
Jakarta..
Seperti yang sudah dijanjikan pada istri dan kedua putranya, akhirnya Barra mengajak mereka untuk berangkat ke Labuan Bajo. Laki-laki itu menggunakan private jet, dan akan langsung landing di Bandara Komodo Labuan Bajo. Tampak Kayla dan Aldo juga mengikuti mereka, karena mereka juga ingin menikmati keindahan alam, salah satu wisata alam yang ada di Indonesia bagian Timur.
“Apakah semua barang sudah masuk ke bagasi Aldo..?” Ketika Barra menutup pintu mobil, karena istri dan putranya sudah berada di dalam, laki-laki itu bertanya pada adik iparnya.
“Sudah kak, semua bagasi ada di mobil yang akan membawaku dan Kayla ke bandara, tadi aku melihat sopir, dibantu Bi Surti yang membawanya ke atas mobil. Pergilah dulu ke bandara kak, tidak lama lagi aku akan menyusul di belakang.” Aldo yang sudah sejak tadi malam, membantu untuk mengatur barang bawaan, menjawab pertanyaan itu.
„Baiklah jika begitu, aku dan Gwen duluan berangkat ke bandara,” Barra akhirnya segera masuk ke dalam mobil.
Aldo juga berbalik arah, dan segera mendatangi istrinya yang sudah menunggu di dalam mobil. Tidak lama kemudian, mobil yang membawa kakak ipar dan keponakannya itu, sudah berjalan duluan meninggalkan rumah tersebut.
„Kayla... apakah kamu sudah siap.. Jika sudah, kita harus segera menyusul kak Barra ke Halim Perdana Kusumah..” melihat istrinya masih memperhatikan ponsel yang ada di tangannya, Aldo bertanya pada gadis itu.
“Sudah kak, ini tadi habis video call dengan papa.. Rupanya papa dan Om Atmadja baru akan melakukan perjalanan umroh. Tadi terlihat mereka sudah berada di halaman masjid Nabawi ketika Kayla melakukan video call..,” Kayla melanjutkan ceritanya.
Aldo kemudian masuk ke dalam mobil, dan duduk di samping istrinya. Kemudian laki-laki muda itu menepuk bahu sopir, agar segera membawa mobil keluar dari halaman rumah tersebut,
“Usia papa, dan Om Chandra sudah saatnya untuk lebih banyak beribadah Kay.. Yah, dari pada mereka post power syndrome, dan putra putrinya tidak bersama dengan mereka. Memang lebih baik, mereka untuk lebih mendekatkan diri dengan memperbanyak ibadah. Kitapun nanti, pada saatnya juga akan melakukan hal yang sama.” Tanpa bermaksud menyindir putra putrinya, Aldo memberikan tanggapan atas kata kata istrinya tadi.
__ADS_1
“Memang benar kak…, seperti kak Gwen. Meskipun tinggal di negara Finlandia, dimana muslim menjadi minoritas, kak Gwen bisa mempertahankan diri dengan mengenakan hijab. Kak Barra juga sangat mendukungnya, Kayla senang jika melihat penampilan kak Gwen, ketika mengenakan kerudung untuk menutup rambut di kepalanya.” Kayla berucap lirih.
Aldo diam tidak memberikan komentar atas kata-kata istrinya, karena untuk menjaga perasaan Kayla. Pernah memiliki kedekatan emosional dengan Gwen, Aldo lebih hati-hati untuk tidak menyinggung gadis yang sudah menjadi istri dari kakak iparnya itu. Meskipun saat ini, dirinya sudah menjadi suami dari Kayla, namun Aldo tetap menjaga perasaan istrinya.
„Sudahlah sayang..., untuk urusan ibadah memang harus tergantung dari keridhoan untuk menjalaninya. Jika memang sayang siap, bisa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan kak Gwen. Namun jika belum siap, jangan dipaksakan. Aku akan tetap mencintaimu, apapun yang akan kamu lakukan, selagi masih dalam batas-batas kesopanan.” Sambil menyandarkan kepala Kayla di bahunya, Aldo melihat ke depan.
Terlihat mobil yang membawa mereka sudah memasuki Kawasan Bandara Halim Perdana Kusumah. Laki-laki itu segera menyiapkan diri, dengan memasukkan ponsel ke dalam tas Braun Buffel. Kayla segera meluruskan duduknya, dan mengikuti apa yang dilakukan suaminya.
*********
Sheen tertatih berjalan menghampiri Kayla yang baru masuk ke ruang tunggu untuk penerbangan private. Perempuan mud aitu berjongkok sambil merentangkan kedua tangan kanan dan kiri, untuk memeluk keponakan cantiknya. Aldo tersenyum dan berhenti ikut menemani istrinya.
Sheen mengangkat tubuh mungil Sheen kemudian menggendong gadis kecil itu. Aldo akan mengambil Sheen, karena khawatir jika Kayla keberatan. Namun perempuan muda itu menolaknya, dan membawa Kayla ke tempat mommy dan papanya duduk.
“Tadi Ketika aunty dan Uncle keluar komplek perumahan, jalan sedikit macet sayang. Jadi kita datang ke bandara sedikit terlambat..” sambil memberikan ciuman di pipi Sheen, Kayla menjawab pertanyaan dari gadis kecil itu.
“Hadeh.. Sheen, kenapa masih mau digendong aunty. Ingat nak, usia Sheen sudah semakin bertambah, berarti Sheen sudah semakin besar. Berat badan Sheen juga semakin berat sayang, kasihan aunty Kayla keberatan menggendong Sheen..” melihat putrinya datang dengan digendong adik iparnya, Gwen memberikan teguran.
“Tidak apa-apa kak, lagian tidak begitu berat juga kak.. Anggap saja Kayla latihan angkat beban..” Kayla memberikan tanggapan. Perempuan muda itu kemudian duduk di samping kakak iparnya. Sedangkan Aldo duduk di samping Barra..
__ADS_1
Baru saja Kayla dan Aldo duduk, terlihat laki-laki berseragam pramugara mendatangi tempat duduk mereka. Dengan sikap sopan dan hormat, laki-laki itu membungkukkan badan dan tersenyum pada mereka.
“Tuan Barra… pesawat pribadi yang akan membawa Tuan dan keluarga untuk menuju ke bandara Komodo, Labuan Bajo, sudah siap untuk berangkat. Jadi kami harap Tuan dan keluarga untuk segera mempersiapkan diri..” sambil tersenyum, laki-laki muda itu memberi tahu kesiapan pesawat.
“Baiklah…kembalilah ke tempatmu bertugas. Aku dan keluargaku akan Bersiap menuju ke pesawat..” Barra segera memberikan tanggapan.
Mendengar hal itu, Gwen segera berdiri dan membantu kedua putranya untuk ikut berdiri. Terlihat Aldo meraih tas kabin yang dibawanya, kemudian memanggil; Bareeq dan Tareeq untuk menuju ke pesawat bersamanya.
“Bareeq.., Tareeq, ke pesawat bareng Uncle yukk.. Kita naik duluan, sambil membawa tas kabin..” Aldo memanggil dua keponakannya itu.
“Okay Uncle Aldo.. ayuk kita duluan..” kedua anak itu segera menggandeng tangan Aldo, dan mereka bertiga bergegas berjalan lebih dulu menuju ke dalam pesawat.
Tidak tega melihat adik perempuannya menggendong Sheen, Barra meraih tubuh Sheen dan menggendongnya di depan dadanya. Gwen tersenyum, kemudian dengan tas di tangannya perempuan mud aitu berjalan berdampingan dengan Kayla. Karena tidak banyak pesawat yang parkir di depan hanggar, mereka sudah sampai di depan pesawat jet pribadi,
“Selamat datang Tuan Barra, Miss Gwen… silakan masuk ke dalam..” jika tadi pramugara yang menginformasikan keberangkatan, saat ini tampak pramugari menyambut kedatangan mereka.
“Terima kasih mbak, selamat bertugas..” dengan ramah, Gwen menyapa pada perempuan cantik itu.
Barra dengan tatapan dingin langsung masuk ke dalam pesawat. Sheen meminta turun dari gandingan papanya, karena melihat Bareeq dan Tareeq duduk sendiri diapit Aldo. Sheen langsung duduk di kursi yang masih kosong, dan Kayla segera duduk di samping keponakannya itu.
__ADS_1
**********