Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 67 Prasangka Buruk


__ADS_3

Gwen turun di lobby hotel dari taksi yang dipesankan Mister Ronnie. Petugas hotel dengan sigap membukakan pintu mobil tersebut, dan Gwen langsung melangkah masuk ke dalam hotel. Tanpa menoleh ke kanan kiri, Gwen langsung menuju pintu lift khusus untuk menuju Pant House hotel tersebut. Petugas hotel yang sudah mengenali gadis itu mengangguk hormat, dan membiarkan Gwen masuk ke dalam hotel.


“Semoga kak Barra ada di kamar hotel, sehingga invitation letter dari penyelenggara Olimpiade bisa sampai di tangannya.” Gwen berbicara pada dirinya sendiri, sambil tangannya menekan tombol ke lantai atas.


Tidak lama berdiri di dalam lift, tidak menunggu lama pintu lift sudah terbuka. Gwen segera keluar dari dalam pintu lift dan langsung menuju ke Pant House. Melihat pintu yang tertutup rapat, Gwen segera mencari acces room dari dalam tasnya. Setelah menemukannya, Gwen segera melakukan scanning di dekat handle pintu. Beberapa saat kemudian pintu kamar mulai terbuka, dan Gwen langsung masuk ke dalam ruangan itu.


“Hempph sepi… rupanya kak Barra sedang tidak ada di  dalam ruangan ini. Bisa saja kak Barra sedang dalam urusan bisnis, jadi sore ini belum sampai Kembali ke hotel.” Gwen segera meletakkan invitation letter di atas meja ruang tengah, dan gadis itu segera masuk ke dalam kamar.


Melihat king size bed empuk yang lama tidak tidur di atasnya, Gwen langsung membaringkan tubuh di atasnya. Gadis itu memejamkan mata beberapa saat, tapi tidak lama kemudian...


„Aku seperti mendengar ada orang masuk ke ruangan ini. Apakah kak Barra sudah pulang ya, tapi kenapa tidak terdengar salam dari kak Barra…?” gadis itu seperti mendengar ada suara orang membuka pintu, dan menutupnya Kembali. Tapi beberapa saat, tidak terdengar lagi suara.


“Jika bukan kak Barra.. paling room service yang melakukan bersih-bersih ruangan…” Kembali Gwen bergumam, kemudian menarik selimut ke atas.


Tapi baru saja gadis itu berencana untuk memejamkan mata, tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dari luar. Dan…


“Sayang… kamu ternyata sudah sampai di hotel. Jika tahu seperti ini, aku seharusnya tadi minta jemput padamu..” terdengar suara seorang perempuan mengajak Gwen berbicara.


Di dalam selimut, Gwen merasa kaget. Sejenak Gwen merasa linglung, tapi gadis itu segera tersadar kemudian beranjak duduk. Melihat ada perempuan cantik dengan pakaian seksi berdiri di depannya, gwen merasa terkejut. Demikian juga dengan perempuan itu.. Sesaat keduanya saling berpandangan.

__ADS_1


“Hey siapa kakak, kenapa bisa masuk ke dalam kamarku...?” merasa sudah menempati kamar itu lebih dulu, Gwen bertanya dengan nada tinggi.


Gwen mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan terlihat pakaian yang dibawanya dari Indonesia tersusun rapi di dalam wardrobe hotel tersebut. Tanda tanya besar meliputi gadis itu, sehingga dengan tatapan tajam melihat ke arah perempuan di depannya.


“Kamarmu… apakah adik tidak salah bicara. Siapa adik ini, dan ada hubungan apa dengan Barra kekasihku..?” bukannya menjawab pertanyaan Gwen, perempuan yang ternyata adalah Jacqluine itu malah balik bertanya.


Namun pertanyaan itu sangat mengejutkan Gwen, terutama pengakuannya sebagai kekasih dari suaminya. Sesaat Gwen kehilangan akal untuk melanjutkan pertanyaannya. Gadis itu tidak tahu, apakah harus marah, sedih ataukah malah merasa senang dengan pernyataan dari perempuan tersebut. Tetapi untungnya kesadaran Gwen segera Kembali…


“Sebentar, sebentar.. apakah kakak bisa mengenalkan siapa diri kakak. Dan siapa yang mengijinkan kakak untuk datang ke Pant House yang disewa atas nama kak Barra…” Gwen mencoba mempertegas siapa perempuan cantik di depannya. Dalam hati gadis itu, semua rasa tidak karuan sudah mulai memenuhinya.


“Harusnya adik ini tahu… untuk kamar sekelas Pant House, apakah bisa setiap orang sembarangan dibiarkan masuk. Aku memiliki acces terhadap kamar disini, ya pasti kekasihku Barra yang mengajakku kesini. Dengan identitasku sebagai top model internasional, pastilah pihak hotel mengenaliku, dan memberikanku akses untuk menuju ke sini.” Jacqluine mencoba memanas-manasi Gwen, meskipun perempuan itu belum tahu siapa Gwen bagi Barra.


Mendapat pengusiran dari seorang gadis polos, membuat Jacqluine marah. Tetapi mengingat gadis itu bisa leluasa masuk ke kamar yang digunakan untuk Barra istirahat, dan merasa terganggu dengan kedatangannya, membuat Jacqluine menjadi berpikir.


“Baiklah adik manis… aku akan ke kamar yang ada di sebelah kamar ini. Selamat beristirahat, dan aku akan lihat apakah kekasihku Barra akan mengijinkanmu untuk berada di dalam kamar ini..” dengan senyum mengejek, akhirnya Jacqluine mengalah. Perempuan itu segera keluar dari dalam kamar tersebut.


Gwen segera beranjak dari atas ranjang, kemudian menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam.


********

__ADS_1


Beberapa Saat kemudian


Setelah menutup pintu, Gwen seperti terlihat linglung. Tiba-tiba saja gadis itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Gwen hanya duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar tersebut. Perlahan Gwen mengambil ponsel yang disimpan di atas meja tersebut. Gadis itu kemudian menyalakannya, dan banyak sekali pesan masuk ke dalam ponselnya. Gwen tidak langsung membaca satu persatu pesan masuk tersebut, malah Kembali meletakkan ponsel di atas meja.


“Kak Barra… jadi selama aku berada di karantina, suamiku membawa perempuan lain ke kamar hotel. Heh... aku tidak menyangka, akan sebejat ini kelakuan suamiku. Om Andrew dan kakek Atmadja sudah tertipu dengan casing laki-laki ini…” Gwen berbicara sendiri, mengecam kelakuan suaminya. Gadis itu tersenyum sendiri… namun tiba tiba..


“Ha.. ha.. ha.., kenapa aku malah memikirkannya. Bukankah aku seharusnya tenang, akan bisa menjadi alasan bagiku untuk lepas dari kak Barra. Aku akan bisa melanjutkan hidupku, melanjutkan semua impianku..” Gwen tertawa keras, tapi tiba-tiba tanpa disadari air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.


„Tapi kenapa ada yang sakit dalam hatiku… ada apa ini..? Aku tidak mengetahuinya…” sesaat kemudian, Kembali Gwen terlihat sedih.


Seperti robot, tanpa sadar Gwen berdiri dari posisi duduknya. Gadis itu kemudian memasukkan semua baju yang tersusun rapi di dalam wardrobe, ke dalam trolly bag nya. Semua buku yang dibawanya untuk persiapan mengikuti ujian kelulusan di Embassy tidak lupa juga dimasukkan ke dalam tasnya tersebut.


“Sepertinya keberadaanku di hotel ini tidak dibutuhkan lagi. Aku akan menyewa kamar hotel sendiri, karena bagaimanapun aku harus join dalam Ujian Kelulusan dua hari lagi di Embassy. Untuk sementara aku akan booking kamar hotel, dan kembali ke laboratorium saja. Persetan semuanya, tanpa pendamping aku siap untuk menghadiri


gala dinner acara penyampaian apresiasi Olimpiade.” Sambil merapikan kembali semua perlengkapan, Gwen berbicara sendiri.


Setelah semua barangnya rapi dan masuk semua dalam trolly bag, Gwen segera menyeret trolly bag itu keluar. Tanpa melihat kemana-mana, pintu lift menjadi tujuan utama gadis itu.


**********

__ADS_1


__ADS_2