Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 84 Kebaikan Keluarga Aldo


__ADS_3

The Intercultural School


Sesampainya di Indonesia, dengan lesu Aldo ditemani Asep dan Raffi Kembali menjalankan rutinitas hari-harinya di sekolah. Karena mereka sudah menyelesaikan Ujian Kelulusan, dan beberapa sudah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, sudah tidak banyak kegiatan seperti dulu. Kelas terlihat sepi tanpa kehadiran Gwen di kelas, dan ketiga anak mud aitu menutup rapat informasi jika Gwen sudah memiliki seorang suami,


„Aldo... jadi kamu melihat ya, ketika Gwen mendapatkan trophy kejuaraan di Olimpiade yang diselenggarakan di New York..” mata Novi tampak bersinar, sejak tadi gadis itu menatap takjub pada trophy dan sertifikat kemenangan Gwen yang akan didokumentasikan di sekolah.


„Hempph... jika Aldo dan kami tidak ada disana, bagaimana apa yang kamu lihat itu bisa berada di kelas ini Nov... Pastilah, kemanapun Aldo pasti akan selalu ada untuk Gwen..” Asep menanggapi pertanyaan Novi.


“Hi.. hi… benar juga kamu Sep... Kamu sangat beruntunglah... bisa mendapat mukjizat berkunjung ke New York, setelah bulan lalu menemani Aldo ke Singapura. Coba itu aku, pastilah aku sudah akan berkeliling Eropa sekalian...” Novi menimpali jawaban Asep.


Tatapan iri dan kekaguman terlihat di mata gadis itu, juga di mata teman-teman sekelas Aldo dan Asep. Mereka tahu bagaimana kedekatan dua anak muda itu, karena kemanapun Aldo pergi, Asep pasti selalu memberikan layanan pada anak muda itu,


„Bukan hanya kamu Nov... akupun juga mau. Tapi yah... bukan hoki kita. Raffi dan Asep yang mendapatkan hoki untuk mendampingi Aldo. Tapi… by the way.,, kenapa Gwen tidak ikut pulang bersama dengan kalian.. Bukankah Gwen harus menyelesaikan pembuatan ijazah dan lain-lain, barulah bisa pergi dari Indonesia…” dari tempat duduknya, Robert ikut berkomentar,


Asep seketika diam mendengar pertanyaan itu, akan menjelaskan tapi takut keliru. Anak mud aitu melirik ke arah Raffi, dan anak itu hanya mengangkat dua bahunya ke atas. Kemudian terakhir, Asep mencoba meminta bantuan pada Aldo agar menjawab pertanyaan dari teman-teman mereka.

__ADS_1


“Banyak cara di era teknologi seperti ini untuk mengurus keluarnya ijazah. Aku yakin Gwen dan keluarganya sudah memikirkan dan menyiapkan mereka. Alasan Gwen tidak ikut kembali bersama kami, dikarenakan gadis itu harus mengikuti test kompetensi untuk bisa masuk di perguruan tinggi yang ada di Finlandia. Kita tidak perlu memikirkannya, apalagi merasa iri pada keberuntungan gadis itu.” Akhirnya Aldo menjawab pertanyaan yang dilontarkan Robert,


Namun ada perasaan garing dari jawaban yang dikeluarkannya. Hanya ingin tetap melindungi dan menjaga nama baik gadis yang dicintainya saja, yang menjadi alasan bagi anak muda itu. Selepas menjawab, Kembali pandangan Aldo menjadi kosong, dan anak muda itu kembali melamun.


“Raffi… apa yang terjadi dengan Aldo.. Aku lihat sejak anak itu datang tadi pagi, lebih banyak melamun dan tidur di


mejanya. Bahkan ketika bel istirahat berbunyi, Aldo yang biasanya paling bersemangat menuju ke *food court, *menjadi lebih malas…” menyadari sikap Aldo yang berubah, Alana menyenggol Raffi, bertanya tentang Aldo.


“Tidak ada apa-apa Lan... Aldo hanya kecapaian saja, Menempuh perjalanan udara hampir dua hari perjalanan, sangat membuat penat badan Al.. Kamipun juga begitu, tetapi karena ada penanda tangan ijazah, akhirnya kami tetap datang ke sekolah..” tanpa menyinggung tentang Gwen sedikitpun, Raffi menjawab pertanyaan Alana,


Gadis itu kembali melirik ke arah laki-laki yang dicintainya itu, tetapi sedikitpun Aldo tidak memberikan perhatian kepadanya. Akhirnya gadis itu hanya mengambil nafas panjang..., dan hanya bisa memandang Aldo dengan kekaguman dalam hatinya,


Hari-hari berlalu, dan proses kelulusan akhirnya selesai. Setelah meminta pertimbangan papa dan mamanya, Aldo memilih University of Helinsky untuk melanjutkan studinya. Sampai saat ini, Aldo tetap belum bisa melupakan Gwen. Anak muda itu seperti tidak percaya jika Gwen sudah menikah, dan berharap jika apa yang didengarnya di New York itu hanya sebuah guyonan belaka. Dengan mengikuti kemana perginya gadis itu, akhirnya anak muda itu merasa mantap untuk melanjutkan studi di negara Finlandia.


“Kamu akan tetap menemaniku kan Sep.. Jangan khawatir, selama kamu berada di sisiku, papa akan membiayai semua pengeluaran dan juga akan menanggung biaya studimu. Karena aku tidak mudah untuk bisa bersosialisasi dengan orang baru, jadi kamu harus menemaniku Sep..” Aldo meminta kepastian dari sahabatnya.

__ADS_1


Asep terdiam, anak muda itu merasa bingung. Bukan ketakutan akan kekurangan uang atau apa, tetapi anak muda itu berpikir apakah kedua orang tuanya akan mengijinkannya pergi mengikuti Aldo.


„Bagaimana Asep... kita harus segera mengisi form aplikasi secara online. Aku akan sekaligus memerintahkan karyawan papa untuk mendaftarkan kuliah atas namamu juga..” Aldo terus mendesak.


“Hempph… baiklah Aldo, demi cita-cita dan masa depanku, aku akan mengikutimu juga. Keluargamu sudah sangat baik padaku dan juga adikku Ald.. tidak mungkin aku memiliki keberanian untuk menolak tawaran dan peluang bagus ini...” akhirnya setelah beberapa saat terdiam, Asep menyetujui ajakan dari sahabatnya itu.


Senyuman terbit di bibir Aldo mendengar kesanggupan sahabatnya itu. Anak mud aitu kemudian mengambil sebuah formular yang sudah di print out, kemudian menyerahkan pada Asep.


“Baca dan isilah dulu form ini.. Jangan lupa untuk menanda tanganinya, lalu akan kita scan dan kirimkan online ke orang-orang papa. Kita tinggal menunggu surat penerimaan, dan sekaligus mempersiapkan keberangkatan kita.. Terima kasih Sep… kamu selalu ada untukku..” Asep merasa kaget ketika mendengar Aldo berterima kasih kepadanya.


„Aldo... jangan sarkasme seperti itulah .. Harusnya akulah yang berterima kasih kepadamu. Bagaimana tuan Firman dan tante Helene, tanpa melihat apapun selalu membiayai keluargaku. Sekolahku dan juga Laela adikku juga ditanggung oleh beliau…” Asep menjadi malu dengan ucapan terima kasih itu. Anak muda itu segera menimpali ucapan dari Aldo.


„Sudahlah.. tidak perlu berpikir siapa membantu siapa Asep.. Segera diisi, dan di scan semua surat-surat yang ada di depanmu. Aku akan makan dulu… dan jika kamu sudah selesai, segera susul aku di meja makan..” Aldo kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan Asep sendirian di ruang tengah.


Sepeninggalan Aldo, Asep kembali mengambil nafas panjang. Tetapi tidak lama kemudian, anak muda itu sudah tenggelam dalam berkas yang harus dilengkapi di depannya. Asep mengambil pilihan jurusan Arsitektur, sama dengan pilihan yang diambil Barra. Kedua anak muda itu memang suka menggambar desain, dan jurusan Arsitektur mereka anggap mewakili hobbynya saat ini.

__ADS_1


“Syukurlah.. akhirnya selesai juga pekerjaanku kali ini... „ beberapa saat akhirnya terlihat Asep tersenyum puas. Anak muda itu segera merapikan sisa-sisa kertas yang banyak berhamburan, kemudian menumpuknya menjadi satu. Setelah melihat semuanya sudah rapi, Asep kemudian berjalan menuju ruang makan untuk menyusul Aldo.


**********


__ADS_2