
Gwen terkejut, gadis itu sampai berteriak dan terlihat tidak sopan di hadapan para orang tua yang ada disitu. Andrew yang duduk disamping keponakannya itu sampai menenangkan Gwen, dan laki-laki itu memegang bagu keponakannya. Tetapi Bara kelihatan lebih santai, sama sekali tidak terlihat ekspresi atau reaksi di wajah laki-laki itu. Tidak tahu apakah ekspresinya ini sama dengan ekspresi hatinya yang dingin dan achu.
"Gwennn.... apakah kamu ingin membahagiakan kakek nakk..??? Umur kakek ini tinggal berapa lagi sih di dunia ini, jika Allah berkehendak, mungkin sesudah acara ini, kakek juga bisa berpulang dan tidak akan bisa bersama dengan kalian lagi. Uhukk... uhukkk, hanya itu keinginan terakhir kakek.. Gwen.. Masa kamu tidak akan mengabulkannya.." kakek Atmadja berbicara dengan pelan.
Gadis itu diam, dia seakan-akan kehilangan keseimbangan. Gwen terduduk lemas dengan punggung bersandar di sandaran kursi yang didudukinya,. Dia seakan sudah tidak bisa lagi bereaksi apapun, selain hanya diam. Ketika Gwen mencoba mencari perlindungan pada Om nya, Andew hanya tersenyum dan sorot matanya seakan mengatakan untuk menerima tawaran kakeknya,
"Bagaimana denganmu Barra.., apakah kamu mau menurut dengan papa? Setelah kamu menikah, tanggung jawab untuk mendidik dan mengarahkan Gwen yang masih polos ada padamu... Usiamu juga tidak bisa dibilang masih berusia muda, demikian juga dengan Andrew.. Sudah saatnya kalian berdua untuk menikah, dan jangan menundanya lagi.." kakek Chandra bertanya pada Barra putranya, dan juga menyentil nama Barra.
"Hemmpph.. seperti yang sudah Barra katakan di rumah pa, apapun kehendak papa, Barra akan mengikutinya," Barra hanya berkomentar mengikuti arus.
"Baik... yang utama disini Barra sudah bersedia, dan Gwen tidak ada pilihan lain. Secepatnya akan kita atur pernikahan ini, sebelum nak Barra dan Andrew kembali ke luar negeri. Sementara Gwen masih tetap melanjutkan sekolah sampai lulus, dan baru nanti mengikuti Barra kemanapun." merasa sudah ada persetujuan, kakek Atmadja membuat keputusan,
Mendengar keputusan kakeknya, Gwen berdiri dan langsung berlari ke kamarnya. Ketika Andrew akan menyusul gadis itu, tangan kakek Atmadja terangkat melarang putranya untuk menyusul keponakannya.
"Biarkan keponakanmu Andrew... paling dia hanya mengambek. Maklumlah.. dalam usia segitu, belum bisa membedakan yang baik, dan yang salah.."
Semua kembali terdiam, kemudian melanjutkan persiapan acara pernikahan. Dan tanpa sepengetahuan Gwen, dua hari ke depan, acara pernikahan antara dirinya dengan Barra akan dilaksanakan.
__ADS_1
**********
Beberapa saat kemudian
Tanpa tujuan, Gwen berada di belakang Aldo. Dalam diam laki-laki itu terus menggeber motor Ducatinya, dengan Gwen yang memeluk pinggang dan menyandarkan kepala di punggungnya. Laki-laki muda itu juga kaget, ketika Gwen tiba-tiba menghubunginya, dan memintanya menjemput di jalan arah masuk rumah Gwen. Padahal biasanya, jika ada Om Andrew dan juga kakeknya, Gwen pasti melarang siapapun untuk datang ke rumahnya. Namun kali ini, Gwen mengundangnya sendiri.
"Kemana tujuan kita Gwen.. apakah kamu memiliki ide?" Aldo bertanya pelan, sambil mengurangi kecepatan motornya. Laki-laki itu juga merasa bingung sejak tadi, karena Gwen keluar menemuinya tampak terburu-buru, dan terlihat jika gadis itu sedang menangis. Tidak mau banyak campur tangan, Aldo membiarkannya dan langsung mengajak gadis itu pergi mengikutinya.
"Tidak tahu Aldo.. aku hanya ingin meluapkan kekesalan dan nasib burukku hari ini Ald.." ucap Gwen dengan terisak.
Mendengar gadis di belakangnya kembali menangis, Aldo diam tidak memberikan tanggapan. Tidak ada pembicaraan sesudahnya, dan motor yang dikendarai anak muda itu malah berjalan naik, dan kali ini mereka sudah sampai di Cisarua Bogor. Ducati itu terus berjalan naik, dan masuk ke jalan kecil yang hanya bisa dilalui motor. Setelah beberapa saat berkendara...
Hawa dingin berhembus, dan melihat Gwen kedinginan, Aldo melepas jaket kulitnya kemudian meletakkan di punggung gadis itu. Karena Gwen masih diam, Aldo segera membawa gadis itu masuk ke dalam. Terlihat ada dua ART yang menyambut kedatangan dua anak muda itu.
"Selamat malam tuan Aldo... tumben datang ke villa malam-malam tuan, dan tidak kasih kabar sebelumnya." ART tampak gugup menyapa tuannya.
"Hemmph... siapkan minuman panas untuk kami." Aldo segera mengajak Gwen duduk di sofa yang ada di ruangan tengah.
__ADS_1
"Gwen.. aku tidak tahu apa masalahmu malam ini, dan aku juga tidak mau tahu sehingga memaksamu bercerita. Jika kamu ingin tempat untuk berbaring, setelah minum kamu bisa istirahat di villa papaku. Tidurlah di kamar tamu.." Aldpo berbicara pelan pada Gwen. Tetapi gadis itu hanya menggelengkan kepala, terlihat seperti anak bingung dan tidak memiliki jalan keluar.
Untung saja dari arah dapur, ART sudah membawakan dua minuman panas dalam cangkir besar untuk mereka. Setelah ART meletakkan di atas meja, Aldo mengambil salah satu gelas, kemudian memberikan pada gadis itu.
"Minumlah dulu beberapa teguk Gwen.. agar kerongkongan dan perutmu menjadi hangat, Setelah itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat, di tempat itu kamu bisa meluapkan semua emosi atau pikiran yang mengganjal di otakmu.." Gwen kemudian mengambil gelas dari tangan Aldo, kemudian beberapa teguk Gwen minum air hangat itu. Ada cairan hangat yang terasa mengalir melewati kerongkongan, kemudian turun ke dada dan perut, persis dengan apa yang diucapkan Aldo.
Setelah melihat Gwen meletakkan kembali gelas di atas meja, Aldo segera berdiri dan menarik tangan Gwen agar gadis itu mengikutinya. Dengan pasrah, Gwen mengikuti Aldo dan ternyata anak muda itu mengajak gadis itu untuk naik ke tangga ruangan atas. Namun sesampainya di atas, Aldo membawa Gwen ke belakang, kemudian laki-laki itu membuka pintu belakang. Terlihat ada spot tempat yang ditumbuhi rerumputan yang asli, dan rupanya lantai dua villa tersebut terkoneksi dengan bukit kecil di belakangnya. Sinar bulan purnama yang terlihat jelas, tampak menyinari tempat tersebut.
"Kemarilah Gwen... berteriaklah sekencang-kencangnya. Tidak akan ada yang mendengarnya, biarlah sinar bulan purnama membawa pergi kesedihan dan kegundahanmu." dengan suara lembut, Aldo mengajak Gwen berteriak.
Gadis itu tidak langsung melakukan apa yang diminta oleh anak muda itu, Gwen hanya memandang ke wajah Aldo. Namun laki-laki itu tersenyum , kemudian menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba Aldo merentangkan kedua tangannya, dan terlihat memandang langit dan bulan di atasnya.
"Aaaaaaaawwwwww......., aaaaaawwwww..........." tiba-tiba Aldo berteriak panjang, dan suara itu menggema dan memantul. Setelah melakukannya, anak muda itu membalikkan badan melihat ke arah Gwen.
"Tirukan Gwen... percayalah, hatimu akan terasa lebih tenang. Jika mau menangis, menangislah..." lanjut Aldo sambil memegang kedua bahu gadis itu,
"Aaaaawww... aaaaaawww... aaaaawwwww.... hiks...." berulang kali, akhirnya Gwen melakukan apa yang diajarkan oleh Aldo, dan terakhir kali Gwen menangis terisak dan tersengal-sengal,
__ADS_1
Melihat kesedihan gadis itu, Aldo segera mendekat dan membawa gadis itu ke pelukannya. Seperti pasangan kekasih, di bawah sinar bulan purnama, di atas bukit pasangan anak muda berpelukan erat,
***********