Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 58 Bougainvillea Room


__ADS_3

Wajah Gwen memerah, karena tanpa sadar dirinya menikmati ciuman yang diberikan Barra kepadanya, Bahkan ketika Barra sudah selesai dan melepaskan bibir gadis itu, Gwen masih memejamkan matanya. Gadis itu baru tersadar ketika mendengar bisikan suaminya...


„Honey... mau kita lanjutkan adegan romantic ini di kamar hotel, atau tetap bergabung dengan partisipan Olimpiade…” ucapan lirih suaminya itu menyadarkan Gwen.


Sontak gadis pipi gadis itu bertambah merah, dan Gwen segera mengalihkan perhatian pada barang bawaannya.


Barra tersenyum penuh arti, ada rasa senang dan bangga dalam hati laki-laki muda itu. Barra yakin, tidak akan lama lagi Gwen pasti akan dapat menerimanya, dan mereka akan menjadi pasangan suami istri yang bahagia.


„Semua barang dan perlengkapanmu ada di bagasi. Nanti biar pengawal yang membereskan semuanya. Honey keluar dulu saja, aku akan mengantarkanmu ke pintu masuk. Sekalian aku kenalkan dengan temanku yang sudah menunggu kita disana.” Barra kemudian membantu istrinya turun dari dalam mobil.


Tanpa menjawab karena masih merasa malu, Gwen segera mengikuti arahan suaminya. Tampak pengawal yang menemani driver segera mengeluarkan trolly bag yang akan dibawa Gwen. Pasangan suami istri itu segera menuju ke pintu masuk.


"Good morning... permission or us to do an examination first, before entering the laboratory area." terlihat ada dua petugas yang mencegat mereka. Barra berhenti dan memegangi istrinya. Laki-laki itu membiarkan petugas melakukan pemeriksaan pada mereka berdua.


Tiba-tiba dari dalam ruangan, datang teman Barra yang sudah mengiriminya pesan. Laki-laki tinggi tegap itu mendatangi Barra dan Gwen, kemudian tampak berbicara dengan petugas pemeriksa. Akhirnya petugas pemeriksa itu membiarkan pasangan suami istri itu untuk bersama dengan rekan kerjanya. Barra dan temannya itu berpelukan, dan Gwen hanya menatap keduanya dengan cuek. Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu, tampak pagar kawat berduri hampir rapat mengelilingi tempat itu.


“Hempph… semoga tidak menjadi sesuatu yang menjemukan, karena harus terkarantina di tempat ini selama beberapa hari..” Gwen  bergumam melihat keketatan pengamanan di tempat itu. Banyak pohon besar yang mengelilingi laboratorium, dan sepertinya memang dibiarkan dalam keadaan seperti itu. Namun.. meskipun suhu udara di tempat itu dingin, tetapi keberadaan pohon-pohon itu memberikan kesejukan, dan seperti ada rasa damai berada di tempat itu.


“Honey… kenalkan temanku…!” tiba-tiba terdengar Barra memanggilnya.


Gwen membalikkan badan, dan berjalan mendekati suaminya. Barra memeluk istrinya, dan Gwen tersenyum sambil


mengulurkan tangan pada laki-laki tegap itu.

__ADS_1


“Gwen Alvaretta…, call me Gwen..” ucap Gwen lirih.


“Ronnie, sweety….. Mmmmph imut sekali Barra… jika kamu belum terikat dengan Gwen.., pasti aku akan berjuang untuk mendapatkan kekasihmu ini..” sambil bercanda, laki-laki Bernama Ronnie itu


“Buk..” terlihat Barra memukul lengan atas Ronnie, tetapi tidak dirasakan apapun oleh laki-laki itu. Ronnie malah tertawa melihat kelakuan temannya itu.


“Ha.. ha.. ha.., tidak perlu khawatir padaku bro... Aku tahu diri, aku tahu jika kamu sangat mencintai kekasih imutmu bukan... Tenang.., aku akan menjaganya untukmu selama di dalam laboratorium..” sambil tertawa, Ronnie mengucap janji pada temannya itu.


Rupanya Barra mengenalkan Gwen sebagai kekasihnya, bukan sebagai istri yang sudah dinikahinya. Rupanya anak muda itu ingin melindungi status Gwen, yang memang belum dibolehkan untuk menikah ketika masih studi pada tingkat SMA. Gwen hanya memandang kedua teman itu dengan tersenyum, tidak ikut berkomentar.


“Okay Barra… aku tidak bisa membawamu masuk ke dalam. Aku akan mengantarkan Gwen ke kamarnya untuk beristirahat. Sudah beberapa orang yang sudah datang, dan sudah masuk ke dalam kamar. Acara akan dibuka nanti malam…” karena sudah aturan, akhirnya Ronnie tidak mengijinkan Barra untuk masuk ke dalam.


“Gwen ke dalam dulu kak…” tidak mau meninggalkan etika, Gwen berpamitan pada suaminya,


*********


Bougainvillea Room


Mata Gwen mengerjap, karena begitu masuk ke dalam kamar sebagai tempat istirahatnya, sudah ada dua gadis yang berada di dalamnya. Melihat kedatangan Gwen yang masuk ke dalam, ketiga gadis yang sedang berbincang itu melihat ke arah Gwen yang berjalan masuk.


"Hi.. am I not bothering you all? I will go into the room.." dengan Bahasa Inggris fasih, Gwen bertanya pada ketiga gadis itu sebelum dirinya masuk ke dalam. Gadis masih berdiri di tempatnya…


"Of course, please come inside…” dengan ramah ketiga gadis itu segera berdiri dan berjalan menghampiri Gwen.

__ADS_1


“Kenalkan namaku Gwen Alvaretta, Call me Gwen…, and I.m from Indonesia.” Gwen segera memperkenalkan dirinya.


Ketiga gadis itu juga mengenalkan diri mereka, dan mereka kemudian mengajak serta memberi tahu ranjang tempat Gwen beristirat. Ketiga rekannya itu ada yang berasal dari Jepang, Taiwan, dan Canada. Mereka cepat sekali terlihat akrab, dan saling berbincang.


“Gwen.. kapan kamu sampai di New York…” Hikata dari Jepang bertanya pada gadis itu,


„Sudah kemarin Hikata, aku menginap di Aman New York dengan keluargaku..” tanpa berpikir panjang, dengan


polosnya Gwen menjawab pertanyaan ketiga teman barunya itu.


“What… apakah kamu tidak salah bicara Gwen... Kamu dan keluargamu menginap di Aman New York..” tampak sorot kekaguman di mata ketiga gadis yang bernama Hikata, Cathy, dan Selena itu. Mereka berpikir, hanya orang yang memiliki kekayaan saja yang bisa tinggal di hotel itu. Bahkan mereka tidak tahu, tipe kamar yang ditempati oleh Gwen Ketika berada di dalam hotel itu.


“Kenapa kalian semua menatapku seperti itu… Iya benar aku menginap di Pant House Aman Hotel New York, dan


keluargaku menunggu aku sampai acara Olimpiade ini selesai. Dan aku menyelesaikan ujian kelulusan di Embassy. Apakah ada yang salah..?” Gwen yang tidak pernah tahu harga, dan tidak pernah tahu berapa kekayaan serta asset keluarganya dengan santai menanggapi kekaguman teman-temannya itu dengan santai.


Ketiga gadis itu saling beradu pandang, kemudian mereka tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka heran dengan sikap polos yang dimiliki Gwen..


“Sudahlah Gwen… beristirahatlah. Kita bersiap untuk acara nanti malam..” akhirnya Hikata tidak mau mempermasalahkan hal tersebut. Gadis itu segera meminta Gwen untuk beristirahat.


Tanpa berpikir Panjang, Gwen kemudian berjalan menuju ke ranjang dan perlengkapan yang disiapkan untuknya.


Meskipun mess itu dihuni empat orang, namun fasilitas di kamar itu terbilang memuaskan. Ada dua kamar mandi mewah di dalam kamar itu, dan mereka bisa menggunakannya dengan saling bergantian.

__ADS_1


*********


__ADS_2