Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 284 Kemarahan


__ADS_3

Batarsheen Elegance Interior..


Beberapa hari sesudah kedatangan kembali Gwen di kota Helsinku, Hans terlihat sibuk mengawasi karyawan yang sedang memasukkan beberapa box kain batik, dan juga kain tenun kiriman dari negara Indonesia. Kepergian Gwen yang juga sebagai CEO perusahaan ini, telah membawa banyak koleksi baru untuk desain baju yang dibuat Jacqluinne, maupun desain untuk padu padan interior. Bahkan selain kain, juga banyak kiriman tembikar asli dari berbagai daerah di Indonesia.


“Sangat eksotik sekali…, sepertinya tembikar, batik, dan juga lurik ini hand made, Membutuhkan daya cipta dan kreativitas, sehingga bisa tercipta karya sebagus ini..” Hans berbicara sendiri mengagumi barang-barang buatan Indonesia ini.


“Benar Hans.., negara Indonesia memang sangat memiliki khasanah budaya, dan hasil karya cipta yang sulit untuk diimitasi. Tetapi negara ini kalah, dalam hal teknologi, maupun barang-barang modal jika kita compare dengan negara maju. Barang-barang ini yang akan menjadi salah satu point of interest, menjadi keunikan yang ditawarkan dari produk perusahaan kita..” di belakang laki-laki itu, Cynthia ikut menyahut.


Melihat apa yang dihasilkan oleh Gwen, sahabat yang juga sekaligus boss nya, mata Cynthia menyiratkan kekaguman. Muncul keinginan dalam hati, untuk segera berkunjung ke negara asal suaminya. Tetapi Asep memintanya untuk bersabar, karena masih harus menyiapkan diri dan pekerjaan, jika harus menjalani cuti Panjang.


“Hey.. apa yang kalian bicarakan Hans, Cynth…?” tiba-tiba Gwen sudah mendatangi kedua temannya itu. Perempuan itu bertanya pada mereka.


“Kami bicara tentang rasa takjub dan kagum pada barang-barang yang kamu hasilkan Boss... Betul-betul memiliki nilai, yang sulit diimitasi oleh pesaing..” Hans langsung memberikan tanggapan,


Gwen tersenyum, kemudian mengambil nafas.


“Itu saja, aku dan kak Barra belum maksimal untuk melihat langsung ke UMKM yang ada di negaraku Hans, Cynthia.. kita hanya berkunjung, dan mendatangi beberapa koperasi yang memajang produk unggulan hasil karya anak bangsa. Dan itulah yang berhasil kami kirimkan ke negara ini. Namun jangan khawatir, UMKM itu sudah mulai kita ajak kerja sama jangka Panjang. Secara periodic mereka akan mengirimkan katalog produk baru via email perusahaan..” istri barra itu menjelaskan.


“Memang sih, kunci kita untuk bisa bertahan dalam persaingan adalah keunikan dari produk kita. Keunggulan kompetitif akan dapat kita raih, jika kita tidak berhenti untuk berkreasi, dan selalu berusaha untuk menawarkan sesuatu yang baru pada customers. I'm proud of you Gwen, you are truly a great  and extraordinary businesswoman." Cynthia memuji perempuan itu.


“Apa sih yang kamu katakan Cynthia. Jangan terlalu memujiku, aku bisa terjatuh dan patah semua sayapku. Ayuk kita masuk ke dalam, kita bisa discuss rencana lain untuk pengembangan perusahaan ini..” merasa tidak nyaman dengan pujian  kepadanya, Gwen mengajak dua sahabatnya itu untuk masuk ke dalam ruangan kantor.

__ADS_1


Cynthia dan Hans tersenyum, dan mereka saling berpandangan. Kedua teman Gwen itu mengakui, jika boss mereka adalah seorang yang rendah hati, dan tidak cepat puas atau berbangga diri dengan pujian, maupun reward yang diperolehnya. Keputusan apapun tentang perusahaan ini, selalu akan melibatkannya, dan juga para manajer Divisi yang lain.


“Ayuk… by the way, kapan nih Gwen, Jacqluinne akan kembali dari Indonesia. Perempuan itu ada kabar-kabar ga denganmu..” sambil mereka berjalan masuk ke dalam ruangan, Cynthia bertanya tentang Jacqluinne.


“Aku tidak tahu Cynth.., aku memang sengaja membiarkannya. Mama kak Jacqluinne sudah tua, dan hanya hidup sendiri di Indonesia, ditemani para maid. Mungkin kak Jacqluinne ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan mamanya..” sahut Gwen.


“Okaylah..” lanjut Cynthia.


Ketiga sahabat itu, kemudian melakukan diskusi kecil di sofa yang ada di dalam ruang kerja Gwen.


************


Menjelang sore hari, Ketika Gwen masih berdiskusi dengan ketiga rekan kerjanya, Barra datang menjemput perempuan itu. Josephine mencegat suami dari Miss Director nya, dan memberi tahu jika istrinya masih ada meeting dengan Hans dan Cynthia. Namun Ketika Josephine akan memberi tahu Gwen, jika suaminya sudah datang menjemput, laki-laki itu melarangnya,


Hanya ketika Gwen bertanya, atau meminta pendapatnya, barulah Barra akan memberikan wacana, atau usulan solusi. Dan Gwen, akan selalu mengaplikasikan setiap petuah yang diberikan oleh laki-laki itu. Sebagai sesama pemilik perusahaan, pasangan suami istri itu tidak pernah saling mengganggu. Hubungan saling percaya, dan menghormati mendasari hubungan mereka.


“Baiklah Tuan Barra…, Joshie ijin untuk melanjutkan aktivitas..” karena tuannya tidak mau ditemani, akhirnya Joshepine ijin untuk kembali pada pekerjaannya.


“Ya pergilah…” setelah menjawab asisten pribadi istrinya, Barra kemudian melangkahkan kaki masuk ke butik, Divisi yang dipertanggung jawabkan pada Jacqluinne mantan kekasihnya.


Selama ini, Barra tidak pernah sekalipun masuk ke dalam butik itu untuk memeriksa atau melihatnya, namun kali ini muncul keinginan untuk sekedar masuk ke dalam.

__ADS_1


“Selamat datang Tuan Barra.., apakah ada yang saya bantu..” Cheng, asisten pribadi Jacqluinne datang menyambut kedatangan laki-laki iti.


“Kembalilah bekerja Cheng, aku akan ijin untuk melihat lihat sampai ke dalam..” sama dengan Josephine, Barra juga menolak tawaran dari laki-laki itu.


„Baiklah Tuan.., selamat berkeliling...”


Tidak tahu mengapa, langkah kaki Barra seperti digerakkan untuk masuk ke ruang kerja Jacqluinne. Banyak new arrrival, atau masih berupa desain mentah terpajang di dalam ruang kerja perempuan itu. Barra mengakui, jika hasil kerja Jacqluinne sangat rapi, dan perempuan itu memang terlihat focus, dan memiliki passion dalam bidang itu. Tiba-tiba tatapan laki-laki itu melihat ke dalam lemari etalase, melihat ada sebuah baju pengantin berwarna peach tergantung di dalamnya.


“Desain baju itu…, kenapa bisa sama persis dengan…” Barra bergumam, tetapi laki-laki itu menghentkan gumamannya.


Perlahan arah kakinya berjalan menuju ke lemari etalase, kemudian menggeser pelan pintu sliding. Matanya mengamati dengan jelas pakaian pengantin itu, dan pikirannya berkelana ke puluhan tahun yang lalu.


“Sialan.., kenapa perempuan itu masih menyimpan, dan malah mewujudkan desain baju pengantin yang pernah kita bicarakan dulu…” keluar umpatan dari mulut laki-laki itu.


Tampak amarah keluar dari wajahnya, dan tangannya menarik keluar baju yang digantung tersebut. Tiba-tiba ada selembar kertas di dalam pakaian tersebut, dan dengan cepat laki-laki itu menariknya keluar dari dalam.


“Penyesalan terbesarku adalah meninggalkanmu.. Harapanku sirna, pudar, karena dengan cepat kamu berganti, dan menaruh minat yang besar pada perempuan itu. Aku menyesalinya, kekasih hatiku…” membaca tulisan itu, amarah tampak terlihat di wajah Barra.


“Changggg… come here…” tiba-tiba Barra berteriak, dan memanggil asisten pribadi Jacqluinne.


“Baik Tuan…” tergopoh gopoh dan terlihat gugup, Chang masuk ke dalam.

__ADS_1


***********


__ADS_2