
“Permisi tuan… mau mengantarkan makanan dan minuman yang sudah tuan pesan..” adegan romantic pasangan suami istri itu dijeda dengan kedatangan petugas hotel mengantarkan pesanan mereka. Gwen tergagap dan beradu pandang dengan suaminya. Namun Barra malah tersenyum...
“Terima kasih kak.. letakkan disini ya..” Gwen segera menarik tangannya, dan menanggapi perkataan petugas hotel tersebut.
"Baik nona..." beberapa saat, petugas hotel meletakkan menu makanan dan makanan ke atas meja, kemudian mempersilakan pasangan suami istri itu menikmati sajian.
"Menu pesanan tuan dan nona sudah kami sajikan semuanya, jika tidak ada lagi, saya minta ijin untuk kembali ke banquet room.." dengan sikap hormat petugas hotel itu ijin meninggalkan meja mereka.
"Kembalilah ke tempat anda bekerja." dengan tegas, Barra menyahuti.
Tanpa berbicara lagi, dan untuk mengalihkan kekikukan Gwen segera menikmati menu yang sudah tersaji . Tiba-tiba tanpa sengaja, Gwen melihat Aldo dan kedua sahabatnya Asep serta Raffi berjalan masuk ke restaurant. Tanpa berpikir pankang, Gwen langsung melambaikan tangan untuk memanggil ketiga anak muda itu agar bergabung dengannya..
“Honey… ada suamimu di depan, tanpa minta ijin malah memanggil laki-laki lain untuk datang kesini itu, bagaimana ini ceritanya..?” terdengar suara Barra menegur halus apa yang dilakukan Gwen. Gadis itu menoleh melihat wajah suaminya, sedangkan ketiga anak muda itu sudah berjalan menuju ke arah tempat mereka duduk.
“Mmmpph…apakah kak Barra tidak berkenan..? Jika tidak, Gwen saja yang pindah, bergabung dengan mereka. Kami berasal dari satu sekolah, dan keberadaan mereka bertiga di negara ini, karena ingin mengapresiasi istri kak Barra. Masak sekerdil itu sih kak Barra memperlakukan mereka.” Tanpa berpikir jika perkataannya akan menyakiti hati suaminya, dengan polos Gwen gentian menanggapi,
Mendengar jawaban itu, Barra seperti tidak percaya akan sikap dan jawaban dari istrinya. Laki-laki itu menghela nafas, dan hanya melihat Gwen dengan tatapan kurang suka. Tetapi akhirnya laki-laki itulah yang harus mengalah, begitu ingat jika usia istrinya belum genap 18 tahun. Dibandingkan usianya yang sudah 29 tahun, sikap dan perilaku mereka sering bertolak belakang. Akhirnya setelah mengingat mengingat hal itu, barulah Barra bisa memaklumi sikap dan tingkah laku istrinya.
“Baiklah honey… terserah padamu sajalah, yang penting harus selalu kamu ingat. Honey adalah perempuan bersuami, dan suami itu adalah aku.” Ucap Barra sambil Kembali melanjutkan sarapan paginya.
Gwen tersenyum mendapatkan ijin dari suaminya, dengan cepat gadis itu melihat ke arah ketiga temannya.
__ADS_1
“Aldo.. Asep, Raffi.. come here…!” tiga anak muda itu segera datang dan bergabung di meja pasangan suami istri itu.
Meskipun kurang suka dengan yang dilakukan istrinya, namun Barra tetap mengabulkan permintaan Gwen. Ketika tiga anak muda itu sudah duduk dengan membawa makanan dan minumannya, laki-laki itu membuka gadget dan mulai berselancar di dalamnya.
“Sudah lama duduk disini Gwen... aku nunggu Raffi tuh. Jika sudah tidur, susah banget bangunnya.” Asep bertanya pada Gwen.
“Lumayan Sep… apa rencana kalian hari ini. Ujian kita sudah kelar, kalian masih ada waktu untuk jalan-jalan keliling New York sebelum memutuskan balik ke Jakarta. Visa kalian hanya satu bulan bukan,?” sambil menikmati makanan, Gwen menanggapi pertanyaan Asep.
“Kita akan balik ke Jakarta ikut schedullmu saja Gwen.. Atau mungkin kita bisa satu pesawat, jadi kita bisa rame-rame balik ke Jakarta..” sambil memasukkan makanan ke mulut, Aldo ikut menyahuti pembicaraan itu.
„Hempph... apakah tidak salah ucapanmu anak muda??? Gwen masih lama berada di Eropa, dan tidak perlu untuk kembali ke Jakarta dalam waktu dekat. Gwen masih harus menemaniku ke Finlandia, dan kemungkinan besar akan stay di negara itu untuk waktu yang lama..” tiba-tiba tanpa minta ijin pada Gwen, Barra dengan sikap santai menanggapi kata-kata Aldo,
„Benar yang dikatakan kak Barra.. Aldo, Asep, Raffi. Masih banyak urusan keluargaku yang harus aku selesaikan. Aku ingin kalian paham… jadi dengan terpaksa sekali, aku katakan jika aku tidak bisa kembali ke Indonesia bersama dengan kalian.” Agar tidak membuat ketiga sahabatnya itu bingung, Gwen segera menimpali dengan penjelasan,
“Begitukah Gwen.. tidak bisakah kamu membereskan urusan sekolah dulu, barulah aku akan menemanimu ke Finlandia. Sepertinya itu lebih bijak untukmu Gwen…” Aldo tiba-tiba memegang tangan gadis itu. Tatapan Barra langsung terlihat sengit, dan untuk menghindari keributan Gwen segera menarik Kembali tangannya,
“Tidak bisa Aldo… urusan ini sangat penting untukku ke depannya. Untuk penanda tanganan ijazah dan persyaratan lainnya, kak Barra sudah mendiskusikan dengan pihak sekolah. Dengan persetujuan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, aku mendapatkan diskusi untuk tanda tangan online, dan juga hal lainnya.” agar tidak terjadi kesalah pahaman antara Aldo dan suaminya, Gwen segera menjelaskan pada sahabatnya itu.
Aldo terdiam sesaat, tetapi anak muda itu kemudian meletakkan garpu dan pisau di piringnya. Kemudian….
“Kak Barra… sampai segitunya anda mengurus dan mengatur Gwen. Aku mencium ada kejanggalan disini, sebenarnya apa yang anda inginkan dari Gwen.. jujur saya tidak menyukainya..” Gwen kaget dengan keterus terangan Aldo mengajak suaminya untuk bicara. Gadis itu sangat ketar ketir, jika sampai sahabat dan teman-temannya di sekolah tahu, bahwa sebenarnya dirinya sudah menikah.
__ADS_1
Di luar dugaan, Barra tersenyum mengejek dan melihat ke arah anak mud aitu. Gwen menjadi speechless, tidak mampu mengeluarkan kata-kata apapun untuk suaminya. Dalam hati, gadis itu hanya pasrah agar tidak terjadi keributan di restaurant tersebut.
“Kamu ingin tahu kenapa aku mengatur Gwen.. Aldo, Asep, Raffi. Semua adalah kewajibanku untuk membuat peta, arah hidup gadis ini ke depannya. Aku sudah sangat bertoleransi atas hubungan kalian, dengan tujuan untuk tidak membuat kecewa istriku. Tetapi melihat kekurang ajaran kalian pada istriku, aku tidak bisa untuk terus membiarkannya. Pahamkah kalian, ada hubungan apa antara aku dan Gwen...” dengan senyum smirk, akhirnya Barra mengutarakan semuanya.
Gwen tidak mampu mengangkat wajahnya, gadis itu hanya menundukkan kepala ke bawah. Di depan pasangan suami istri itu, ketiga anak muda itu sangat terkejut, terutama Aldo.
„Gwen... apakah betul yang diucapkan kak Barra….?? Laki-laki ini bohong bukan, jelaskan padaku Gwen...” Aldo berteriak dengan nada keras, sampai pengunjung restaurant beberapa ada yang melihat ke arah meja mereka.
Gwen masih terdiam beberapa saat, dan tangan Barra mengambil telapak tangan gadis itu kemudian mengusap-usapnya. Gadis itu diam, tidak sama seperti ketika tangan Aldo mencoba meraih tangannya.
“Jelaskan pada kami bertiga Gwen... jika omongan kak Barra itu tidak benar..” dengan nada lebih lunak, Asep ikut bertanya.
Terdengar Gwen tampak menghela nafas sebelum bicara, kemudian...
„Tidak ada yang salah bro… aku dan kak Barra memang sudah menjadi pasangan suami istri. Kami sudah menikah, dan sudah sah di mata hukum dan negara..” akhirnya tanpa terkendali, air mata Gwen sukses memenuhi pelupuk matanya, dan mengalir turun ke pipinya.
„Prang.... kenapa kamu menyembunyikannya Gwen...” tidak diduga, Aldo bertindak implusive karena dilanda kemarahan. Laki-laki itu menyapu turun piring yang ada di depannya dengan menggunakan lengannya. Tampak petugas hotel berlari ke arah mereka, dan Asep secara sigap memegangi sahabatnya itu,
Gwen tidak mampu berkata-kata, air mata masih deras tidak terbendung keluar, melihat sahabatnya itu dengan sorot mata terluka melihat ke arahnya. Barra menunjukkan sikap laki-laki yang bertanggung jawab, dengan sabar laki-laki dewasa itu mengambil tissue kemudian mengusap air mata di pipi dan pelupuk mata istrinya.
***********
__ADS_1