
Hari-hari berikutnya…
Gwen dan semua teman-temannya sudah selesai mengurus keperluan untuk wisuda. Gadis itu menjadi lebih santai, dan tinggal menunggu acara ceremony pelepasan wisudawan. Bagi Gwen sendiri, acara ceremony tidak penting, dan yang menjadi beban pikiran gadis itu adalah apa yang akan dilakukan jika sudah benar-benar status sebagai mahasiswa finish. Dalam hati, Gwen ingin mengaplikasikan ilmu yang sudah diperolehnya dengan bekerja. Namun pasti keinginan itu akan bertolak belakang dengan keinginan suaminya.
“Lagi ngapain kak… lagi Off ya..” melihat Gwen yang hanya duduk di pinggir kolam sambil melihat Bareeq dan Tareeq berenang, Kayla bertanya pada kakak iparnya,
Gwen menoleh ke belakang, dan tersenyum melihat Kayla yang berdiri di belakangnya.
“Duduk sini Kay…, kebetulan urusan kakak di kampus sudah kelar. Yah.., tinggal nunggu wisuda saja, bagaimana dengan kamu sendiri, apakah tidak ada jadwal hari ini..” Gwen balik bertanya.
Kayla menuju ke samping Gwen, dan duduk di samping kakak iparnya. Dari dalam kolam renang, Bareeq dan Tareeq melambaikan tangan pada Aunty nya, dan gadis itu membalasnya. Terlihat ada coach pria yang mendampingi kedua anak itu berenang.
“Tidak ada jadwal kak, diganti penugasan mandiri. Barusan Kayla selesai mengerjakan, dan sudah unggah di Google Drive.” Kayla menjawab pertanyaan kakak iparnya, dan gadis itu mengeluarkan ponsel dari dalam saku bajunya.
Gwen tersenyum, dan kembali menatap ke arah kedua putranya.
“Mommy…. Tareeq sudah bisa menyelam dengan menahan nafas lebih lama…” dari kolam renang, Tareeq memamerkan pencapaiannya.
„Bagus putra-putra mommy.. Kapan-kapan jika ada waktu, kita bisa mencoba untuk diving di lautan nak. Mommy janji... Kita bisa berkunjung di lautan yang ada di Indonesia.. ” Gwen mengapresiasi pencapaian putra-putranya.
„Love you momm..., kami sangat senang mendengarnya ” kedua anak kecil itu terlihat senang. Keduanya kembali menyelam, dan coach yang mendampinginya dengan cermat mengawasi.
Kayla tersenyum setiap kali melihat interaksi kakak ipar, maupun kakak kandungnya dengan kedua putra mereka. Ada kekaguman atas interaksi harmonis mereka, dan tanpa sadar Kayla berharap akan bisa menyamai mereka, Ketika nantinya sudah menikah.
“Oh ya kak Gwen… by the way, tanpa sengaja kemarin Aldo dan Kayla bertemu dengan Andy dan Mike ketika kami jalan ke mall.” Tiba-tiba Kayla menyinggung Andy pada kakak iparnya.
Gwen terdiam, dan teringat dengan triks menjijikkan dari anak mud aitu beberapa waktu yang lalu. Tapi akhirnya Gwen hanya menghela nafas, dan hal itu tidak lepas dari penglihatan adik iparnya.
__ADS_1
“Maaf kak, jika tanpa sadar pertanyaan Kayla mengingatkan dengan kejadian buruk beberapa tahun lalu. Abaikan saja..” Kayla terlihat khawatir, dan melihat dengan tatapan prihatin pada diri Gwen.
Tapi di luar dugaan, Gwen malah tersenyum dan memegang kedua bahu Kayla kiri dan kanan.
“Kayla.., tidak perlu untuk menyimpan dendam. Semua ada pembelajaran dan hikmah yang diambil. Bukankah dengan kasus itu, hubunganku dengan kak Barra baik-baik saja Dan aku bisa memastikan, jika suamiku kak Barra betul-betul tulus menyayangi dan menungguku.” Ucap Gwen pelan.
“Jadi kak Gwen memaafkan sikap licik Andy ya… Kayla semakin kagum dengan kakak, karena tidak semua orang akan dengan mudah memaafkan. Apalagi kak Barra sampai terpisah dengan kak Gwen beberapa tahun. Bahkan kak, sebagai adik kakak, Kayla saja sangat membenci Andy, dan mengutuk sikap anak itu.” Tidak diduga, Kayla malah masih merasa jengkel dengan tindakan Andy di masa lalu,
„Lupakan saja Kayla, bersihkan hati kita dari negative thinking. Jika kita bisa melakukannya, hati kita malah menjadi lebih tenang. Perasaan kita akan lega, dan tidak akan dihantui oleh bayang-bayang.. Kita sama-sama belajar dengan kebesaran hati yang ditunjukkan kak Barra dalam kasus ini. ” Gwen melanjutkan.
Kayla terharu dan memeluk tubuh kakak iparnya dengan erat,
“Terima kasih kak Gwen… meskipun usia kita ini sama. Tapi bagiku, kak Gwen tetap idolaku..” sambil tersenyum, Kayla memuji kakak iparnya. Gwen ikut tersenyum menatap adik iparnya.
********
Barra memberi kecupan ke kening istrinya, begitu laki-laki itu masuk ke kamar. Laki-laki itu baru saja pulang dari tempat kerjanya, karena harus lembur sampai malam. Kedatangan tim audit, membuat laki-laki itu harus pulang malam.
“Capai kak… jam segini baru sampai rumah..?” Gwen segera beranjak dari posisi duduknya.
Gadis itu segera membantu suaminya untuk melepaskan dasi dan kancing kemeja Barra. Hal-hal kecil seperti itu, selalu dilakukan oleh Gwen, dan Barra sangat menyukainya.
“Capai banget honey… hanya saja melihat keberadaan istriku yang menyambutku pulang. Semua lelah ibarat lenyap begitu saja honey… I miss you..” Barra kembali memberikan kecupan di pipi Gwen.
“Hempphh… kak, mulai deh. Sudah sana mandi saja gih… Gwen buatkan minuman hangat untuk kak Barra..” merasa khawatir jika suaminya berlaku aneh-aneh, Gwen mendorong dada suaminya untuk menjauh.
“Ha… ha.. ha.., takut sekali honey dengan suamimu ini. Tenang sayang… aku tidak akan memakanmu malam ini,” dengan usil, sebelum melangkahkan kaki menuju kamar mandi, Kembali Barra mencium pipi kanan istrinya.
__ADS_1
Gwen pura-pura cemberut, dan Barra malah tertawa keras. Gadis itu akhirnya tersenyum, kemudian keluar dari dalam kamar untuk menyiapkan minuman hangat. Melihat masih ada Kayla di ruang tengah, Gwen berhenti sebentar.
“Sudah jam segini, kamu belum tidur Kay...?? Apa ada acara yang menarik di televisi, sampai kamu minta Claire untuk menemanimu..” Gwen bertanya pada kakak iparnya.
“Mmmppphh… tidak kak, baru saja Kayla terbangun kak..” gadis itu seperti menutupi sesuatu.
Tapi Gwen merasakan ada yang janggal dari reaksi adik iparnya itu. Gadis itu mengamati raut wajah Kayla, kemudian..
“Kay.., kamu menyembunyikan sesuatu ya.. Ada apa, ceritakan saja, jangan ragu padaku.” Gwen berusaha mencari tahu.
Kayla terkejut dengan respon kakak iparnya, tapi Kayla takut untuk menyampaikan apa yang membuatnya khawatir.
„Aku akan ke dapur untuk membuatkan ginger tea untuk kak Barra terlebih dulu. Setelah itu, aku akan Kembali menemuimu Kay.. Aku harap kamu tidak menyembunyikan sendiri masalahmu. Katakan padaku, aku berjanji untuk membantumu memberikan solusi..” karena teringat apa yang akan dilakukannya, Gwen akhirnya meninggalkan Kayla sendiri..
Gwen segera ke dapur, dan dengan cekatan mengambil ginger tea bag, kemudian menyeduhnya dengan air panas. Satu sachet sendok gula, dibubuhkan ke dalam cangkir. Setelah memastikan rasanya pas, gadis itu segera membawa cangkir kembali ke dalam kamarnya.
“Ingat Kay… tunggu kakak sebentar. Aku akan mengantarkan minuman ini dulu ke kamar.” Untuk mengantisipasi agar Kayla tidak meninggalkannya, Gwen berpesan pada gadis itu.
„Baik kak..” Kayla terlihat tidak berdaya menanggapi kata-kata kakak iparnya.
Tanpa banyak bicara, Gwen segera melangkahkan kaki menuju ke dalam kamar. Terlihat jika suaminya sudah selesai mandi, dan tersenyum ketika melihatnya datang. Aroma sabun mandi menyeruak masuk ke hidung Gwen, berpadu dengan aroma maskulin suaminya. Gwen sedikit bergetar menghirup aroma itu sesaat, tapi gadis itu segera ingat jika ada janji dengan Kayla.
„Ini tehnya kak, Gwen akan keluar dulu ya. Mau menemui Kayla, sepertinya ada yang mau dibicarakan oleh gadis itu..” Gwen segera berpamitan.
„Pergilah, aku akan segera meminumnya honey.” Tanpa ada pertanyaan, Barra mengiyakan.
*********
__ADS_1