pancasona

pancasona
Part 115 California


__ADS_3

Langkahnya tertatih, tanpa alas kaki dengan kedua kaki yang kotor, karena debu, jalanan becek, dan darahnya sendiri. Ia terluka di beberapa bagian tubuhnya. Telah mengalami penyiksaan selama beberapa hari, membuat tubuhnya ringan, lemah, tapi tetap saja ia harus segera pergi dari tempat ini. Tawaran wanita gipsi tadi tak lantas membuatnya tergiur, ia lebih memilih mencari tempat persembunyian lain.


Karena orang-orang itu pasti akan dengan sangat mudah menemukannya, apalagi jika jaraknya sedekat itu dengan mereka. Dalam perjalanan yang entah ke mana, ia teringat perkataan wanita gipsi tadi. 'Pacar Demigod?'


"Maksudnya apa sih?" gumamnya. Ia bersandar di sudut tembok yang ada di jalan sempit tak jauh dari tempat tinggalnya. Ia menoleh ke tempat sampah yang ada di sampingnya. Tempat sampah itu cukup besar, itu mirip tempat pembuangan akhir jika ada di Indonesia. Ia menoleh, dan melihat ada sebotol air mineral yang masih banyak isinya. Diambillah botol itu dan meneguknya hingga habis. Botol ia lempar kembali ke tempat sampah. "Ah, higienis. Kan, di dalam botol airnya." Ia menggumam berusaha menepis pikiran buruknya sendiri tentang kotornya tempat sampah itu, dan tindakannya meminum air dari sana. Tapi ia tidak membawa uang sama sekali untuk membeli air minum.


Kembali, netranya mencari makanan atau hal lain yang bisa ia ambil dari tempat itu. Ia melihat setumpuk kardus, dengan kain yang menyembul di celah-celahnya. Ia meraih dan menemukan syal rajut berwarna merah, topi rajut dengan warna yang sama dan sweeter yang masih layak pakai. Matanya berbinar atas barang temuannya. Walau bukan makanan tapi rasanya ini juga cukup untuk menghangatkannya di malam dingin Venesia.


Jarak tempuh ke tempat tinggalnya cukup jauh. Ia kembali melangkah dengan berbagai ingatan tentang apa yang telah ia alami beberapa waktu terakhir. Berawal dari kematian ibunya yang tiba-tiba. Kemudian disusul sang ayah yang mengalami kecelakaan aneh. Ellea mulai merasakan adanya keanehan di sekitarnya. Ia datang ke Venesia karena menemukan sepucuk surat usang yang ia temukan di dalam brangkas ayahnya saat mereka masih di California. Keluarga Ellea memutuskan kembali ke California untuk pengobatan ibunya, Ruth. Di sana banyak kejadian aneh yang terjadi. Ellea merasa hidupnya tidak tenang, seperti ada beberapa orang yang mengintainya. Dan kejadian buruk satu persatu datang. Ibunya yang sudah berhasil menjalani operasi, dan kondisinya sudah stabil, justru tiba-tiba ditemukan meninggal. Dokter bilang kalau Ruth mengalami pembuluh darah yang pecah pasca operasi dan penggumpalan di kepala yang tiba-tiba terdeteksi setelah kematiannya. Padahal dokter James bilang kalau keadaan Ruth sudah stabil dan seminggu lagi bisa pulang.


Saat pemakaman sang ibunda, Ellea melihat sebuah mobil aneh yang parkir di ujung jalan. Mereka menatap ke arah makam Ruth, Ellea tidak mengingat bahkan mengenal siapa orang-orang di sana. Saat ia memberitahu pada sang Ayah, justru Adrian bersikap gugup. Berusaha menghindari tatapan mereka. Itu bukan ayahnya yang selama ini ia kenal. Adrian menjadi lemah sejak Ruth meninggal. Ia tidak lagi pergi ke kantor dan hanya diam di rumah. Sekalipun mereka ada di California, perusahaan Adrian memang memiliki banyak cabang di mana-mana. Ia juga bisa mengontrol semua pekerjaan dari laptop miliknya, karena di setiap cabang akan ada orang kepercayaannya yang bertugas mengurus perusahaan. Jiwa Adrian sedang tidak stabil, ia takut jika ia bertindak justru merusak segalanya.


Malam itu, teringat jelas diingatan Ellea, saat itu ia tengah di rumah sendirian. Ayahnya sedang menemui seseorang, katanya rekan bisnis. Tapi sampai tengah malam, Adrian tak juga pulang. Ellea menunggunya semalaman di depan tv, ruang tengah. Perapian bahkan sudah padam beberapa jam lalu saat ia mendengar suara keributan di luar rumahnya. Ellea menggelliat, menguap, untuk membuang sisa kantuk yang menggelayut di matanya. Ia benar-benar terganggu dengan suara di depan rumahnya.


Pukul 02.00 dini hari. Dan ia tidak tau ke mana ayahnya pergi. Ellea beranikan diri mengintip keluar. Memastikan kalau suara berisik dari di luar mungkin dari ayahnya. Memang ada beberapa suara manusia yang dengar, tapi ia tetap berpikir positif. Mungkin ayahnya pulang dengan rekannya karena mabuk atau apalah. Biasanya itu yang terjadi di negara ini. Tapi begitu ia menyibak korden dan mendapati banyak orang asing di luar sana, membawa senjata tajam bahkan senjata api, ia ketakutan.


"Cari! Temukan bagaimana pun caranya!" suruh seseorang dengan bahasa dan logat Spanyol yang khas, Ellea memang belajar sedikit-sedikit tentang banyak bahasa sejak ia pergi dari Indonesia. Ia tidak punya banyak kegiatan, jadi inilah yang ia lakukan untuk mengisi waktunya selagi menunggu Ruth di Rumah Sakit.


"Bagaimana dengan putrinya? Dia masih di dalam, kan?' tanya rekannya.


"Kau tuli? Bukan, kah, Austin menyuruh kita menghabisi mereka semua?"


Ellea benar-benar terkejut mendengarnya. Ia lantas pergi menjauh dari pintu, berlari ke pintu belakang rumahnya. Saat ia membuka pintu itu, rupanya kawanan orang tadi sudah berpencar di semua sudut rumahnya, dan Ellea ketahuan. Ia mundur, ketakutan. Ia tau kalau mereka bukan hanya merampok rumah ini, tapi juga berniat membunuhnya. Ellea mundur perlahan saat mereka memergokinya akan keluar. Dengan langkah seribu ia segera berlari ke lantai dua rumahnya. Orang-orang itu lantas mengejarnya.


'Mereka siapa? Dan mau apa, sih? Apa maksudnya cari dan temukan? Apa yang mereka cari? Terus, Austin?! Siapa dia? Dan katanya ... habisi saja mereka? Papah?' Semua pertanyaan itu membuatnya gelisah dengan rasa ketakutan yang luar biasa.


Ia tidak lantas masuk ke kamarnya, meraih tali di koridor lantai dua, dan menariknya ke bawah. Itu adalah ruang rahasia milik keluarganya. Di sana ada banyak barang milik ayahnya dan beberapa buku koleksi pribadi Adrian. Tangga kayu turun dan membuat Ellea bisa naik ke atas dengan mudah. Sampai di atas, ia kembali menutup jalan masuknya dan tali ia ambil agar mereka tidak bisa mengetahui keberadaannya.

__ADS_1


Tubuh Ellea bergetar, ia ketakutan di tengah suasana genting ini. Sendirian di tengah penjahat yang ingin merampok rumahnya. Hanya saja, apa yang mereka cari? Dua kata yang bersinonim sama, yang tadi ia dengar, merupakan tanda tanya besar di hati Ellea. Cari dan temukan. Itu berarti ada 1 benda yang benar-benar mereka inginkan. Tapi apa itu. Begitulah pikiran Elea berkecamuk.


'Papa di mana?' Ia sembunyi di sudut gelap ruang rahasia itu. Sebenarnya ini bukan ruang rahasia pada umumnya. Karena ruangan ini banyak ditemukan di rumah-rumah yang ada di California. Itulah mengapa Ellea ketakutan, karena kemungkinan ia ditemukan sangatlah besar.


Suara langkah kaki bergerombol terdengar sampai atas. Ellea terus beringsut mundur takut persembunyiannya diketahui. Tapi setelah beberapa jam berlalu, mereka justru pergi dari rumahnya. Terdengar suara mesin mobil yang di gas kencang. Ellea mengintip melalu lubang udara di dekatnya. Mereka pergi. Semua.


Ia ragu tapi penasaran, akhirnya ia benar-benar turun ke bawah. Keluar dari tempat persembunyiannya. Saat ia turun, ia terkejut saat melihat rumahnya berantakan. Semua perabotan terbalik, pajangan dari kaca atau keramik, pecah. Sofa, kursi, meja dan ranjang berantakan. Ia segera berlari ke kamar Adrian dan Ruth. Semau ruangan sama kacaunya. Tapi anehnya perhiasan Ruth dan sertifikat tanah dan rumah yang ada di brankas tidak mereka ambil. Padahal posisi brangkas sudah terbuka. Lalu apa yang mereka cari?


Ellea yang masih ketakutan, lantas kembali ke atas. Ia memutuskan tinggal di sana. Malam ini walau tidurnya terganggu, tapi ia tetap terlelap saat merebahkan tubuhnya di karpet bulu yang ia bawa dari bawah.


Hari sudah beranjak siang, saat telepon di rumahnya berdering. Ellea bergegas bangun dan turun ke bawah. Lututnya lemas saat mendengar kabar kematian Adrian. Polisi memberitahu kalau Adrian terlibat kecelakaan semalam. Lagi. Ia mendengar kabar duka, bahkan saat ibunya belum sepekan dimakamkan. Air matanya bahkan sudah kering karena menangis kematian Ruth, dan sekarang ... Adrian menyusul wanita itu. Makam Ruth dan Adrian berdampingan. Ellea benar-benar putus asa. Ia bahkan tidak lagi banyak bicara. Ia menjadi ketakutan saat melihat orang asing yang mendekatinya. Batinnya terluka, hatinya merana.


Setelah pemakaman Adrian, Ellea kembali pulang ke rumahnya. Keadaan rumahnya masih sama. Ia tidak berniat membereskannya. Karena tidak ada tenaga bahkan niatnya untuk hidup sebenarnya tinggal setengahnya saja. Ia merasa tidak ada harapan lagi untuk hidup, tidak ada Adrian dan Ruth, lalu untuk apa dia hidup.


Ia pergi, ke sebuah gedung pencakar langit paling tinggi di California. Berdiri di atas gedung dengan melebarkan kedua tangannya, air matanya menetes, bahkan mengalir deras. Ia merasa ketakutan dan sendirian. Ia ingin mati tapi terlalu takut untuk terjun ke bawah.


"Hei!" seseorang menarik tubuhnya menjauh dari pagar pembatas, membuat Ellea terjatuh di atas tubuhnya. Ia pria yang cukup tampan dengan jambang tipis di dagunya. Menatap Ellea dengan keheranan. "Mau mati?" tanyanya dengan bahasa Indonesia. Elle terkejut mendengar seseorang mengajaknya bicara dengan bahasa Indonesia. Ia pikir pria ini adalah warga asli tempat ini, tapi ia salah. "Orang Indonesia, kan?"


Ia mengangguk. Menoleh ke tempat tadi Ellea berdiri, " Ada masalah apa sampai ingin mati?" tanyanya lagi.


Ellea diam. Air matanya mengalir sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan barusan. "Ya sudah, ayok kita pergi."


Mereka pergi meninggalkan tempat itu. Dan kembali ke rumah Ellea. Sampai pintu rumah, Ellea ragu mengajak pria ini masuk. "Eh, nggak usah masuk nggak apa-apa. Aku antar kamu sampai sini, soalnya aku harus balik ke Venesia. Aku Ronal, kamu?" tanya pemuda itu memperkenalkan diri. "Ellea."


Mereka terlibat beberapa obrolan singkat sebelum Ellea masuk rumah dan Ronal ke bandara. Tapi tiba-tiba Ronal mencegah gadis itu masuk, saat ia melihat ada beberapa bayangan mondar mandir di dalam rumahnya. Ia dapat melihat itu dari luar karena jendela rumah Ellea yang tidak memakai korden. Ronal berbisik, memberitahukan hal itu pada gads pemilik rumah ini. Ellea kembali panik. Ia takut.


"Aku minta minum, ya," kata Ronal dengan suara lantang. Ellea melotot tanda tidak mengerti dengan jalan pikiran Ronal. "Kau ikut aku ke dalam, ambil pasportmu. Kita pergi dari sini."

__ADS_1


"Tapi, mereka ..."


"Aku yang urus mereka!"


Ellea yang merasa Ronal bisa diandalkan lantas mengikuti saran itu. Mereka masuk, sunyi. Para penyusup masih bersembunyi di tempat masing-masing. "Oh iya, mana buku yang kau janjikan, Ell?"


"Oh, eum ada di atas," sahut Ellea kikuk. Ia tak pandai beracting. Berbeda dengan Ronal yang terlihat tenang.


"Baiklah, ayo kita ambil. Aku akan memilih sendiri."


Mereka naik, hingga sampai kamar Ellea. Pintu di tutup. Ellea bergegas mengambil pasport miliknya dan beberapa surat berharga lainnya. Ronal berjaga di pintu dan mengintip. Orang-orang itu kini menampakkan diri, berjalan mendekati kamar Ellea. Ronal mengunci pintu dan menahannya dengan kursi. "Kita keluar lewat jendela." Ronal menggandeng Ellea hingga sampai jendela kamar itu. "Turun, Ell. Kau harus cepat sebelum mereka menerobos masuk!"


Ellea menurut, turun lebih dulu. "Aku tahan pintu sebentar, kau lari ke ujung jalan sana, tunggu aku di sana. Oke?" titah Ronal, dan entah mengapa Ellea menurutinya. Baginya hanya Ronal yang kini bisa ia percaya.


Saat Ellea turun perlahan, Ronal justru menggeledah semua ruangan ini. Tapi ia langsung menatap satu benda yang unik. Kotak musik milik Ellea dengan bentuk bundar tapi lambang di atas kotak musik ini yang menarik. Ronal mengambilnya dan membuka bagian dalam mesin pemutar musiknya. Ia tersenyum saat memasukkan benda kecil itu ke ke dalam saku jaketnya.


Kini Ronal turun, dan di saat bersamaan pintu kamar Ellea berhasil didobrak paksa. Mereka melihat Ronal yang turun dari jendela. Tembakan melayang hampir mengenai kepala Ronal jika ia tidak menghindari. Ronal melompat sampai kakinya menginjak halaman samping rumah ini. Jeritan dan tembakan kembali menyerangnya. Ronal lari. Ia sempat terjatuh di aspal jalan, karena tangan kanannya tertembak. Tapi ia kembali berlari dan menyusul Ellea yang sudah menunggunya.


___________


Mereka sampai bandara. Ronal bahkan tidak memerdulikkan luka ditangannya. Ia hanya membalutnya asal dengan syal milik Ellea. Tawaran Ellea ia tolak saat mengajaknya ke Rumah sakit, baginya kota ini tak lagi aman. Dia dan Ellea harus segera pergi ke Venesia, sesuai dengan pesan yang beberapa menit lalu masuk ke dalam telepon genggamnya.


Ia sempatkan membalas pesan itu sebelum mereka naik pesawat. [Ellea sudah bersamaku]


______


Ellea kembali berjalan, kini memori itu membuatnya tersenyum. saat pertama kali bertemu Ronal hingga semua kejadian yang telah ia alami begitu sampai ke Venesia.

__ADS_1


ada satu hal yang masih membuatnya penasaran. "apa maksudnya Demigod tadi, ya?" Ia tau kalau arti demigod adalah manusia setengah dewa. Dan Ellea merasa tidak berpacaran dengan Hercules atau Poseidon dan rasnya. tapi entah kenapa sebuah wajah kini ada di ingatananya.


"Abimanyu? ah, nggak mungkin. Ngapain dia ke sini ?" gumamnya mematahkan harapan yang ia bangun sendiri.


__ADS_2