
"Hei ... Orang orang mau pada ngapain tuh," bisik Hana saat dia sedang mengintip di jendela.
Otomatis mereka semua serempak mendekat ke jendela. Mereka penasaran tentang apa yang sedang dilihat oleh Hana. Apalagi setelah mendengar kisah Riri barusan, membuat mereka makin cemas dengan kondisi mereka sekarang.
"Sembunyi!" perintah Dana.
"Matikan lampu!"
Hening. Mereka semua yang berada di rumah tersebut berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sama sekali. Mereka benar-benar sedang ketakutan.
Di luar semua warga desa berkumpul. Mereka seakan-akan memiliki jam khusus untuk acara yang akan setiap malam. Hal seperti ini sudah sering Riri lihat sebelumnya. Maka dari itu dia tidak kaget.
"Kita harus bersembunyi!" kata Riri.
" sembunyi? Emangnya kenapa, Ri?"
" setiap malam mereka akan berkumpul dengan wujud asli mereka. Dan yang lebih mengerikan adalah mereka sedang mencari manusia untuk dijadikan tumbal seperti mereka."
"Tumbal?"
"Iya. Mereka sudah tahu kalau kalian ada di desa ini. Jadi malam ini kalian akan diburu. Sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum mereka datang! Ayo, ikut aku!" ajak Riri.
Gadis kecil itu segera berjalan ke belakang rumah. Otomatis rombongan Dana juga mengekor ke Riri. Sebelumnya untuk berjaga-jaga, Dana dan Blendoz meletakkan kursi dan meja di belakang pintu. Agar jika orang-orang tersebut masuk ke dalam rumah itu, mereka akan segera mengetahuinya, sekaligus cara agar mereka bisa menahan orang di luar untuk masuk. Sekalipun itu pasti tidak akan bertahan lama.
Riri terus berjalan masuk ke dalam, hingga sampai di dapur rumah tersebut. Suasana dapur masih sama seperti sebelumnya. Gelap dan juga pengap. Hanya saja kali ini mereka beramai-ramai ada di tempat tersebut. Sehingga suasananya tidak terlalu mencekam seperti sebelumnya. Dengan santainya Riri berjalan masuk dan langsung menuju ke arah kamar mandi. Mereka semua tentu bingung dengan tingkah Riri.
__ADS_1
"Ri, kamu mau ke mana?" tanya Ita sambil menahan tangan gadis kecil tersebut.
"Kakak ikuti aku saja. Kita akan keluar dari sini lewat jalan rahasia," ujarnya santai.
Sementara di teras rumah, suasana di luar sudah terdengar ramai. Kaca jendela dan pintu digedor-gedor dengan keras. Hal ini membuat mereka yang ada di dalam rumah panik.
"Ri! Gimana nih?" tanya Apri yang sangat cemas.
Riri hanya menoleh tanpa menjawab apapun. Dia terus berjalan dan sekarang mulai masuk ke dalam kamar mandi. Kondisi kamar mandi memang sudah sangat memprihatinkan. Bangunan tersebut terbuat dari kayu yang sudah mulai Usang. Riri lantas menggeser ember yang berada di tengah. Dia Lalu mendorong dinding kamar mandi tersebut perlahan-lahan.
Mereka semua lantas terkejut ketika melihat ada jalan keluar dari tempat itu. "Ayo!" ajak Riri.
Gadis kecil itu masuk lebih dulu, lalu disusul dengan rombongan yang lain. Satu persatu dari mereka memasuki lorong gelap yang ada di dalam kamar mandi. Walau awalnya ragu tapi setidaknya mereka ada harapan untuk bisa keluar dari tempat itu.
Lorong Gelap itu memiliki ujung yang tidak terlihat. Hanya saja celah-celah dari atas lorong itu bisa menjadi celah masuknya sinar bulan. Beruntung Hujan sudah reda. Mereka tidak perlu takut lagi kehujanan.
Begitu mereka keluar dan kembali meneruskan perjalanan untuk pergi dari tempat tersebut, suara geraman dan teriakan yang berasal dari Desa Riri terdengar jelas. Mereka bahkan sempat menoleh untuk memastikan jika tidak ada yang mengikuti aksi kabur-kaburan mereka.
"Ri, ini hutan yang mana?" tanya Rea sambil mengamati sekitar.
"Ini hutan tempat aku bersembunyi selama ini, Kak. Biasanya aku keluar masuk desa lewat rumah itu. Jika siang hari mereka tidak akan seagresif sekarang. Jadi aku memang sering pergi ke desa. Apalagi wajah mereka tidak menyeramkan saat siang hari," jelas Riri.
Hutan tersebut memang tidak seperti hutan Di mana mereka pernah tersesat tempo hari. Hutan yang menjadi tempat Fauzan berada sekarang. Hutan yang sekarang terlihat lebih beraneka ragam. Ada beberapa bunga yang mekar di sekitar mereka. Selain itu juga ada pohon jambu, mangga, pisang, daun rambutan yang berdiri kokoh saling berjauhan.
"Kamu selama ini makan buah-buahan saja?" tanya Diah.
__ADS_1
"Iya, Kak. Terkadang aku makan jagung rebus, atau singkong yang aku tanam sendiri."
"Tempat tinggal kamu di mana?"
"Itu di sana," tunjuk Riri ke sebuah sudut gelap hutan.
"Ayo, cepat!" Riri berjalan lebih cepat. Sesekali mereka menoleh ke belakang untuk memastikan Kalau tidak ada orang yang sedang mengikuti mereka sekarang.
Akhirnya mereka sampai di tempat tinggal Riri selama ini. Mereka sedikit tercengang saat melihat ada sebuah gubuk kecil, Di mana tempat itu adalah tempat tinggal Riri selama beberapa bulan terakhir ini. Tidak bisa dibayangkan. Bagaimana bisa anak kecil itu tinggal sendirian di dalam hutan. Dia sendiri yang membangun tempat itu. Riri tidak hanya membangun tempat untuk dia tidur, tapi dia juga menghias halaman sekitar menjadi lebih cantik dan indah. Dia menanam beberapa jenis bunga mawar. Selalu ada kebun singkong cukup tinggi. Ada juga kebun jagung yang sudah siap panen. Riri benar-benar bertahan hidup sendirian dengan caranya sendiri. Mereka semua rasa iba melihat apa yang menimpa gadis kecil itu.
"Duduk dulu. Aku punya jagung rebus. Sepertinya masih hangat. Karena tadi aku baru saja memasaknya." Riri masih sempat-sempatnya meladeni mereka dengan menawarkan jagung rebus yang telah dia masak sebelumnya.
Godaan makanan nyata ada di depan mata. Sekalipun mereka masih cukup jijik karena makanan belatung yang sempat mereka makan sebelumnya, tidak membuat jagung rebus itu tidak enak untuk disantap. Semua mengambil jatah nya masing-masing.
"Ri, kamu masak jagung sebanyak ini?" tanya Leni heran.
"Iya. Aku tahu kalian pasti kelaparan. Jadi aku siapkan makanan ini. Maaf ya kak cuma jagung rebus."
"Astaga, Riri! terima kasih banyak. Ini Justru lebih dari cukup. Untung ada kamu. Kalau enggak, kita nggak tahu apa yang terjadi sama kita tadi."
" tapi sebaiknya kita tidak berlama-lama ada di sini. Aku yakin kalau mereka akan mencari kalian. Karena sudah lama mereka tidak menemukan manusia."
" Memangnya apa yang akan mereka lakukan pada kami?"
" tentu saja menjadikan kalian tumbal. Pak Jaka dia akan datang ke sini. Setiap ada manusia yang tertangkap oleh mereka, Pak Jaka akan kembali ke sini."
__ADS_1
"Oh ya? Itu mengerikan. Kita hampir jadi tumbal, guys."