
Di rumah puncak bukit
Barra terlihat kusut berjalan memasuki rumah. Laki-laki itu berharap ingin segera berbicara empat mata dengan istrinya, dan membuka apa yang terjadi saat ini. Chat yang dikirim dari nomor ponsel istrinya, yang membawa laki-laki itu datang ke hotel. Jika akhirnya, semua berakhir seperti keadaan siang tadi, semua di luar kendalinya. Apalagi Barra tidak teringat sudah terjadi hal apa dengan Jacqluine.
“Kok pulang sendiri kak Barra… bukankah tadi pagi berangkat keluar dengan kak Gwen…” dari sofa ruang tengah, Kayla mengajukan pertanyaan.
Sepertinya gadis itu menangkap keganjilan, melihat penampilan kakak kandungnya yang terlihat kusut. Apalagi sampai lepas maghrib, kakak iparnya juga belum sampai kembali ke dalam rumah, Sangat wajar jika Kayla menanyakannya.
“Memang kakakmu belum sampai ke rumah Kayla… bukankan Gwen sudah pulang ke rumah sejak tadi.” Mendengar pertanyaan Kayla, Barra menjadi panik. Laki-laki itu sama sekali tidak mengira, jika istrinya belum sampai rumah. Apalagi Barra ingat, jika tidak ada keluarga Gwen yang berada di negara ini.
„Lah... kak Barra ini gimana sih. Jangan-jangan kak Barra melupakan kak Gwen..., dan tidak menjemput di kampusnya.” Kayla jadi terkejut mendengar tanggapan kakaknya.
Barra langsung duduk di sofa, dan mengambil ponsel dari dalam sakunya. Laki-laki itu melakukan panggilan keluar pada nomor istrinya.
“Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan. Mohon hubungi untuk beberapa saat lagi..” panggilan customer service menjawab panggilan laki-laki itu.
Barra Kembali mengulangi panggilan keluar, dan jawaban yang sama Kembali terdengar. Ada lebih dari sepuluh kali, laki-laki itu mengulang panggilan, namun tetap nomor ponsel istrinya tidak aktif. Melihat bagaimana reaksi kakaknya, seketika Kayla menjadi ikut panik..
“Bagaimana kak… apakah kak Gwen bisa dihubungi nomornya..” dengan tidak sabar, Kayla bertanya.
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya, dan wajahnya terlihat suntuk serta sedih.
__ADS_1
“Oh my God… apakah ada hubungannya dengan Aldo ya kak. Beberapa waktu yang lalu, Kayla mencoba menghubungi nomor Aldo, namun sama dengan nomor kak Gwen juga sedang tidak aktif. Bahkan Asep juga tidak bisa dihubungi…” Kayla seketika melakukan konfirmasi.
Seketika gadis itu gantian yang panik, karena merasa jika kekasihnya kembali bersama dengan kakak iparnya. Padahal Kayla sudah menerima cinta Aldo, dan mereka berjanji untuk berkomitmen Bersama. Apalagi Kayla juga sudah dikenalkan dengan papa dan mama anak muda itu.
„Kenapa gantian kamu yang terlihat sedih Kay… tahu tidak jika kakakmu ini baru pusing. Aku harus mencari keberadaan kakakmu, bantu aku menghubungi semua hotel di kota Helsinki sekarang juga..” tiba-tiba akal sehat Barra kembali muncul.
Jika memang istrinya pergi meninggalkan rumah, Barra yakin jika istrinya pasti akan mencari hotel untuk menginap. Tidak mungkin jika istrinya akan berani tidur sendiri di luar hotel.
“Baik kak, Kayla akan membantu kak Barra, Tapi ceritakan dulu secara garis besar, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan kalian berdua..” tidak mau memberikan pertolongan tanpa mengetahui permasalahan yang terjadi, Kayla mencoba mencari tahu.
Barra kemudian menceritakan secara garis besar apa yang sudah terjadi pada adik kandungnya itu. Kayla tampak termenung beberapa saat, dan tidak mengira jika akan terjadi kesalah pahaman seperti itu. Hingga akhirnya..
“Ya pantas saja jika kak gwen marah seperti itu kak Barra. Jika itupun Kayla, pastilah Kayla juga akan marah besar.” Dengan suara lirih, gadis itu turut menyuarakan kekecewaannya. Tetapi bagaimanapun, karena mereka saudara sekandung, akhirnya Kayla bersedia membantu kakaknya.
Sampai malam hari, Kayla dan Aldo sudah menggunakan kekuatan mereka untuk menghubungi hotel. Namun tidak ada satupun yang mengatakan ada pengunjung bernama yang mereka sebutkan. Wajah dan penampilan Barra sudah sangat lesu, dan terlihat awut-awutan. Namun laki-laki itu belum beranjak dari posisi duduknya di sofa, masih berusaha untuk mencari kabar. Dengan penuh kasih sayang, Kayla ikut menemani kakaknya mendapatkan informasi.
“Kak Barra… istirahatlah dulu. Yakinlah jika kak Gwen masih berada di kota ini.. Tadi Kayla juga menghubungi teman Kayla yang bekerja di bandara, tidak ada nama penumpang atas nama Gwen Alvaretta yang terbang keluar dari kota Helsinki..” Kayla dengan trenyuh, masih berusaha menenangkan kakak kandungnya.
Meskipun kabar adiknya membantu untuk mengurangi kekhawatiran, namun laki-laki itu masih terlihat belum tenang. Kegelisahan masih tampak menderanya.
„Aku juga tidak habis pikir, bagaimana Jacqluine bisa berada di kota ini. Beberapa waktu lalu, gadis itu sempat datang ke perusahaan, tetapi aku berusaha untuk menutupi hal itu. Aku tidak memberi tahu istriku, karena aku pikir dengan ancamanku padanya, akan membuat gadis itu kapok.” Tiba-tiba Barra bergumam,
__ADS_1
„Kak Jacqluine datang lagi ke kehidupan kak Barra, bagaimana bisa kakak menyembunyikan dari kak Gwen. Istri kakak itu bukan gadis yang bodoh kak, berani-beraninya kak Barra tidak bicara jujur dengan kakak ipar..” Kayla kaget mendengar ucapan kakaknya. Gadis itu menatap ke mata kakaknya.
„Kala itu aku memang tidak mau menambah pikiran istriku Kay... Karena ketika kami berada di New York, Gwen sempat bertemu dan berselisih dengan Jacqluine. Dan aku berhasil membuat Jacqluine meninggalkan kami. Oleh sebab itu, Ketika Jacqluine muncul di perusahaan, dan aku berhasil membuatnya pergi, menurutku menjadi hal yang tidak penting jika Gwen aku beri tahu.” Barra akhirnya bercerita.
Kayla hanya mengambil nafas dalam Ketika kakaknya selesai bercerita. Semuanya sudah terjadi, dan tidak mungkin untuk diulang lagi. Saat ini, mereka hanya harus berpikir bagaimana bisa menemukan dan membawa Gwen Kembali ke rumah.
“Honey… ada dimana kamu sayang..” terdengar suara lirih Barra bergumam.
Laki-laki itu betul-betul merasa kehilangan atas kepergian istrinya. Tidak biasanya Barra sampai mengeluarkan air mata dalam menghadapi masalah. Namun kali ini, kelopak mata laki-laki itu menggenang air mata. Kayla merasa ikut bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah pada kakak satu-satunya itu.
„Ayo angkat panggilanku Andrew....!” tiba-tiba Kayla mendengar kakaknya kembali berbicara sendiri.
Ternyata Barra sedang melakukan panggilan pada Andrew, paman dari Gwen. Tanpa hubungan paman dan keponakan, keduanya adalah sahabat baik. Barra maupun Andrew tidak pernah sungkan untuk saling berbagi cerita maupun masalah. Kayla terdiam ikut mendengarkan kakaknya berbicara pada kak Andrew.
“Pergilah ke Helsinky Andrew… aku sedan gada masalah dengan istriku Gwen. Aku membutuhkanmu untuk berada disini..” akhirnya beberapa saat kemudian, terlihat Barra sudah tersambungkan dengan Andrew.
Saat ini Barra sedang terdiam, seperti mendengarkan perkataan Andrew untuknya. Dan tidak ada jawaban atau sanggahan yang keluar dari mulut Barra. Tidak lama kemudian…
“Aku tidak mau tahu Andrew..., hargai hubungan kita. Malam ini juga, gunakan private jet dan tempuh perjalanan menuju ke Finlandia. Aku tahu jika kamu saat ini berada di Italia bukan...” tampak Barra memaksa Andrew untuk datang ke negara ini.
Setelah keduanya berbincang, tidak lama kemudian Barra mengakhiri panggilan telpion. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya di sofa, kemudian memejamkan matanya. Tapi ingatan tentang istrinya Gwen, terus mengganggu pikiran laki-laki itu.
__ADS_1
**********