Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 46 Please... Tolong Aku


__ADS_3

Gwen menyembunyikan senyum yang sudah akan mengisi bibirnya pada Barra, dan karena melihat suaminya belum tidur, Gwen menjadi merasa serba salah. Gadis itu kemudian berjalan menuju tas sekolahnya, dan tidak lama kemudian Gwen punya alasan untuk mengerjakan tugas sekolah yang diberikan mister Satria. Dalam hati, gadis yang biasa mengumpat jika diberikan PR oleh gurunya itu, saat ini malah tersenyum. PR itu bisa menjadi alasan untuk mengalihkan diri  dari suaminya.


"Ternyata istriku rajin juga, apakah aku perlu memberikan bantuan honey..." dari atas ranjang, Barra mengajak Gwen berbicara.


"Tidak perlu, Gwen tidak begitu bodoh jika hanya soal-soal mudah seperti ini..." tanpa melihat ke wajah suaminya, Gwen menanggapi tawaran itu.


Barra tersenyum, dan terlihat Gwen kembali fokus pada pekerjaannya. Gadis itu memang tidak terlihat jika sedang mengalami kesulitan, bahkan jari tangannya terlihat lancar menulis pada selembar kertas folio di atas meja, Tidak lama kemudian Gwen sudah menyelesaikan semua PR nya, dan ketika gadis itu akan kembali ke ranjang, terkejut karena ternyata suaminya masih fokus pada layar gadgetnya,


"Sudah selesai honey..?" tanya Barra pelan, ketika melihat istrinya sudah naik ke atas ranjang.


"Hempph... sudah tahu nanya.." dengan ketus Gwen menjawab pertanyaan itu, kemudian mengambil dua guling dan membuat pembatas wilayah kekuasaannya dengan wilayah tidur suaminya. Barra tidak berkomentar apapun, laki-laki itu hanya tersenyum dan pura-pura kembali melihat ke dalam laptopnya.


"Rrrrrr...." beberapa saat Gwen tertidur, Barra tersenyum melihat ke arah istrinya. Gadis itu tiba-tiba saja sudah tertidur dan terdengar suara dengkuran lirih dari istrinya.


Barra merasa gemas, dan laki-laki itu segera meletakkan gadget di meja kecil samping ranjang. Tanpa peringatan, tangan Barra menyingkirkan dua guling yang menjadi pembatas antara dirinya dan Gwen. Laki-laki itu tersenyum, kemudian memberikan ciuman di pipi dan kening Gwen, tanpa diketahui oleh gadis itu. Tidak lama kemudian, Barra berbaring di samping Gwen kemudian mendekap tubuh istrinya. Karena merasa capai, tidak lama memejamkan mata, Barra juga langsung tertidur.


**********


Pagi harinya...


Gwen merasakan kenyamanan ketika ada hembusan hangat mengenai leher belakangnya. Gadis itu belum tersadar jika dirinya berada dalam pelukan Barra, dengan kepala dan wajah tersembunyi di dada laki-laki itu. Tetapi sesaat kemudian, Gwen tersentak karena merasa pinggangnya ada benda yang menindih. Spontan Gwen membuka matanya, dan kaget ketika dirinya menyadari di depannya adalah dada Barra.

__ADS_1


"Aaaawww.... apa yang kak Barra lakukan padaku...." dengan sekuat tenaga, Gwen mendorong dada suaminya. Barra yang masih tidur terkejut, dan untungnya tubuh laki-laki itu tidak terpelanting ke bawah, karena luasnya ranjang di kamar itu,


"Mmmmphh... ada apa sih, pagi-pagi begini sudah berisik..." dengan tanpa bersalah, Barra membuka mata dan bertanya pada istrinya. Tatapan mata Gwen melotot seakan-akan menghunjam ke dalam mata dan hati Barra.


"Kak Barra jahat, sudah memperkosa Gwen... Kak Barra jahat.." Gwen berteriak tidak terkendali sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Barra kaget mendengar tuduhan itu, tetapi tidak lama kemudian laki-laki itu malah tersenyum, dan menyadari apa yang dilakukannya tadi malam.


"Honey... dengarkan dulu kata-kata suamimu. Pertama... tidak ada kamus yang mengatakan, seorang suami sudah memperkosa istri sayang. Dalam Al Quran jelas ada satu ayat yang mengatakan, jika istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Aku pikir istrikun yang cerdas bisa memaknai ayat tersebut bukan..?" sambil tersenyum, Barra menjawab tuduhan itu.


"Yang kedua.. cobalah honey berdiri dan melangkahkan kaki beberapa langkah ke depan. Apakah honey merasa ada sesuatu yang aneh pada area kewanitaanmu.. Dari situ bisa disimpulkan, apakah pemerkosaan itu terjadi sayang..." lanjut Barra sambil terus menatap wajah istrinya.


"Ketiga... jika istri tercintaku menuduh suamimu ini telah melakukan pemerkosaan, kalimat itu seperti zat aphrosidiac untukku, dan aku ini laki-laki normal sayang. Jangan salahkan aku, jika aku meminta jatahmu pagi ini.." mendengar kalimat yang diucap pelan oleh suaminya, Gwen langsung berdiri dan berlari ke dalam kamar mandi,


Sepeninggalan Gwen, Barra merasa tersiksa karena ada bagian tubuh di bawah ke atas tiba-tiba merasa sesak. Ada sesuatu yang sangat menyiksanya, dan meminta untuk dilampiaskan.


Laki-laki itu langsung berdiri dan mencoba menggerak-gerakkan tangan dan kaki untuk mengalihkan ransangan tersebut. Tetapi Barra malah semakin tersiksa...


"Hemmph .. apa yang harus aku lakukan ini. Mau berendam... tapi kamar mandi digunakan oleh Gwen... mau ke kamar mandi luar, tidak mungkin..." dengan wajah merah menahan sesuatu, Barra terlihat gelisah. Laki-laki itu bingung untuk melakukan sesuatu, dan hanya berkeliling ruangan sambil menahan sesuatu.


********


Di dalam kamar mandi...

__ADS_1


Wajah Gwen terlihat merah menahan malu, karena sudah menuduh suaminya melakukan hal yang belum diinginkannya. Karena merasa tidak bisa menahan rasa malu, akhirnya mandi untuk bersiap ke sekolah menjadi pilihan untuknya.


"Aku sudah salah menuduh kak Barra melakukan perbuatan bejat padaku.. Apakah kak Barra marah padaku ya..?" sambil mengguyur tubuh dengan shower, Gwen berpikir sendiri.


Teringat kembali dengan kata-kata yang sudah diucapkan pada suaminya, pipi Gwen mulai memerah. Tiba-tiba tidak tahu kenapa, seperti ada perasaan lain, dan merasa ingin diperlakukan lebih oleh suaminya. Wajah Barra yang selalu menggoda dan membuatnya kesal, terbayang jelas di wajahnya.


"Sebenarnya kak Barra itu laki-laki yang baik, dalam keadaan terdesak dan terpaksapun, kak Barra masih menjaga dan melindungi statusku sebagai istrinya di depan teman-temanku. Tapi... oh my God.. akan ditaruh mana mukaku, jika teman-temanku tahu kalau aku sudah menikah, dengan laki-laki yang jauh lebih dewasa dariku... Dijodohkan lagi, seperti aku tidak bisa mencari suami saja..." Gwen kembali mengguyur kepalanya dengan shower, setelah berbicara sendiri.


Semakin berpikir tentang Barra, wajah Gwen semakin memerah dan jantungnya terasa berdebar keras. Tetapi gadis itu seperti mencoba mengingkari apa yang dirasakannya itu. Tiba-tiba...


"Tok.. tok.. tok..." terdengar ketukan pintu kamar mandi dari luar.


"What... siapa itu, apakah kak Barra. Apakah laki-laki tua itu tidak tahu sih, jika aku masih mandi.." Gwen menggerutu mendengar ketukan pintu itu.


"Tok.. tok... tok..., honey buka pintu kamar mandi sayang.." terdengar suara serak suaminya. Gwen sampai kaget dan begidik mendengar teriakan tersebut,.


"Gwen sedang mandi kak, bukankah kak Barra tahu sendiri bukan... Tunggu sebentar kak," dengan nada amarah, Gwen menjawab panggilan itu.


"Ayolah honey.. please, tolong aku..." dengan suara merintih, terdengar suara Barra,


Gwen yang masih polos, bingung dan mendadak merasa khawatir dengan suara serak dan panik suaminya. Gadis itu berpikir jika sudah terjadi sesuatu pada suaminya.

__ADS_1


*************


__ADS_2