
"Paman, kita benar-benar terkepung," kata Abimanyu. Semua saling pandangan. Nasib mereka ada di ujung tanduk. Mereka kalah jumlah.
Pikiran Elang berkecamuk. Bagaimana pun juga, dia seolah yang paling bertanggung jawab atas nyawa semua orang di rumah ini.
"Shanum dan Ellea lebih baik bersembunyi di ruang bawah tanah," ucap Elang menatap dua wanita yang ada di dekatnya.
"Tapi ...." Ellea menampik.
"Sst. Paman Elang benar. Kamu harus bersembunyi. Jumlah mereka sangat banyak." Abimanyu juga sangat cemas. Bukan pada dirinya sendiri, tapi cemas pada Ellea. Abimanyu merapikan rambut Ellea, membersihkan wajahnya yang terkena jelaga. Ia sangat bekerja keras tadi. Membantu Abimanyu memasang perangkap, dan itu berhasil. Setidaknya beberapa penyusup itu berhasil dilumpuhkan. Walau jumlah mereka terus bertambah dan perangkap yang Ellea pasang hampir jebol. Musuh sudah masuk ke halaman rumah. Ellea yang menolak diungsikan ke ruang bawah tanah, lantas di tarik paksa oleh Abimanyu.
Sementara Shanum dan Elang saling tatap. Gadis itu segera menerobos tubuh kekar Elang. Memeluk tubuh Elang dengan erat. Bayangan kematian sudah ada di depan mata. Tapi mereka tidak akan menyerah begitu saja. Selalu ada harapan. Walau itu hanya setitik embun. Atau sebutir debu. Mereka berjanji tidak akan menyerah.
Elang membalas pelukan Shanum. Ia menghirup wangi rambut gadis itu yang kini familiar di pangkal hidungnya. Bau khas ini sungguh membuat Elang nyaman dan tenang. Dalam pelukannya, Shanum terisak. Elang berdesis, berusaha menenangkan gadisnya. "Ssshh. Jangan khawatir, Sun. Aku berjanji, mereka tidak akan melukaimu," bisik Elang tepat di telinga Shanum.
Shanum melepas pelukannya. Menatap Elang tajam. Pipinya sudah basah terkena air matanya sendiri.
"Bukan itu yang aku khawatirkan. Tapi justru kamu, Lang! Berjanjilah untuk tetap hidup!" cecar Shanum dengan hal yang sebenarnya ragu untuk Elang setujui.
Elang nampak berfikir sejenak. Tapi melihat gadis di depannya makin histeris, Elang akhirnya mengiyakan.
"Aku akan terus berusaha tetap hidup."
Mendengar hal itu terucap dari mulut Elang, Shanum menghentikan tangisnya. Menatap dua bola mata Elang untuk mencari kesungguhan di dalamnya. "Janji?"
"Hm. Iya. Aku janji."
_____
Abimanyu mencari sudut yang tepat untuk bersembunyi Ellea dan Shanum tentunya. Namun tidak juga ia temukan tempat untuk bersembunyi yang aman. Hingga saat ia melewati semua bufet besar, dengan beberapa botol minuman anggur milik John. Di tengah bufet yang memang muat untuk duduk satu orang.
Ia meraih sebotol anggur karena kehausan. Meneguknya sembari melihat Ellea yang duduk di depannya. Menatap Abi nanar.
Abimanyu merasakan ada embusan di tengkuknya. Ia bahkan menekan daerah sensitif itu sambil menoleh ke belakang. Di belakangnya ia melihat hal mencurigakan. Sebuah garis panjang melintang dari atas hingga bawah. Ia baru menyadari ada celah kecil di sana. Dan ternyata angin itu berasal dari garis panjang di belakangnya. Abimanyu mendorong pelan lempengan kayu itu. Terbuka!
Ia sontak terkejut dan menoleh ke Ellea yang sama herannya. "Bi? Apa itu?"
Abimanyu tak menjawab, ia mendorong kembali tempat tadi. "Ini ... Pintu?" tanya Abi pada dirinya sendiri.
Saat kayu ini didorong sepenuhnya, ada sebuah ruangan gelap di sana. Angin semilir masuk. Terasa sejuk dan segar. Bukan pengap dan apek layaknya gudang seperti dalam pikiran Abimanyu sendiri. Ia merasakan sensasi laut. Aroma khas laut yang asin, tapi segar. Tak hanya itu, bahkan wajahnya seperti terkena uap air. Dingin.
"Halo?!" jerit Abimanyu. Kakinya hendak melangkahkan kakinya masuk. Tapi Ellea menarik tangan Abi. Ia cemas. Gadis itu menggeleng pelan. Mengisyaratkan Abimanyu untuk tidak meneruskan niatannya.
"Ell, biarkan aku melihat ke dalam. Siapa tau, ini jalan keluar lain dari rumah ini," bujuk Abimanyu.
"Jangan! Berbahaya, Biyu. Kita tidak ada apa di dalam sana. Bagaimana jika itu jalan menuju sarang Kalla? Atau rumah Kallandra. Dan bisa saja penyusup itu?!" Analisa Ellea benar-benar membuat Abimanyu gemas. Ia mendekatkan wajahnya tepat di depan Ellea. "Bagaimana jika ini salah satu jalan teraman kita? Kita harus mencoba segala kemungkinan, bukan?" bujuk Abi, mencubit pipi Ellea.
Di saat bersamaan Elang masuk bersama Shanum. Mereka berdua langsung mendekat ke Abimanyu dan Ellea yang terlihat sedang berdebat.
"Ada apa?"
"Paman, lihatlah!" tunjuk Abi ke lorong gelap itu.
Elang menatap tempat itu dengan dahi berkerut. Sementara Shanum justru menatapnya takut.
"Kau sudah memeriksanya, Bi?" tanya Elang. Abi menggeleng sambil melihat ke Ellea. Elang yang paham alasan Abi hanya menggeleng sambil tersenyum. "Baiklah. Biar aku saja yang masuk." Saat Elang akan masuk, kini giliran Shanum yang menahan tangannya. "Kenapa?" tanya Elang bingung. Shanum menggeleng. Tepat seperti reaksi Ellea tadi.
Namun suara berdebum kencang mengalihkan perhatian mereka. Pintu ruang bawah tanah di tutup rapat dan di kunci. Mereka semua masuk sambil berlari. "Berlindung!" jerit Gio lalu segera menutup kedua telinganya seperti yang lain. Elang, Abi, Shanum dan Ellea bingung.
__ADS_1
"Kenapa, paman?"
Gio tidak menyahut apa pun, malah memposisikan tubuhnya di lantai.
"Bom," gumam Elang. Ia lantas menarik Shanum ke dalam pelukannya. Berjongkok dan menutupi gadis itu erat. Abimanyu juga menarik Ellea dan melakukan hal yang sama. Sedetik kemudian suara ledakan terdengar menggema di seluruh tempat. Telinga mereka bahkan berdengung. Beberapa atap bagai hampir runtuh. Debu berjatuhan karena ledakan itu.
"Kau gila!" umpat Elang.
Getaran itu mulai berhenti. Mereka yang merasa situasi aman, lalu segera bangkit. "Aku terpaksa. Kau tidak tau bagaimana keadaan di atas! Hei apa itu?" tanya Gio melihat lorong itu.
Adi dan Vin ikut mendekat. Sementara Lian justru mencari sesuatu di sekitar bufet.
"Apa yang kau cari?" tanya Ellea.
"Lampu, lilin atau sejenisnya!" kata Lian yang tetap fokus pada pencariannya.
"Untuk apa? Bukan, kah, lampu di sini masih nyala?" tanya Shanum.
"Tentu saja untuk masuk ke dalam sana!" Lian menoleh sekilas ke lorong gelap yang tengah diperhatikan oleh para pria. "Lian! Kita tidak tau ada apa di sana. Bisa saja sesuatu yang berbahaya, bukan? Jangan gegabah!" Shanum masih ragu. Namun berbeda dengan Lian.
"Kau tidak tau, kan, bagaimana kondisi di atas. Dan hanya pintu itu jalan kita satu-satunya untuk tetap hidup."
"Ternyata lorong ini benar-benar ada," kata Vin.
"Jadi kau tau tentang tempat ini?" tanya Elang, sedikit kesal.
"Eum, tidak sepenuhnya tau. Hanya saja, kata ayah, rumah ini memang dibuat dengan arsitektur yang unik. Banyak tempat rahasia karena pemilik sebelumnya adalah seorang perajin kayu yang cukup mahir. Dia yang membuat rumah ini dengan tiap detil sudut rahasianya. Hanya saja aku pikir lorong ini hanya mitos saja. Ada yang mengatakan kalau dia membuat lorong ini untuk tempat melarikan diri dari perompak yang dulu sering datang ke pulau ini. Dia menyimpan harta karun yang telah ia temukan di ujung pulau. Banyak mitos menyebutkan kalau pulau ini memang tempat menyimpan harta karun perompak - perompak laut."
"Waw. Mungkin masih ada harta karun di dalam sana, bukan?" kata Gio lalu masuk ke dalam.
Pintu ruang bawah tanah di dobrak. Beruntung struktur bangunan di bawah cukup kuat, namun hal itu membuat mereka yang di bawah panik. Alhasil satu persatu mulai masuk ke lorong gelap di sana menyusul Gio.
"Waw. Mirip rumah horor di tv," tutur Adi yang berdiri di depan Vin.
"Cepatlah jalan, Di." Vin mendorong Adi hingga Adi hampir terjatuh. Hal itu memicu emosinya, lalu membalas Vin dengan mendorongnya juga.
Klek!
Tiba-tiba lorong menjadi terang. Semua orang terkejut dan kini mampu melihat tempat ini lebih jelas. Rupanya Vin tidak sengaja menekan tombol sakelar listrik. Walau lampunya masih memakai bohlam yang usang, tapi ini lebih baik daripada keadaan sebelumnya.
Gio yang berjalan paling depan, tersenyum bahagia. Mereka terus mengikuti jalur ini, yang memang hanya ada satu-satunya jalan. Walau mereka tidak tau ke mana ujung dari lorong ini. Tapi embusan angin makin kencang. Bahkan Abimanyu yakin, kalau ujung dari lorong ini adalah laut, atau pantai. Karena dia sangat hafal aromanya. Ia bahkan menghirup bau ini sebanyak-banyaknya.
Sepanjang jalan tidak ada yang melontarkan pertanyaan atau sekedar mengobrol ringan. Semua fokus pada langkah masing-masing. Menatap ke bawah, kalau- kalau salah menginjak, beralih ke atas, yang terkadang mempelihatkan lampu bohlam yang berkedip, lalu mati. Samping kanan dan kiri mereka yang ternyata berubah menjadi besi. Mereka bahkan tidak sadar, sejak kapan kayu di sekeliling mereka berganti besi.
Beberapa menit berlalu, kaki sudah terasa kebas. Bahkan sudah beberapa kali juga mereka berhenti untuk istirahat. Memijat kaki masing-masing sebelum melanjutkan perjalanan yang cukup panjang ini.
Sampai saat Gio sadar kalau kakinya mulai menginjak genangan air. "Apa ini?"
"Itu air, bodoh!" hardik Adi.
"Tentu saja aku tau ini air, tapi ...." Abimanyu berjalan kembali, mengikuti arah datangnya air ini. Elang malah jongkok menyentuh air ini dan mencicipinya. "Asin!"
Dengan semangat dan kekuatan yang tersisa, mereka kembali berjalan. Hingga akhirnya Gio berteriak senang. Ia dan Adi bahkan sampai lompat-lompat dan berpelukan.
Mereka sampai di ujung lorong. Deburan ombak terpecah karang terdengar jelas.
Di depan mereka ada tirai rumput dengan air di depannya. Adi dan Gio yang sudah mengintip tadi lantas keluar. Mereka sampai di ujung lorong. Benar-benar sebuah pelarian panjang.
__ADS_1
Pintu keluar tadi, rupanya dibuat samar. Dari luar, orang tidak akan tau kalau ada lorong rahasia di sini. Karena dari luar akan tampak seperti air terjun kecil. Air yang keluar dari bebatuan atas, mengalir turun dan membuat seperti tirai yang menutupi tempat ini.
Kini, udara segar mereka hirup sepuasnya. Deburan ombak kembali mengukir tawa di bibir mereka.
"Tapi ini di mana?" tanya Elang.
"Ini ujung pulau sepertinya," sahut Vin, yakin.
"Selanjutnya apa rencana kita? Kita sudah tidak punya tempat tinggal. Dan tidak mungkin kembali ke rumah itu lagi, bukan?" tanya Lian.
Tidak ada yang berani menjawab. Hingga akhirnya Elang menyuruh mereka tinggal di sini terlebih dahulu. Sampai mereka menemukan rencana selanjutnya.
____
Para pria berpencar mencari sesuatu, kayu bakar misalkan. Saat malam datang, mereka akan sangat membutuhkan perapian. Karena udara malam akan sangat dingin jika terus ada di luar mereka akan sakit.
"Lihat apa yang kutemukan," Elang meletakan beberapa tumpukan kain di tengah-tengah para gadis.
"Kain?"
"Iya. Kita bisa membuat tenda sementara. Aku yakin kain ini cukup."
Mereka mendirikan tenda seadanya. Mencari persiapan bahan makanan dan semua hal yang dibutuhkan untuk sementara.
Vin dan Abimanyu mendapat tangkapan ikan yang cukup memuaskan. Para wanita bertugas mencuci dan masak makanan itu. Semburat merah mulai nampak di ufuk barat. Senja menampakan keindahannya. Mereka semua duduk di atas pasir pantai. Menatap jauh ke air laut yang terus terombang ambing terkena angin. Terpecah saat menabrak karang serta angin laut yang makin kencang.
Ellea memeluk lengan Abimanyu. Tanpa sepatah kata pun, mereka hanya diam. Lelah. Itu pasti. Tapi setidaknya mereka mempunyai tempat berisitrhaat malam ini.
Tenda yang mereka buat cukup besar dan mampu menampung semua orang. Tidak ada selimut untuk menutupi tubuh mereka. Hanya ada jaket masing-masing yang mereka kenakan.
"Rencana kita selanjutnya apa, Lang?"
"Kita menunggu."
"Menunggu? Menunggu apa?"
"Kapal atau sesuatu untuk menyebrang kembali ke dermaga. Pulau ini sudah tidak aman lagi."
"Kau yakin?"
"Musuh kita bukan lagi Kalla. Tapi manusia pemuja Kalla. Dan warga desa ini adalah pemuja mereka. Kalla. Sudah mulai membuat kita hampir putus asa. Jadi lebih baik kita pergi dari pulau ini."
"Kita akan ke mana, Lang?"
"Pulang ke kota."
"Kau yakin?"
"Tentu saja. Kita harus kembali ke kota. Aku yakin keadaan di kota juga tidak lebih baik dari ini, bukan?"
"Kita harus mencari cara untuk bisa mengalahkan mereka. Musuh kita tidak lagi Kalla. Tapi pengikutnya. Dan aku yakin Kallandra juga bagian dari rencana ini. Mereka ingin kita terpojok dan kalang kabut."
"Kalau begitu lebih baik malam ini kita istirahat. Karena pasti besok akan jadi hari yang berat. Kita harus segera pergi dari pulau ini. Karena mereka pasti sedang mencari kita."
"Apakah tidak apa-apa?"
"Kita berjaga bergantian. Jangan sampai lengah!"
__ADS_1
Walau perut hanya diisi beberapa suap ikan bakar, itu jauh lebih baik. Daripada perut mereka harus kosong. Para gadis disuruh segera tidur. Sementara yang jaga malam ini adalah Adi, Abimanyu dan Vin.
Perapian masih nyala. Cukup untuk menghangatkan tubuh mereka malam ini. Netra mereka terus mengawasi tiap sudut pulau. Jika dilihat malam begini, keadaan sekitsr mereka terlihat mencekam. Beruntung suara ombak bagai alunan musik yang membantu pikiran mereka lebih santai. Ketiga pria itu diam. Hingga netra Abi menangkap pergerakan sinar di laut. Sebuah kapal lewat tapi mereka tidak mungkin bisa melihat tanda SOS jika aku mengirimkannya. Suasana nampak sangat gelap. Abi melepas pakaiannya ean nekat masuk ke laut. Ia mencoba mengejar kapal laut itu.