
Aldo, Asep, dan Raffi akhirnya menuju ke New York malam hari berikutnya. Pihak keluarga harus mengurus perijinan ketiga anak muda itu dari The Intercultural School. Dengan alasan menjadi tim pemandu Gwen, akhirnya pihak sekolah memberikan mereka ijin karena sepeserpun mereka tidak meminta dukungan dari pihak sekolah. Dengan wajah ceria, ketiga anak mud aitu segera menuju ke bandara halim Perdana Kusumah untuk naik ke private jet keluarga Firmansyah.
“Aldo… jaga dirimu di New York… karena papa dan mamamu tidak bisa bertolak ke negara itu. Masih banyak urusan bisnis yang harus papa urus..” dalam perjalanan menuju bandar udara, tuan Firmansyah menasehati putranya.
“Siap pa… lagian ada Asep dan Raffi juga. Papa dan mama tidak perlu terlalu khawatir dengan keadaan Aldo pa..” dengan fresh, Aldo menjawab.
Tuan Firmansyah dan Nyonya Helene saling berpandangan, dan akhirnya Nyonya Helene menganggukkan kepala.
“Asep… Raffi… bantu awasi putra tante ya nak... kalian yang harus mengingatkan jika Aldo dalam arah tindakan yang menyimpang. Sebagai sahabat, kalian bertiga harus saling mendukung dalam kebaikan..” nyonya Helene berpesan pada Asep dan Raffi.
“Baik tante.. kami bertiga akan saling menjaga.” Asep yang lebih akrab dengan keluarga itu, menjawab. Raffi di sampingnya ikut menganggukkan kepala.
Akhirnya rombongan itu dalam diam menuju ke bandar udara Halim Perdana Kusuma. Di depan pintu kedatangan, sopir menghentikan mobil. Semua yang berada di dalam mobil langsung menuju keluar.
“Kita langsung masuk saja… penerbangan private jet kita sudah dijadwalkan..” Tuan Firmansyah mengajak tiga anak muda masuk ke pintu masuk non komersil. Nyonya Helene mengikuti di belakang.
Beberapa saat kemudian akhirnya mereka sudah turun ke lapangan, dan berjalan menunggu private jet yang berbeda. Di depan mereka, sudah ada dua private jet yang tampak menunggu mereka.
“Aldo… papa dan mama tidak bisa menyertaimu ke New York. Papa dan mama ada urusan lain di pulau Bali. Dua minggu ke depan, papa dan mama baru akan bisa menyusulmu ke New York, sekaligus akan ajak kamu ke Canada,” ketika Aldo sudah akan naik ke tangga masuk jet, tuan Firmansyah mengajak bicara putra laki-lakinya itu.
__ADS_1
„Hempph,,, tidak masalah pa, karena biasanya juga seperti itu bukan..? Papa dan mama tidak selalu ada untuk Aldo, sudah biasa pa,,” setelah menjawab, Aldo langsung masuk ke dalam private jet.
Tuan Firnansyah dan Nyonya Helene hanya saling bertatapan, dan mereka menghela nafas. Asep dan Raffi mengajak pasangan suami istri itu berjabat tangan, sebagai tanda mereka berpamitan dengan sopan,
“Asep berangkat Om… tante, terima kasih untuk semuanya. Karena Om Firman dan tante Helene, Asep bisa berkunjung ke Amerika, negara super power…” sambil malu-malu, Asep mencium punggung tangan kedua orang dewasa itu,
“Sama-sama Asep… Raffi, Om dan tante titip Aldo ya. Amati terus, jangan sampai anak muda itu melakukan sesuatu yang merugikan untuk masa depannya. Kalian bertiga harus saling menjaga..” Tuan Firmansyah menepuk Pundak dua anak muda itu.
“Inshaa Allah Om, tante… akan kami usahakan untuk saling menjaga..” kedua anak muda itu segera berjalan masuk ke dalam private jet.
Melihat pintu private jet ditutup oleh pramugari, pasangan suami istri itu kemudian beralih menuju ke jet yang akan mengantar mereka ke pulau Bali. Karena hanya lintas pulau, dan tidak memerlukan transit, mereka menggunakan private jet yang lebih kecil jika dibandingkan dengan private jet yang membawa Aldo dan kedua temannya.
*********
Barra mengantarkan Jacqluine sampai ke lobby hotel. Sebenarnya perempuan itu menolak untuk diantarkan masuk ke lobby, dan hanya meminta laki-laki itu untuk mengantarnya sampai ke tempat kedatangan tamu saja. Namun Barra tidak mau, laki-laki itu tetap memaksa untuk masuk ke dalam, sekalian ingin mencari tahu, dengan siapa kekasihnya di masa lalu itu berada di hotel tersebut.
“Kita duduk disini dulu saja beb... kamu masih berutang penjelasan padaku..” Barra enggan melepaskan tangan Jacqluin, dan menahan perempuan itu untuk menuju ke kamar tidurnya.
“Apakah penjelasanku tadi pagi belum cukup sayang...?” Jacqluine tampak keberatan, tetapi Barra tetap memaksanya untuk menjelaskan.
__ADS_1
Tanpa bicara, Barra membawa Jacqluine duduk di sofa yang ada di lobby. Berada di hotel mewah dengan tamu-tamu terhormat di tempat itu, membuat perempuan cantik itu tidak banyak berulah. Setelah menghela nafas, dengan terpaksa Jacqluine mengikuti Barra untuk duduk di samping laki-laki itu.
„Barra... aku terpaksa meninggalkanmu kala itu. Aku dihadapkan pada dua pilihan, tetap bersamamu ataukah mengejar karir yang selama ini aku impikan. Bukankah kamu tahu sayang, karir seperti apa yang aku inginkan...” Jacqluine menatap laki-laki yang juga dicintainya itu dengan tatapan permintaan maaf.
“Hempph… selalu itu yang kamu katakan kepadaku. Karir... karir... dan karir.. Dan apakah kali ini karirmu sudah terkejar beb... ataukah masih menunggu waktu...” Barra terus mengejar penjelasan.
Jacqluine terlihat gelagapan merasa terus ditekan oleh kekasihnya itu, tetapi tidak bisa dipungkiri dalam hatinya, meskipun sudah banyak laki-laki yang datang dan mengisi kesepiannya, hanya Barra yang sampai saat ini diharapkan untuk bersamanya,
„Kenapa kamu diam beb... apakah akan sulit untuk menjawab pertanyaanku. Tanpa sengaja, secara kebetulan Tuhan mempertemukan kita di Aman Hotel. Mungkin ada dua maksud Tuhan mempertemukan kita.., untuk mempersatukan kita Kembali seperti dulu. Atau kemungkinan yang kedua, kamu diberikan kesempatan untuk menjelaskan semuanya kepadaku..” tanpa berpindah, Barra masih terus menatap perempuan di sampingnya itu.
“Barra… yakin dan percayalah sayang, aku masih sangat mencintaimu. Tunggu aku beberapa saat lagi sayang, biarkan aku mengejar impianku dulu. Tapi aku akan selalu menemanimu…” dengan tatapan memohon, Jacqluine masih meminta laki-laki itu untuk menunggunya. Kemungkinan perempuan itu tidak tahu, jika laki-laki yang dicintainya itu sudah menikah.
Laki-laki itu terdiam sebentar, dan masih terus menatap ke arah perempuan itu. Dalam otak Jacqluine sejak mereka duduk di bangku SMA, selalu alasan karir menjadi top model internasional yang selalu dikejarnya. Bahkan karena dirinya tidak mengijinkan kala itu, Jacqluine perlahan menghilang dan meninggalkannya. Barra tersenyum kecut, merasa berada di dalam dua pilihan. Di satu sisi, ada Gwen yang sudah dinikahinya. Di sisi lain, dirinya sudah menemukan kembali kekasih hatinya di masa lalu.
„Terserah kamu saja beb... semua keputusan ada padamu. Aku tidak akan mengejarmu lagi, karena seakan aku hanya mengejar bayang-bayang semu saja. Dan aku juga tidak akan memaksamu untuk kembali padaku, waktu yang akan menjawab semuanya..” akhirnya dengan senyum pahit, Barra melepaskan cekalan tangannya pada perempuan itu.
Jacqluine berdiri, kemudian gadis itu menundukkan wajahnya dan memberikan ciuman di kening Barra. Laki-laki itu hanya diam, dan akhirnya tanpa menoleh lagi ke belakang, Jacqluine akhirnya berjalan meninggalkannya.
**********
__ADS_1