
Dengan wajah marah Jacqluine bereaksi melihat ciuman panas pasangan suami istri itu. Tatapan mata itu penuh dengan linangan air mata. Tidak mampu mengendalikan emosinya, Jacqluine berbalik arah, kemudian membuka pintu dari dalam dan membantingnya dengan kencang.
“Blamm..” Gwen dan Barra terkejut mendengar pintu dibanting tersebut. Rupanya apa yang dilihat Jacqluine dari Barra dan Gwen sangat melukai hatinya. Karena suara kencang pintu yang ditutup, tanpa sadar ciuman mereka melonggar. Seperti mendapatkan kesempatan. Gwen segera melepaskan ciuman bibir itu dan mendorong dada suaminya. Tanpa melihat lagi ke belakang, gadis itu berlari kembali masuk ke dalam kamarnya.
“Honey… tunggu aku..” Barra berteriak Ketika menyadari jika istrinya yang imut sudah meninggalkannya dan berlari ke dalam kamar. Barra tersenyum puas, kemudian laki-laki dewasa itu berdiri, dan melangkahkan kaki untuk mengikuti Gwen ke dalam kamar.
“Hempphh… kamu adalah milikku Gwen, kamu tidak bisa lagi pergi meninggalkanku.” Barra bergumam sambil tersenyum. Laki-laki itu akhirnya sampai di pintu kamar tempat Gwen tadi berlari ke dalam.
Tetapi dahi laki-laki itu berkerut, karena pintu tidak bisa didorong olehnya. Gwen ternyata mengunci pintu dari dalam, Berkali-kali Barra mencoba memutar handle pintu, tetapi pintu tetap tidak dapat terbuka dari dalam,
“Tok.. tok.. tok.., honey bukakan pintu sayang..” Barra mencoba mengajak bicara istrinya. Tetapi sampai tiga kali laki-laki itu mengulang, gadis itu tetap tidak mau membuka pintu kamar dari dalam. Bahkan suara Gwen juga tidak terdengar, gadis itu mengacuhkan laki-laki itu lagi.
Barra tersenyum kecut, dan akhirnya tidak punya pilihan lain selain berjalan kembali meninggalkan depan pintu kamar mereka berdua.
„Kamu sukses memberi hukuman padaku Gwen... lihat saja, aku akan membalasmu jika ada kesempatan..” Barra kembali berbicara pada dirinya sendiri. Laki-laki masih tersenyum pahit, karena melihat satu bagian tubuhnya bereaksi, akibat ciuman panas yang dilakukannya dengan istrinya.
__ADS_1
„Ternyata begini rasanya menundukkan anak kecil, yang kata Jacqluine masih anak ingusan. Jika aku mau, aku bisa menuntaskan hasrat manusia purbaku dengan Jacqluine kapanpun, dan dimanapun. Tetapi tidak tahu mengapa, ternyata semua ruang hatiku perlahan sudah terisi dan dipenuhi oleh Gwen Alvaretta.. Hemppph... sampai kapan, kamu akan terus menyiksaku seperti ini Gwen...” akhirnya Barra hanya bisa kembali duduk di atas kursi tengah.
Beberapa saat laki-laki itu berusaha memijit-mijit bagian kepalanya yang mendadak pusing. Sampai beberapa saat, Barra belum bisa berhasil meredakan hasrat manusia purbanya. Akhirnya perlahan Barra kembali berdiri, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar satunya, untuk berendam di air dingin dalam kamar mandi tersebut,
************
# Gwen
Di atas ranjang di kamarnya, gadis itu masih merasa malu. Semburat warna pink di pipinya masih terlihat, dan untuk menutupi rasa malu tersebut, Gwen menarik selimut ke atas dan menutup wajahnya dengan selimut tersebut. Jantung gadis itu masih terasa berdetak keras, seperti habis berolah raga.
“Tapi... ah, bisa-bisa kak Barra menjadi ge er... pppffft... aku bingung apa yang akan aku lakukan, jika ketemu dengan kak Barra… Apakah aku menghindari pertemuan saja, besok pagi begitu bangunm terus mandi… terus pergi ke restaurant di bawah yang untuk umum. Setelah itu ketemu dengan Aldo, Asep, dan Raffi.. “ Gwen berpikir tentang strategi untuk menghindari suaminya.
Gadis itu terdiam lagi, dan pikirannya kembali pada saat dirinya memulai ciuman dengan suaminya. Tanpa sadar jari tangan gadis itu mengusap kembali bibirnya, dan..
“Rasa hangat bibir mas Barra masih seperti menempel di bibirku ini.. Mmmpphh… kenapa aku malah ingin lagi merasakan kehangatan itu. Sangat hangat.., damai…, dan jantungku tadi berdegup sangat keras… “ Gwen Kembali senyum-senyum sendiri membayangkan adegan ciuman dengan suaminya Barra. Apalagi ciuman itu diinisiasi olehnya, dan Barra kemudian menghangatkannya dengan menyesap habis bibir gadis itu.
__ADS_1
Bayangan-bayangan perlakuan genitnya tadi terbayang di wajahnya kembali, dan dengan menggunakan kedua telapak tangannya, Gwen Kembali menutupi wajahnya. Gadis itu belum bisa berpikir jelas, tentang bagaimana perasaan yang sebenarnya dengan Barra suaminya. Apakah karena terbiasa, kemudian berubah menelma menjadi cinta, Gwen sendiri tidak bisa berpikir.
“Tapi apa salahnya, memangnya aku ikhlas jika kak Barra kembali dengan perempuan genit itu. Sepertinya kak Barra juga acuh dengannya, mungkin saja perempuan itu hanya ge er saja, berasa masih seperti menjadi pacar kak Barra.. Hempphh… tapi kenapa, aku sekarang jadi peduli dengan laki-laki itu” beberapa saat terkurung dalam selimut, Gwen seperti berada dalam pertentangan. Tetapi akhirnya Gwen mencoba untuk bisa berpikir cerdas. Seperti muncul dorongan dari dalam hatinya, bagaimana bisa membuat perempuan dewasa yang seksi itu menyingkir.
“Kak Barra… sebenarnya dari wajah, kak Barra itu good looking, malah sangat tampan. Postur tubuhnya six pack, dengan tinggi badan termasuk tinggi untuk tinggi rata-rata orang Asia. Hanya saja, usia kak Barra denganku ada 11 tahunan jarak usia kami. Bisa menjadi olok-olokan circle ku jika tahu kak Barra adalah suamiku..” tiba-tiba tanpa sadar, Gwen kembali berpikir tentang suaminya. Beberapa saat gadis itu melamun, dan pipinya kembali merah,
"Semakin lama aku berpikir tentang kak Barra, malah menjadikanku ingin bertemu dengan suamiku. Aku bisa menjadi gila dengan perasaan ini, tetapi apakah yang aku rasakan ini sebuah kesalahan. Jika pada akhirnya aku jatuh hati dan bertekuk lutut dengan kak Barra, tanpa mempedulikan berapa selisih usia kami." Gwen tidak menyadari, jika Barra Xavier Gibran sudah sangat dalam mempengaruhi dirinya.
Sikap over protective yang diberikan Barra untuknya, terkadang menjadi sesuatu yang merindukan, ketika gadis itu dalam keadaan sendiri seperti ini. Padahal untuk laki-laki seusianya, laki-laki itu masih terlihat tampak jauh lebih muda. Olah raga dan menjaga pola makan, yang mungkin berpengaruh menjaga laki-laki itu.
"Tapi.. aku biarkan mengalir saja dulu. Aku tidak tahu lagi bagaimana ke depannya. Jika memang kak Barra betul-betul menyayangiku, maka dia pasti akan bersedia menungguku sampai aku siap. Namun jika masih tergoda dengan perempuan lain hanya karena hasrat alamiahnya, berarti akan menjadi alasan untukku pergi dan meninggalkan laki-laki itu." akhirnya Gwen berada pada satu keputusan,
Akhirnya karena melamun dengan membayangkan bagaimana hubungannya selama ini dengan Barra, lama kelamaan Gwen tertidur sampai pagi datang menjelang.
**********
__ADS_1