
Ellea baru saja turun dari mobil dengan Abimanyu yang terus berada di sampingnya. Mereka sudah berada di rumah. Di teras semua orang sudah menunggu dengan wajah ceria. Mereka semua tampak sehat, dan baik-baik saja.
Allea segera mendekat dan memeluk saudaranya itu. Keduanya sama-sama rindu dan sempat mengkhawatirkan satu sama lain. Masalah kemarin sudah memberikan banyak sekali perubahan dalam hidup mereka. Allea yang kehilangan calon anaknya, dan Ellea yang merasa hidupnya berubah 180 derajat makin dewasa dalam menyikapi sekelilingnya. Ia terlihat makin dewasa dalam bertutur kata mau pun bertindak.
"Welcome home, " sapa Vin yang juga merentangkan tangan menyambut Ellea. Ellea segera berhambur memeluk iparnya itu. Karena terakhir kali mereka bertemu, adalah dalam momen yang tidak menyenangkan.
"Sehat?" tanya Ellea sambil memperhatikan Vin lekat-lekat. Ia mendengar kabar tentang Vin dari Abimanyu, dan kini bersyukur karena suami saudarinya baik-baik saja. Walau tetap ada kesedihan yang terpancar di wajah mereka. Terutama Allea dan Vin yang telah kehilangan calon bayi mereka.
Mereka segera menuju meja makan, karena Allea sudah memasak banyak makanan untuk menyambut Abimanyu dan Ellea. Mereka tidak bisa pulang seperti cara mereka kemarin, menghilang dengan bantuan Amon. Abi dan Ellea pulang naik pesawat, menempuh jalur normalnya manusia pada umumnya. Suasana riuh terdengar bahkan sampai ke luar rumah. Untung mereka tidak punya tetangga dekat. Allea menuangkan makanan di piring Ellea, mereka lantas larut dalam pembicaraan layaknya kakak adik yang lama tidak berjumpa. Ellea sempat heran, karena tidak melihat raut kesedihan di wajah Allea. Padahal semua orang tau kalau Allea baru saja kehilangan bayi yang bahkan belum sempat ia lahirkan ke dunia ini.
Dalam lubuk hatinya, ada sedikit rasa bersalah, karena bagaimana pun juga semua masalah ini bersumber dari dirinya. Ellea berdeham. Saat momen makan malam sudah selesai. Semua tentu menatapnya karena sejak tadi dia paling banyak diam.
"Aku ... mau minta maaf."
"Ell," panggil Abimanyu yang duduk di samping kanannya. Ia segera memegang tangan gadis itu, karena ia sangat yakin kalau apa yang akan disampaikan Ellea pasti tentang masalah kemarin. Sementara mereka semua sudah sepakat tidak akan membahas hal ini saat Ellea pulang.
"Maaf, karena aku, kalian semua hampir celaka. Karena aku juga Allea kehilangan bayinya, Pak Yudis terluka, Vin juga. Maaf semua karena aku," kata Ellea sambil menahan tangis. Ia menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Allea yang duduk di samping kiri Ellea, lantas mengubah posisi duduknya. Ia membelai punggung Ellea, lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Jangan dipikirkan terus. Aku nggak apa-apa, Ell. Semua itu musibah. Aku sama Vin juga ikhlas kok. Asal semua sekarang baik-baik saja. Jangan lagi ungkit masa lalu." Ellea tersedu di pelukan Allea, membuat semua orang di ruangan ini menatap mereka berdua iba.
Setelah makan, dua wanita itu naik ke kamar Ellea. Malam ini Allea memutuskan akan menginap di rumah Abi, dan tidur bersama saudarinya. Vin maklum, dia pun tidak melarang bahkan juga ikut menginap di rumah Abimanyu. Malam semakin larut, Abi keluar dari rumahnya dan memutuskan duduk di teras. Menikmati udara malam di sekitar rumah adalah kebiasaan nya setiap hari. Hal ini kerap membuatnya merasa lebih tenang. Para pria yang lain ada di ruang tengah, menikmati kopi mereka sambil menonton acara TV yang sedang seru-serunya. Pertandingan gulat memang membuat mereka kompak dalam bertaruh siapa pemenangnya. Teriakan serta hujatan kerap terlontar dari mulut mereka. Gio, Vin, Rendra sangat antusias. Yudistira yang melihat Abi keluar rumah, kemudian mengikuti pemuda itu.
"Suasana rumah sungguh nyaman, ya?" tanya Yudis saat ia sudah berada di dekat Abi. Abi menoleh kemudian tersenyum. "Padahal gelap dan mengerikan seperti ini," tambahnya lagi. Abi makin terkikik lalu duduk di kursi kayu yang berada di ujung teras. Rasanya Yudis sendiri lebih memilih mengobrol dengan manusia dingin ini, daripada menonton acara TV itu.
"Bagaimana kabar anda, Pak?"
"Sehat. Bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya," sahutnya sambil merentangkan kedua tangannya, menunjukkan bagian tubuhnya yang memang baik-baik saja. "Kekuatan iblis sungguh hebat, ya? Tapi masih ada kekuatan Tuhan yang jauh lebih hebat dari segalanya di bumi ini."
Abi mengangguk cepat, menatap kedua kakinya yang tak memakai alas kaki. Pikirannya menerawang jauh ke kota Lhasa. "Eum, Pak. Kenapa Amon bisa meledak seperti itu setelah meminum darah saya? Dan ini bukan pertama kalinya terjadi."
"Mungkin darahmu beracun," tukas Yudis dengan jawaban yang sembarangan. Abi tidak bereaksi, ada hal yang mengganjal dalam batinnya terkait darahnya yang mampu membunuh para iblis.
"Menurut bapak, aku ini manusia, atau salah satu makhluk aneh seperti werewolf, Pak?" Pertanyaan itu mampu membuat Yudis tersenyum. "Sejauh yang kulihat selama ini, kau itu manusia. Sama sepertiku."
"Apa bapak yakin, tidak tau tentang apa pun mengenai siapa aku ini? Ayahku mungkin bukan manusia seperti bapak. Huh, aku saja tidak yakin, kapan dia lahir, dan kenapa kemampuan ini menurun padaku."
"Eum, sebenarnya aku pernah bertemu ayahmu sebelumnya."
"Apa? Kapan? Di mana? Kenapa bapak tidak cerita?"
"Maaf, Bi. Aku belum menemukan bukti yang cukup kuat kemarin, tapi sekarang aku yakin kalau ayahmu itu, dulunya adalah Malaikat yang dikutuk."
__ADS_1
"Malaikat yang dikutuk?"
"Yah, kau tau, kan, tentang setan yang bernama Lucifer? Dia iblis yang paling taat, tapi pada akhirnya dimasukkan ke dalam neraka karena ingkar kepada Tuhan. Kabarnya dia terlalu menyayangi Tuhan, dan menolak menghormati makhluk lain selain Tuhan. Saat manusia diciptakan, Lucifer tidak mau menghormati kaum kita. Ia menjadi ingkar dan akhirnya Tuhan murka. Ayahmu mirip seperti dia. Hanya saja ingatannya dihapuskan saat turun ke bumi. Dia ditakdirkan hidup abadi."
"Kenapa bapak bisa berkata seperti itu?"
"Karena aku menemukan foto ayahmu di beberapa tahun silam. Dalam kurun waktu tiap 100 tahun sekali, dia hidup kembali. Dengan ingatan dan kepribadian yang berbeda." Yudis mengambil sebuah buku jurnal dari balik jaketnya. Ia membuka sebuah halaman di mana terselip foto seorang pria yang sudah sangat usang. "Itu diambil pada abad ke 11. Kau lihat pria itu? Mirip ayahmu, kan?" tanya Yudis meminta kejelasan. Sekilas pria yang ditunjuk Yudis memang mirip Arya. Hanya saja rambut dan pakaiannya yang berbeda.
"Dan ini, seratus tahun kemudian," tunjuknya pada foto lain yang lebih jelas. Dan terus semua foto Arya dari tiap seratus tahun sekali mampu di dapatkan Yudis. Kemampuan dia mencari narasumber memang patut diacungi jempol.
"Dibuku ini ada penjelasan tentang Malaikat yang terkutuk, dan di turunkan ke bumi. Dia akan menjalani hidup terus menerus sampai kiamat nanti. Setiap 100 tahun sekali dia akan lahir dan hidup abadi. Di sini juga dijelaskan kalau dia tidak mudah mati. Kau baca saja," jelas Yudis. Abimanyu hanya melongo sambil terus membaca buku dan jurnal yang didapat oleh Yudistira.
"Jadi ... ayahku itu?"
"Mungkin itu alasan yang paling masuk akal, tentang darahmu yang bisa membunuh iblis."
"Jadi kalau semua yang ditulis di sini benar, ayah bakal hidup lagi suatu hari nanti, Pak?"
"Yah mungkin, 100 tahun dari sekarang. Kenapa?"
"Aku bisa ketemu ayah lagi?" tanya Abi antusias.
"Memangnya kau bakal hidup selama itu?" Yudis malah menatap Abimanyu ngeri.
"Ya terserah kau saja lah. Buku itu kau saja yang simpan," kata Yudis, beranjak dan berniat akan pulang ke rumahnya. Rendra yang memang menumpang mobilnya, terpaksa mengakhiri tontonan itu dan ikut pulang bersama Yudistira. Mereka mirip ayah dan anak jika dilihat secara dekat. Saling membantu dan terus bersama.
Malam semakin larut, Vin dan Gio masih sibuk menonton TV karena acara malam hari memang jauh lebih seru timbang saat kebanyakan manusia masih terjaga. Aneh memang. Kacang goreng sudah mereka habiskan satu toples, kopi bahkan sudah 3 cangkir mereka minum.
"Pada tidur di sini?" tanya Abi kepada dua pria dewasa yang sedang menonton tv di sofa. Keduanya hanya mengangguk tanpa melihat Abimanyu yang masih berdiri di dekat tangga. "Ya udah gue tidur dulu," katanya lalu berjalan ke lantai atas. Ia cukup lelah seharian ini. Perjalanan dari Lhasa ke kampung halamannya cukup menyita waktu dan tenaga. Satu masalah selesai, buku jurnal milik Yudis masih ada di genggaman tangannya. Abi berjalan ke kamar Ellea, melihat pintu kamarnya terbuka sedikit, membuatnya ingin memeriksa keadaan kekasihnya itu. Ia melihat Ellea sudah terlelap tidur dalam pelukan Allea. Mereka sudah tidur nyenyak bahkan dengkuran halus terdengar dari luar kamar. Entah dari Allea atau Ellea. Abi tersenyum lega, dan akhirnya kembali ke kamarnya.
Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Kasur yang sangat ia rindukan dalam beberapa hari ini. Ia bahkan lupa kapan terakhir dirinya tidur nyenyak tanpa pikiran berat dan rasa was-was. Abi kembali memandang foto ayahnya. Ia membuka lagi semua artikel yang sudah Yudis rangkum di buku tersebut. Entah kenapa dia malah penasaran dengan kehidupan ayahnya di foto itu.
Karena rasa penasaran yang begitu besar itu, Abi malah membuka laptopnya dan menjelajah di website. Ia mencari tau tentang semua yang berkaitan dengan munculnya sang ayah pada tahun tertentu. Sampai akhirnya mata Abi terbelalak, saat melihat sesosok wanita yang mirip sekali dengan ibunya, Nayla. Melihat kedua orang tuanya di tahun yang sama membuat pertanyaan besar dalam benak Abi. "Apa mungkin ibu juga seperti ayah? Kembali hidup setelah mati?" gumamnya berbicara sendiri. Di setiap foto Arya, Abi selalu menemukan wajah sang ibunda. secara tidak sengaja. Hanya saja, ia tidak tau siapa nama ayahnya di jaman itu. Tawa Gio yang cukup kencang membuat Abi terusik, tapi ia lantas segera turun dari ranjangnya dan membawa semua temuan itu pada Gio.
"Paman!" panggil Abi. Gio dan Vin yang awalnya sedang tertawa menonton film, lantas menutup mulut mereka rapat-rapat. "Iya, sorry. Udah nggak ketawa kenceng-kenceng kok, udah sana tidur lagi!" suruh Gio.
"Bukan itu. Tapi ini," kata Abi lalu menerobos di antara mereka berdua, duduk di tengah-tengah sambil memperlihatkan semua foto yang diduga adalah Arya.
"Apa ini?" tanya Gio kebingungan. Vin juga mengambil sebuah foto sambil terus mengamatinya. "Ini kok mirip bokap elu, Bi?" tanyanya lalu beranjak ke buffet dan mengambil foto Arya di sana. "Tuh, kan? Mirip banget!" pekiknya antusias.
"Paman bisa cari tau tentang orang ini? Siapa dia, namanya, hidupnya, pokoknya semua tentang dia?" Gio yang masih mencerna maksud Abimanyu hanya menatap pemuda itu dalam-dalam. "Ini Arya?" tanyanya. Abi mengangguk yakin dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kok bisa? Arya reinkarnasi begitu?"
"Emangnya reinkarnasi itu ada, ya?" tanya Vin.
"Gue juga nggak tau. Tapi tadi Pak Yudis yang kasih ini. Dia jelasin kemungkinan terbesar siapa gue, dan alasan kenapa Amon bisa mati setelah meminum darah gue, Vin."
"Terus apa katanya?"
"Katanya Ayah itu dulu sebenarnya malaikat yang dikutuk, dia bakal hidup setiap 100 tahun sekali, dan karena alasan itu makanya darahku ini ampun untuk membunuh mereka."
"...."
"Awalnya aku juga nggak percaya, aku pikir itu cuma legenda atau cerita dongeng, ya seperti Lucifer itu. Tapi setelah aku lihat baik-baik, ini beneran ayah. Dan satu lagi." Abi menunjuk foto wanita lain yang tidak sengaja tertangkap kamera. Di setiap foto Arya, ada wanita tersebut dan wajahnya mirip sekali dengan Nayla.
"Nayla?" gumam Gio yang seolah tidak percaya pada apa yang ia lihat.
"Wow, kalau bener orang tua elu mengalami reinkarnasi, itu hal yang luar biasa. Eh, tapi Bi, katanya bokap lu bakal hidup tiap 100 tahun sekali?"
"Iya, lu liat saja foto ini, jangka waktunya. Sama kan sesuai prediksi?"
"Gila! Ini mah keren banget. Gue ini paling nggak percaya sama yang namanya reinkarnasi. Tapi kok bisa ya, mereka selalu ada di tahun yang sama, apa mungkin juga mereka ditakdirkan akan mengalami hal yang sama? Alias bokap nyokap lu itu sudah jodoh sejak dahulu kala?"
"Om? Bagaimana? Bisa cari tau tentang mereka berdua?"
Gio menatap nanar Abimanyu yang sedang berapi-api. "Nanti gue coba. Tapi mungkin nggak bisa terdeteksi banget, kecuali Arya orang penting dalam sejarah. Tapi ... kalau soal reinkarnasi ini, gue percaya satu hal. Karena Nayla sebelum ini juga ngalamin hal ini."
"Apa? Maksud Om?"
"Dulu, saat Nayla masih dekat sama Wira, ada sebuah bukti kalau ada seorang wanita yang punya wajah mirip Nayla. Bukan mirip lagi, tapi sama. Namanya Sekar. Dia sama Wira dulu punya hubungan. Ada kemungkinan kalau Nayla itu reinkarnasi dari Sekar."
"Wow. Sekar ... Nayla," cetus Vin.
"Jadi kalau ayah juga melakukan reinkarnasi, itu juga tidak aneh lagi, ya?"
"Yah kemungkinan besar memang seperti itu. Tapi gue coba cari tau besok. Cuma ya jangan terlalu berharap. Seperti yang gue bilang tadi, kecuali Arya dan Nayla orang penting dalam sejarah. Atau mereka pernah melakukan aksi heroik di masa lalu, kemungkinan identitas mereka bisa terlacak. Tapi kalau sekedar rakyat jelata yang nggak sengaja ke foto gini, ya susah."
"Nggak apa-apa, Paman. Dicoba aja dulu. Setidaknya aku mulai paham, siapa ayah, dan kenapa aku menjadi seperti sekarang."
"Kalau bener apa yang dibilang Pak Yudis, berarti elu Nephilim juga, Bi?!" pekik Vin.
Gio tidak tertarik lagi pada acara TV, justru ia mengambil laptopnya dan mulai mencari apa yang diminta Abi manyu. Semua mitologi kuno ia telusuri.
__ADS_1
"Nephilim ada karena perkawinan malaikat dengan manusia, kan? Tapi kalau malaikat dengan malaikat, apa namanya?" tanya Gio.
"Jangan bilang ibu Abi malaikat juga!" tukas Vin kembali dikejutkan pada sebuah teori gila dari orang-orang gila ini.