
Pagi harinya, Ketika teman-temannya masih terlelap tidur, Barra dan Gwen sudah mengajak kedua putranya untuk berjalan-jalan di sekitar villa. Bareeq dan Tareeq betul-betul terlihat sangat excited.., dan sangat menikmati kebersamaan dengan papa dan mommy nya. Sepanjang perjalanan, banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh dua bocah kecil itu.
“Mommy.. patung itu indah, tapi kenapa seperti terbuat dari pipa baja Mommy..” tiba-tiba Bareeq bertanya tentang patung composer, yang terlihat dari jalanan yang mereka lewati.
“Iya sayang… sebenarnya patung Sibelius itu dibuat untuk memberikan penghargaan, pada seorang composer, jika tidak salah Namanya Jan Sibelius. Di negara Finlandia, composer ini betul-betul mendapatkan penghargaan.” Gwen memberikan tanggapan,
“Benar yang dikatakan mommy sayang… dan papa beruntung bisa mendapatkan property di sekitar taman ini. Tempatnya sejuk, dan karena berada di ketinggian, kita memilik view yang sangat bagus. Bisa melihat laut, melihat kota, hanya dengan duduk di sekitar villa..” Barra ikut menambahkan,
Kedua bocah itu tersenyum, kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar tempat mereka berada. Taman Sibelius ini, termasuk mudah untuk ditemukan, dan memiliki lahan parkir di sepanjang jalan. Patung pusat dikelilingi oleh teras, halaman rumput, dan penanaman, dan dari kejauhan monumen itu tampak seperti pegunungan abstrak. Puncak patung adalah tabung berbagai ukuran yang mencerminkan suara mereka yang berkunjung. Patung komposer ada di dinding yang berdekatan. Tidak hanya desainnya yang memukau, tetapi juga merupakan ruang terbuka hijau yang indah untuk dinikmati seluruh keluarga.
“Besok, jika Bareeq dan Tareeq sudah besar, kami pasti juga akan hebat seperti papa.. Iyakah Tareeq.., kita akan bisa menyamai papa, memiliki perusahaan, dan juga banyak property...” sahut Bareeq meminta persetujuan Tareeq.
“Benar Bareeq.. Tareeq setuju dengan pendapat itu..” Tareeq ikut menimpali,
Gwen tersenyum, kemudian mengusap pucuk kepala kedua putranya. Barra juga ikut tersenyum, kemudian menundukkan tubuhnya dan menggendong kedua anak kembar itu, satu di masing-masing pinggangnya.
“Papa…, kita beli sarapan di kios depan dulu ya... Sepertinya pemilik baru saja membuka kiosnya, pasti bread masih dalam keadaan hangat..” melihat ada kios penjual bread sedang dibuka, tiba-tiba Gwen mengajak suaminya untuk berkunjung ke tempat itu.
„Okay.. kita sarapan dulu. Biar nanti yang masih pada tidur, sarapan di villa saja..” Barra segera membawa kedua putra dan istrinya masuk ke kios yang menjual berbagai macam bread,
“Hey… selamat datang… kalian tamu pertama kedai kami.. Silakan masuk..” pemilik outlet dengan ramahnya, menyambut sendiri kedatangan empat orang itu.
__ADS_1
Barra segera memilih tempat duduk, yang memiliki view langsung ke depan. Laki-laki itu mendudukkan kedua putranya, dan setelah Bareeq dan Tareeq duduk, Gwen segera mengikuti duduk di samping kedua putranya. Barra tidak mau ketinggalan, bukannya mengapit kedua putranya, tetapi laki-laki itu malah duduk di samping istrinya.
“Tuan… siapkan pie apple, burn cheese, hot chocolate 2, hot lemon tea 2 juga.. Juga sandwich dengan isian daging asap, dan mayonnaise ya..” Gwen memesan makanan dan minuman untuk keluarganya.
“Baik nyonya.. tuan, mohon tunggu sebentar. Kebetulan pie apple masih di microwave, kami akan menyiapkan minumannya dulu..” pemilik kios yang perempuan terlihat segera menyiapkan apa yang dipesan oleh pelanggannya.
“Ternyata dari tempat ini, bagus juga pemandangan di bawah.. Lihatlah ke depan, meskipun laut Baltic tidak terlihat, tapi bisa melihat kota Helsinki dari atasm sangatlah indah..” Gwen menunjuk ke arah bawah.
„Benar honey.. yang penting istriku tercinta, dan dua putraku senang berada di villa ini.. Kita bisa rutin untuk mengatur jadwal, berapa hari kita tinggal disini, dan kapan lagi kita akan pindah ke rumah di puncak bukit.” Barra menanggapi.
Keluarga kecil itu betul-betul sangat menikmati hal-hal kecil yang membuat mereka bahagia, dan saling melengkapi. Apa yang muncul dalam pikiran salah satu anggota keluarga, yang lainnya ikut menyetujui,
***********
“Kalian dari mana saja..??” dengan ramah, Novi menyapa.
„Jalan keliling sekitar sini saja Nov… Sorry aku tidak mengajakmu, karena tadi aku lihat pintu kamar masih tertutup semua, jadinya kita jalan berempat..” Gwen menjawab.
“Aku dan Frans betul-betul kagum dengan pemandangan di sekitar villa ini Gwen… Kalian berdua pintar memilih lokasi untuk dibangun villa ini.. Desain interiornya juga mantap, ada kesan hangat Ketika berada dalam rumah kalian..” Novi menyampaikan kekagumannya.
Barra tersenyum dan melihat kea rah Gwen. Tapi laki-laki itu sangat mengenal istrinya, jika tidak akan pernah menunjukkan diri, jika dia salah satu pencipta desain di villa yang mereka tempati saat ini.
__ADS_1
“Berikan pujian pada istriku Novi... aku hanya membangun fasad villa saja. Tapi semua interior, desainnya digarap sendiri oleh Gwen.. Dan mungkin, Tuhan menjodohkan kami untuk menjadi satu kufu, karena ternyata selera istriku, sama persis juga dengan seleraku..” sambil tetap memandang istrinya, Barra memberikan tanggapan atas kekaguman Novi,,
“Wow… sangat mengagumkan sekali, kita bisa create sendiri sesuatu yang sangat berarti untuk rumah kita sendiri. Kapan-kapan aku dan Novi, mungkin bisa gunakan jasamu Gwen... karena rencana ada beberapa cabang baru dari toko oleh-oleh Novi akan kita dirikan.” Frans menyambung pembicaraan.
“Bener Gwen… kita bisa bekerja sama. Aku akan tawarkan karya desainmu pada circle pertemananku..,” Novi tampak bersemangat.
Gwen tersenyum malu, karena selama ini dia memang sering membuat karya desain untuk perusahaan dan rumah-rumah juga, hanya saja belum ada teman yang menggunakan karyanya.
„Terima kasih Nov... Frans, untuk tahap awal kalian mengenalkan karyaku, kamu bisa masuk ke Linktree, gunakan akunku. Kalian akan bisa melihat karya-karyaku terpajang disana,” Gwen akhirnya menyambut baik tawaran itu.
„Okay Gwen... pasti kita akan langsung berselancar ke sana, dan langsung unggah link nya di grup-grup media sosial kami..” Barra tersenyum melihat teman SMA istrinya itu, memiliki ketertarikan dengan karya desain istrinya.
Laki-laki itu memang selama ini melarang jika istrinya bekerja di perusahaan, karena rasa khawatir jika istrinya merasa ter pressure dan kecapaian. Tapi dengan passion yang dimiliki oleh istrinya, ternyata ada manfaat yang bisa dirasakannya sekarang.
“Kita masuk ke dalam rumah dulu yukk... kita lihat dulu di meja makan, maid menyiapkan masakan apa..” merasa tidak enak jika mendapatkan kesan menelantarkan tamu, Gwen mengajak pasangan suami istri itu untuk masuk ke dalam rumah.
“Bareeq.. Tareeq, langsung mandi ya.. Baru boleh bermain play station..” melihat kedua putranya berjalan lebih dulu, Barra memberikan perintah pada dua bocah itu,
“Okay papa,” sahut Bareeq, dan kedua bocah itu segera masuk ke dalam rumah,
************
__ADS_1