Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 112 Mengunjungi Helsinki Apartment


__ADS_3

Beberapa saat pasangan suami istri itu bercanda, akhirnya Barra mendudukkan Gwen di sebelahnya. Satu tangan laki-laki itu diletakkan di sisi  bahu Gwen, dan mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang memiliki hubungan yang sangat harmonis.


“Honey… what you want…” tiba-tiba Barra berbisik di telinga Gwen.


Gadis itu tersenyum kemudian menatap balik ke mata suaminya. Ada sesuatu hal yang ingin disampaikan oleh gadis itu, tetapi sepertinya Gwen menunggu suasana hati suaminya sedang baik.


„Hmmmphh... kak Barra tahu ya jika Gwen mau menyampaikan sesuatu.” Dengan mengulum senyum, Gwen bertanya balik pada suaminya.


„Cup...” Barra memberikan kecupan singkat di bibir istrinya, kemudian… Pasangan suami istri ini memang tidak malu-malu lagi untuk mengutarakan apa yang mereka inginkan.


“Suamimu ini bisa menangkap apa yang honey lakukan sayang… karena merupakan hal aneh bukan, jika tidak ada sebab, istriku yang cantik ini berani memelukku mesra dari belakang. Aku mengenalmu dengan baik honey…, katakan apa yang istriku inginkan..” Barra tersenyum.


Gwen terlihat malu-malu dan merasa ragu untuk menyampaikan apa yang dimauinya. Tetapi setelah menghela nafas…


“Kak Barra… Gwen ingin ke Helsinki Apartement. Tapi jika kak Barra tidak ada waktu untuk menemani Gwen menuju ke apartemen itu, Gwen bisa mengajak sopir untuk mengantarkan. Atau bisa, Gwen berkendara Ducati sendiri ke apartemen itu..” akhirnya Gwen menyampaikan apa yang diinginkannya.


Barra terdiam, dan satu alisnya berkerenyit. Ada yang dipikirkan oleh laki-laki itu, tetapi tidak ada jawaban atas keraguannya itu. Setelah itu…


“Honey… tidak perlu berputar-putar sayang. Katakan yang sebenarnya, untuk apa honey datang ke apartemen itu. Setahuku dari keluargamu, ataupun keluargaku tidak ada yang di apartemen tersebut. Siapa yang akan honey temui disana,” tiba-tiba Barra yang sejak tadi terkesan hangat, balik bertanya denga nada kecurigaan pada Gwen.


Gwen memberanikan diri menatap ke mata suaminya, dan melihat ada kecurigaan dalam tatapan itu, sejenak gadis itu ragu untuk mengatakan apa yang dimauinya.


“Mmmpphh…. Tapi kenapa ekspresi kak Barra berubah menjadi begini, jujur Gwen takut mengatakan jika ekspresi kakak seperti ini..” bukannya menjawab, tapi Gwen malah tidak berani mengatakan apa yang diinginkannya.


Barra mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya lagi secara perlahan.

__ADS_1


„Aku tidak marah honey... hanya saja berhati-hati untuk mengantisipasi keadaan, menurutku bukan hal yang salah bukan. Suamimu ini hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Tidak salah bukan honey..” agar tidak menakuti istrinya, akhirnya nada bicara Barra kembali lunak.


Laki-laki itu memegang dagu istrinya dengan menggunakan jari tangannya.


“Siapa yang akan kamu ketemui disana sayang… Jangan khawatir, aku akan mengantarmu sendiri ke apartemen itu, tanpa driver. Aku akan mengemudikan mobil itu sendiri..” akhirnya Barra memberikan jawaban.


“Terima kasih kak Barra… Gwen akan bertemu Aldo dan Asep kak.. Kedua sahabat Gwen itu ternyata tinggal di apartemen itu sudah hampir satu bulan. Mereka pasti akan sangat senang kak, jika Gwen berkunjung ke sana. Gwen juga akan mengundang mereka untuk main ke rumah kita, bolehkan kak..”


Mendengar jawaban itu, terbersit kekhawatiran di hati Barra. Tetapi laki-laki itu menghargai keterus terangan istrinya, dan mencoba menetralisir rasa khawatir itu.


“Baiklah honey… bersiaplah, aku akan menemanimu ke apartemen Aldo. Honey juga bebas untuk mengundang mereka berdua untuk main ke rumah kita..” akhirnya setelah berpikir sejenak, Barra berjanji akan mengantarkan istrinya.


Gwen tersenyum, dan gadis itu kembali memeluk suaminya. Tanpa ijin, tiba-tiba Gwen berani mencuri ciuman di bibir Barra, dan laki-laki itu tidak mau menghilangkan kesempatan itu. Dengan cepat, dua bibir pasangan suami istri itu saling bertautan.


************


Dengan menggunakan long sleves untuk menghalau rasa dingin, Gwen dirangkul suaminya berjalan memasuki Helsinki Apartment. Keduanya duduk di ruang tunggu lobby, menunggu petugas lobby memanggilkan Aldo dan Asep untuk turun menemuinya.


“Honey tidak langsung datang ke atas saja, mengetuk pintu sendiri apartemen Aldo..” Barra sambil merangkul Gwen, bertanya pada gadis itu.


“Tidak nyaman kak, kita kan tidak tahu, apakah kedua anak muda itu siap untuk menerima tahu. Karena Gwen belum tahu bagaimana keadaan di kamar mereka. Dengan menunggu mereka untuk turun ke lobby, paling tidak kita memberi waktu mereka untuk Bersiap menemui kita kak.” Apa yang dikatakan Gwen memang ada benarnya, dan Barra tersenyum mendengarnya,


“Istriku ini memang selalu bijak, selalu berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu..” dengan tulus, Barra memberikan pujian untuk istrinya.


“Hempph… mulai deh, mulai…” bukannya tersanjung dengan perlakuan suaminya, Gwen malah berpikir jika suaminya meledek kata-katanya,

__ADS_1


Tidak diduga, Barra malah mengeratkan rangkulannya pada Gwen, dan sebuah kecupan diberikan Barra di kening istrinya. Gwen bereaksi untuk mendorong dada suaminya menjauh, tetapi Barra tidak memberi kesempatan suaminya untuk melepaskan diri dari pelukannya.


“Suamimu ini tulus memujimu honey… kenapa sih honey selalu negative thinking dengan kata-kataku.” Sambil tersenyum smirk, Barra menanggapi sikap istrinya.


“Iya… iya kak Barra, tetapi jangan seperti inilah.. Orang yang melihat kita sambil senyum-senyum, tapi Gwen yang malu kak. Ayolah… jangan seperti inilah..” Gwen Kembali berusaha melepaskan pelukan suaminya. Barra tersenyum, dan akhirnya melepaskan rangkulannya, tetapi laki-laki itu tetap menggenggam tangan istrinya.


Pasangan suami istri itu saling berpandangan dan mengulum senyum. Tiba-tiba..


“Gwen…” ada suara pelan memanggil nama gadis itu. Sontak Barra dan Gwen mengangkat wajah mereka, dan melihat keberadaan Aldo dan Asep yang berdiri di depan mereka. Aldo terutama, dengan muka pias tanpa berkedip menatap wajah Gwen.


„Aldo... Asep, ini benar kalian berdua bukan...??" akhirnya setelah bisa menguasai dirinya, Gwen membalas sapaan dua anak muda itu.


"Kalian berdua sudah sampai di negara ini, luar biasa Aldo.., Asep. Kalian bertiga ini memang sahabat sejati yang tidak tergantikan hubungan kalian..” untuk memecah suasana, Barra sebagai laki-laki yang lebih tua juga menyambut dua anak muda itu.


“Hempphh… iya kak…” Asep memegang lengan Aldo, dan mengajak anak muda itu duduk.


Terlihat Gwen mengulurkan tangan mengajak kedua anak muda itu bersalaman, dan keduanya menyambut uluran tangan itu. Mereka kemudian Kembali duduk di kursi.


“Kapan nih kalian berdua sampai di Helsinky... trus kenapa baru kasih kabar tadi siang.. Kalian ini memang ya, tidak akan pernah berhenti memberikan kejutan untukku..” Gwen segera menimpali kata-kata suaminya dan Asep.


Aldo terlihat mengambil nafas, kemudian..


“Sudah satu bulan kita di apartemen ini Gwen… aku dan Asep kuliah di University of Helsinky.. Kami ambil Teknik sesuai dengan yang sudah kita rencanakan dulu. By the way… kamu lanjut di kampus mana Gwen… apakah jadi lanjut ke Desain Interior..” Aldo bertanya pada gadis itu.


Gwen tersenyum, dan sebelum menanggapi Aldo melihat ke arah suaminya, dan genggaman tangan gadis itu di tangan Barra semakin dipererat. Keintiman pasangan suami istri itu, tidak bisa dialihkan oleh Aldo dan Asep. Aldo terutama hanya bisa menelan ludah, meskipun anak muda itu sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk tidak mengharapkan Gwen, tetapi anak muda itu tidak bisa membohongi perasaannya.

__ADS_1


**********


__ADS_2