
Beberapa hari kemudian..
Gwen yang sedang berada di dalam kamar mandi terkejut, karena tanpa disadari perutnya tiba-tiba merasa mulas, dan terlihat ada flek darah di ****** ********. Teringat dengan gejala melahirkan putra kembarnya, perempuan itu segera menyelesaikan urusan di kamar mandinya. Dengan berpegangan pada dinding kamar mandi, Gwen berjalan keluar dari kamar mandi tersebut.
“Honey… what happened..?” jarang melihat istrinya pucat dan berpegangan pintu kamar mandi, Barra bertanya pada istrinya.
Laki-laki itu segera mendekat ke arah istrinya dan meraba kening perempuan itu. Gwen sendiri sedang mengumpulkan keberanian untuk memberi tahu suaminya, tanpa ada rasa panik dan khawatir dari laki-laki itu.
“Papa… antarkan mommy ke rumah sakit ya.. Kita perlu memeriksa bayi kita, karena mommy merasa gerakan bayi kita sangat kencang tadi..” menggunakan alasan Gerakan yang terjadi di perut, Gwen meminta suaminya untuk mengantarkan.
“Iyakah Honey.., don.t worry, aku akan mengantarkanmu sekarang. Ayuk kita sekarang juga menuju ke depan, kita tidak boleh menundanya.” Barra langsung panik, tetapi tanpa menunjukkan pada Gwen.
Gwen menghentikan tangan suaminya, dan laki-laki itu menoleh ke arah istrinya dengan penuh tanda tanya.
“Ada apa lagi honey..?? Apakah kamu merasakan sesuatu..?” laki-laki itu kembali bertanya pada istrinya.
„Hemppphh... untuk jaga jaga saja pa.. Perlengkapan kelahiran dalam tas di dalam wardrobe tidak ada salahnya jika kita bawa. Bukankah usia kehamilan mommy juga sudah memasuki HPL. Siapa tahu... bayi kita sudah mendekati masa kelahiran..” sambil berusaha tersenyum, Gwen meminta pada suaminya. Padahal di dalam rahim perempuan itu, kembali muncul rasa nyeri. Namun sebisa mungkin Gwen menahannya, tanpa menunjukkan pada suaminya.
„Benar honey... duduklah dulu di kursi. Aku akan mempersiapkan, dan kita keluar ke kamar secara Bersama-sama.” Barra yang belum menyadari jika istrinya sudah merasakan tanda-tanda akan melahirkan, segera masuk ke dalam wardrobe.
Beberapa saat kemudian, laki-laki itu sudah keluar dari dalam wardrobe dengan membawa sebuah tas di tangannya. Tidak membuang waktu, Barra segera menghampiri istrinya, kemudian merangkul Gwen dan membawanya keluar dari pintu kamar mereka. Ketika mereka sudah mendekati ruang tengah, Gwen melihat Claire yang sedang membersihkan pajangan hiasan di almari kaca. Gwen berhenti sejenak..
__ADS_1
“Claire kemarilah sebentar! Ada yang akan aku bicarakan kepadamu..” Gwen memanggil maid keluarga mereka itu.
„Baik Miss..” perempuan itu tergopoh gopoh mendatangi Gwen. Barra berjalan lebih dulu, untuk memasukkan tas ke dalam mobil yang sudah siap di halaman rumah,
“Claire… nanti siang sampaikan pada Smith, untuk menjemput Bareeq dan Tareeq di sekolah mereka. Sepertinya, masa kelahiran bayiku sudah dekat Claire, jadi aku akan ke rumah sakit sekarang. Juga tolong persiapkan kamar untuk bayiku, di samping kamar si kembar..” Gwen banyak menyampaikan pesan pada Claire.
“Semua akan Claire lakukan sesuai arahan Miss… hati-hati Miss..” tanpa banyak pertanyaan, Claire segera mengiyakan. Perempuan itu menghentikan aktivitas terakhirnya, dan melihat ke arah majikannya.
Gwen segera berjalan menuju ke arah pintu keluar, dan Claire mengikuti di belakang, untuk memastikan jika majikannya baik-baik saja. Melihat tuan Barra sudah Bersiap di depan mobil, Claire memegangi lengan atas Gwen, membantu perempuan itu untuk turun dari tangga dan membawanya ke mobil yang sudah siap. Barra tersenyum dan menyambut istrinya, dan laki-laki itu belum menyadari jika istrinya tengah merasakan nyeri di dalam rahimnya,
***********
HUS Naitenklinikka..
“Tenanglah honey.., aku akan mengambil kursi roda untukmu..” begitu mobil berhenti, Barra yang merasa panik akan turun telebih dulu untuk mengambil kursi roda. Namun dengan erat, tangan Gwen menahan lengan atas suaminya.
“Kenapa kamu memegangiku sangat erat honey, aku akan segera mencari pertolongan untukmu..” lanjut Barra, dan melihat ke arah cengkeram tangan istrinya,
“Papa terlalu panik, Gwen masih sanggup berjalan pap.. Apalagi jalan kaki juga membantu untuk membuka jalan lahir bayi. Temani Gwen saja pa.. kita berjalan bersama menuju ke IGD..” dengan tatapan memohon, Gwen meminta pada suaminya.
Tanpa banyak bicara, Barra segera mengangguk. Dengan sigap, laki-laki itu segera membuka pintu mobil, dan menuju ke arah pintu mobil di kursi sebelahnya. Perlahan Barra membantu Gwen keluar dari dalam mobil, dan tiba-tiba langsung mengangkat tubuh istrinya dengan bridal style.
__ADS_1
”Apa yang papa lakukan padaku... malu pa, dilihat banyak orang..?” karena beberapa orang melihat ke arah mereka, Gwen meminta suaminya untuk menurunkan tubuhnya.
Namun Barra bukan laki-laki yang mudah untuk dibilangi, Apalagi melihat kesakitan yang dialami istrinya, laki-laki itu tetap menggendong Gwen dan membawanya ke IGD. Melihat kepanikan laki-laki itu, dan untung ada dokter yang mengenalnya, beberapa tenaga medis segera mendatangi Gwen dan melakukan pemeriksaan.
„Tuan Barra.. silakan minggir sebentar ya.. Nyonya akan kami berikan pemeriksaan terlebih dahulu..” suara dokter meminta laki-laki itu untuk menepi,
Tanpa banyak kata, Barra bergeser dan berdiri di samping kepala istrinya, Melihat Gwen yang terus meringis, dan mulutnya mendesis menahan sakit, Barra mengusap kening istrinya. Baru kali ini, laki-laki ini berhadapan dengan seorang perempuan yang sedang merasa kesakitan karena akan melahirkan,
“Honey sabarlah sayang, kenapa kamu tidak bilang padaku jika honey sudah akan melahirkan..” Barra betul-betul tidak tega melihat penderitaan istrinya.
Dokter dan tenaga medis meminta Gwen untuk mengangkat kedua lututnya ke atas. Dan di depan mata laki-laki itu, dokter memasukkan telapak tangannya ke dalam organ intim istrinya. Laki-laki itu menahan nafas, seakan ikut merasakan rasa nyeri yang dialami istrinya..
„Hemmpphh... sudah bukaan jalan lahir lima cm. Kita tunggu beberapa saat lagi, dan sepertinya tidak perlu untuk kita pacu dulu..” suara dokter memecah kesunyian.
Barra Kembali melihat ke arah istrinya, dan laki-laki itu mengambil tissue untuk membersihkan keringat yang mulai muncul di leher dan kening Gwen.
“Mmmmppph… sshhhh… aaaww..” tiba-tiba Gwen mencengkeram Kembali lengan atas Barra, sampai kuku gadis itu menekan kulit laki-laki itu. Rupanya Gwen Kembali berjuang menahan sakit, dan Barra hanya mendiamkan perlakuan istrinya itu. Beberapa saat kemudian..
“Honey… aku tidak tega melihatmu kesakitan seperti ini sayang.. Bagaimana jika honey melakukan Caesar surgery saja, agar tidak merasakan nyeri berkepanjangan..” merasa tidak tega, Barra mencoba mempengaruhi istrinya.
Namun bukan jawaban yang keluar dari bibir Gwen, hanya gelengan kepala. Gwen menolak untuk melakukan operasi.
__ADS_1
“Tenanglah Tuan Barra.. istri anda mengalami hal alami dan kodrat seorang perempuan. Tetapi semua rasa sakit ini akan segera menghilang dengan sendirinya, jika baby sudah terlahir ke dunia ini..” Dokter yang melihat interaksi pasangan suami istri ini, mencoba memberikan pengertian pada laki-laki itu.
*************