
Barra segera membawa masuk kedua putranya ke dalam mobil, dan meminta Smith untuk segera menuju ke rumah Kembali. Namun… belum sampai mobil itu keluar dari arah lobby, ada mobil yang berhenti di belakang mereka. Dan tiba-tiba..
“Opa… opa Andrew…” Bareeq diikuti Tareeq berteriak sambil melihat ke belakang.
Barra sontak ikut menoleh, dan melihat Andrew dengan Anne sedang keluar dari dalam mobil. Tiba-tiba muncul amarah di dada laki-laki itu, kemudian..
“Bareeq… Tareeq, stay in the car. Papa masih ada urusan..” setelah meminta kedua putranya untuk diam menunggu, laki-laki itu segera membuka pintu mobil. Pintu otomatis tertutup Ketika Barra sudah keluar, dan dari depan Smith segera menekan central lock untuk menjaga agar si kembar tidak ikut keluar.
Tanpa bicara apapun… Barra langsung berjalan menghampiri Andrew.cDan tanpa peringatan… tiba-tiba…
“Andrew… terimalah ini… Plak, buk…” tamparan dan bogem mentahcmenghantam rahang Andrew.
“Aaaawww kak Andrew… kamucgila Barra..” Anne berteriak dan segera berlari memeluk suaminya.
Andrew yang baru tersadar akan serangan itu, menghapus noda darah yang keluar dari sudut bibirnya. Laki-laki itu akan membalas Tindakan penyerangan kepadanya, namun Ketika melihat jika Barra yang melakukan, akhirnya laki-laki itu diam dan tampak menunggu.
“Ini baru peringatan pertama Andrew… karena kamu sudah memisahkanku dengan istri dan kedua putraku. Paman seperti apa kamu… bertindak semaumu sendiri..” amarah keluar dari bibir Barra..
Tatapan tajam Barra seakan menghujam ke dada Andrew sahabatnya, dan Andrew hanya diam menatap balik pada laki-laki itu.
“Apakah pukulanmu bisa meredakan amarahmu Barra..., jika bisa lakukanlah terus. Aku akan menerimanya dengan ikhlas, dan seharusnya kamu tahu apa alasanku memisahkanmu dengan Gwen, dan membawanya pergi. Seujung rambutpun, aku tidak akan merelakan ada orang yang menyakiti keponakanku. Bahkan jika itu adalah kamu pelakunya Barra..” dengan tenang, Andrew memberi tanggapan.
Mendengar jawaban itu, Barra menghempaskan tangan Anne. Satu tangan kanan Barra mencekal leher dari paman Gwen…
“Lepaskan suamiku Barra… lepaskan. Semua ini hanya salah paham, dan kak Andrew tidak mengetahui ada sesuatu hal di balik ini semua. Lepaskan Barra...!” Anne berteriak mencoba menghentikan Barra.
__ADS_1
Tapi sepertinya Barra sudah merasa kesetanan, tatapan liar laki-laki itu memindai wajah Andrew dan juga Anne.. Tiba-tiba...
„Papa... lepaskan opa Andrew pa... Jangan sakiti opa...” ternyata Bareeq dan Tareeq sudah berada di luar mobil.
Kedua anak itu mencoba memeluk papanya, untuk menghentikan tindakan kekerasan dari papanya untuk opa Andrew. Melihat keberadaan dua putranya, hati Barra terasa mencair dan luluh. Laki-laki itu kemudian melepaskan Andrew, kemudian jongkok dan memegang kedua anak kecil itu.
„Maafkan papa nak... papa khilaf. Kejadian ini hanya candaan saja, opa Andrew dan papa baik-baik saja.” Untuk tidak membuat trauma putranya, akhirnya Barra mencoba menenangkan kedua anak itu.
“Iya Bareeq… Tareeq… Opa dan papa ini sahabat sejak kecil. Kami baru saja saling memberikan salam laki-laki... karena kami ini sangat dekat. Ayo... give me five... boys..” untungnya Andrew mencoba untuk menenangkan putra dari keponakannya itu.
“Really opa…?” kedua anak itu memastikan kebenaran jawaban opa dan papanya.
Kedua laki-laki dewasa itu, akhirnya menganggukkan kepalanya. Akhirnya Bareeq dan Tareeq , mengacungkan kelima jari mereka. Dengan opanya, kedua anak kecil itu melakukan toss. Barra hanta melihat pada sahabat dan kedua putranya itu tanpa melakukan sesuatu.
**********
“Bareeq… apakah tadi sudah istirahat di hotel..” dalam perjalanan, Andrew yang mendudukkan Bareeq di pangkuan bertanya pada anak kecil itu.
“Sudah opa… Bareeq dan Tareeq tadi sudah tidur siang… Ketika papa pergi Bersama mommy, kita diminta tidur oleh nanny. Dan ketika kita bangun, papa sudah berada kembali di hotel. Tapi mommy nya tidak ada..” dengan polos, Bareeq menjawab pertanyaan dari opanya.
„Bagus sekali jagoan opa... harus banyak beristirahat, agar tidak cepat merasa Lelah.. Sudah makan juga kan pastinya..”
“Mmmpphhh… sudah. Oh ya pa… mommy juga sudah makan siang bukan, kata papa tadi, mommy sedang menunggu kita di rumah..” teringat dengan mommy nya, Tareeq bertanya pada papanya.
Barra yang sedang melamun sesaat agak tergagap, untungnya laki-laki itu mendengar apa yang ditanyakan oleh putranya.
__ADS_1
“Pasti sudah sayang… tadi papa menemani mommy kalian untuk makan siang dulu. Barulah papa berangkat ke hotel, untuk menjemput kalian..” dengan cepat, Barra memberikan tanggapan.
“Hempphh… aku paham dengan jawabanmu Barra.. Bukan hanya makan di mulut juga kan, pasti juga makan jenis makanan yang lain..” dengan sewot, Andrew menimpali dengan nada sarkasme.
„Bisa tidak kamu menjaga mulutmu.. ada anak-anak. Jika belum selesai urusan, nanti dilanjutkan di pinggir kolam renang. Aku belum puas menghajarmu.” Sambil melotot, Barra berbisik pada Andrew.
„Ha.. ha... ha..., ada yang sedang marah..” tidak diduga, Andrew tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Barra.
Duduk di depan di samping Smith, Anne ikut tersenyum melihat kedua sahabat sejak kecil itu saling bersitegang.
“Kenapa sejak tadi, papa dan opa Andrew tampak saling melotot.. Apakah papa dan opa bermusuhan,” melihat interaksi dua laki-laki dewasa itu, terdengar ucapan polos dari Tareeq.
„Tidak sayang... opa dan papa ini hanya saling mengucapkan salam. Kami sudah lama tidak bertemu Tareeq, jadi inilah cara kami melepaskan kerinduan...” Andrew berkamuflase. Laki-laki itu menggunakan tangan kanannya, dan berusaha merangkul bahu Barra.
Barra akan menghindar, namun karena tatapan polos kedua putranya, akhirnya laki-laki itu ikut menggunakan tangan kirinya merangkul pundak sahabatnya. Namun tidak diduga.. sebuah cengkeram kuku diberikan oleh laki-laki itu di bahu Andrew...
„Aaaww... gila kamu Barr...” Andrew memprotes tindakan papa dari kedua anak itu. Laki-laki itu berteriak, dan menatap ke mata Barra sahabatnya dengan tatapan tajam. Namun yang ditatap malah pura-pura tidak memperhatikan.
„Opa.. kenapa opa berteriak..?? Tidak baik opa jika bertengkar sesama laki-laki dewasa.., bukankah opa selalu menasehati Tareeq dan Bareeq untuk selalu berpikir bijak terlebih dahulu. Hindarkan pertengkaran yang tidak ada gunanya...” Tareeq menanggapi yang terjadi pada Andrew.
“Hemmmpphh… sepertinya benar opa Andrew… kita harus memberikan contoh yang baik pada kedua putraku. Tidak baik berteriak-teriak seperti itu, dan juga tidak bisa saling menuduh..., karena kita harus menjadi role model untuk pengembangan diri Bareeq dan Tareeq..” seperti mengipasi bara api, Barra turut menguatkan pernyataan putranya.
Andrew semakin tajam menatap Barra, dan kembali Barra tidak menanggapi tatapan sahabatnya itu. Akhirnya Andrew dengan geram mengalihkan pandangan keluar jendela sambil memperlihatkan keramain di luar mobil pada Tareeq yang duduk di pangkuannya.
**********
__ADS_1