
Hari Sabtu
Seperti yang sudah dikatakan pada Josephine, pada hari Sabtu pagi, Hans sudah tampak bersiap. Meskipun tidak ada kelanjutan pembicaraan dengan gadis itu, tetapi Hans bisa mendapatkan informasi tentang tempat tinggal gadis itu dari rekan kerjanya. Mengenakan celana jeans, kaos polo dilengkapi sweater, dan sepatu kets, Hans Bersiap masuk ke dalam mobilnya. Sebuah buket bunga mawar segar tergeletak di kursi belakang, dan laki-laki itu tersenyum melihatnya.
“Hempphh… meskipun sejak pembicaraan kita terakhir, aku dan Joshie belum lagi bertegur sapa, tetapi aku akan memberinya kejutan untuknya pagi ini. Aku sudah mendapatkan alamatnya, dan tidak akan lama lagi sudah akan sampai ke tempat tinggalnya.” Hans berbicara sendiri.
Laki laki itu kemudian menyalakan mesin mobilnya, dan perlahan kemudian, mobil itu keluar dari halaman tempat tinggalnya. Ketika mengetahui putranya akan bekerja di Helsinki, papa Hans membelikan putranya sebuah rumah untuk ditempati. Dan tidak ada alasan untuk menolak, karena bisa diminta untuk Kembali lagi ke negara Denmark.
“Untung masih pagi, jadi jalanan lumayan sepi. Aku tidak terjebak macet..” dengan santai Hans mengemudikan mobil mengikuti petunjuk arah yang ditunjukkan via maps pada layar mobilnya.
“Wow… orang pada berolah raga pagi dengan keluarganya. Semoga saja aku bisa membawa Josephine olah raga seperti itu denganku.” Melihat banyak orang memanfaatkan waktu pagi di hari libur, dengan berolah raga, Hans berkomentar.
“Tapi, kira kira Joshie sudah memiliki kekasih belum ya.. Aku belum begitu mengenalnya, karena di balik sikapnya yang selalu cekatan dan periang, gadis itu begitu tertutup. Aku harus ekstra keras mengeluarkan tenaga untuk bisa mendekatinya.” Hans terus berbicara sendiri.
Dalam pikiran laki laki itu saat ini, semua dipenuhi tentang pikiran Josephine. Sampai tanpa sadar, Hans tersenyum sendiri, Ketika membayangkan senyuman yang diberikan Josephine setiap pagi kepada dirinya. Padahal bukan hanya untuknya sendiri, senyuman gadis itu setiap pagi selalu diedarkan kepada semua karyawan Batarsheen Elegance Interior.
“Sepertinya bangunan tinggi menjulang itu tempat tinggal Joshie. Mungkin, Joshie mencari uang sewa yang sedikit lebih murah, sehingga mau tinggal di area yang terkenal dengan kekumuhannya ini.” Melihat bangunan apartemen tua di depannya, Hans bergumam sendiri.
Meskipun ada kekhawatiran dalam tatapan matanya, namun laki-laki itu tetap bertekad, Hans terus mengarahkan mobilnya memasuki pintu gerbang apartemen. Terlihat ada dua petugas keamanan yang mencegat mobilnya, mungkin melihat mobil mewah itu masuk, mereka meragukannya. Tanpa banyak bicara, Hans menghentikan mobil dan membuka kaca jendela di sampingnya.
__ADS_1
“Excuse me… jika kami boleh tahu, untuk keperluan apa kedatangan Tuan kemari..” seperti pertanyaan yang sudah terstandar, petugas keamanan itu bertanya pada Hans.,
“Saya ingin bertemu dengan karyawan di tempat saya bekerja, Namanya Josephine. Apakah kalian bisa membawaku untuk bertemu dengannya..” tidak mau banyak berdebat, Hans menggunakan identitas pekerjaan untuk bertemu dengan Joshie.
Tampak dua orang itu saling berpandangan, dan berbicara dengan nada pelan. Tapi kemudian..
“Okay.. parkirkan mobil Tuan dengan camp ini, karena akan jauh lebih aman dibandingkan jika parkir di dekat bangunan. Aku akan mengantar Tuan..” akhirnya satu dari dua orang itu bersedia untuk mengantarnya.
Hans tersenyum dan menganggukkan kepala, dan setelah mengucapkan terima kasih, laki-laki itu segera memarkirkan mobil di tempat yang sudah ditunjukkan oleh petugas keamanan tersebut. Tidak lama kemudian, Hans sudah turun dari mobil, kemudian mengunci mobilnya menggunakan remote, dan berjalan mendekati petugas keamanan yang sudah menunggunya.
**********
Hans terengah engah berjalan mengikuti petugas keamanan itu menuju ke lantai empat, hanya menggunakan tangga. Tidak ada fasilitas lift pada apartemen tua itu, karena lift sudah lama rusak, dan penghuni tidak memiliki dana untuk memperbaiki. Hampir semua yang berpapasan dengan mereka di jalan, menatap serius pada penampilan Hans. Mungkin sangat jarang, penghuni di apartemen mendapatkan kunjungan, dari orang yang berpenampilan mewah seperti Hans.
„Hanya belum terbiasa saja tuan, aku istirahat sebentar untuk mengambil nafas.” Hans menjawab dengan terengah engah.
Petugas keamanan itu tersenyum dan menunggu Hans. Tangan laki laki itu terangkat, mengusir dengan penghuni apartemen yang melihat ke arah mereka. Hans sendiri sudah tidak bisa berpikir jernih, karena tidak terbiasa menaiki tangga sampai empat lantai.
“Ayolah Tuan.. stamina saya sudah Kembali..” setelah bisa kembali mengatur pernafasannya, akhirnya Hans kembali mengajak laki-laki itu berjalan.
__ADS_1
Mereka kembali menaiki anak tangga satu persatu dengan santai, dan sesekali mereka berpapasan dengan penghuni yang naik dan turun tangga tersebut. Tidak lama kemudian.., mereka akhirnya sampai di lantai empat.
„Tuan Hans... kamar yang ditempati Miss Josephine dan adiknya ada di sudut lantai ini. Tuan bisa datang kesana sendiri, saya tidak akan ikut campur dalam perbincangan tuan.” Tiba tiba petugas keamanan itu berhenti, dan menunjukkan arah menuju ke ruangan yang ditinggali gadis yang sedang dicarinya.
“Baiklah tuan…” tangan Hans merogoh saku bajunya, dan menemukan ada uang lembaran 50 euro, dan menyerahkan ke tangan petugas keamanan itu.
“Ini untuk membeli rokok Tuan, ternyata hanya ada itu di saku baju saya. Terima kasih bantuannya..” wajah petugas keamanan itu tampak berbinar, dan tanpa ragu menerima uang dari Hans.
“Terima kasih Tuan, dan selamat berjumpa dengan miss Joshie.”
Hans bergegas berjalan meninggalkan tempat itu, dan petugas keamanan itu tidak segera turun. Laki laki itu sepertinya memastikan sampai Hans bisa bertemu dengan Josephine, karena ragu dengan penghuni apartemen ini. Tanpa pantauannya, bisa jadi Hans malah akan menjadi bulan bulanan dari para penghuni apartemen, yang nota bene mereka tergolong hidup di bawah garis kemiskinan.
Di sebuah pintu ruangan yang ada di pojok, Hans berhenti. Laki laki itu mengeluarkan ponsel, dan terlihat seperti mencocokkan nomor ruangan tempat tinggal Josephine. Setelah yakin, jika ruangan di depannya itu adalah ruangan tempat Josephine tinggal, Hans kembali memasukkan ponsel ke saku bajunya. Dengan yakin, laki laki itu mulai menekan bel pintu yang ada di depannya.
“Tet.. tet… tet..” setelah bel berbunyi, Hans masih beberapa saat menunggu di depan pintu. Namun tidak terdengar ada respon dari dalam ruangan.
“hempph… apakah Joshie sedang tidak ada di tempat ya.. kesalahanku juga sih, datang kesini tanpa memberi tahu kepadanya.” Hans berbicara sendiri, dan melihat ke arah buket bunga yang ada di tangannya.
“Tapi aku perlu mencobanya sekali lagi, siapa tahu Joshie sedang repot di dalam..” Hans kembali memantapkan hatinya.
__ADS_1
Perlahan Hans Kembali menekan bel pintu. Tidak lama, terdengar langkah kaki mendekat ke arah pintu, dan jantung Hans seperti berhenti berdegup.
*********