Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 10 Kabur dari Rumah


__ADS_3

Bau harum aroma theraphy tercium di hidung Gwen, dan gadis muda itu membuka matanya. Ternyata saat ini, dirinya sudah berada di dalam kamar tamu, yang entah kapan sudah didesain seperti kamar pengantin baru. Beberapa saat menyadari, Gwen mulai teringat jika tadi pagi dirinya sudah resmi menikah dengan putra dari sahabat kakeknya, yang juga teman dari Om nya Andrew.


"Kamu sudah bangun.., hempph lemah sekali kondisi fisik tubuhmu. Duduk tidak sampai satu jam saja, sudah lunglai terkapar pingsan.." Gwen kaget, mendengar ada suara laki-laki di dalam kamarnya itu.


Gwen menoleh ke samping, dan ternyata di samping dirinya tidur berebah, ada laki-laki bernama Barra yang tadi dinikahkan dengannya sedang memainkan gadget di tangannya. Menyadari hal tersebut, Gwen langsung beranjak bangun kemudian berdiri dan menatap Barra dengan tatapan bermusuhan,


"Hey... untuk apa Om berada di kamar ini, mau berbuat mesum ya... Pergi.." Gwen mengambil bantal, kemudian melemparkannya ke arah laki-laki itu. Bukannya marah, Gwen menangkap bantal tersebut dan menatap dengan sinis ke arahnya. Gwen menjadi semakin waspada, dan ketika gadis muda itu akan melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar itu, kakinya malah menginjak bagian bawah gaun yang dikenakannya. Tidak ayal lagi, tubuh Gwen kembali terjengkang dan untungnya Gwen bisa berpegangan pada sandaran ranjang.


"Hempph... bukankah aku sudah bilang, kamu punya tubuh yang lemah.. Makan dan minum dulu, baru berpikir apa yang akan kamu lakukan. Dasar gadis bodoh dan merepotkan.." bukannya menolong, Barra malah mencemooh Gwen kemudian kembali melihat ke layar gadgetnya.


Gadis muda itu menjadi semakin bersungut, kemudian memegang gaun bagian bawahnya dan berjalan menuju ke arah pintu. Namun ketika tangan kanannya memutar handle pintu, daun pintu itu ternyata sudah terkunci. Dengan tatap mata penuh tuduhan, Gwen melihat ke arah Barra, dan laki-laki itu masih mengacuhkannya,


"Dimana kunci pintu ini Om.., Gwen akan kembali ke kamar Gwen. Panas pakai gaun seperti ini, ribet... Gwen mau ganti baju.." sambil menatap tajam, gwen berteriak bertanya pada Barra.


Barra meletakkan gadget di tangannya, kemudian laki-laki itu menatap ke arah gwen yang menatapnya dengan tajam. Senyuman sinis kembali terlihat di bibir laki-laki itu... Tiba-tiba Barra bangun dari posisi duduknya, dan berjalan mendekati Gwen. Melihat tatapan mata balasan dari laki-laki itu, tiba-tiba saja Gwen merasa takut, karena tatapan mata itu seperti mengisyaratkan penindasan,

__ADS_1


"Bisa tidak kamu bicara lebih lembut padaku, apakah kamu pikir kamu bisa bertindak seenaknya padaku. Jika mau tanya dimana anak kunci itu, silakan telpun kakek Atmadja, beliaulah yang mengunci kita dari luar. Apakah kamu tidak ingat.. gadis, seharusnya kali ini kita harus berbulan madu. Tidakkah kamu ingat, jika kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri..." kedua tangan Barra diletakkan di daun pintu, dengan posisi mengurung gadis itu. Kedua matanya menatap tajam ke arah Gwen, dan gadis itu terdiam sambil mengalihkan pandangannya, Tiba-tiba saja mulut Gwen seperti terkunci, dan diam beberapa saat..


"Dukk..., aawwww..." namun ternyata diamnya Gwen, dalam pikiran gadis itu penuh strategi.


Dalam posisi terkurung dan terjepit, ternyata lutut Gwen ditekuknya kemudian diantukkan ke atas dan mengenai perut bagian bawah Barra. Laki-laki itu berteriak kesakitan, dan ketika kedua tangan Barra dengan reflek memegang perut bagian bawahnya, Gwen berlari melepaskan diri dari laki-laki itu.


"Janganlah punya pikiran bisa menindas Gwen Om.., Gwen yang akan membuat Om mundur secara perlahan. Dan mengingat jika pernikahan ini sebagai sebuah pernikahan yang menyedihkan. Tetapi ingat, jangan pernah menyalahkan Gwen, karena disini Gwen hanyalah korban..." sambil tersenyum melecehkan, Gwen berlari masuk ke kamar mandi, Gadis itu ingat jika ada beberapa bajunya di walk in closed yang ada disamping kamar mandi.


**********


"Tok... tok.. tok..., klek.." terdengar pintu kamar tamu diketok dari luar, dan tidak lama kemudian diikuti dengan anak kunci diputar dari arah luar. Tidak lama kemudian pintu kamar dibuka dari luar,


"Dimana Gwen .. Barra...? Sudah siang, saatnya kalian berdua makan siang. Semua anggota keluarga sudah menunggu kita di ruang makan.." ternyata Andrew yang membuka pintu kamar, dan karena menyadari bagaimana sikap keponakan, dan juga sahabatnya, laki-laki itu tidak punya pikiran aneh mengenai kedua anak muda itu berada dalam pikiran yang sama,


"Tahu Andrew... kalian puas menyiksaku. Setelah anak itu mandi lagi, tadi dia keluar ke balkon dan aku dikuncinya dari luar. Hemmpph..aku tidak menyangka, putra kak Jack menjadi liar seperti ini.." tanpa sadar, Barra mengeluhkan tentang istrinya.

__ADS_1


"Hush... jangan bicara seperti itu Barr.. pamali. Ingat.., Gwen saat ini sudah menjadi istrimu, kamulah yang harus bisa merubahnya. Dan sekali lagi ingat, aku adalah pamanmu saat ini. Jika di depan keluarga, jangan sekali-sekali memanggilku dengan panggilan Andrew.., papa akan marah padaku.." sambil tersenyum lebar, Andrew mengingatkan pada Barra sahabatnya.


Barra tersenyum nyengir, tetapi bukannya langsung keluar setelah memanggil Barra, Andrew malah membawa anak kunci berjalan menuju balkon. Laki-laki itu memasukkan anak kunci, dan untung saja Gwen sudah mencabut anak kuncinya sehingga dengan mudah pintu bisa dibuka dari dalam. Tetapi ketika daun pintu itu terbuka lebar, Andrew tidak melihat Gwen atau siapapun disitu. Tatapan laki-laki itu diarahkan ke balkon yang ada disamping kamar tersebut, dan laki-laki itu hanya bisa mengambil nafas dalam,


"Ada apa Andrew...?" Barra bertanya pada Andrew, tapi laki-laki itu langsung terdiam melihat Gwen tidak ada di tempat itu.


Barra juga tidak menyadari, jika Gwen punya banyak cara untuk meninggalkan rumah. Padahal dalam hati, Barra juga tidak berminat untuk memaksa Gwen, karena menyadari jika Gwen masih kecil, dan belum siap menjadi seorang istri. Dan jika kepergian Gwen kali ini, padahal ketika sedang bersamanya di dalam kamar berdua, maka isi rumah akan menjadi heboh.


"Maafkan Gwen... ya Andr...! Anak itu memang masih kekanak-kanakan, beribu-ribu maaf dan maklum, selalu aku sisihkan untuknya. Bukan masalah yang mudah untuk Gwen.., hanya tinggal di rumah ini bersamaku, yang sering pergi meninggalkan dan juga kakek. Gwen nyaris tumbuh tanpa pendampingan perempuan dalam keluarga ini.." raut wajah sedih membayangi wajah Andrew.


"Apakah kamu punya alamat teman dekat Gwen.. Andr.. Tenanglah, kita akan merahasiakan hal ini dari papa Chandra dan juga papa Atmadja. Aku akan mencarinya, kirimkan alamat teman-teman baik Gwen, atau tempat dia biasa berkumpul dengan teman-temannya." dengan sabar, dan seperti memahami kesedihan yang dirasakan Andrew, Barra berpikir cepat.


Andrew melihat ke wajah sahabatnya itu, kemudian..


"Cek ponselmu, aku mengirimkan semua kepadamu.." sahut Andrew sambil menepuk pelan bahu sahabatnya itu. Hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini, dan Andrew merasa bersyukur dapat menjadikan keponakannya Gwen sebagai istri dari Barra.

__ADS_1


*********


__ADS_2