
Helsinki Apartment
Aldo menggandeng tangan Kayla keluar dari dalam lift, dan langsung melangkahkan kaki menuju ke kamar apartemen yang ditempati anak muda itu. Setelah melakukan scanning acces room, pintu kamar terbuka, dan tatapan Aldo menuju ke pintu balkon kamar yang tampak terbuka.
“Asep tidak kelihatan Ald… kemana anak itu..?” Kayla bertanya.
“Hempphh… sepertinya anak itu duduk di balkon. Lihat saja, aku mau ke bath room sebentar..” Aldo segera meninggalkan Kayla, dan masuk ke bath room.
Kayla meletakkan tas di sofa, kemudian gadis itu berjalan menuju ke arah balkon. Ternyata seperti yang dikatakan oleh kekasihnya, tampak Asep sedang duduk melamun melihat keluar. Gadis itu agak ragu untuk mendekatinya, namun akhirnya….
“Uhuk…” Kayla pura-pura terbatuk. Dan tepat sesuai dugaannya, Asep menoleh dan melihat ke arah Kayla yang tersenyum kepadanya.
„Kamu Kay... bagaimana kabar Gwen.., apakah gadis itu baik-baik saja..?” melihat kedatangan adik ipar dari Gwen sahabatnya, Asep memberondong dengan pertanyaan.
Kayla mengerutkan kening, tidak paham denga napa yang ditanyakan oleh sahabat kekasih, dan juga kakak iparnya itu.
“Apa maksudmu Asep… bukankah kita semua tahu jika kak Gwen belum mengirim kabar sampai sejauh ini. Apa kamu tahu informasi Sep… please beri tahu aku…” Kayla yang terkejut malah balik mengejar laki-laki itu. Kayla memang belum tahu apa-apa, dan juga tidak tahu jika kakak iparnya sudah Kembali ke rumah,
Asep malah menyesal terlalu impulsive bertanya pada gadis itu, karena dalam pikirannya adik kandung Barra itu tahu mengenai informasi kakak iparnya.
“Ayolah Sep… jangan tidak bertanggung jawab dong. Tidak mungkin kan, kamu akan tiba-tiba menanyakan kabar kak Gwen,. Jika tidak menemukan ada sesuatu yang ganjil..” Kayla terus mengejar pertanyaan.
“Tadi aku melihat daftar calon wisudawan Kay… Pada daftar calon peserta, aku melihat ada nama Gwen Alvaretta, dan Ketika aku bertanya pada dua sahabatnya di kampus, mereka tidak ada yang berani untuk menjelaskan. Aku pikir, kamu tahu informasi ini…” akhirnya karena tidak sabar dengan pertanyaan yang disampaikan Kayla, Asep memberi tahu apa yang diketahuinya.
__ADS_1
Kayla segera duduk di kursi, dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Terbayang kakak kandungnya, yang kehilangan semangat dan keramahan. Laki-laki itu menjadi laki-laki yang dingin dan terkenal keras, sejak kakak iparnya pergi meninggalkannya. Jika apa yang diucapkan oleh Asep itu benar adanya, ada harapan bagi kakaknya untuk mencari tahu keberadaan Gwen.
„Kenapa kamu menjadi diam Kay..., apakah kamu tidak suka dengan ucapanku barusan. Jika begitu, abaikan saja Kay, anggap saja kamu tidak mendengar apapun..” Asep menjadi merasa bersalah, telah menambah pikiran kekasih Aldo itu.
„Hemppphh.... no problem Sep... Paling tidak ada masukan baru untuk informasi kak Gwen.. Aku akan memberi tahu kak Barra, agar kakakku kembali berusaha untuk menemukan kakak ipar. Kakakku sudah terlalu lama menderita, dan seperti kehilangan jati dirinya semenjak kepergian kakak ipar..” sahut Kayla lirih.
Gadis itu terlihat menjadi sedih Ketika Kembali teringat dengan kakak iparnya. Begitu kakak iparnya pergi, dan kakak kandungnya sudah lelah mencari, rumah menjadi sepi. Barra lebih suka menghabiskan waktu di perusahaan, bahkan sering tidak pulang dan memilih untuk menginap di perusahaan.
„Apa ada yang mengganggumu sayang…, kenapa aku lihat suasana hatimu tiba-tiba berubah..?” dari belakang, Aldo tiba-tiba datang. Melihat kekasihnya terdiam, anak muda itu segera menghampiri Kayla. Asep hanya menatap pasangan kekasih itu, tapi tidak ikut merespon.
“Antar Kayla pulang Ald… ada informasi terbaru tentang kak Gwen. Aku harus segera memberi tahu kak Barra..” bukannya menjawab, Kayla malah meminta Aldo untuk membawanya pulang.
“Aku ikut sekalian Ald..” Asep ikut menyahut.
**********
Claire mengetuk pintu kamar Gwen, untuk memberi tahu jika suaminya Barra meminta untuk keluar dari dalam kamar. Untung saja Gwen sudah selesai membersihkan diri, dan masih berjaga karena tidak tenang menunggu kedatangan putra-putranya.
“Ada apa Claire…?” setelah membuka pintu, Gwen bertanya pada maid di rumah mereka.
“Tuan Barra menunggu Miss Gwen di ruang tengah… Saya hanya diminta untuk menyampaikan pada Miss..”
“Baiklah.. aku akan segera turun maid.. Siapkan ginger tea untukku ya…!” Gwen menutup daun pintu di belakangnya, kemudian berjalan menuju tangga dan turun ke lantai satu.
__ADS_1
Baru sampai di ujung tangga, gadis itu terkejut mendengar ada keramaian di ruang tengah. Dan keterkejutan itu bertambah, Ketika ada Andrew dan juga Anne berada di tempat itu juga. Bareeq serta Tareeq juga ikut di tempat tersebut,
“Honey… kemarilah..” melihat kedatangan istrinya, Barra berdiri dan menghampiri istrinya. Laki-laki itu merangkul pinggang Gwen, kemudian membawanya duduk bergabung dengan mereka.
Gwen merasa tidak nyaman, Ketika sudah duduk bergabung dengan paman dan juga suaminya. Namun tidak tampak ada kemarahan pada diri Andrew, tidak seperti Ketika awal-awal laki-laki itu membawanya pergi dari Helsinki empat tahun yang lalu.
“Tidak perlu sungkan dengan pamanmu honey… aku sudah menghajarnya beberapa kali. Jika aku tidak ingat, bagaimana kedekatanmu dengan laki-laki ini, mungkin aku sudah membunuhnya..” mengetahui jika istrinya belum tahu kalau Andrew sudah mengetahui hal yang sebenarnya, Barra mencoba menenangkan istrinya.
“Hemmpph… iya Gwen, Om mengaku salah. Tapi Om juga tahu, jika ternyata kericuhan terjadi diakibatkan oleh Jacqluine dan saudara sepupu Barra sendiri, belum lama. Ketika kita akan berangkat menghadiri acara wisudamu, aku baru mengetahuinya..” untungnya Andrew gentle mengakui kesalahannya.
“Bukan itu saja kunyuk…, kamu juga bersalah telah membawa pergi Gwen dari rumah sakit dulu, dengan membiusnya. Bahkan kamu tidak minta ijin terlebih dulu bukan, Ketika kamu pergi membawa Gwen…” Barra ikut menimbrung.
“Iya… iya…, aku mengaku bersalah pada kalian berdua. Ke depan, aku dan Anne tidak akan melakukan intervensi apapun pada hubungan kalian berdua. Apapun yang kalian lakukan, aku tidak akan ikut campur..” sambil tersenyum, Andrew Kembali menambahkan.
Gwen terdiam, karena terkejut denga napa yang terjadi di depannya saat ini. Ada rasa penyesalan, karena tidak memberi kesempatan pada suaminya untuk memberikan penjelasan kala itu. Tetapi semua sudah terjadi beberapa tahun lalu, jadi hanya memperbaiki hubungan mereka saat ini menjadi solusi dari hubungan mereka.
“Apakah kamu memaafkanku Gwen…?” tidak diduga, melihat keponakannya terdiam, Andrew bertanya pada gadis itu.
Gadis itu tergagap mendengar pertanyaan dari pamannya. Barra segera menggenggam tangan istrinya, kemudian…
“Mungkin semua ini memang sudah ditakdirkan Om, sudah digariskan. Semoga ke depannya, Gwen dan kak Barra bisa menjalani kehidupan ini dalam kebahagiaan, Membesarkan Bareeq, dan Tareeq untuk masa depan mereka. Gwen sudah memaafkan semuanya..” akhirnya Gwen dengan berbesar hati memaafkan sikap pamannya.
Semua tersenyum dan bersyukur dalam hati, karena masalah sudah berhasil diselesaikan dengan baik. Barra memegang sisi kepala istrinya, kemudian menyandarkan di bahunya.
__ADS_1
**********