
Gwen berlari kecil mendatangi Cynthia yang tampak menatapnya sambil tersenyum. Dalam pelupuk mata Cynthia terlihat berkaca-kaca, dan seakan tidak mempercayai apa yang saat ini sedang berada di depannya. Tanpa banyak kata, Gwen langsung memeluk tubuh sahabatnya itu. Hans serta Asep hanya tersenyum, dan saling berpandangan.
“Aku betul-betul kagum dengan penampilanmu saat ini Gwen.. Kamu sudah berubah menjadi lebih dewasa. Aura seorang mommy muda, tampak erat terlihat dalam pandanganmu. Aku salut padamu Gwen...” Cynthia tidak mampu berkata-kata. Gadis itu terus menatap ke arah Gwen, sesaat ketika mereka sudah melepaskan diri dari pelukan.
„Halah kamu bicara apa Cynthia.. Aku terbiasa tinggal di Dubai, kamu tahu sendiri kan bagaimana penampilan perempuan di negara-negara yang dominan beragama Islam. Pakaian ini diwajibkan oleh agama kami, dan baru pada kesempatan ini aku bisa mengenakannya Cynt. Tapi aku tidak akan berubah.. aku tetaplah Gwen yang sama seperti dulu..” Gwen tersenyum, dan meraih kedua tangan Cynthia.
„Gwen... Gwen.., jangan mengabaikanku sebagai pemilik dari tangan Cynthia.. Harus ijin padaku sebagai pemiliknya..” tiba-tiba terdengar suara Asep yang menegur kedua gadis itu.
“Ooopss… sorry Asep, aku mengambil kekasihmu sebentar ya. Aku sudah mendengarkan cerita tentang kalian berdua dari Hans.. “ Gwen melepaskan cekalan tangan dari Cynthia. Gadis itu kemudian melihat ke arah Asep, sambil tersenyum dan mengacungkan jempol tangannya.
“Iyakah… Hans sudah menceritakan kepadamu..” sambil tersenyum malu, Cynthia bertanya.
Gwen menganggukkan kepala dan tersenyum. Hans berjalan menuju ke kursi, dan laki-laki itu duduk di kursi tersebut.
„Jangan suka bicara sambil berdiri, kalian dilihati banyak orang.. Heboh tahu..” sambil duduk, Hans mengingatkan teman-temannya.
Ketiga anak mud aitu saling berpandangan, kemudian menutup mulut mereka. Tanpa sadar, mereka bicara dengan volume suara yang sedikit lebih keras. Akhirnya sambil tertawa kecil, ketiga anak muda itu akhirnya mengikuti Hans duduk.
“By the way… apakah kamu sudah mengurus keperluan wisuda di Bagian Akademik Gwen..” Cynthia bertanya kembali pada Gwen, Ketika mereka sudah duduk di kursi.
„Sudah dari kemarin Cyn... Beberapa hari yang lalu, aku juga sudah ke kampus untuk bertanya kekurangan persyaratan. Bahkan aku juga sudah menemui Prof. Nathan.., dan untungnya beliau sangat helpfull. Di hari itu juga, karya thesisku langsung diberikan tanda tangan basah.” Gwen menanggapi.
“Hempphhhh… tidak terasa ya. Ternyata seperti baru kemarin kita berjumpa sebagai mahasiswa baru.. dan akhirnya pada bulan ini kita sudah akan menjalani wisuda.” Tanpa sadar Asep bergumam.
„Benar ucapanmu Asep... dan,..” Cynthia menghentikan ucapannya.
Ke tiga anak muda itu menatap kea rah Cynthia. Mereka menunggu kalimat selanjutnya, namun Cynthia seperti sengaja tidak melanjutkan ucapannya. Tapi terlihat ada kesedihan dari ekspresi gadis itu..
“Cynthia… dan apa Cynth.., kenapa kamu tidak melanjutkannya??” dengan kepo, Gwen berusaha mencari tahu.
__ADS_1
Tetapi Cynthia hanya geleng-geleng kepala, tidak mau melanjutkan kalimatnya. Namun sangat jelas kesedihan tampak membayanginya. Tiba-tiba Asep mendekati kekasihnya itu, kemudian meraih tangannya..
“Apakah kamu khawatir denganku Cynth... kamu khawatir jika aku akan kembali ke Indonesia, dan meninggalkanmu sendiri di negara ini..?” Asep memperjelas kebisuan Cynthia.
Gadis itu tetap diam, dan tidak berani melanjutkan kata-katanya.
„Keputusanku untuk kembali ke Indonesia, tergantung dari jawabanmu Cynth... „ karena melihat Cynthia tidak mengeluarkan suara, akhirnya Asep tampak putus asa.
Hans dan Gwen terdiam, mereka sama sekali tidak akan menyela interaksi Asep dan Cynthia. Keduanya memberikan kesempatan pada pasangan kekasih itu untuk berkomunikasi. Akhirnya..
„Benar Asep... aku khawatir jika kamu kembali ke Indonesia, dan akhirnya meninggalkanku disini sendiri.” Cynthia berucap lirih.
Asep tidak menjawab, namun laki-laki itu menjawab dengan tindakan. Tanpa mau menjaga sikapnya berada di ruang publik, laki-laki itu menarik tubuh Cynthia kemudian mendekap erat tubuh gadis itu.
„Jika kamu menginginkanku Cynt... aku akan tetap berada di negara ini. Aku dan Aldo akan mengembangkan perusahaan yang Om Firman dirikan di negara ini. Aku juga tidak sanggup untuk berpisah denganmu..” akhirnya Asep menyatakan keputusannya.
Gwen tersenyum dan memukul jidatnya sendiri. Hans menendang kecil kaki Gwen, untuk mendiamkan dua anak muda itu.
**********
Aldo dan Kayla mendatangi Gwen dan ketiga temannya di food court. Mereka memang terlihat santai, karena kebetulan Kayla hanya ada jadwal satu mata kuliah. Sedangkan Aldo, sama dengan Gwen dan lainnya, juga tinggal menunggu wisuda. Pasangan kekasih itu saling bergandengan tangan, mereka tidak malu mengakui status mereka sebagai pasangan kekasih.
“Ald.. Kay.., kami disini..” terdengar suara Asep memanggil kedua anak mud aitu.
“Yap..” sahut Aldo singkat, dan segera mengajak Kayla menuju ke tempat anak muda itu berkumpul.
Tampak di depan empat anak muda itu, sudah tersaji makanan dan minuman.
„Untuk snack, jika kurang cocok, kalian pesan sendiri yah.. Untuk minuman, kebetulan tadi Asep pesan Cola satu paket, dan sudah ada gelasnya.” Gwen memberi tempat untuk duduk adik ipar dan sahabatnya itu.
__ADS_1
“Ya kak… Kay sudah cukup ini saja. Malas untuk antri..” melihat masih ada tiga mahasiswa berdiri di depan cashier, Kayla merasa malas.
“Aku samaan Kay jugalah.” Ucap Aldo, dan segera mengambil sketcher serta gelas. Anak muda itu menuangkan cola ke dalam dua gelas yang sudah ada di meja itu.
“Kayla mau burgernya, aku makan yah..” Kayla minta ijin untuk ambil burger.
“Sudah makan saja..” sahut Hans.
Tanpa ragu lagi, Kayla yang sudah kelaparan langsung mengambil burger, dan bahkan langsung menggigitnya tanpa menggunakan pisau dan garpu.
“Memangnya tadi pagi kamu ga sarapan Kay... Baru jam 12.00 a.m, kamu sudah seperti macan kelaparan..” dari kursi sebelahnya, Gwen bertanya pada adik iparnya.
“Ehmpph… iya kak, tadi ada kelas jan sepuluh. Kayla kesiangan bangun tidurnya, jadi tidak sempat sarapan. Untung saja, hanya ada satu jadwal kuliah, jadi bisa segera makan siang…” sambil menikmati burger, Kayla menjawab pertanyaan Gwen.
Aldo tersenyum, dan laki-laki itu mengambil tissue kemudian membersihkan saos yang tampak cemot di bibir Kayla.
“Uhukk… uhuk… jiwaku tertancap paku.. Jangan tunjukkan kemesraan di depan jomblo sepertiku..” Hans tiba-tiba berkomentar.
“Ha.. ha.. ha…, nasibmu Hans.. Tapi kan untuk saat ini, statusmu sama denganku Hans.. Kita berdua ini, saat ini juga sedang jomblo..” sambil tertawa, Gwen pura-pura menghibur Hans.
Asep yang duduk di samping Hans, merangkul anak muda itu di lehernya.
“Aku doakan Asep.. pulang kuliah nanti kamu akan bertemu dengan gadis yang bersedia menerimamu apa adanya.” Sambil bergurau, Asep mencoba menghibur anak muda itu.
“Eits…
bukan seperti itu doanya Asep.. Kita harus membantu Hans untuk berubah. Sekarang jadi tugasmu dan Aldo.. bawa Hans ke klub kebugaran yang memang laki-laki. Bentuk tubuh, dan penampilan Hans. Aku yakin… hanya beberapa waktu, Hans akan dapat membawa gadis sebagai kekasihnya di depan kita..” Gwen ikut memberikan tanggapan.
“Siap… semangat Hans. Kami akan selalu mendukungmu..” Aldo ikut pula menyemangati.
__ADS_1
Anak-anak muda itu, jika sudah berkumpul memang selalu menghebohkan. Mereka saling mendukung satu dengan yang lainnya.
************