
Pemandu membawakan dua snow boarding untuk pasangan suami istri itu. Wajah Gwen terlihat berbinar dan langsung mencoba board di depannya. Melihat hal itu, Barra merasa ragu dengan kemampuan istrinya, wajah laki-laki itu sangat khawatir.
“Honey… apa yang akan kamu lakukan sayang.. Bahaya, satu snow board saja untuk kita berdua, jadi aku bisa memegangi karena siapa tahu honey terpeleset,” Barra mencoba mengingatkan istrinya.
“Tidak perlu ragu seperti itu kak… Di kota Bogor, Gwen punya komunitas skate boarder, dan kami juga punya camp untuk bermain disana. Ada Aldo juga Asep yang sering menemani kak… Bahkan, Ketika kami berlibur ke Yogyakarta, kami juga pernah mencoba bermain sand boarding di Pantai Parangkusumo. Asyik banget kak sensasinya..” tidak bermaksud untuk mengunggulkan keberadaan Aldo di depan suaminya, Gwen menjelaskan.
Barra terdiam beberapa saat dan laki-laki itu hanya mengambil nafas panjang, mencoba menerima masa lalu dari istrinya.
“Barra… gentle lah..!! Kehadiran Aldo dan teman-teman High Senior istrimu lebih lama bersamanya, dibandingkan kehadiranmu di masa kecil gadis itu. Mungkin saja Gwen sudah melupakan, bagaimana Ketika kalian kecil sering menghabiskan waktu bersama. Kamu sering menemani gadis itu bermain, Ketika Andrew sedang sibuk dengan aktivitasnya…” Barra akhirnya tersenyum kecut.
Tanpa disadarinya, tiba-tiba Gwen sudah meluncur meninggalkannya sendiri. Laki-laki itu masih melamun, dan tidak bisa menahan istrinya yang sudah meluncur lebih dulu.
“Come on kak Barra… susul Gwen…” dari jauh Gwen berteriak memanggil suaminya. Gadis itu sangat lihai meliuk-liuk di hamparan salju, dan bukan hanya Barra, orang-orang yang berdiri di sekitar mereka, terlihat kagum melihat kelincahan gadis itu. Barra melambaikan tangan menjawab ajakan istrinya.
“Bagaimana tuan… apakah tuan tertarik untuk mencobanya. Ternyata istri tuan sangat handal, bisa meluncur tanpa hambatan apapun…” pemandu yang menemani mereka, mendekat dan menyemangati laki-laki itu.
“Hempphh… okay lah, aku akan mencobanya..” dengan dipegangi oleh pemandu, Barra menaikkan kaki di atas board. Laki-laki itu hampir terjatuh, dan untungnya pemandu dengan sigap memeganginya.
“Be relax tuan… jangan lupa keseimbangan harus tetap dijaga…”
Barra kemudian mulai menggerakkan satu kakinya ke depan, dan setelah beberapa kali melakukan percobaan, akhirnya laki-laki itu bisa menjalankan board yang ada di kakinya. Perlahan Barra mulai meluncur di atas hamparan salju. Pemandu terlihat sangat protective, yang segera ikut meluncur mengikuti arah Barra meluncur,
“Selamat tuan… kejar nona Gwen... Hanya dalam beberapa menit saja, ternyata tuan Barra sudah bisa melakukan boarding..” pemandu tampak menyemangati laki-laki itu.
Melihat suaminya sudah bisa meluncur dengan keseimbangan, Gwen berhenti dan mengacungkan dua ibu jari pada suaminya, untuk memberikan apresiasi keberhasilan laki-laki itu. Barra tambah bersemangat, baru kali ini laki-laki itu merasakan asyiknya bermain papan boarding.
“Tunggu aku honey…” Barra berteriak meminta Gwen menunggunya. Gwen tersenyum, dan gadis itu menunggu.
__ADS_1
“Kita ke arah sana yuk kak... biar seru bergabung dengan pemain yang lain..” Gwen menunjuk ke tempat yang tidak jauh dari tempat itu.
“Okay.. honey, meluncurlah lebih dulu. Aku akan mengikutimu dari belakang...” Barra menyambut baik ajakan dari istrinya.
Pasangan suami istri itu segera meluncur, dan pemandu senyum-senyum melihat di belakang mereka. Laki-laki itu tidak mengikuti keduanya, tetapi hanya melihat dari jarak yang tidak begitu jauh dari pasangan suami istri itu. Tapi tiba-tiba...
„Brakk... aaaww...” tubuh Barra tiba-tiba melayang, terpental dari snow boarding. Tidak lama, tubuh Barra terpelanting dan terjatuh di atas hamparan salju.
“Kak Barra….” Gwen segera membalikkan badan, dan dengan cepat gadis itu meluncur mendekati suaminya.
Melihat suaminya masih di atas salju, dan terlihat ada darah merembes di atas lututnya, gwen menjadi panik. Gadis itu segera melompat turun dari snow boarding, dan berlari kea rah suaminya,
“Apa yang terjadi kak Barra..?” terlihat jelas sorot kekhawatiran di mata Gwen.
“Tidak apa honey… jangan panik. Hanya luka lecet saja, tadi karena ketidak tahuan, aku menghantam batu yang tertutup salju. Aku tidak bisa menjaga keseimbanganku, akhirnya aku terjatuh,.” Barra terlihat menenangkan istrinya.
Tidak lama, pemandu datang dan mendekati pasangan suami istri itu dengan mengendari jet ski.
„Bawa suamiku ke pool saja pak.. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan suamiku..” Gwen memberi perintah pada pemandu untuk membawa suaminya kembali.
„Baik non... tapi saya pastikan dulu, apakah lutut tuan Barra terkilir atau tidak.” Pemandu itu melakukan pengecekan beberapa saat pada laki-laki itu. Tidak lama kemudian..
„Syukurlah tuan... nona, tuan Barra tidak terkilir, hanya luka lecet dan sedikit memar saja. Tapi tuan Barra tidak boleh berkendara sendiri dulu, saya akan mengantarkan tuan untuk kembali ke depan.” Pemandu itu membantu Barra berdiri, dan memapahnya menuju jet ski.
Gwen segera naik ke atas jet ski, dan pemandu terkejut. Namun Barra terlihat santai, karena tahu kepiawaian istrinya mengendari motor balap.
“Saya yang akan membawa suami saya, bapak bawa jet ski yang lainnya..” Gwen segera memberi tahu pada pemandu itu, Tidak mau banyak bicara pemandu tersenyum, dan menganggukkan kepala,
__ADS_1
“Broomm… broom… “ Gwen segera meninggalkan tempat tersebut, dan pemandu mengikuti di belakangnya.
**********
Ruang Kesehatan
Dokter dibantu perawat tampak membersihkan luka di lutut Barra, dan Gwen melihatnya dari pinggir dengan bersandar di dinding. Setelah beberapa saat akhirnya dokter sudah selesai memberikan pengobatan pada suami Gwen, dan laki-laki itu sudah mencuci tangan di wastafel.
„Dokter bagaimana dengan keadaan suami saya Dokter.. apakah ada luka serius..” Gwen segera mendekat ke arah dokter, dan melakukan konfirmasi atas kecelakaan suaminya,
Dokter berbalik dan menatap ke wajah Gwen yang tampak khawatir. Beberapa saat dokter malah menatap wajah Gwen dengan penuh perhatian Dokter itu seperti terpukau dengan kecantikan wajah cantik Asia di depannya. Ada ketertarikan dari laki-laki itu, dan Barra menyadarinya..
“Oh.. laki-laki ini benar suamimu, aku pikir dia hanya kakakmu saja. Tidak ada luka serius, hanya luka lecet saja dan sedikit memar di tempurung lututnya. Tapi aku sudah membuatkan resep untuk penghilang rasa sakit pada lukanya.” Dokter itu tersenyum dan mengerlingkan mata pada gadis itu.
Gwen kaget, tetapi menyadari jika laki-laki itu expert dalam menangani suaminya, gadis itu mencoba mengabaikannya.
„Baik Dok... terima kasih.” Setelah mengetahui keadaan suaminya, Gwen segera berbalik badan meninggalkan dokter itu dan mendekati suaminya.
„Kak Barra... Smith sudah menunggu kita di luar. Kita kembali ke resort saja untuk istirahat. Barulah besok kita kembali ke Helsinki..” Gwen segera mengajak suaminya untuk keluar dari klinik pengobatan tersebut.
“Terima kasih honey…” dengan dituntun istrinya, akhirnya Barra berjalan keluar. Tapi di depan pintu, terlihat dokter berdiri..
“Miss… ini my card name.. Jika sedang sendiri, call me.. Aku akan datang, kita bisa konkow atau sekedar minum kopi..” dengan ramah, dokter meraih tangan Gwen dan meletakkan card name di tangannya. Gwen shock dengan keterus terangan laki-laki itu.
*“Fu*ck you… apakah kamu tidak sadar, aku ini suaminya.” Barra bereaksi marah, dan laki-laki itu merebut card name dari tangan istrinya kemudian merobek di depan dokter itu.
“Hempph… mari..” dengan tanpa rasa bersalah, dokter segera membalikkan badan dan berjalan meninggalkan pasangan suami istri itu.
__ADS_1
Barra akan mengejar laki-laki itu, tapi dengan sigap Gwen menarik tangan suaminya. Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Akhirnya Barra Kembali menahan rasa cemburunya.
**********