
Pant House Aman Hotel
Gwen yang sudah selesai menempuh ujian, malam ini bisa memiliki waktu bersantai. Dua puluh hari berada di karantina, dilanjutkan dengan menempuh ujian Kelulusan, membuat otak gadis itu seperti mendidih. Akhirnya malam ini, gadis itu memiliki waktu untuk bersantai. Ajakan Aldo dan kedua teman laki-lakinya diabaikan, karena Gwen ingin merasakan malam khusus tanpa kegiatan di dalam kamarnya.
„Apakah kamu tidak ingin makan malam honey...? Jangan sampai, menolak makan tetapi nanti malam minta aku untuk mencarikannya..” melihat istrinya yang tampak asyik bermain Mobile Legends, dan sedang Mabar dengan teman-teman online, Barra bertanya.
“Tidak… masih kenyang..” dengan acuh Gwen menanggapi pertanyaan dari suaminya,
Merasa diabaikan, Barra mendekat dan melihat ke layar gadget yang berada di kedua tangan gadis itu. Laki-laki itu hanya mengambil nafas Panjang, kemudian duduk di sebelah Gwen. Beberapa saat melihat istrinya bermain, Barra merasa kesepian karena sejak tadi diacuhkan. Tiba-tiba muncul keisengan dari laki-laki dewasa itu, Barra menggerak-gerakkan tangannya di atas layer gadget, sehingga permainan Gwen terganggu.
“Singkirkan tangannya dong kak… Gwen baru kompetisi nih…” Gwen berteriak, tetapi tanpa melihat ke arah suaminya.
Barra tidak mengacuhkan teriakan istrinya, tangannya malah semakin cepat di gerak-gerakkan.
“Kak Barra tuaaa… stop it.. Biarkan Gwen bermain sebentar saja, please,.,” Kembali Gwen berteriak, dan tanpa sadar malah meledek suaminya dengan sebutan tua.
“Lahh… ini malah mengejek suaminya tuaaa... Kan dunia ini berpasang-pasangan honey.. Laki-laki dengan perempuan, kaya dengan miskin, dan tua dengan pasangan muda… Klop kan kita, hemmmph..” bukannya marah, Barra malah meledek balik.
Merasa permainannya terganggu, Gwen meletakkan gadget di samping tempatnya duduk. Tidak diduga, gadis itu memegang tangan suaminya kemudian…
__ADS_1
“Aaww… lepaskan honey… jangan jahat…” Barra berteriak, ternyata Gwen menggigit punggung tangan suaminya.
“Ha.. ha.. ha…, ternyata kak Barra cemen... ha.. ha.. ha.. hanya digigit kecil saja sudah berteriak kesakitan..” mendengar teriakan Barra, seperti memberi kebahagiaan gadis itu. Tanpa sadar Gwen berteriak kesenangan mendengar teriakan Barra.
Barra mengulum senyum dan melihat tertawa lepas istrinya. Seperti ada magnet yang menghipnotis tatapan Barra melihat istrinya. Sekian lama mereka menikah, baru kali ini Barra bisa melihat senyum dan tertawa lepas Gwen tanpa beban. Beberapa saat, akhirnya Gwen baru tersadar jika ternyata suaminya diam dan sejak tadi melihatnya, sejenak mereka beradu pandang. Tidak tahu apa sebabnya, ketika mata pasangan suami istri itu saling bertatapan, jantung Gwen seperti berdesir. Gadis itu sontak menundukkan wajahnya ke bawah.
„Honey... ijinkan aku menatap wajahmu sayang...” tapi jari tangan Barra memegang ujung dagu gadis itu. Laki-laki itu dengan sopan meminta ijin pada istrinya untuk menatap wajahnya. Ranum semburat merah muncul di pipi Gwen, dan ketika mereka Kembali bertatapan, gadis itu seperti merasa tidak sanggup untuk beradu pandang dengan laki-laki itu.
„Gwen... kamu adalah istriku, dan aku adalah suamimu. Kamu bebas melakukan apapun padaku, karena aku adalah milikmu. So... tidak perlu malu kamu beradu pandang denganku honey.. aku sangat menyukai binar indah matamu sayang...” dengan suara serak khas laki-laki, Barra bicara pada istrinya.
„Mmmppph.... „ Gwen tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Rasa malu sudah menguasai gadis itu, apalagi posisi mereka saat ini sangat dekat. Merasa suaminya tidak mengalihkan pandangan kepadanya sejak tadi, Gwen sudah merasa tidak kuat. Gadis itu tiba-tiba berdiri dan akan berlari meninggalkan suaminya, namun tangan Barra lebih cepat. Dengan sekali hentak, kedua tangan Barra sudah melingkar di pinggang Gwen, kemudian dengan kekuatannya Gwen tiba-tiba saja sudah berada di pangkuan suaminya.
„Honey... please biarkan aku melepaskan semua penatku sebentar saja..” bisik serak Barra mengisi telinga gadis itu.
Laki-laki dewasa itu seperti mendapatkan rasa kenyamanan dengan apa yang dilakukannya. Sedangkan Gwen, gadis itu tidak berani bergerak selain hanya membiarkan kepala suaminya bersandar di leher belakangnya. Ada keinginan rasa yang ingin dilanjutkan, tetapi Gwen sendiri merasa bingung dengan keinginan itu. Pasangan suami istri beberapa saat berada dalam situasi intim itu dalam diam. Tiba-tiba..
„Klek... „ tanpa permisi, tiba-tiba pintu ruangan kamar dibuka dari luar. Muncul Jacqluine yang tampak dengan mulut
membuka terkejut melihat dua orang di depannya dalam adegan intim, duduk di sofa depannya. Begitu juga dengan Barra dan Gwen, keduanya juga tidak jauh berbeda.
__ADS_1
„Apakah sikap sopan santunmu sudah hilang Jacqluine.., masuk kamar orang tanpa permisi.” Barra spontan berteriak memberi teguran pada mantan kekasihnya itu, Tatapan laki-laki itu berubah berwarna merah, menandakan jika ada kemarahan..
Gwen merasa serba salah, gadis itu menggunakan kedua tangannya mencoba melepaskan diri dari dekapan suaminya, tetapi Barra malah lebih erat memeluknya,
„Harusnya aku yang bertanya sayang… untuk apa kamu memeluk gadis ingusan seperti itu. Apa yang bisa kamu harapkan darinya sayang..” dengan tatapan sinis melirik Gwen, Jacqluine menanggapi perkataan Barra.
“Gwen adalah istriku Jacqluine.. aku sudah menganggapmu sebagai perempuan di masa lalu, ketika kamu meninggalkanku tanpa pesan. Untuk saat ini, aku adalah pasangan yang sudah menikah, jadi pupuslah rasa cintamu padaku..” dengan sikap perlindungan untuk istrinya, Barra mengakui jika mereka berdua adalah pasangan.
Hati Gwen yang semula apatis, ada keharuan melihat keberanian suaminya memberinya pengakuan pada perempuan cantik itu. Tiba-tiba muncul dorongan dari dalam diri Gwen, yang ingin menunjukkan garis batasnya pada perempuan itu.
„Kamu menyakitiku Barra... sadarkah apa yang kamu lakukan padaku malam ini.. Aku siap memberikan apapun yang kamu minta sekarang, tinggalkan gadis ingusan itu untukku...” dengan nada memohon dan mata berlinang, Jacqluine mencoba melunakkan hati laki-laki dewasa itu.
„Kak Barra sayang... untuk apa meladeni perempuan yang tidak ada sopan santunnya. Kenapa kita tidak melanjutkan hal tertunda karena kedatangannya..” tiba-tiba tidak ada angin, tidak ada hujan dengan berani Gwen bersuara.
Tangan ramping Gwen memegang wajah suaminya dengan berani, dan baru kali ini gadis itu mau melakukannya. Barra sendiri kaget, namun ada kebahagiaan di hati laki-laki itu, dan mencoba ingin mengetahui sampai dimana keberanian istrinya. Dengan berani, di depan Jacqluine, Gwen mendekatkan rahang suaminya ke arah wajahnya. Tiba-tiba yang menjadikan semua terkejut, bibir Gwen sudah menempel di bibir Barra, dan laki-laki itu tidak mau kehilangan kesempatan. Dengan cepat, Barra membuka bibirnya, dan ciuman panas dan hangat terjadi di depan pandangan Jacqluine.
“Ppppfffth….“ Gwen malah menjadi kaget dengan kejadian ini. Niat awal hanya untuk memanas-manasi perempuan yang merangsek masuk tanpa permisi itu, kali ini malah menjadi sesuatu yang membingungkan, Tubuh Gwen seperti dialiri aliran listrik, dan Barra dengan penguasaan seperti memegang kendali dengan adegan panas yang dilakukannya.
***********
__ADS_1