serbia disebutkan bahwa sesosok Dhampir mempunyai rambut hitam legam dan hampir tidak memiliki bayangan tubuh. Sementara dalam legenda Bulgaria, tanda-tanda seorang dhampir adalah tubuhnya yang sangat halus, tidak memiliki kuku dan tulang serta tanda lahir yang sangat jelas di punggung seperti ekor. Ciri-ciri lainnya adalah bagian-bagian wajah yang tidak normal, misalnya telinga, hidung, mata atau gigi yang lebih besar dibanding manusia biasa. Dan itu tidak ada dalam diri Rian, justru aku menemukan hal aneh lain dalam dirinya," desah Nayla, lalu memundurkan tubuhnya hingga mampu bersandar di punggung kursi.
"Aku pikir dia dirasuki setan, iblis or sejenisnya," cetus Gadis itu santai. Hal ini tentu sangat menarik perhatian Wira, karena Nayla bisa sangat sensitif terhadap ancaman di sekitarnya.
"Kenapa kamu bisa bilang gitu?" tanya Wira antusias. Wira sudah mengetahui sejak awal siapa sebenarnya Rian dalam sekali lihat. Karena dia memang memiliki kemampuan melihat wujud asli suatu makhluk sekali pun ia berada di dalam wadah manusia. Yah, manusia yang dirasuki iblis, tetapi tidak dengan Dhampire, karena mereka setengahnya berwujud manusia normal.
"Aku pernah lihat mata Rian berubah hitam. Dari buku yang aku baca, itu bukan hal normal. Mungkin jika vampire dapat mengubah lensa matanya, itu sudah sering kudengar, tapi yang terjadi sama Rian berbeda. Bukan cuma lensa matanya yang berubah hitam, tapi juga seluruh kornea matanya."
"..."
"Bukan cuma itu. Saat Rian mendekat, bau anyir khas belerang langsung tercium, terus hawa sekitarku jadi lebih panas, padahal sebelumnya normal. Dan saat aku pancing dia, dia mengatakan hal yang mengiyakan tuduhanku."
"Tunggu! Kamu menantang dia?!"
__ADS_1
"Huum!"
"Oh My ...!" Wira menekan kepalanya sambil menatap ke arah lain. Nayla yang satu ini benar- benar bosan hidup atau apa sih. Sangat mudah mendekati bahaya. Bukannya menghindar, justru malah menantangnya. "Kamu tau, Nay, kalau itu berbahaya sekali? Mereka bisa saja mencelakakan kamu!"
"Yah, aku tau. Tapi kenapa sekarang aku merasa aneh, ya?"
"Kenapa lagi?"
"Kamu sebenarnya siapa?"
"Maksudmu?!"
"Kenapa kamu nggak bereaksi seperti yang lain, Arya misalkan?"
"Reaksi tentang?"
"Semua ini. Sebagian besar manusia yang mendengar hal ini terucap dari mulutku akan mengejek dan menganggapku terlalu banyak nonton film fantasi. Tapi kenapa kamu ... seperti tau dan paham semua ini? Siapa kamu sebenarnya?" Nayla menatap Wira dalam dan dingin. Kalimat gadis itu bagai pukulan telak untuk Wira. Sepertinya Wira terlalu menganggap remeh Nayla yang sekarang.
"Aku tau semua yang kamu bilang barusan, karena orang tuaku dulunya adalah seorang hunters. You know? Hunters untuk memburu 'mereka'?" tanya Wira dengan menggerakkan jari telunjuk dan tengah ke atas bersamaan, memberikan isyarat tanda kutip untuk kata itu sendiri. Meluruskan kata mereka untuk hal aneh seperti yang Nayla bicarakan tadi.
"Really? Masih ada, kah, para hunters?"
"Yah, begitulah."
"..." Nayla masih menatap Wira aneh, sambil mundur sedikit menjauh. Wira mendengus sebal. "Baiklah. lihat!" Wira membuka mulutnya ke atas, menunjukkan gusi bagian atasnya untuk memberitahu kalau ia tidak memiliki taring tersembunyi di sana. "Lagi? Tatap mataku! Biasanya manusia yang dirasuki iblis akan berganti bola matanya secara otomatis tiap beberapa menit sekali. Kamu bisa cek mataku. Apakah sama seperti Rian?"
Nayla menurut, dan melakukan seperti apa yang diperintahkan Wira barusan. Semua tampak normal. Tangannya menjulur ke belakang, mencoba meraih sesuatu dari dalam tasnya. "Kalau kamu memang bukan iblis, kamu akan baik baik saja kalau meminum ini!" tunjuk Nayla ke sebuah botol kecil yang berisi air suci.
"Sini, biar aku minum," pinta Wira dengan merebut botol kecil itu, meminumnya tanpa merasakan efek panas atau lainnya. "Kebetulan aku haus, terima kasih, Nayla."
Nayla lantas mengangguk yakin, kalau Wira bukan bagian dari makhluk yang ia sebutkan tadi. Kedua pemuda tadi mulai bergerak, mereka beranjak dari tempat duduk tadi. "Sasaran kita pindah!" bisik Wira. Nayla menoleh, dan sedikit terkejut melihat dua pemuda tadi pergi. "IKuti!" ajak Nayla walau Wira belum menyetujuinya.
__ADS_1
"What the Hell!" umpatnya pasrah.
***