
Andrew tersenyum di posisi tempat duduknya melihat bagaimana sahabatnya Barra memperlakukan Gwen keponakan cantiknya. Laki-laki itu juga tanpa sadar berdecak kagum melihat penampilan Gwen, yang tampak semakin cantik matang. Andrew baru tersadar jika keponakannya yang sejak kecil, perlahan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.
“Mama kemana Om.. kok sudah tidak ada di ruangan..?” Gwen bertanya pada pamannya.
„Ada suamimu disini, kenapa bertanya pada Andrew honey… aku juga tahu mama pergi kemana.” Sambil cengar cengir, Barra menyahuti pertanyaan istrinya. Laki-laki itu mengeratkan rangkulan di lengan atas istrinya, dan mata Stephanie berkilat sebal.
„Hemppphh... tahu... Sepertinya aku tahu apa yang kalian lakukan di dalam kamar barusan, dan tidak tahu kemana mama kalian pergi.” Dengan nada sarkasme, Andrew menimpali perkataan Barra.
Wajah Gwen merebak kemerahan mendengar gurauan pamannya, tapi untungnya Barra paham jika istrinya malu mendapat godaan dari Andrew. Barra membawa istrinya, kemudian duduk di sofa yang juga diduduki oleh Andrew. Stephanie dan Fiona menatap tajam ke arah gadis mungil dan cantik itu. Dalam hati Stephanie, perempuan itu merasa iri dan cemburu melihat perhatian Barra untuknya.
“Honey… kenalkan mitra kerja perusahaan ini. Stephanie dan Fiona..” untuk mengurangi kecanggungan, Barra mengenalkan istrinya pada dua perempuan yang sejak tadi berdiskusi dengan mereka.
“Kenalkan kak… namaku Gwen…” gadis cantik itu mengulurkan tangan, dan mengajak Fiona dan Stephanie berjabat tangan. Dengan agak malas, dua perempuan itu menerima uluran tangan dari Gwen.
“Fiona… sepertinya usiamu masih muda banget Gwen... Berapa tahun terkait dengan usia Barra..?” Fiona bicara dengan ekspresi datar.
Gwen menoleh ke arah suaminya, jujur gadis itu tidak pernah mengetahui dengan Persis berapa selisih usia mereka. Gadis itu tidak pernah mengetahui, dan selama ini seperti tidak mau tahu dengan perbedaan dengan suaminya. Menuruti perintah paman dan kakeknya, akhirnya Gwen menjadi istri dari Barra,
__ADS_1
“Benar Fiona… sepertinya di usiamu ini, kamu belum pantas menikah deh. Masih butuh untuk mengembangkan diri dan potensimu. Kami saja, sudah 28 tahun belum ada pemkiran untuk menuju ke arah itu…” Stephanie ikut menimpali,
Barra dan Andrew saling berpandangan, dan Barra akan menjawab pertanyaan dari dua temannya itu. Tapi…
“Hempphh… sepertinya hal yang aneh, jika perbedaan usia menjadi hal yang perlu untuk kita perdebatkan. Gwen dan kak Barra memang memiliki selisih usia lebih dari lima tahun kak, tapi menurut pendapat Gwen tidak masalah kak.. Bukan masalah usia, tapi bagaimana kami bisa saling menyesuaikan diri untuk menjadi pasangan suami istri. Bukankah demikian kak Barra…” di luar dugaan, dengan lancar Gwen berdiplomasi menyerang balik sindiran dari dua perempuan itu,
Barra tersenyum, meskipun dalam hati laki-laki itu kaget dengan jawaban istrinya, namun Barra dengan mantap menganggukkan kepala menguatkan pernyataan Gwen. Andrew di sisi Gwen hanya mengulum senyum, dalam hati laki-laki itu mengacungkan empat jempol untuk ketegasan keponakannya. Tetapi wajah Stephanie berubah menjadi buruk, hanya Fiona yang bereaksi datar.
“Sudah.. sudah, kita lanjutkan saja discuss nya. Jangan khawatir, Gwen pasti tidak akan ikut campur dalam pembicaraan kita. Benarkan..” Andrew akhirnya menengahi pembicaraan itu, dan melihat ke arah keponakannya.
“Hempph.. baik Om..” sahut Gwen dengan cuek. Gadis itu kemudian mengambil gadget dari dalam tasnya, dan perlahan-lahan mulai berselancar masuk ke dalam dunia internet. Barra melihat kea rah istrinya, dan ketika melihat jika istrinya tidak peduli dengan pembicaraan mereka, akhirnya laki-laki itu melanjutkan diskusi.
*********
“Rencana kamu akan lanjut studi di jurusan apa Gwen… Kamu pasti tidak lupa kan, dengan cita-citamu sejak kecil..” dalam perjalanan, Andrew bertanya pada keponakannya. Barra merasa tersindir halus dengan pertanyaan itu, karena laki-laki itu merasa belum pernah diskusi dengan istrinya, mengenai rencana ke depan kelanjutan studi Gwen.
“Ingin ke desain interior saja Om… mau agak rileks pikiran. Bosan dengan rumus-rumus Fisika dan Kimia. Kemarin join Olimpiade juga bukan karena niat Gwen, hanya menyenangkan guru dan pihak sekolah saja, akhirnya Gwen ikut. Tidak menyangka juga, malah ikut di tingkat internasional juga.” Jawab Gwen santai.
__ADS_1
“Bagus pemikiranmu honey… aku akan mengantarmu ke University of Helsinky untuk ikut recruitment mahasiswa..” Barra ikut menanggapi setelah mendengar keinginan istrinya,
“Sepertinya tidak perlu deh kak… Gwen sudah join recruitment via jalur prestasi. Perguruan tinggi itu membuka peluang untuk join via jalur prestasi. Kemenangan Gwen dalam Olimpiade di Singapura dan New York, bisa membawa untuk masuk jalur tersebut. Jadi kak Barra ikut repot-repot membantu Gwen.. karena semuanya dilakukan secara online.” Tanpa bermaksud menolak tawaran suaminya, gwen menjawab dengan apa adanya,
Andrew tersenyum, laki-laki itu tahu dengan perasaan sahabatnya. Dia tahu persis jika Barra akan menawarkan kebaikan untuk istrinya, namun Gwen keponakannya malah merendahkan harapan suaminya,
“Gwen sayang… tidak ada salahnya bukan, sebelum pengumuman resmi diumumkan, suamimu mengantarkanmu ke college. Yah… untuk lihat-lihat situasi lebih dahulu, bagaimana kelas, suasana kelas serta fasilitas lainnya. Jadi akan membuatmu jauh lebih mantap..” akhirnya Andrew berusaha mempengaruhi gadis itu.
“hempph benar juga Om… akan lebih baik untuk Gwen tahu lebih banyak tentang perguruan tinggi tujuan ya. Tapi.. jika kak Barra repot dengan urusan pekerjaan, atau tadi mau action rencana dengan kak Fiona dan kak Stephanie, Gwen bisa pergi sendiri ke college. Jadi.. janganlah hal ini menjadi beban pikiran kak Barra..” dengan tanpa rasa bersalah, Gwen Kembali mematahkan usulan Andrew.
Andrew hanya senyum sambil memukul-mukul jidatnya sendiri. Barra juga agak terkejut dengan jawaban istrinya, kemudian..
“Honey… tidak boleh begitu sayang. Kali ini kamu sudah memiliki suami sayang... jadi tidak boleh pergi kemana-mana sendiri. Honey adalah tanggung jawabku, tanggung jawab Barra Xavier Gibran, Aku akan pastikan sayang, aku akan menemanimu berkeliling. Bahkan sesudah kita mengantar Om Andrew ke airport, kita bisa langsung jalan dan menginap di luar..” Barra dengan cepat menangkis pemikiran istrinya.
Gwen menoleh ke arah suaminya, dan Barra tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Duduk di kursi depan, Andrew Kembali tersenyum melihat interaksi pasangan suami istri itu. Tidak lama kemudian, mobil yang membawa mereka sudah memasuki halaman parkir Helsinki-Vantaa Airport. Beberapa saat sesudahnya, driver menghentikan mobil di terminal keberangkatan. Andrew memang sengaja naik pesawat komersil untuk menuju ke Italia.
“Cukup sampai disini saja kalian mengantarku, aku bisa masuk sendiri untuk boarding..” melihat Barra dan Gwen yang akan membuka pintu mobil, karena driver sedang membukakan pintu mobil tempatnya duduk, Andrew melarang keponakan dan suaminya itu untuk ikut turun, Akhirnya pasangan suami istri itu hanya mengantarkan Andrew sampai di terminal keberangkatan.
__ADS_1
*******************