
Kedatangan Andy ke rumah Barra, disikapi positif oleh laki-laki itu. Barra berpikir untuk memanfaatkan anak muda itu di college, karena ternyata kedatangan Andy ke Helsinky untuk melanjutkan studi di University of Helsinky. Anak muda itu ternyata satu college dengan istrinya. Kesepakatan yang diperoleh tadi malam, pagi ini Gwen akan ke college Bersama dengan Andy,
“Cepatlah kak Gwen…., tahu tidak jika jam segini kita berangkat, akan ada kemacetan di jalan..!” melihat istri dari kakak sepupunya masih santai menikmati sarapan, Andy meminta gadis itu untuk mempercepat diri.
“Bawel… aku juga bisa berangkat sendiri ke college, pergi sana duluan. Rempong…” masih santai menyuapkan sarapan ke mulut, Gwen memberi tanggapan pada anak mud aitu,
“Honey… jangan kasar seperti itu pada Andy sayang…! Benar yang dikatakan Andy, segeralah berangkat. Aku juga sudah akan ke perusahaan sekarang..” dengan sabar, Barra yang masih Bersama dengan istrinya di meja makan, ikut bersuara.
“Hemppphhh… iya, iya. Tapi ingat kak Barra, hanya kali ini saja, Gwen ke college bareng anak tengil itu. Besok-besok jika kak Barra belum membelikan Gwen mobil, Gwen akan bawa sepeda motor di garasi. Sepeda motor itu cocok untuk Gwen…” Barra tersenyum. Laki-laki itu memang memiliki motor Ducati, yang dulu sering digunakannya untuk travelling jika lagi gabut di rumah. Tetapi kedatangannya Kembali ke negara ini, setelah membawa istrinya Gwen, sepeda motor itu memang belum pernah dipakainya lagi,
“Iya.. iya.. sayang, kali ini saja kamu berangkat bareng Andy. Lagian kalian kan beda jurusan, pasti jadwal masuk dan keluar kelas juga tidak sama bukan..” melihat istrinya sudah menyelesaikan makan paginya, Barra ikut berdiri menemani istrinya,
Andy terlihat masih menunggu Gwen sambil bermain gadget di kursi tengah, Tanpa menyapa, Gwen melintas di depan anak muda itu untuk mengambil tas kuliahnya. Barra mendatangi Andy, kemudian..
“Andy.., jangan pancing kemarahan istriku. Bisa menjadi ruwet jika istriku sampai ngambek, bisa berabe jadinya..” dengan berbisik, teryata Barra menasehati saudara sepupunya. Kedua laki-laki itu memang memiliki hubungan yang sangat akrab, bahkan hampir seperti hubungan kakak dan adik kandung.
„Oh my God... kak Barra. Kenapa kak Barra jadi bucin sekali sih dengan gadis bawel itu.. Sepertinya baru kali ini deh, padahal dulu ketika dengan kak Jacqluine sepertinya kak Barra tidak seperti ini. Jangan terlalu dimanjakan kak, istri seperti itu. Harusnya gadis itu yang menurut dengan kak Barra, jangan malah sebaliknya.” Tidak diduga, Andy malah bicara keras, dan sampai ke telinga Gwen yang sudah menuju kea rah mereka.
“Kecilkan suaramu Andy..” Barra kaget, dan memberi peringatan pada adik sepupunya.
__ADS_1
“Hey… kamu ini laki-laki atau banci, sukanya ngomongan orang lain di belakang..?? Kamu pengaruhi suamiku sampai suaramu habis, kak Barra masih akan tetap memperhatikanku.” Dengan sorot mata tajam seperti memberi peringatan, Gwen berbicara keras pada Andy.
Barra menepuk pundak Andy, meminta anak muda itu untuk tidak membalas kata-kata istrinya. Akhirnya, mungkin karena sudah tergesa, Andy tidak jadi memberikan tanggapan pada Gwen. Gadis itu segera mendatangi suaminya, kemudian berpamitan dengan mencium punggung tangan Barra.
“Hati-hati honey, I miss you…” Barra langsung ******* bibir istrinya di depan Andy.
“Hempph… uluh.. uluh.., mana yang tua, mana yang muda sama saja.” Mungkin karena jengah, anak muda itu ngeloyor keluar duluan dari dalam rumah.
Barra tersenyum dan geleng-geleng kepala, kemudian mengantarkan istrinya sampai ke mobil yang dikemudikan oleh Andy.
********
Asep dan Aldo keluar ke lobby apartemen melalui pintu lift, Dua anak mud aitu terlihat masih mengantuk, sebagai akibat karena tidur terlalu malam karena keasyikan main Mobile Legends. Tetapi untung saja, mereka berdua masih ingat jika pagi ini merupakan hari pertama mereka untuk ke college, karena ada pengarahan umum untuk mahasiswa baru Angkatan tahun 2023.
„Aldo.. kamu yakin akan membawa mobil sendiri ke college pagi ini..?” Asep merasa ragu pada sahabatnya itu, karena mereka berdua memang belum hafal tentang jalanan di Finlandia.
Meskipun mereka berdua sudah beberapa hari di negara ini, tetapi mereka masih malas untuk melakukan perjalanan. Beberapa hari hanya mereka habiskan di apartemen, dari olah raga, makan dan semua aktivitas lainnya. Jadi tidak salah, jika Asep sedikit ragu dengan keinginan Aldo itu.
“Yakinlah Asep… tenang aku sudah amati di Google Maps, jika dari apartemen ini kita tinggal lurus terus ke depan. Aku juga sudah konfirmasi dengan Frans, dan laki-laki itu juga mengatakan hal yang sama. Ayolah.. percepat langkahmu, tidak etis bukan, masak baru pertama kali masuk, kita sudah terlambat untuk sampai ke college.” Aldo segera mempercepat langkah kakinya, begitu mereka keluar dari dalam lift.
__ADS_1
Asep segera mengikuti anak mud aitu, dan di depan lobby ternyata security apartement sudah menyiapkan mobil yang akan digunakan mereka menuju University of Helsinky. Tampak security tersebut mengangguk hormat, ketika dua anak muda itu sudah sampai di depan mereka.
“Mobilnya sudah kami kondisikan tuan, tadi pagi Frans sudah memberi tahu kami..” security melaporkan pada anak muda itu.
“Okay terima kasih, tetapi untuk besok dan seterusnya aku akan menyiapkan mobilku sendiri. Katakan itu pada Frans, aku bukan anak kecil lagi yang harus mendapatkan pelayanan khusus.” Aldo yang tidak menyukai hak privielege, menyampaikan keberatan atas layanan memuaskan untuknya. Tetapi orang-orang itu juga tidak bisa disalahkan, karena mereka mendapatkan uang lebih dari Tuan Firmansyah, papa dari anak muda itu.
“Baik tuan Aldo.., kami akan ikuti apa yang tuan Aldo maui. Jangan sungkan untuk mencari saya, jika tuan berdua ada masalah atau kesulitan ke depan.” Security tetap bersikap hormat.
“Asep… kamu yang bawa mobilnya ya, aku akan navigasi kamu..” Aldo memberi perintah pada Asep.
“Hempphh.. baik Ald..” Asep segera masuk ke pintu kemudi. Aldo memutari depan mobil, kemudian masuk ke pintu depan yang sudah dibukakan oleh security apartement.
Tidak lama kemudian, Asep sudah mengemudikan mobil dan meluncur keluar dari halaman apartemen. Suasana di jalan raya terlihat ramai, karena memang waktunya orang-orang juga berangkat ke kantor untuk bekerja. Tetapi karena jalanan yang mereka lalui one way, mereka sama sekali tidak merasakan kemacetan. Dengan santai, Asep tetap berkendara menuju arah yang mereka tuju.
“Sepertinya bangunan depan itu Sep.. kampus yang akan kita datangi..” tiba-tiba Aldo menunjuk ke arah depan.
„Benar Ald.. itu ada papan penunjuk arah. Luar biasa luasnya Ald.. terima kasih ya, karena keluargamu aku bisa menempuh studi lanjutan di kampus semegah ini.” Melihat bangunan di depan mereka, Asep menatapnya dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan. Tanpa disadari, air mata menggenang di pelupuk mata anak muda itu. Keharuan menguasai anak muda itu.
**********
__ADS_1