
Di rumah puncak bukit
Ducati yang dikendarai Gwen tampak memasuki pintu gerbang masuk ke rumah. Seperti biasa, gadis itu akan memarkir motor itu di depan teras, dan penjaga rumah yang akan membawanya masuk ke dalam garasi. Merasa Lelah dengan tugasnya yang sangat banyak, dengan lesu gadis itu masuk ke dalam ruang tamu. Tetapi baru saja memasuki ruang tamu, tatapan gadis itu melihat sesuatu yang berbeda. Tatapan Gwen menatap vas bunga yang memancarkan aroma wangi samar, dengan lily dan mawar di dalamnya.
“Hempphh… tumben sekali ruang ini harum alami seperti ini. Apakah ini ulah Kayla, karena gabut bisa mewangi dan memperindah ruangan..” gadis itu berhenti sejenak untuk menikmati harum bunga, sambil bergumam.
Ketenangan mulai memasuki pikiran gadis itu, setelah mencium aroma wangi bunga yang sebenarnya. Gwen kembali melangkahkan kaki menuju ke ruang tengah, dan kembali semerbak aroma lily dan mawar terendus di hidungnya. Mata Gwen kembali cerah melihat rangkaian bunga tersebut dalam vas bunga besar di ruang tengahnya.
“Claire.. bagus banget, dan harum sekali bunga-bunganya. Siapakah yang menyiapkannya Claire, aku sangat menyukainya..” melihat Claire yang tampak keluar dari ruang makan, Gwen bertanya pada maid keluarganya.
“Mmmmpphh… tidak tahu non.. Sejak tadi saya berada di dapur dan meja makan, malah baru tahu jika ada bunga indah seperti ini..” Claire tampak menyembunyikan sesuatu. Gadis itu tampak tidak mau memberi tahu siapa yang menyiapkan semua bunga itu.
Gwen diam dan gadis itu tampak berpikir. Kamar Kayla yang berada di dekat ruang tengah, juga tampak terkunci rapat, yang menandakan jika gadis itu tidak ada di rumah.
„Siapa yang meletakkan bunga-bunga ini. Jika itu kak Barra, itu lebih tidak mungkin lagi. Baru jam 15.00 p.m, kak Barra masih di perusahaan. Biasanya jam 16.00 p,m kak Barra baru berangkat pulang ke rumah..” pikiran Gwen masih mengembara.
Gadis itu kembali mendekati vas bunga itu, kemudian menghirup aroma wangi yang keluar dari kelopak bunga-bunga tersebut. Beberapa saat kemudian, setelah puas menikmati, dengan rasa malas Gwen berjalan menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua..
„Siapapun yang meletakkannya, aku menyukainya. Kedua bunga itu, aku sangat menyukai dari bentuk serta aroma wanginya..” sambil tersenyum, gadis itu menuju ke kamarnya.
Tapi lagi-lagi gadis itu terkejut, karena ada vas bunga besar di dekat pintu kamarnya. Perlahan Gwen mendorong pintu kamarnya, dan kembali aroma harum bunga-bunga itu menyeruak masuk ke hidung gadis itu. Dan kamarnya bertambah indah, karena banyak bunga menghias di dalamnya.
„Kamu sudah pulang honey... aku sudah menunggumu sejak tadi..” Gwen terkejut mendengar suara suaminya.
__ADS_1
Ternyata Barra menunggunya di balik pintu, dan tangan laki-laki itu membawa buket bunga.
“Mmmppph… apa-apaan ini kak.. Surprise ya, aku sangat menyukainya. Terima kasih kak…” tidak tahu mengapa, melihat suaminya memberikan bunga untuknya, tiba-tiba keharuan menghampiri Gwen.
Perlahan tangan gadis itu menerima hand buket tersebut, dan dengan mata berkaca-kaca karena haru, Gwen terus menatap kea rah suaminya.
“Hanya sekedar bunga saja honey… aku pikir kamu pasti akan menyukainya. Dan ternyata pikiranku tidak salah..” Barra mengulum senyum, satu tangannya mengusap air mata yang menggenangi kelopak mata istrinya.
Mata Gwen masih menatap mata suaminya, dan beberapa saat kemudian, pasangan suami istri itu saling berpelukan. Meskipun mereka sudah beberapa saat menjadi pasangan suami istri, namun hal-hal kecil itu membuatnya terharu.
“Kamu menyukainya sayang… aku akan sering-sering memberimu kejutan seperti ini. Hanya bunga segar saja, tetapi aku merasa sangat terapresiasi.” Barra memegang dagu istrinya. Keduanya saling bertatapan, dan tidak lama kemudian dua bibir itu sudah saling berpagut mesra. Kehausan dan kerinduan Barra terbayarkan, hanya dengan sentuhan bunga-bunga segar untuk istrinya.
**********
“Honey… aku antarkan ke kampus ya pagi ini.. Kebetulan ada yang akan aku urus di bank dekat kampusmu berada. Aku akan menyesuaikan untuk menjemputmu nantinya..” melihat istrinya bersiap, Barra menawarkan untuk mengantarkannya berangkat kuliah.
“Tapi kak Barra ga pa pa, jika ternyata ketika kak Barra menjemput Gwen, ternyata Gwen masih Bersama dengan teman-teman misalkan sedang mengerjakan tugas..” merasa khawatir jika kepulangannya tidak tepat waktu, Gwen bertanya pada suaminya.
“Hempphh… tidak apa honey, sekaligus aku bisa mengenal siapa saja teman-temanmu di kampus. Jika mengetahui jika suamimu ternyata tampan, ganteng, pasti teman laki-laki yang akan mendekatimu sudah pada menyingkir duluan..” sahut Barra sedikit menyombongkan diri.
“Hadeh kak Barra… kenapa ya suami Gwen sekarang menjadi suka sombong dan suka pamer. Apa ada yang aneh ya…” Gwen pura-pura tidak mengenali suaminya.
“Ha.. ha.. ha… sekali sekali honey.. Karena istriku yang cantik tidak pernah memujiku, ya sudahlah.. aku memuji diriku sendiri..” tanpa malu, Barra menyahuti ucapan gadis itu.
__ADS_1
Gwen tersenyum, dan gadis itu segera mengambil tas berisi laptop. Barra menghampiri gadis itu, kemudian mengambil alih ta situ dan membawanya.
“Ayolah.. kan aku sudah bilang jika akan mengantarmu ke kampus.” Tanpa ragu, akhirnya Barra merangkul bahu istrinya. Keduanya segera melangkah keluar dari dalam kamar..
Tapi ketika pasangan suami istri itu sampai di ruang tengah, terlihat Kayla sudah bersiap. Barra dan Gwen saling berpandangan melihat adiknya yang sudah berdandan cantik.
“Selamat pagi kak Barra…, kak Gwen...” gadis itu menyapa kedua kakaknya.
“Pagi Kayla… ada agendakah pagi ini. Sudah cantik seperti mau berkencan saja..” Gwen menyapa adik iparnya sambil tersenyum. Sedangkan Barra hanya melihat ke arah gadis itu.
“Iya kak… Kayla ada janji dengan Aldo. Katanya ada amniversary apa gitu, dan memintaku untuk menemaninya datang, Saat ini Kayla sedang menunggunya, Aldo sedang kea rah rumah ini untuk menjemputku..” dengan wajah sumringah, Kayla menjelaskan jika Aldo akan menjemput.
“Hempphh… nikmati harimu Kayla. Aldo anak yang baik, dan tidak bertingkah aneh-aneh. Aku mengenalmu Aldo dengan baik..” Gwen sangat mendukung adik iparnya, sama sekali tidak ada kekhawatiran pada gadis itu.
Tetapi wajah Barra malah terlihat ada rasa khawatir. Namun laki-laki itu tidak mengatakan apa yang dikhawatirkannya.
“Sudahlah honey… ayuk kita segera berangkat nanti kamu terlambat..” Barra tiba-tiba mengajak istrinya dengan tergesa.
“Baik kak… Oh ya Kayla, nikmati harimu cantik. Kami akan segera berangkat..” sebelum berangkat, Gwen menyempatkan diri untuk berpamitan dengan adik iparnya itu.
“Yoi kak Gwen… take care..” sahut Kayla.
Barra sudah berjalan lebih dulu dari istrinya. Laki-laki itu segera membuka pintu mobil, dan menunggu istrinya. Tidak lama kemudian, Gwen datang dan langsung masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil itu meninggalkan rumah tersebut.
__ADS_1
*********