
Begitu rombongan Aldo akan duduk, Fajar yang sudah lebih dulu di tempat itu berdiri mau menyingkir dari tempat itu. Anak itu memang sangat takut melihat Aldo dan gerombolannya, karena tidak segan-segan anak-anak itu akan mengganggunya. Tetapi Gwen merasa kasihan, dan menepuk pundak Fajar agar tidak beranjak dari tempat duduknya.
"Hei mau kemana Jar..., bukankah aku tadi berpesan tidak akan mengusir dari tempat dudukmu. Rileks saja Jar.. jika kamu takut dengan Aldo, duduklah denganku. Aku jamin tidak akan ada yang berani mengerjaimu disini.." sambil tersenyum Gwen meminta Fajar untuk duduk kembali.
"Tidak Gwen... aku tak cari tempat lain saja. Aku bisa kok..." ketika melihat Fajar mengangkat mangkok di tangan, Gwen melihat ke sekeliling, tetapi tidak ada satupun tempat di bawah yang masih kosong. Hanya tempat duduk di bawah kanopi yang masih ada. Bahkan beberapa siswa yang akan belanja di food court, mereka delivery tidak dine in karena sudah tidak ada tempat duduk,
"Hempph.. apakah masih ada tempat duduk yang tersisa untukmu Jar... AKu akan merasa sangat bersalah, jika membiarkanmu makan soto sambil membawa mangkok seperti itu.." Gwen menunjuk ke arah mangkok yang sudah dipegang oleh Fajar.
Melihat bagaimana Gwen sangat dekat berinteraksi dengan Fajar, wajah Aldo terlihat sangat sewot.
"Aku tidak akan memakanmu Jar... duduk sajalah. Tapi ingat jangan berani untuk dekat-dekat dengan Gwen, atau aku akan berikan kamu bogem mentah.." dengan nada bass, Aldo membuat peringatan pada anak itu,
Baik Ald..." Fajar menundukkan wajah, kemudian laki-laki itu memindahkan mangkok di meja yang lebih belakang, kemudian duduk menyendiri agak jauh dari orang-orang itu. Gwen menatap anak muda itu dengan tatapan kasihan.
Aldo membaca respon yang ditunjukkan oleh Gwen ketika melihat ke arah Fajar. Laki-laki itu kemudian memanggil penjaga food court untuk membawakan buku menu untuk mereka.
"Batagor dua, lemon tea ice dua, juga platter meal satu saja.. Yang lainnya tanya sendiri, mau pesan apa mereka.., dan untuk bill... tagih ke Asep ya.." Aldo memesan menu yang biasa dipesan oleh Gwen.
"Kenapa kamu pesan dua Aldo.. aku sudah bawa bekal, dan juga minuman.." terdengar Gwen protes dengan sikap Aldo, tetapi laki-laki itu hanya mengangkat dua bahunya ke atas.
__ADS_1
"Oh ya Gwen... by the way, tadi aku melihatmu keluar dari ruang Mister Nano.. Apa yang terjadi, sampai kamu berurusan dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Akademik.. Aku harap, tidak ada kaitannya dengan kejadian bolos kemarin siang.." tiba-tiba Aldo bertanya tentang hal tadi pagi.
Gwen tersenyum, tetapi karena semua belum terjadi, Gwen tidak mau bercerita pada para sahabatnya itu. Yah... kalau dirinya bisa lolos pada tahap kualifikasi, jika tidak malah akan menjadi hal yang memalukan menurut gadis itu. Sehingga Gwen berpikir harus mencari alasan lain, dan juga harus membuat persiapan tentang materi Olimpiade yang akan diikutinya itu.
"Kita khan sudah klas XII Aldo... sudah harus berpikir akan kemana kita nanti melanjutkan studi. Jadi Mister Nano mengajakku discuss, yah.. karena aku sudah sampai di kelas pagi banget, ga ada salahnya dong aku main ke ruang kerja Mister Nano. Beliau wellcome banget, dan sangat terbuka untuk diajak discuss." Gwen menutupi perihal Olimpiade yang ditawarkan kepadanya.
"Mmmph... benar juga sih. By the way... kira-kira mau lanjut kemana kita nanti Gwen... kita barengan saja daftarnya. Mau ke UI, ITB, atau UGM... luar negeri juga okay. Jika tidak mau di Eropa, kita bisa pilih di SIngapore, masih dekat. Kalau kita kangen Indonesia, penerbangan banyak, tiap hari juga bisa kita nglaju ke sana.." Aldo ternyata relate dengan kebohongan Gwen.
"Bener banget Ald... aku setuju. Jadi.. kita bisa sama-sama lagi, jika kita tetap berada dalam satu kampus nantinya.." Raffi menyahuti.
"Apa yang kamu katakan Raff... bisakah nilai-nilaimu mengejar nilai mereka berdua, Gwen dan Aldo.." Asep menimpali.
Aldo dan gengs itu akhirnya saling timpal menimpali, dan Gwen hanya tersenyum melihat keakraban di antara mereka.
**********
Ketika istirahat siang, Gwen sengaja menyelinap meninggalkan Aldo dan teman-temannya yang lain. Gadis itu menyelinap dan masuk ke perpustakaan. Melihat Gwen yang sangat jarang datang dan masuk ke perpustakaan, penjaga perpustakaan dan pustakawannya tersenyum, dan mereka menggoda gadis itu.
"Wow... sepertinya tidak ada hujan, juga tidak ada angin... Tapi tiba-tiba saja, perpustakaan kedatangan tamu terhormat nih, neng Gwen Alvaretta..." pustakawan paruh baya itu menggoda Gwen.
__ADS_1
"He.. he.. he., tidak begitu juga kali pak... Lagi pingin menyendiri saja nih pak, dan Gwen rasa perpustakaan merupakan tempat yang pas untuk duduk menyendiri, tidak ada gangguan dari teman lain. Pasti pustakawan kita bereaksi jika ada orang yang mengobrol, benarkan pak.." Gwen balik menggoda laki-laki itu.
"benar sekali Gwen.. okay masuk saja, scan barcode. Untuk buku, dicarikan katalog atau mau cari sendiri..." pustakawan segera memerintahkan gadis itu masuk.
"Cari sendiri saja pak, nanti akses e library." sahut Gwen cepat.
"Good job... swalayan lebih baik." pustakawan mengacungkan ibu jari, dan tersenyum menanggapi Gwen.
Setelah menganggukkan kepala, Gwen segera mengeluarkan barcode keanggotaan di perpustakaan tersebut, dan melakukan scanning. Setelah pintu terbuka, gadis itu segera masuk, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
"Ruangan ini terlihat sangat sepi, sudah sangat jarang yang akses pinjam buku, atau sekedar menggunakan ruangan ini untuk diskusi. Padahal, sekolah sudah menyediakan fasilitas mahal untuk furniture dan semua fasilitas lainnya. Aku juga... kemana saja kamu Gwen selama ini..." gadis itu bergumam sendiri.
Setelah mendapatkan tempat duduk yang menurut Gwen memiliki view yang bagus, gadis itu segera mendatangi ke tempat tersebut. Secara otomatis, mungkin karena deteksi dari suhu tubuh, layar monitor di depannya tiba-tiba menyala. Gwen segera memasukkan akun untuk bisa login ke sistem e library sekolah mereka. Banyak buku dari publisher internasional, yang juga dilanggan oleh sekolah tempat Gwen bersekolah, sehingga pengayaan informasi yang diperoleh siswa siswi sangat lengkap.
"Hempph... aku harus mencari e book buku Kimia dan Fisika, untuk mengetahui standar penilaian internasional." Gwen bergumam, tapi tidak lama kemudian gadis itu sudah terlihat sangat fokus melihat ke arah layar monitor.
Beberapa kali, jika ada sesuatu pengetahuan yang baru, Gwen memotretnya atau melakukan screen shoot menggunakan ponsel yang ada di tangannya. Waktu satu jam istirahat, dirasa hanya sebentar bagi Gwen, karena gadis itu terlalu asyik mencermati rumus-rumus Fisika dan Kimia.
************
__ADS_1