Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 39 Kembali ke Rutinitas


__ADS_3

Singapore Changi Airport,


Andrew mengantarkan keponakannya sampai di bandara Changi, namun karena kesibukannya laki-laki itu bisa menemani Gwen terbang kembali ke Jakarta. Gwen mengajak Asep dan Aldo untuk terbang bersama, dan private jet keluarga papa Aldo akhirnya dibatalkan keberangkatannya. Dalam perjalanan menuju ke lapangan terbang, rombongan Gwen bertemu dengan Chakra dan kedua orang tuanya. Mereka juga akan terbang kembali ke pulau Bali, dengan menggunakan penerbangan komersil.


"Maybe next time... jika aku ke Jakarta, diperbolehkan mampir ke tempat tinggalmu kan Gwen..." Chakra tampak memohon pada Gwen, ketika mereka akan berpisah masuk ke pintu keberangkatan. Untuk private jet dan penerbangan komersil memang memiliki tempat tunggu yang berbeda.


"Pasti Chakra... mampirlah, tidak mungkin bukan jika aku menolak tamu. Pepatah mengatakan tamu adalah rezeki, so.. tidak mungkin bukan jika aku menolak rejeki.." Aldo tampak menatap tajam ke mata Chakra, seakan memberi peringatan. Padahal Gwen sendiri tampak santai menanggapi permintaan wajar itu,


Melihat bagaimana sikap anak-anak muda itu, Andrew tersenyum masam. Memang bukan masanya lagi, namun melihat senyum natural dari bibir keponakannya, tiba-tiba saja hati laki-laki itu mendadak menjadi berdegup. Ada sedikit penyesalan, karena dirinya ikut campur tangan dalam pernikahan antara Gwen dengan Barra sahabat baiknya. Senyum natural Gwen yang sudah beberapa waktu hilang, malam ini dapat dilihat lagi oleh laki-laki itu.


"Apakah aku telah keliru, salah langkah mengatur pernikahan ini...? Gwen tampak alami dan natural ketika berkumpul dengan teman-teman seusianya, dan ketika ada Barra di rumah, senyuman seperti lenyap dari bibir keponakanku itu.." sambil menatap keponakannya, Andrew berpikir sendiri.


Pandangan Andrew tidak mau beralih menatap keponakannya, yang terlihat sangat ceria ketika sedang berbincang dengan teman sebayanya. Laki-laki itu juga menatap, ada rasa jealous dan rasa kepemilikan Aldo terhadap keponakan yang sangat disayanginya itu. Namun... sepertinya Gwen hanya menganggap Aldo sama seperti teman-temannya yang lain. Tiba-tiba Andrew melihat Aldo mendekati keponakanya, dan...


"Gwen... sepertinya kita segera masuk ke ruang tunggu saja. Kasihan pilot dan pramugari jika terlalu lama menunggu.." untuk menjauhkan Chakra dari gadis yang yang dicintainya itu, Aldo memecah perbincangan antara Chakra dan Gwen. Andrew tersenyum melihatnya, dan sengaja membiarkan hal itu terjadi meskipun tahu jika keponakannya itu sudah memiliki suami.


"Emmph... benar Aldo.. oh ya Chakra, tante.., Om.., Gwen masuk ke pintu sebelah ya. Karena jurusan kita berbeda, jadi kita juga masuk ke pintu beda pula.." akhirnya Gwen menuruti keinginan Aldo,

__ADS_1


"Baik nak Gwen... next time, kamu dan Chakra pasti akan jumpa lagi. Bye... Gwen..." papa dan mama Chakra tersenyum dan melambaikan tangan mereka,


Aldo menarik pergelangan tangan Gwen, kemudian laki-laki itu menggandeng Gwen dan membawanya ke pintu masuk. Terlihat Andrew melambaikan tangan, tampak memanggil seseorang. Tidak lama kemudian, tampak petugas berpakaian dinas, datang ke arah laki-laki dewasa itu.


"Siap tuan Andrew... apa yang bisa saya bantu..?" laki-laki itu ternyata sudah kenal dengan Andrew, dan langsung menyapa laki-laki itu.


"Atur agar private jet yang membawa keponakanku dapat terbang duluan. Kendalikan traffict kepadatan penerbangan malam ini.." dengan tegas, Andrew ternyata meminta petugas itu untuk mempercepat private jet untuk segera take off.


"Siap tuan Andrew.. semua bisa diatur.." petugas tadi tersenyum dan menganggukkan kepala. Tidak lama kemudian, petugas itu meninggalkan Andrew dan terlihat menghubungi seseorang dengan ponsel di tangannya.


"Gwen... langsung turun ke lapangan terbang, private jet akan segera take off. Om hanya bisa menemanimu sampai disini," setelah melihat petugas itu mengatur semuanya, Andrew memanggil Gwen.


"Selamat jalan Gwen.. kasih kabar Om jika sampai di rumah. Tidak boleh mampir kemana-mana, langsung istirahat..." Andrew mengucapkan selamat jalan,


"Baik Om... Gwen dan rombongan berangkat dulu ya Om.. " setelah keduanya berpelukan, Gwen segera kembali membalikkan badan. Rombongan gadis itu segera turun menuju ke lapangan terbang.


***********

__ADS_1


Hari Senin


Tanpa berpikir apapun, Gwen dengan semangat kembali ke sekolah seperti biasanya. Tetapi baru saja gadis itu membawa Ducati nya akan masuk ke pintu gerbang, gadis itu terkejut. Terlihat baliho, dan beberapa spanduk mengucapkan selamat atas prestasi yang telah diperolehnya. Namun hal tersebut tidak membuat Gwen menjadi besar kepala, gadis itu malah geleng-geleng kepala, dan segera mengarahkan motornya ke tempat parkir untuk siswa sekolah tersebut.


"Hemppphh... betul-betul pemborosan. Untuk apa banyak sampah terpasang di setiap sudut sekolah..." setelah turun dari atas Ducati nya, sambil berjalan Gwen geleng-geleng kepala melihat banyak juga banner terpasang di koridor sekolahnya.


"Selamat pagi Gwen... selamat ya, congratulation atas prestasinya.. Kamu memang membanggakan sekolah kita," baru saja gadis itu akan menuju ke arah kelasnya, Ketua Osis dengan beberapa pengurus OSIS di belakangnya, menyambut kedatangan, dan mengucapkan  selamat kepadanya,


Gwen hanya menarik satu sudut bibirnya ke atas, sama sekali tidak merasa bangga dengan pemberian ucapan tersebut, Malah dalam hati, jika bisa akan menutup mulut semua orang yang tampak mengelu-elukan, dan menatapnya dengan penuh kekaguman,


"Tidak adakah topik lain yang bisa dibicarakan Antok... Jujur ya, aku tidak suka dengan kata sambutan seperti itu., Natural saja, semua orang pasti juga akan bisa meraih hal yang sama, hanya saja mereka tidak diberikan kesempatan. Aku ke kelas dulu ya..." bukannya sombong, Gwen memang tidak menyukai hal-hal seperti itu, Bagi gadis itu, menang dan kalah tidak akan berpengaruh banyak pada dirinya,


"Okay.. okay Gwen... jangan salah sangka, Merupakan kewajiban untukku dan teman-teman anggota Osis lainnya untuk memberikan apresiasi kepadamu. Bahkan kami minta kesediaanmu untuk memberikan motivasi pada adik-adik kelas untuk mengikuti jejakmu..." Ketua OSIS bernama Antok itu mencoba mengambil hati Gwen,


"Apakah tidak mendengar kata-kataku Antok, sorry ya.., aku harus ke kelas. Sudah satu minggu lebih, aku bolos, so.. aku harus kejar ketertinggalan materi pelajaran. Bye..." karena tidak suka dengan sikap Antok, Gwen segera melanjutkan langkah kaki menuju ke kelas tercinta. Gadis itu tidak mempedulikan niat baik dari Antok, dia hanya berpikir jika OSIS dan pengurusnya bersikap lebay padanya.


Antok dan beberapa anggota Osis hanya bisa menatap punggung Gwen dan mendengus kesal. Mereka mengira jika gadis itu sombong. Akhirnya tanpa banyak bicara, mereka segera ikut membalikkan badan, dan berjalan meninggalkan tempat itu,

__ADS_1


************


__ADS_2