Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 190 Terbuka Satu persatu


__ADS_3

Setelah berhasil membuka box yang diberikan suaminya, nafas Gwen seakan terhenti dan dengan mata terbelalak menatap ponsel yang sudah tidak dipegangnya selama lima tahun lebih itu. Perlahan gadis itu mencoba menyalakan ponsel tersebut, dan ternyata meskipun sudah lama tidak digunakan, ponsel itu masih terkoneksi jaringan dan masih bisa diaktifkan.


„Jadi ponsel Gwen selama ni ada pada kak Barra... masih ingat kak, terakhir kali kita bersama, Gwen kelimpungan mencari benda ini.” Gwen teringat kembali dengan keadaan mereka lima tahun yang lalu.


„Lupakan honey, dengan chat yang honey kirimkan kala itu, membuatku bergegas menuju ke Helsinki Strandt hotel. Akhirnya hanya prank yang diatur oleh Andy dan Jacqluine, dan membuat kita akhirnya terpisahkan..” Barra tiba-tiba terlihat memerah wajahnya. Tampak kemarahan menggayut di wajahnya.


“Maksud kak Barra…, Gwen yang mengirim pesan itu. Tapi… jujur kak, demi Allah... Gwen tidak pernah melakukannya.” Melihat reaksi suaminya, Gwen bereaksi.


„Hempphh.. tenangkan dirimu honey, aku tahu jika bukan kamu pelakunya. Tanpa sadar, ponselmu sudah berada di tangan Andy pada hari sebelumnya. Hanya saja, mungkin honey tidak menyadarinya. Melalui ponsel itulah, Andy membuat ulah, dan bekerja sama dengan perempuan ****** itu, si Jacqluine..” lanjut Barra menenangkan istrinya.


Gwen menatap ke arah suaminya, dan mereka beradu pandang sejenak.


„Syukurlah kak... semua terbuka akhirnya. Maafkan Gwen ya kak, yang tidak minta penjelasan terlebih dulu. Tahu-tahu.., begitu tersadar Gwen sudah berada di mansion kakek yang ada di negara Dubai.” Terlihat Gwen tampak menyesal.


Barra menghentikan mobilnya di tepi jalan, dan laki-laki itu kembali memeluk istrinya.


„Tidak perlu disesali honey..., mungkin Tuhan sudah mengatur jika percintaan kita harus melalui jalan seperti ini. Aku juga tidak bisa mendampingi, saat honey mengandung Bareeq dan Tareeq, dan melahirkannya. Jika kala itu, aku menjadi Andrew mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.”


Gwen langsung mendekap suaminya, dan pasangan suami istri itu seakan terlena. Keduanya bukan lagi hanya saling berpelukan, tapi kedua bibir pasangan suami istri itu sudah saling memagut. Nafas keduanya sudah semakin memburu, dan mereka saat ini berada di pinggir jalan one way.


“Tin.. tin.. tin..” tiba-tiba terdengar klakson mengejutkan mereka, dan mau tidak mau mereka menghentikan aktivitas mereka.


“Kak Barra… ada petugas polisi di belakang, dan sepertinya mereka keluar untuk menemui kita..” Gwen terlihat panik, gadis itu berbisik di telinga suaminya.


“Hempphhh… tenanglah honey, aku akan mengaturnya.” Sambil menepuk bahu istrinya tiga kali, Barra menjauhkan wajahnya dari leher gadis itu. Tidak lama kemudian…


“Tok.. tok.. tok…” terlihat petugas polisi mengetuk kaca mobil di bagian depan,

__ADS_1


Barra kemudian menurunkan kaca mobil, dan tersenyum pada petugas polisi tersebut. Petugas polisi tampak terkejut melihat siapa yang berada di dalam mobil itu...


„Tuan Barra... ternyata Tuan, saya pikir siapa yang menghentikan mobil di tengah jalan. Apakah ada yang bisa dibantu Tuan…?” untungnya petugas polisi yang mencegat mereka, mengetahui siapa penumpangnya.


“Tidak apa pak… tadi hanya membantu istriku, tiba-tiba saja matanya ada sesuatu yang masuk. Jadilah.. kami terpaksa harus menghentikan mobil di tengah jalan seperti ini. Terus.., apakah ini berarti, saya harus ke kantor polisi karena melakukan pelanggaran lalu lintas.” Barra mencoba bertindak pro aktif.


Sebagai pemilik perusahaan, Barra memang memposisikan untuk selalu memenuhi compliance pada aturan. Hal itu dimaksudkan, agar setiap membutuhkan bantuan dari polisi, mendapatkan prioritas penanganan.


“Tidak perlulah Tuan Barra… kami semua kenal dengan sikap taat aturan yang selalu Tuan prioritaskan. Kami akan lanjut bertugas, silakan Tuan Barra lanjutkan perjalanan.” Tidak berapa lama, akhirnya petugas itu minta pamit.


Barra tersenyum dan menganggukkan kepala. Di sebelah laki-laki itu, Gwen tampak menundukkan wajah ke bawah  dan membuka ponsel lamanya. Tidak lama kemudian…


“Hempphh… ada pengganggu kemesraanku dengan istriku. Bagaimana honey, apakah akan kita lanjutkan lagi..” Barra berbisik di telinga Gwen, sambil menghembuskan nafas di belakang telinga istrinya.


“Mmmmpph… kak.” Tangan Gwen mencubit pinggang Barra. Hembusan hangat suaminya, membuat gadis itu menjadi lemas, dan seperti kehilangan tenaga.


***********


Rumah Puncak Bukit..


Begitu Barra menghentikan mobil di depan teras, terlihat kedua putranya sedang bermain dengan Aldo. Laki-laki itu tersenyum, kemudian membawa istrinya datang menghampiri mereka..


“Mommy…. Papa…” melihat kedatangan kedua orang tuanya, kedua anak kecil itu berlari memeluk Barra dan Gwen.


Pasangan suami istri memeluk kedua putranya, dan memberikan ciuman pada pucuk kepala mereka.


„Sedang main apaan sayang dengan Uncle Aldo..?” Gwen bertanya pada kedua putranya.

__ADS_1


“Membuat robot mommy… tadi Uncle Aldo membawakan lego buat Bareeq dan Tareeq.. Dengan panduan Uncle Aldo, kami bisa membuatnya beberapa mommy… Ayo momm… kita lihat robot-robot yang sudah kami buat..” Bareeq menarik tangan mommy nya.


Aldo tersenyum melihat kebahagiaan sahabatnya itu, dengan suami yang menyayangi dan kedua putranya.


„Terima kasih Uncle Aldo.., sudah mau menemani kedua putraku. Membawakan dan mengajari mereka dengan education toys lagi..” Gwen mengucapkan terima kasih pada sahabatnya. Tangan perempuan itu mengambil satu robot yang sudah jadi, dan satu robot Binatang berbentuk dinosaurus.


“Kamu bicara apa Gwen… pakai terima kasih segala. Apakah kamu sudah melupakan bagaimana kedekatan kita di masa lalu..?” Aldo malah merasa tidak nyaman dengan ucapan itu.


„Jangan seperti itu Aldo... istriku ini hanya melatih kedua putranya, untuk selalu membalas kebaikan siapapun, meskipun hanya dengan ucapan terima kasih.” Dari belakang, Barra membela istrinya. Laki-laki itu kemudian merangkul istrinya dari belakang.


Aldo melihat hal itu, dan menjadi merasa kurang nyaman. Namun anak muda itu tetap tersenyum, dan mengakui kekompakan pasangan suami istri di depannya.


„Kemana Kayla... kok gadis itu tidak menemani kalian main disini.” Tidak melihat keberadaan adik kandungnya, Barra bertanya pada Aldo.


“Ke dapur… tadi katanya mau membuatkan churos coklat untuk camilan Barreq dan Tareeq.. Sebentar lagi paling sudah selesai,” masih dengan rangkaian lego di tangannya, Aldo menanggapi pertanyaan dari calon kakak iparnya.


Barra tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian laki-laki itu merangkul bahu istrinya.


“Honey… kita harus membersihkan badan dulu. Biarkan putra kita melanjutkan aktivitas bermain legonya, pasti Aldo akan menemaninya.” Tiba-tiba Barra mengajak istrinya untuk masuk ke dalam.


“Mmmpphh baiklah kak… Aldo, nitip temani anak-anak dulu ya. Aku mau membersihkan tubuh dulu. Dan Bareeq, Tareeq.. jaga sikap kalian ya..” Gwen menyetujui ajakan suaminya.


“Baik Momm…” kedua anak itu menjawab serentak. Aldo mengangkat tangannya ke atas, dengan melingkarkan ibu jari dan jari telunjuknya, sebagai isyarat tidak keberatan.


Sambil merangkul, dengan melingkarkan tangan di pinggang suaminya, Gwen dan Barra berjalan masuk ke dalam rumah. Pasangan suami istri itu langsung naik ke atas tangga, dan masuk ke kamar mereka yang ada di lantai dua.


***********

__ADS_1


__ADS_2