
Beberapa saat kemudian..
Akhirnya setelah Aldo tahu, jika ada Gwen dan Barra yang sedang berbincang dengan Asep, anak muda itu akhirnya menghampiri pasangan suami istri itu. Untung saja Barra dan Gwen sudah menyelesaikan makan malam mereka, sehingga mereka sudah akan bersiap untuk keluar menikmati aurora.
“Hey Aldo… maukah kamu dan Asep bergabung dengan kami untuk menikmati cahaya Aurora Bordelis..?” tidak diduga, Barra memberikan tawaran pada Aldo. Gwen seperti tidak percaya mendengar hal itu, gadis itu sampai menatap ke arah suaminya.
“Tidak masalah kak, ayo Asep.. daripada kita hanya berdua untuk mencari Aurora, kita join dengan kak Barra dan Gwen saja. Tapi kak... kita hanya akan menikmati Aurora dari luar Igloo.” Setelah menyepakati ajakan itu, sejenak Aldo merasa ragu,
„No problem Aldo.. aku dan kak Barra sudah melihat Aurora dari dalam kamar tadi malam. Kali ini aku juga ingin ikut merasakan melihat Aurora bersama dengan pengunjung yang lain. Bukankah kita tidak akan menikmatinya setiap saat, jadi apapun kesempatan akan kita coba.” Sambil tersenyum, Gwen ikut menanggapi.
„Okay sepakat... ayuk kita berangkat. Sebentar lagi sudah hampir pukul 21.00 p.m..” berdiri di sebelah Aldo, Asep juga menyahut.
Aldo tersenyum, dan akhirnya ke empat orang itu berjalan keluar dari dalam restaurant setelah Barra membayar bill makanan dan minuman yang mereka pesan. Ketika Barra akan ikut membayar pesanan Aldo dan Asep, ternyata Asep sudah lebih dulu membayar bill mereka.
“Kita ke dekat gundukan salju di sisi sana saja yukk, di tempat itu agak sepi. Mungkin mereka khawatir jika salju itu longsor, jadi tidak ada yang mau datang kesana.” Gwen menunjuk ke tempat yang terlihat agak lapang.
Barra mengamati sejenak dari tempatnya berdiri, akhirnya..
“Ayuk honey… sepertinya tempat itu aman. Gundukan itu jika tidak salah, terbentuk karena di bawahnya ada tumpukan kayu pinus. Para pengunjung tidak menyadarinya, mereka mengira ada gundukan di tempat itu.” Barra Kembali merangkul istrinya, untuk menyalurkan kehangatan tubuhnya. Aldo dan Asep mengikuti pasangan suami istri itu.
Beberapa saat mereka berjalan, akhirnya mereka sampai juga di tempat yang mereka tuju. Ternyata suasana di tempat mereka saat ini terhitung sepi, sehingga mereka punya akses berdiri tanpa terganggu pengunjung yang lain.
__ADS_1
“Gwen.. lihatlah di sisi selatan, ada pancaran cahaya yang menyala-nyala berwarna jingga kemerahan. Sangat luar biasa dan menakjubkan…” Ketika mereka berdiam, tiba-tiba Aldo berteriak.
Ke empat orang itu mengarahkan pandangan ke tempat yang ditunjukkan Aldo. Di atas langit terlihat pendaran cahaya berwarna jingga kemerahan, dan tidak lama kemudian cahaya hijau terang mengikuti pancaran cahaya tersebut.
“Betul-betul menakjubkan, tidak rugi kita datang kesini Asep. Di Indonesia kita tidak akan menemukan fenomena alam seperti ini.” Aldo tidak henti-henti berkomentar tentang situasi yang ada di sekitar mereka.
Asep mengeluarkan kamera yang sejak tadi hanya dikalungkan, anak mud aitu membuat rekaman video, dan juga mengambil beberapa gambar keindahan fenomena alam tersebut.
“Asep… unggah saja di YouTube, siapa tahu hoki Asep. Kamu bisa menjadi content creator, yang akhirnya bisa dimonetisasi, kan lumayan..” Gwen turut mengomentari apa yang dilakukan sahabatnya itu.
“Good idea Gwen… aku akan mencobanya setelah sampai di apartement. Karena aku harus edit lebih dulu videonya agar menarik netizen..” sahut Asep.
Barra tersenyum melihat bagaimana istri dan dua sahabatnya itu, memang seperti sahabat yang saling support satu dengan lainnya. Tidak lupa laki-laki itu mengambil beberapa foto dengan istrinya menggunakan back ground cahaya Aurora.
***********
Keesokan Paginya…
Tanpa memberi tahu Andy, Barra dan Gwen cabut dari Igloo pada pukul 09,00 a.m. Pasangan suami istri itu sudah membereskan urusan hotel dan Igloo di depan, dan sudah open credit card sehingga tidak perlu lapor ke receptionis hotel, jika mereka sudah check out. Barra mengarahkan mobil yang dikemudikan menuju ke hotel yang ditempati Aldo dan Asep.
“Kita hari ini langsung pulang kembali ke Helsinki kan kak.., tidak ada tempat yang akan kita singgahi lagi..” sambil menuju ke hotel dua sahabatnya, Gwen bertanya pada suaminya.
__ADS_1
“Benar honey… ternyata Kayla ada di rumah sendiri. Ketika kita berangkat sore hari menuju Lapland, anak itu datang pada malam harinya. Karena pengaruh Aurora pada malam hari, signal ponsel hilang, dan baru aku mengetahuinya barusan.’ Sambil mengemudikan mobil, Barra bercerita tentang Kayla yang menunggu mereka di rumah.
“Ha…??? Kenapa sih Kayla tidak kasih kabar lebih dulu, jika akan datang ke rumah. Betapa kasihannya anak itu, berada di rumah puncak bukit sendirian lagi. Hanya ada maid yang menemaninya..” Gwen jatuh kasihan pada adik iparnya.
„Hempphh... biarkan saja anak itu Gwen.. Biar Kayla berlatih untuk menjadi lebih sedikit dewasa, tidak hanya nafsu anak muda saja yang selalu dikedepankan. Papa dan mama saja sering berkeluh kesah dengan sikap dan perlakuan Kayla, tapi yah.. bagaimana lagi. Aku juga tidak punya waktu banyak untuk mengawasi anak itu..” Barra malah berkomentar tentang adiknya.
Gwen terdiam, dan tiba-tiba saja gadis itu punya ide. Gwen senyum-senyum sendiri, dan Barra sampai mengerutkan kening melihat sikap istrinya..
“Honey.. what happened, aku amati sejak tadi honey senyum-senyum sendiri.” Barra menoleh untuk melihat wajah istrinya.
“Tidak ada apa-apa kak, hanya saja Gwen punya ide. Kita kenalkan saja Kayla dengan Aldo kak, siapa tahu mereka bisa berjodoh.” Masih sambil tersenyum, Gwen menyampaikan ide pada suaminya.
„Hush... bisa saja sih honey.. Apakah honey tidak merasa menyesal, telah menjalani perjodohan dengan aku. Seperti ibarat orang kata, membeli kucing dalam karung..” Barra terlihat seperti ingin menguji istrinya.
“Ha.. ha.. ha.., kenapa kak Barra malah membalikkan pada Gwen sih.. Kita kan beda, dan ternyata Gwen tahu jika kak Barra sebenarnya bukan orang asing bagi Gwen. Di masa kecil Gwen, ternyata pernah ada kenangan dimana Gwen selalu ingat, hanya saja terlupakan siapa orang itu. Sedangkan kak Barra mengingatnya, namun sengaja main rahasia dengan Gwen.” Gwen malah mengurai Kembali tentang kenangan mereka.
“Hemppphh… karena aku yakin jika Gwen adalah jodohku, makanya tanpa pikir panjang, aku menerima perjodohan itu honey. Meskipun aku juga pernah punya masa lalu dengan Jacqluinee..” Barra tersenyum, dengan tangan kanannya Barra merangkul dan mendekatkan Gwen padanya. Laki-laki itu memberikan kecupan di kening gadis itu, dan Gwen tersenyum malu.
“Kak Barra bisa saja sih. Kan Gwen jadi malu mendengarnya..” gadis itu menutup wajah dengan menggunakan dua telapak tangannya. Melihat hal itu, Barra hanya tersenyum, kemudian kembali focus mengemudi.
*********
__ADS_1