
Suites Room
Aldo tersenyum melihat Gwen keluar dari dalam kamar tempat istirahatnya. Tadi malam, Aldo dan kedua sahabatnya tidur dalam satu kamar. Sedangkan Gwen tidur sendiri di kamar yang digunakan Aldo untuk istirahat.
“Bagaimana istirahatmu Gwen… minumlah dulu. Aku sengaja memerintah room service untuk mengantarkan break fast kita ke kamar..” Aldo meminta Gwen untuk duduk. Tatapan penuh cinta selalu terlihat di mata anak muda itu, tetapi Gwen tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang lebih.
Tanpa menjawab, Gwen langsung duduk di depan Aldo, dan langsung mengambil kopi laki-laki itu kemudian menyesapnya. Aldo merasa senang dengan keadaan itu, seperti biasanya tanpa sungkan, mereka sering berbagi makanan dan minuman Bersama. Aldo merasa jika sahabatnya sudah Kembali. Meskipun dalam hati, ada keinginan untuk mengetahui bagaimana perasaan Gwen sebenarnya kepadanya.
“Dimana Asep dan Raffi.,. Ald? Kok kamar terlihat sepi..” merasa tidak melihat keberadaan dua anak muda yang datang Bersama dengan Aldo, Gwen menanyakannya.
Aldo tersenyum, dan sambil mengambil potongan sandwich dengan garpu, laki-laki itu menatap Gwen.
“Tadi mereka pamit untuk berolah raga. Sarapanlah dulu... katamu siang ini kamu harus kembali ke laboratorium ya. Kami akan menemanimu untuk acara nanti malam, boleh bukan..” Aldo berbicara dengan hati-hati.
„Pasti Aldo.. kamulah keluargaku disini, tidak ada yang lain. Temani aku yah... untuk acara pemberian apresiasi nanti malam. Aku tidak berharap akan mendapatkan prestasi, dengan bergabung dalam Olimpiade ini, banyak pengalaman baru yang aku dapatkan. Hal itu sudah menjadi hadiah terbesar yang aku capai.” Tanpa berpikir Panjang, Gwen langsung menjawabnya. Pikiran tentang Barra berusaha untuk dilupakan gadis itu,
“Jika begitu… kita harus bersiap. Butik langganan mama dan papa akan datang kesini untuk mengantarkan pakaian formal untuk kami. Nanti malam, aku, Asep dan Raffi akan mengenakan jas untuk menemanimu Gwen.. Kamu juga sudah menyiapkan dress bukan, aku sudah melihatnya tadi malam..” sambil melanjutkan menikmati sandwich, Aldo menanggapi kata-kata gadis yang dicintainya itu.
Gwen tersenyum datar, padahal dalam hati kecil Gwen, suaminya Barra yang akan mendampinginya. Mengingat Ketika pemberian apresiasi pada tingkat Asia, laki-laki itu tidak datang untuk menyemangatinya. Tetapi ketika teringat dengan perempuan yang mengaku sebagai kekasih Barra, harapan Gwen seakan menghilang. Bersama dengan ketiga sahabatnya itu, sudah membuat hati gadis itu menjadi senang.
“Terima kasih Aldo.. kalian memang selalu ada untukku. Kemungkinan pukul 14.00 p.m aku sudah akan Kembali menuju laboratorium. Aku tidak mau kedatanganku ada kendala, sehingga aku bisa mempersiapkan semuanya dengan baik di mess.” Gwen akhirnya menyampaikan rencananya untuk kembali ke laboratorium.
__ADS_1
„Kenapa kita tidak datang bersama sekalian Gwen.. Kita bisa menemanimu, dan kamu kemarin cerita, jika pada acara gala dinner nanti malam, orang luar boleh masuk. Dan kesempatan itu dibuka sejak siang harinya..” Aldo mengingatkan kembali cerita yang kemarin disampaikan oleh gadis itu.
“Hempph… okay Aldo.. Jika keinginanmu seperti itu, aku tentu saja sangat menyukainya. Sampaikan pada Asep dan Raffi.. jika siang hari kita akan menuju ke laboratorium. Kita akan bersama untuk datang kesana.” Mendengar ucapan Aldo, akhirnya Gwen menyetujui usulan untuk datang Bersama dengan tiga anak muda itu.
Sesaat begitu berkumpul dengan teman-temannya, ingatan akan Barra dan perempuan yang mengaku sebagai kekasihnya itu terlupakan. Gadis itu dengan lahap menikmati sarapan paginya, dan menyembunyikan kesedihan yang dirasakan dalam hatinya. Tidak lama kemudian, Raffi dan Asep sudah Kembali dari berolah raga.
“Hey… kalian sudah bangun rupanya. Aku dan Asep sudah sarapan di restaurant tadi..” melihat Aldo dan Gwen sedang sarapan bareng, Raffi menyapa keduanya.
“Iya Raffi.. aku sudah menebaknya. Bukankah kamu yang paling tidak bisa untuk menahan rasa lapar bukan..” Gwen menyahuti perkataan anak muda itu.
„He.. he.. he.. benar juga sih, kamu masih saja mengingatnya Gwen. Aku menjadi malu jadinya..” Raffi pura-pura malu. Ke tiga anak muda lainnya tertawa mendengar kelakar dari Raffi.
**********
Lampu gemerlap menghiasi auditorium yang digunakan untuk acara Gala dinner. Malam itu Gwen berdandan sangat cantik, dengan gaun berwarna mint.. gadis itu terlihat segar. Riasan Hikata membantu gadis itu lebih menonjolkan kecantikannya. Aldo dan kedua sahabat yang lain sangat terpukau dengan riasan Gwen. Mereka seperti tidak percaya melihat Gwen untuk pertama kalinya.
„Gwen.. malam ini kamu terlihat sangat cantik sekali...” Aldo memuji tulus gadis yang sangat dicintainya itu.
“Terima kasih Ald… kamu terlalu menyanjungku. Biasa saja kali... Hikata temanku dari Jepang, yang membantuku untuk make up. Gadis itu ternyata pintar sekali membuatku menjadi cantik seperti ini..” dengan merendah, Gwen malah memuji teman satu kamarnya. Tiba-tiba saja, tiga teman gadis di kamarnya berjalan menghampiri Gwen.
“Cathy… Hikata.., Selena, kalian kemari rupanya. Kenalkan nih... tiga sahabat dan juga teman sekolahku. Kami terbiasa melakukan apa-apa bertiga,.. Raffi.., Asep, Aldo kenalin nih ketiga temanku disini..” Gwen langsung memperkenalkan teman-temannya itu.
__ADS_1
Ke enam anak mud aitu kemudian saling bersalaman, mereka saling mengenalkan diri mereka masing-masing. Gwen tersenyum melihatnya, ada kehangatan masuk ke dalam hatinya melihat mereka bisa berkumpul di tempat ini. Beberapa saat kemudian..
“Kita mendekat ke round table bagian depan yukk.. Tadi ada pengumuman, sebelum acara pemberian apresiasi, kita belum bisa Bersama dengan pendamping kita. Barulah pada acara dinner, kita bebas untuk memilih meja..” Cathy mengajak Gwen untuk bergeser ke tempat yang lebih besar.
Gwen merasa ragu, gadis itu melihat ke arah tiga teman laki-lakinya. Untungnya Aldo merasa tanggap situasi.
“Pergilah Gwen… kami bertiga ini laki-laki. Kita akan mudah untuk menemukanmu seusai acara. Lagian tamu undangan sepertinya tidak banyak, sehingga kamu akan terlihat jelas keberadaannya oleh kami.” Aldo mempersilakan Gwen untuk meninggalkan mereka.
„Benarkah Aldo.. Asep, Raffi.. Kalian tidak masalah, jika aku tinggal sendiri..?” Gwen Kembali bertanya untuk memastikan.
Ketiga anak muda itu menganggukkan kepala mereka secara serentak. Setelah melihat hal itu, gwen dan ketiga teman gadisnya kemudian berjalan menuju ke arah depan. Terlihat Mrs Barbara, sekretari committee melambaikan tangan pada mereka. Rupanya perempuan itu mencarikan tempat untuk ke empat kontestan itu. Gwen dan ketiganya segera mendatangi perempuan itu.
„Kalian berempat duduklah di depan, acara akan segera dimulai..” dengan ramah, Mrs Barbara mempersilakan keempat gadis itu untuk duduk di round table yang ada di depan.
“Baik Mrs Barbara, terima kasih..” dengan sopan Gwen menanggapi ajakan perempuan itu. Ke empat gadis itu segera menempatkan diri ke tempat yang ditunjukkan oleh perempuan itu.
Mrs Barbara menganggukkan kepala, dan perempuan paruh baya itu bergeser menuju ke tempat yang lain. Ke empat gadis itu segera menghadap ke depan, karena terlihat host sudah memasuki stage untuk memandu jalannya acara.
“Hey.. bukankah itu Mister Miguel Cardona…” tiba-tiba Hikata berteriak.
“Hemmphh… siapa itu, aku baru mendengar namanya..” Cathy menyahut perkataan Hikata.
__ADS_1
„Miguel Cardona itu Menteri Pendidikan Amerika Serikat. Rupanya laki-laki itu menyempatkan hadir, kita sangat bangga bisa berkesempatan untuk makan malam bersamanya.” Selena yang asli dari Canada menjelaskan. Ada kebanggaan melintas di wajah gadis itu. Cathy dan Gwen menganggukkan kepala tanda mengerti.
************