
Keesokan harinya
Gwen terbangun ketika alarm pertanda agar dirinya bersiap ke sekolah berbunyi. Gadis itu segera menyingkirkan selimut, dan bergegas bangun untuk menuju ke kamar mandi. Gwen seperti terlupakan jika dirinya sudah menikah, dan dengan santai gadis itu berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Hari sekolah merupakan hari yang selalu ditunggu oleh gadis itu, karena meskipun sering membuat keributan di kelas, namun merupakan hari kebebasannya jika sudah bertemu dengan teman-temannya.
"Hempph tugas sekolah sudah aku kerjakan, tidak ada lagi beban tugasku hari ini." sambil berjalan masuk ke kamar mandi, Gwen berbicara sendiri.
Tidak lama kemudian, sudah terdengar suara gemericik air dari shower, dan Gwen mulai mengguyur kepala serta seluruh anggota tubuhnya. Bau harum shampoo Body Shop seakan menutrisi dan merelaksasi indera penciumannya, mata Gwen sampai terpejam. Tiba-tiba saja Gwen teringat jika dirinya sudah menikah dengan Om Barra..
"Oh my God.. kenapa aku bisa melupakan, jika aku sudah tidak bisa sebebas dulu di kamarku sendiri, Hampir saja aku terlupa, jika saja aku tidak ingat, aku akan keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan apapun.. Syukurlah.. aku masih ingat siapa diriku.." Gwen mengingat kejadian buruk dalam hidupnya.
Setelah beberapa saat di kamar mandi dan harus segera berangkat ke sekolah, Gwen segera menyelesaikan mandinya. Gadis muda itu segera keluar dari dalam kamar mandi, dan tatapan Gwen tertumbuk pada suaminya Barra yang masih tertidur di sofa panjang.
"Aku tidak boleh membangunkan Om Barra, jadi aku bisa berangkat sendiri ke sekolah menggunakan Ducati ku.." sambil mengambil baju seragam, dan membawanya masuk ke walk in closed untuk ganti di tempat itu, Gwen bergumam lirih.
Dengan cepat, Gwen mengusapkan deodorant dan menyemprotkan parfum di titik-titik nadinya, kemudian dengan cepat mengenakan pakaian seragamnya. Tidak mau berlama-lama di dalam kamar, karena merasa khawatir jika Barra terbangun, Gwen segera bergegas keluar dari dalam kamarnya. Gadis itu memang tidak pernah mengenakan make up di wajahnya, hanya sun screen, pelembab dan bedak bayi yang selalu setia menemani rutinitas hari-harinya.
"Non Gwen.. untuk makan paginya bagaimana non..?" tiba-tiba baru beberapa langkah gadis itu keluar dari dalam kamar, tiba-tiba Bi Surti sudah bertanya kepadanya.
"Gwen tidak sempat sarapan pagi Bi... karena ada jadwal piket pagi ini." sambil mengenakan sepatu, Gwen menjawab pertanyaan dari ART setia di rumah kakeknya itu.
"Jika begitu tunggu sebentar non.. Bibi akan mengambilkan bekal untuk sarapan pagi nona. Nanti di sekolah, non bisa makan bekal jika waktunya istirahat.." Bibi Surti tergopoh-gopoh meninggalkan Gwen. Gadis itu tidak mau mengecewakan perempaun yang sudah mengawasinya sejak dirinya masih bayi itu, sehingga Gwen menunggu sampai Bibi Surti membawakan kotak bekalnya.
"Hari ini kamu mau masuk sekolah Gwen... tidak bisakah kamu ijin tidak masuk sekolah barang beberapa hari..?" tiba-tiba Gwen dikagetkan dengan suara kakek Atmadja.
__ADS_1
"Tidak bisa begitu kek.. ingat Gwen saat ini sudah klan XII, dan sebentar lagi akan ada ujian kelulusan. Bagaimana Gwen bisa dapat nilai bagus kek, dan bisa masuk di perguruan tinggi favorit, jika Gwen banyak bolosnya.." Gwen membuat alasan.
"Hempph terserahlah.. dimana suamimu Barra..?" tiba-tiba kakek Atmadja bertanya tentang suaminya,
Gwen kaget mendapatkan pertanyaan itu, tetapi untungnya gadis itu berpikir cerdas.
"Kak Barra terlalu capai kek, saat ini kak Barra masih tertidur, dan mengijinkan Gwen untuk berangkat sekolah sendiri," Gwen kembali membuat alasan.
Kakek Atmadja tidak mudah percaya, tetapi untungnya melihat rambut di kepala Gwen masih basah, karena gadis itu baru saja mencuci rambutnya, sepertinya kakek Atmadja memahami apa yang terjadi dengan pengantin baru itu tadi malam.
"Ya sudah.. berarti kamu berangkat sendiri ke sekolah., karena Om mu Andrew juga tidak bisa mengantarmu. Om Andrew sudah berangkat ke Singapura dengan flight pertama pagi ini," jawaban kakek Atmadja menimbulkan secercah kebahagiaan di hati Gwen.
"Siap kakek Atma.." sahut Gwen dengan senyum cerah,
**********
Perlahan Gwen mengurangi kecepatan motornya ketika sudah memasuki gerbang sekolahnya. Terlihat di dalam gerbang, Aldo sudah menunggunya, begitu laki-laki itu melihat kedatangan Gwen, Aldo segera menyalakan sepeda motornya kemudian mengikuti Gwen yang menuju ke tempat parkir motor.
"Tumben Gwen.. tidak telat pagi ini.." ketika mereka berdua sudah turun dari motor mereka, Aldo bertanya pada Gwen.
"Tidaklah Ald.. masak aku tidak berubah, bukannya sebentar lagi kita sudah akan lulus dari sekolah ini. Bolehlah.. sekali-kali aku mengurangi kenakalanku.." padahal untuk menghindari agar Barra tidak mengantarkannya ke sekolah, Gwen berangkat lebih pagi. Tetapi gadis itu menggunakan alasan lain untuk menjawab pertanyaan Aldo.
"Hempph benar juga sih, by the way... bagaimana apakah tugas tiga hari lalu, kamu sudah mengerjakannya Gwen.. Sepertinya kamu tidur deh.." tiba-tiba Aldo mencoba mengingatkan tugas sekolah dari guru Kimia.
__ADS_1
Laki-laki muda itu segera berjalan menjejeri langkah Gwen, dan keduanya langsung berjalan menuju ke arah kelas mereka. Namun karena masih terlihat sepi, keduanya kemudian duduk di kursi yang ada di selasar depan kelas mereka.
"Tadi malam aku sudah sempat mengerjakannya Ald.. yah sekali-kali aku bolehlah rajin, kan tadi sudah aku katakan, jika aku akan berubah untuk menjadi lebih baik. Kamu sendiri bagaimana, jika belum mengerjakan, kamu bisa contek dari pekerjaanku.." Gwen menanggapi perkataan Aldo.
"Jangan khawatir Gwen.. tugasku sudah dikerjakan oleh Alex kemarin sore," sahut Aldo.
Laki-laki itu kemudian terdiam, seakan menimbang-nimbang untuk menanyakan sesuatu pada Gwen. Namun sepertinya Aldo tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya. Beberapa saat mereka duduk, teman-teman sekelas mereka mulai berdatangan. Suasana menjadi hiruk pikuk dengan segala macam tingkah laku anak-anak. Hanya Gwen saja yang merasa lebih banyak diam, dan sesekali tersenyum melihat keakraban teman-temannya,
"Hi Gwen... dimana Om gantengmu kemarin, kamu jahat masak tidak mengenalkanku kemarin.. Punya Om ganteng seperti itu, jangan diumpetin dong.." tiba-tiba Alana mendekati Gwen, dan berbicara tentang Barra.
"Halah Alana cantik... PR dari guru Kimia sudah dikerjakan belum. Datang-datang bicarakan cowok, pamali.." Gwen dengan santai menanggapi ucapan Alana. Dalam hati saja, Gwen merasa sebal sudah dinikahkan dengan Barra, tetapi teman sekelasnya yang cantik ini malah memuji laki-laki itu. Terselip rasa sebal di hati Gwen, dan gadis itu berdiri serta masuk ke dalam kelas,
"Gwenn... ayolah bercerita tentang Om mu yang kemarin sore.,." Alana tidak berhenti berusaha. Gadis itu terus mendesak dan mengikuti teman sekelasnya itu.
Tiba-tiba dari belakang Aldo menarik krah baju Alana, sampai gadis itu tertarik ke belakang.
"Iiiihhh kenapa sih Aldo... tidak mau jika teman perempuannya senang." Alana dengan sewot menyemprot keusilan anak muda itu.
"Jaga dirilah, image paling tidak. Mengejar-ngejar untuk dikenalkan dengan laki-laki, Tengsin tahu.." Aldo dengan judes berkomentar tentang tingkah gadis itu.
Gwen tersenyum sambil menutup mulutnya, dan gadis itu segera duduk di kursinya. Alana melotot dan menatap sengit padanya, tetapi Gwen mengabaikan.
**********
__ADS_1